Home / Romansa / Salah Kirim, Dapat Dokter / BAB 12:RUANG PERAWAT

Share

BAB 12:RUANG PERAWAT

Author: acaca
last update publish date: 2026-10-17 22:46:56

​Denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel terdengar konstan di dalam Ruang Operasi 2 yang bersuhu dingin 18 derajat Celsius. Lampu operasi yang terang benderang memancarkan cahayanya tepat ke area insisi lutut pasien.

​Kania berdiri tegap di sisi meja steril, memegang instrumen probe dengan jemari yang terbungkus sarung tangan lateks steril. Fokus dan konsentrasinya tercurah sepenuhnya. Di seberang meja, Dokter Arka bekerja dengan ketelitian dan kecepatan yang mengagumkan. Setiap gerakan jemarinya saat menjahit jaringan ligamen yang robek begitu presisi, tanpa ada satu pun langkah yang terbuang sia-sia.

​"Suture anchor," pinta Arka pendek, suaranya teredam tipis di balik masker medis.

​Dengan sigap, Kania menyerahkan instrumen yang diminta ke telapak tangan Arka. Tidak ada lagi kekokkan atau gerakan ragu-ragu dari Kania seperti minggu-minggu awal koasnya. Kania kini bergerak sangat tangkas mengikuti irama kerja Arka yang cepat.

​Arka sempat melirik singkat ke arah mata bulat Kania di balik kaca pembesar operasinya. Sorot matanya yang tajam memancarkan binar kepuasan terselubung atas ketangkasan asistennya itu.

​"Tindakan utama selesai," ujar Arka tenang dua puluh menit kemudian. Pria itu melepaskan sarung tangan sterilnya dan membuangnya ke tempat sampah medis. "Kania, selesaikan penutupan luka bersama Dokter Rian."

​"Baik, Dokter Arka," sahut Kania lugas.

​Usai menyelesaikan jahitan kulit dan merapikan ruang operasi, Kania berjalan menuju bak cuci tangan otomatis di luar ruangan. Ia melepaskan penutup kepala dan maskernya, lalu membiarkan air mengalir membasahi lengannya. Tubuhnya terasa pegal luar biasa setelah berdiri hampir tiga jam nonstop di tindakan operasi kedua hari ini.

​Saat Kania sedang mengeringkan tangannya dengan handuk bersih, Arka melangkah keluar dari ruang ganti dokters. Pria itu sudah kembali mengenakan kemeja biru gelapnya yang rapi, kacamata berbingkai tipis sudah bertengger manis di wajahnya.

​Arka berdiri di samping Kania, mencuci tangannya dengan gerakan teratur.

​"Jahitan kamu makin rapi," ujar Arka datar tanpa menoleh ke arah Kania. Matanya tetap fokus pada busa sabun di tangannya.

​Kania tersentak kecil, lalu mengulas senyum tipis yang merona. "Terima kasih, Dok. Saya banyak belajar dari memperhatikan teknik Dokter selama di ruang operasi."

​"Pertahankan," respon Arka pendek. Pria itu mematikan kran air, mengeringkan tangannya, lalu melirik jam tangan mewahnya. "Jam tujuh lewat empat puluh lima. Rapikan berkas laporan kamu sekarang. Saya tunggu di stasiun perawat lima belas menit lagi."

​Sebelum Kania sempat membalas, Arka sudah melangkah pergi menuju ruang kerjanya untuk mengambil jas dan tas dokumennya. Kania menarik napas panjang, menahan debaran dadanya yang mendadak kembali bergolak.

****

​Pukul delapan malam pas, stasiun perawat lantai tiga sudah agak lengang. Suasana riuh jadwal operasi pagi telah berganti dengan ketenangan malam. Beberapa perawat piket sedang sibuk mencatat status pasien di meja komputer.

​Kania duduk di salah satu kursi putar stasiun perawat, memeluk tas ranselnya erat-erat. Wajahnya yang polos tanpa riasan memancarkan rasa lelah yang cukup jelas, namun matanya terus melirik ke arah ujung koridor dengan penuh antisipasi.

​"Kania, belum pulang?" sapa Suster Ratna yang baru saja selesai mengecek infus pasien.

​"Eh, iya, Sus. Ini... lagi nunggu Dokter Arka sebentar," jawab Kania dengan senyum canggung.

​Suster Ratna tersenyum goda, menepuk bahu Kania pelan. "Wah, makin nempel aja nih sama Dokter Konsulen. Hati-hati loh, Kania, Dokter Arka itu terkenal paling anti jalan bareng koas di luar jam kerja. Kamu ini pengecualian besar."

​Pipi Kania seketika memerah panas. "A-ah, enggak kok, Sus! Dokter Arka cuma mau sekalian jalan aja karena rumahnya searah..."

​Belum sempat Kania menyelesaikan kalimat kilahnya, suara derap langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat dari ujung koridor.

​Arka berjalan melangkah mendekati stasiun perawat. Pria berusia 32 tahun itu tampil sangat elegan dalam balutan jas abu-abu gelap yang membungkus kemeja biru tuanya. Tas dokumen kulit hitam berada di genggaman tangan kirinya, dan aura kepemimpinan yang matang memancar sangat kuat.

​Suster Ratna langsung menegakkan posisinya dan membungkuk sopan. "Selamat malam, Dokter Arka."

​Arka mengangguk tipis. "Selamat malam, Suster." Matanya kemudian bergulir menatap Kania yang langsung berdiri dari kursinya.

​"Sudah selesai?" tanya Arka datar.

​"Sudah, Dok. Berkas laporan operasi hari ini sudah saya unggah ke sistem semua," jawab Kania cepat.

​"Bagus. Ayo," kata Arka pendek.

​Pria itu berbalik dan melangkah terlebih dahulu menuju lift VIP staf. Kania buru-buru menyusul di sampingnya, berjalan mengekor dengan langkah-langkah kecil agar bisa mengimbangi langkah kaki Arka yang lebar.

​Saat mereka berdiri berdua di depan pintu lift, Arka melirik penampilan Kania dari sudut matanya. Ia memperhatikan helai anak rambut Kania yang keluar berantakan dari kuncirnya dan lingkaran hitam tipis di bawah mata gadis itu akibat kelelahan.

​Tanpa mengucap sepatah kata pun, Arka merogoh saku jasnya, mengeluarkan sekotak permen mint herbal impor beremblem medis khusus, lalu menyodorkannya ke hadapan Kania.

​Kania mengerjapkan matanya bingung menatap kotak permen di tangan Arka. "Dokter? Ini untuk apa?"

​"Gula darah kamu rendah," ujar Arka datar, matanya tetap menatap pintu lift yang belum terbuka. "Pipi kamu pucat. Saya tidak mau penumpang saya pingsan di dalam mobil."

​Kania tertegun sejenak, lalu meraih kotak permen itu dengan senyuman hangat yang mengembang di bibirnya. "Terima kasih, Dokter Arka."

​Bip. Pintu lift terbuka.

​Arka menahan pintu lift dengan lengannya yang tegap, memberikan jalan bagi Kania untuk masuk terlebih dahulu. Dalam keheningan lift yang bergerak turun menuju pelataran parkir, Kania mengambil satu butir permen dan mengulumnya. Rasa manis dan dingin yang menyegarkan menyebar di lidahnya—persis seperti perhatian terselubung dan kaku yang selalu diberikan oleh sang dokter konsulen dingin di sampingnya ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 16:BERITA

    ​Hari Rabu siang di Rumah Sakit Medika Utama berjalan dengan ritme yang padat, namun bagi Kania, seluruh aktivitas medis di sekitarnya terasa berjalan dalam gerakan lambat yang hampa.​Sudah dua hari sejak Dokter Arka berangkat ke Bandung dengan alasan "perjalanan dinas dan simposium pendahuluan". Pesan singkat malam itu—yang menyuruhnya makan malam dan beristirahat—sempat memberikan sedikit kehangatan palsu di dada Kania. Namun, apa yang ia dengar siang ini di stasiun perawat sukses menghancurkan kepingan terakhir hatinya.​Kania berdiri di balik partisi kaca stasiun perawat untuk mengambil lembaran hasil laboratorium pasien, ketika suara bisik-bisik dari Suster Ratna dan Suster Maya menghentikan langkahnya.​"Eh, kalian sudah lihat Instagram Story Mbak Clara belum?" tanya Suster Maya bersemangat sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Suster Ratna.​"Clara yang anak pemilik jaringan hotel ternama itu? Emangnya ada apa?" sahut Suster Ratna penasaran, mendekatkan kepalanya.​"Itu lo

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 15: JARAK

    ​Dua hari berlalu sejak insiden di kafe lobby, dan Kania berhasil menjalankan misinya dengan sangat profesional: membentangkan benteng pertahanan yang tebal di antara dirinya dan Dokter Arka Dewantara.​Tidak ada lagi obrolan santai, tidak ada lagi senyuman polos, dan tidak ada lagi sapaan riang di pagi hari. Setiap kali berhadapan dengan Arka, Kania menata ekspresi wajahnya sejernih air—dingin, formal, dan murni sebatas hubungan antara dokter konsulen dan mahasiswi koas bimbingannya.​Pukul sembilan pagi, Kania berdiri di stasiun perawat lantai tiga. Ia sedang merapikan draf laporan riset untuk simposium medis Surabaya yang sudah ia jilid rapi.​Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat. Kania tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum woody yang khas sudah lebih dulu mengudara di sekitarnya.​Arka berhenti tepat di samping meja perawat. Pria berusia 32 tahun itu tampil sangat gagah dalam balutan setelan jas hitam formal, lengkap dengan kemeja

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 14: CEMBURU

    ​Pukul satu siang, lorong lantai dasar Rumah Sakit Medika Utama tampak ramai oleh lalu lalang pengunjung dan staf medis. Kania berjalan menyusuri koridor bersama Juju menuju kafe di area lobby utama untuk membeli secangkir kopi dingin demi mengusir rasa kantuk usai visite pagi.​Hati Kania sebenarnya sedang diselimuti perasaan hangat sejak percakapan mereka di dalam mobil semalam. Sentuhan lembut Arka di pelipisnya dan perhatian manis sang dokter konsulen terus membayang di kepalanya, membuat Kania tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar.​"Lo dari tadi senyum-senyum terus, Kan. Kena angin segar darimana sih?" goda Juju sambil menyenggol lengan Kania.​"Gak ada apa-apa, Ju. Lagi senang aja hari ini," sahut Kania malu-malu, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.​Namun, senyuman manis di wajah Kania seketika pudar sepenuhnya saat matanya menatap ke arah meja kaca di sudut kafe lobby.​Di sana, duduk Dokter Arka Dewantara.​Pria itu tampil sangat elegan dengan kemeja putihnya yang r

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 13: HANGAT

    ​Laju SUV mewah berwarna hitam itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih tenang dan hangat dibanding malam-malam sebelumnya. Suhu penghangat udara diatur pas pada angka dua puluh empat derajat Celsius, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental klasik berirama lembut yang mengalir pelan dari pemutar audio mobil.​Kania duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan belakang kepalanya dengan nyaman pada sandaran kulit yang empuk seraya menikmati rasa mint dingin yang menyegarkan dari permen pemberian Arka. Rasa lelah luar biasa yang sempat menggelayuti tubuh dan pikirannya usai mendampingi dua tindakan operasi besar seolah perlahan menguap tanpa bekas.​Arka yang berada di kursi kemudi melirik sekilas ke arah Kania dari sudut matanya. Kacamata berbingkai tipis masih bertengger manis di pangkal hidungnya, namun kerah kemeja biru gelapnya kini sedikit melonggar setelah ia melepas jas dokternya di bagasi belakang.​"Permennya cukup mem

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 12:RUANG PERAWAT

    ​Denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel terdengar konstan di dalam Ruang Operasi 2 yang bersuhu dingin 18 derajat Celsius. Lampu operasi yang terang benderang memancarkan cahayanya tepat ke area insisi lutut pasien.​Kania berdiri tegap di sisi meja steril, memegang instrumen probe dengan jemari yang terbungkus sarung tangan lateks steril. Fokus dan konsentrasinya tercurah sepenuhnya. Di seberang meja, Dokter Arka bekerja dengan ketelitian dan kecepatan yang mengagumkan. Setiap gerakan jemarinya saat menjahit jaringan ligamen yang robek begitu presisi, tanpa ada satu pun langkah yang terbuang sia-sia.​"Suture anchor," pinta Arka pendek, suaranya teredam tipis di balik masker medis.​Dengan sigap, Kania menyerahkan instrumen yang diminta ke telapak tangan Arka. Tidak ada lagi kekokkan atau gerakan ragu-ragu dari Kania seperti minggu-minggu awal koasnya. Kania kini bergerak sangat tangkas mengikuti irama kerja Arka yang cepat.​Arka sempat melirik singkat ke arah mata b

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 11: AROMA WOODY

    ​Aroma woody dan amber yang hangat serta maskulin langsung menyapa indra penciuman Kania begitu ia membuka mata di Senin pagi.​Kania mengerjapkan matanya pelan, memandangi jas hitam tebal milik Dokter Arka yang tergantung rapi di kapstok pintu kamar kosnya. Jas mahal itu sudah ia cuci bersih menggunakan pelembut pakaian terbaik dan disetrika dengan sangat hati-hati kemarin malam. Namun, entah mengapa, bayangan kejadian di dalam mobil SUV Arka saat hujan deras minggu lalu masih terpeta begitu jelas di benaknya.​“Mulai esok hari, kalau kamu harus pulang piket malam dan tidak ada yang menjemput, beri tahu saya... Paham?”​Suara berat dan bernada perintah tegas milik sang dokter konsulen kembali bergema di kepalanya. Kania menyentuh dadanya sendiri yang mendadak berdebar kencang. Wajahnya perlahan memanas.​"Duh, Kania! Buka mata lo! Fokus!" gumam Kania sambil menepuk-nepuk pipinya pelan di depan cermin. "Hari ini ada dua tindakan operasi ortopedi besar. Lo gak boleh hilang konsentrasi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status