Home / Romansa / Salah Kirim, Dapat Dokter / BAB 10: BATAS KEWARASAN

Share

BAB 10: BATAS KEWARASAN

Author: acaca
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-15 22:37:11

​Laju kendaraan bergerak tenang membelah jalanan utama ibu kota yang masih terhuyung diguyur hujan deras. Di dalam kabin SUV mewah milik Arka, suhu pendingin udara sudah diatur ke mode penghangat, menciptakan atmosfer yang kontras dengan dinginnya angin malam di luar.

​Kania yang duduk di kursi penumpang sibuk mengusap sisa tetesan air di lengan dan lehernya menggunakan tisu dapur. Tubuhnya masih sedikit menggigil. Karena merasa gerah saat makan ketoprak tadi, Kania sempat membuka dua kancing atas jaketnya—sebuah kecerobohan yang baru ia sadari dampaknya sekarang.

​Saat mobil berhenti di lampu merah persimpangan jalan, Kania merasa suasana mendadak menghening. Ia refleks menoleh ke arah Arka yang berada di kursi kemudi.

​Namun, Kania tersentak pelan ketika mendapati arah pandangan mata Arka di balik kacamatanya tertuju pada bagian dadanya.

​Kania refleks menunduk melihat tubuhnya sendiri. Seketika itu juga, darah Kania rasanya berhenti mengalir. Mata bulatnya membelalak lebar, dan wajahnya memerah padam hingga ke ujung telinga.

​Kemeja putih tipis di balik jaketnya ternyata basah kuyup akibat menerobos hujan tadi. Kain putih itu menempel ketat di kulitnya dan tampak transparan di bawah pendar kuning lampu kabin, memperlihatkan bentuk siluet pakaian dalamnya dengan sangat jelas!

​"A-AAA!" Kania menjerit pelan sambil dengan cepat menyilangkan kedua tangannya di depan dada, menutupi area pribadinya rapat-rapat menggunakan tas ranselnya yang tebal.

​Suasana di dalam kabin mobil seketika berubah menjadi sangat intens, tegang, dan sarat akan kecanggungan yang menahan napas.

​Kania tidak berani mengangkat wajahnya. Ia bisa merasakan kehangatan dan ketegangan aura pria dewasa yang terpancar kuat dari sampingnya. Arka tidak memalingkan wajah secara panik atau bertindak canggung. Pria itu menarik napas panjang secara perlahan melalui hidungnya, menetralkan sorot matanya kembali menjadi tenang, meski garis rahangnya yang kokoh tampak mengencang.

​Tanpa mengucap sepatah kata pun, Arka merogoh jok belakang mobilnya dengan tangan kanan. Pria itu meraih jas formal cadangan miliknya yang terlipat rapi dan masih kering sempurna.

​Arka mengulurkan jas hitam tebal itu ke arah Kania.

​"Pakai ini," kata Arka. Suaranya terdengar sedikit lebih berat dan dalam dari biasanya, namun tetap teratur dan penuh kendali.

​Kania yang wajahnya masih memerah panas menerima jas tersebut dengan jemari gemetar. "T-terima kasih, Dok..."

​Dengan terburu-buru, Kania memakai jas besar milik Arka. Ukuran jas pria tegap itu membungkus tubuh mungil Kania dari pundak hingga menutupi paha atasnya. Bau harum parfum khas Arka yang woody, maskulin, dan hangat langsung menyelimuti Kania, memberikan rasa aman sekaligus membuat jantung Kania berdegup dua kali lebih kencang.

​Arka kembali memegang roda kemudi saat lampu lalu lintas berubah hijau.

​"Maaf," ujar Arka pelan setelah beberapa menit keheningan menyelimuti mereka. Matanya tetap fokus menatap jalanan basah di depan. "Saya tidak bermaksud tidak sopan."

​Kania makin menundukkan kepalanya, meremas ujung jas Arka yang membalut tubuhnya. "G-gak apa-apa, Dokter Arka. Salah saya juga tadi kancing bajunya dibuka..."

​Arka tidak menambahkan komentar lagi, namun cengkeraman tangannya pada roda kemudi sedikit lebih erat dari biasanya. Kehadiran Kania yang terbungkus jas miliknya di kursi sebelah berhasil mengacaukan konsentrasi sang dokter kaku. Arka sadar, batas profesionalitas yang selama ini ia bangun di antara dirinya dan mahasiswi bimbingannya itu perlahan-lahan mulai terkikis.

****

​Dua puluh menit kemudian, mobil SUV mewah Arka akhirnya memasuki kawasan indekos Kania di daerah Jakarta Pusat. Mobil berhenti tepat di depan gerbang kosan yang agak terlindung dari sisa-sisa rintik hujan.

​Hujan di luar sudah berangsur mereda menjadi gerimis tipis.

​Kania memegang gagang pintu mobil, lalu menoleh menatap Arka yang sedang mematikan mesin kendaraan.

​"Dokter Arka... terima kasih banyak ya buat tumpangannya, buat ketopraknya, dan... buat jasnya," kata Kania dengan nada suara yang jauh lebih pelan dan lembut dari biasanya.

​Arka menoleh. Di balik kacamata tipisnya, tatapan mata pria itu terlihat tenang, namun ada kehangatan yang tak lagi tersembunyi di sana.

​"Jasnya tidak usah dikembalikan besok," ujar Arka datar. "Bawa saja. Cuci sampai bersih lalu kembalikan saat piket kamu selesai minggu depan."

​"Baik, Dok," Kania mengangguk patuh.

​Ia baru saja hendak membuka pintu mobil ketika suara berat Arka kembali memanggil namanya.

​"Kania."

​Kania menghentikan gerakannya dan kembali menoleh. "Ya, Dokter Arka?"

​Arka menatap mata bulat Kania lurus-lurus. Suasana di antara mereka terasa begitu dekat dan intim di dalam kabin mobil yang remang-remang.

​"Mulai esok hari, kalau kamu harus pulang piket malam dan tidak ada yang menjemput, beri tahu saya," kata Arka tenang, namun setiap kata yang diucapkannya bernada sebuah perintah tegas yang sarat akan perlindungan. "Jangan berdiri di halte sendirian lagi. Paham?"

​Kania terpana. Dada gadis itu berdesir hebat mendengar perhatian terselubung dari pria yang selama ini ia cap sebagai 'Es Batu' yang tidak punya perasaan.

​"P-paham, Dokter Arka," cicit Kania pelan.

​"Bagus. Masuk sekarang dan langsung mandi air hangat. Jangan sampai kamu sakit dan mengacaukan jadwal di ruang operasi lusa," kata Arka, menutup kalimatnya dengan gaya dingin khasnya.

​Kania mengulas senyum tipis—sebuah senyuman tulus yang sangat manis. "Siap, Dok. Dokter Arka juga hati-hati di jalan ya."

​Kania turun dari mobil, merapatkan jas tebal Arka yang membungkus tubuhnya, lalu berjalan cepat memasuki gerbang kosannya.

​Dari dalam mobil, Arka memperhatikan langkah Kania hingga pintu gerbang kosan terisolasi rapat dan lampu kamar di lantai dua menyala. Arka menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menghembuskan napas panjang.

​Malam ini, bukan hanya Kania yang menyadari perasaan asing di hatinya. Dokter Arka Dewantara pun tahu pasti bahwa dirinya telah melangkah terlalu jauh untuk sekadar kembali menjadi seorang dokter pembimbing yang dingin. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Arka sama sekali tidak berniat untuk mundur.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 16:BERITA

    ​Hari Rabu siang di Rumah Sakit Medika Utama berjalan dengan ritme yang padat, namun bagi Kania, seluruh aktivitas medis di sekitarnya terasa berjalan dalam gerakan lambat yang hampa.​Sudah dua hari sejak Dokter Arka berangkat ke Bandung dengan alasan "perjalanan dinas dan simposium pendahuluan". Pesan singkat malam itu—yang menyuruhnya makan malam dan beristirahat—sempat memberikan sedikit kehangatan palsu di dada Kania. Namun, apa yang ia dengar siang ini di stasiun perawat sukses menghancurkan kepingan terakhir hatinya.​Kania berdiri di balik partisi kaca stasiun perawat untuk mengambil lembaran hasil laboratorium pasien, ketika suara bisik-bisik dari Suster Ratna dan Suster Maya menghentikan langkahnya.​"Eh, kalian sudah lihat Instagram Story Mbak Clara belum?" tanya Suster Maya bersemangat sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Suster Ratna.​"Clara yang anak pemilik jaringan hotel ternama itu? Emangnya ada apa?" sahut Suster Ratna penasaran, mendekatkan kepalanya.​"Itu lo

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 15: JARAK

    ​Dua hari berlalu sejak insiden di kafe lobby, dan Kania berhasil menjalankan misinya dengan sangat profesional: membentangkan benteng pertahanan yang tebal di antara dirinya dan Dokter Arka Dewantara.​Tidak ada lagi obrolan santai, tidak ada lagi senyuman polos, dan tidak ada lagi sapaan riang di pagi hari. Setiap kali berhadapan dengan Arka, Kania menata ekspresi wajahnya sejernih air—dingin, formal, dan murni sebatas hubungan antara dokter konsulen dan mahasiswi koas bimbingannya.​Pukul sembilan pagi, Kania berdiri di stasiun perawat lantai tiga. Ia sedang merapikan draf laporan riset untuk simposium medis Surabaya yang sudah ia jilid rapi.​Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat. Kania tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum woody yang khas sudah lebih dulu mengudara di sekitarnya.​Arka berhenti tepat di samping meja perawat. Pria berusia 32 tahun itu tampil sangat gagah dalam balutan setelan jas hitam formal, lengkap dengan kemeja

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 14: CEMBURU

    ​Pukul satu siang, lorong lantai dasar Rumah Sakit Medika Utama tampak ramai oleh lalu lalang pengunjung dan staf medis. Kania berjalan menyusuri koridor bersama Juju menuju kafe di area lobby utama untuk membeli secangkir kopi dingin demi mengusir rasa kantuk usai visite pagi.​Hati Kania sebenarnya sedang diselimuti perasaan hangat sejak percakapan mereka di dalam mobil semalam. Sentuhan lembut Arka di pelipisnya dan perhatian manis sang dokter konsulen terus membayang di kepalanya, membuat Kania tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar.​"Lo dari tadi senyum-senyum terus, Kan. Kena angin segar darimana sih?" goda Juju sambil menyenggol lengan Kania.​"Gak ada apa-apa, Ju. Lagi senang aja hari ini," sahut Kania malu-malu, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.​Namun, senyuman manis di wajah Kania seketika pudar sepenuhnya saat matanya menatap ke arah meja kaca di sudut kafe lobby.​Di sana, duduk Dokter Arka Dewantara.​Pria itu tampil sangat elegan dengan kemeja putihnya yang r

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 13: HANGAT

    ​Laju SUV mewah berwarna hitam itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih tenang dan hangat dibanding malam-malam sebelumnya. Suhu penghangat udara diatur pas pada angka dua puluh empat derajat Celsius, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental klasik berirama lembut yang mengalir pelan dari pemutar audio mobil.​Kania duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan belakang kepalanya dengan nyaman pada sandaran kulit yang empuk seraya menikmati rasa mint dingin yang menyegarkan dari permen pemberian Arka. Rasa lelah luar biasa yang sempat menggelayuti tubuh dan pikirannya usai mendampingi dua tindakan operasi besar seolah perlahan menguap tanpa bekas.​Arka yang berada di kursi kemudi melirik sekilas ke arah Kania dari sudut matanya. Kacamata berbingkai tipis masih bertengger manis di pangkal hidungnya, namun kerah kemeja biru gelapnya kini sedikit melonggar setelah ia melepas jas dokternya di bagasi belakang.​"Permennya cukup mem

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 12:RUANG PERAWAT

    ​Denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel terdengar konstan di dalam Ruang Operasi 2 yang bersuhu dingin 18 derajat Celsius. Lampu operasi yang terang benderang memancarkan cahayanya tepat ke area insisi lutut pasien.​Kania berdiri tegap di sisi meja steril, memegang instrumen probe dengan jemari yang terbungkus sarung tangan lateks steril. Fokus dan konsentrasinya tercurah sepenuhnya. Di seberang meja, Dokter Arka bekerja dengan ketelitian dan kecepatan yang mengagumkan. Setiap gerakan jemarinya saat menjahit jaringan ligamen yang robek begitu presisi, tanpa ada satu pun langkah yang terbuang sia-sia.​"Suture anchor," pinta Arka pendek, suaranya teredam tipis di balik masker medis.​Dengan sigap, Kania menyerahkan instrumen yang diminta ke telapak tangan Arka. Tidak ada lagi kekokkan atau gerakan ragu-ragu dari Kania seperti minggu-minggu awal koasnya. Kania kini bergerak sangat tangkas mengikuti irama kerja Arka yang cepat.​Arka sempat melirik singkat ke arah mata b

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 11: AROMA WOODY

    ​Aroma woody dan amber yang hangat serta maskulin langsung menyapa indra penciuman Kania begitu ia membuka mata di Senin pagi.​Kania mengerjapkan matanya pelan, memandangi jas hitam tebal milik Dokter Arka yang tergantung rapi di kapstok pintu kamar kosnya. Jas mahal itu sudah ia cuci bersih menggunakan pelembut pakaian terbaik dan disetrika dengan sangat hati-hati kemarin malam. Namun, entah mengapa, bayangan kejadian di dalam mobil SUV Arka saat hujan deras minggu lalu masih terpeta begitu jelas di benaknya.​“Mulai esok hari, kalau kamu harus pulang piket malam dan tidak ada yang menjemput, beri tahu saya... Paham?”​Suara berat dan bernada perintah tegas milik sang dokter konsulen kembali bergema di kepalanya. Kania menyentuh dadanya sendiri yang mendadak berdebar kencang. Wajahnya perlahan memanas.​"Duh, Kania! Buka mata lo! Fokus!" gumam Kania sambil menepuk-nepuk pipinya pelan di depan cermin. "Hari ini ada dua tindakan operasi ortopedi besar. Lo gak boleh hilang konsentrasi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status