Mag-log inPukul satu siang, lorong lantai dasar Rumah Sakit Medika Utama tampak ramai oleh lalu lalang pengunjung dan staf medis. Kania berjalan menyusuri koridor bersama Juju menuju kafe di area lobby utama untuk membeli secangkir kopi dingin demi mengusir rasa kantuk usai visite pagi.
Hati Kania sebenarnya sedang diselimuti perasaan hangat sejak percakapan mereka di dalam mobil semalam. Sentuhan lembut Arka di pelipisnya dan perhatian manis sang dokter konsulen terus membayang di kepalanya, membuat Kania tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar. "Lo dari tadi senyum-senyum terus, Kan. Kena angin segar darimana sih?" goda Juju sambil menyenggol lengan Kania. "Gak ada apa-apa, Ju. Lagi senang aja hari ini," sahut Kania malu-malu, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya. Namun, senyuman manis di wajah Kania seketika pudar sepenuhnya saat matanya menatap ke arah meja kaca di sudut kafe lobby. Di sana, duduk Dokter Arka Dewantara. Pria itu tampil sangat elegan dengan kemeja putihnya yang rapi. Namun, yang membuat langkah Kania mendadak terhenti kaku adalah sosok wanita yang duduk persis di hadapan Arka. Wanita itu sangat cantik dan anggun. Kulitnya putih bersih, rambut panjangnya tertata bergelombang sempurna, dan ia mengenakan gaun formal berwarna krem yang mahal. Dari gaya membawa dirinya, terlihat jelas bahwa wanita itu berasal dari kalangan sosialita terpandang. Kania mematung di balik pilar kafe, matanya tak berkedip menatap interaksi mereka dari kejauhan. Wanita itu tampak tertawa kecil sambil berbicara penuh kehangatan pada Arka, sesekali menyentuh cangkir kopinya dengan anggun. Dan hal yang paling meremukkan dada Kania: Dokter Arka yang biasanya sangat dingin, kaku, dan berjarak pada semua wanita... malam ini tampak mendengarkan ucapan wanita itu dengan penuh perhatian, bahkan mengulas senyum tipis yang sangat lembut. "Eh, Kan... itu bukannya Dokter Arka?" bisik Juju pelan, menyipitkan matanya. "Sama siapa tuh? Cantik banget ceweknya." Dada Kania terasa seperti dihantam batu besar yang sangat berat. Napasnya mendadak terasa sesak dan tercekat di tenggorokan. "Oh... itu Mbak Clara," celetuk salah seorang suster VIP yang kebetulan berdiri di samping mereka sambil menunggu pesanan kopi. "Dia itu putri pemilik jaringan hotel ternama. Kabarnya sih keluarga mereka sudah saling kenal lama dan sering dijodohkan. Cocok banget ya sama Dokter Arka? Sama-sama terpandang dan serasi." Kata-kata suster itu meluncur bagaikan belati yang menusuk tepat di ulu hati Kania. Kania meremas tali tas ranselnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya kembali menatap Arka yang sedang mengangguk pelan menanggapi ucapan wanita cantik di depannya. Ternyata... Dokter Arka sudah punya pasangan? Atau setidaknya, wanita yang selevel dan pantas mendampinginya? batin Kania dengan penderitaan yang mendalam. Rasa percaya diri Kania seketika hancur berkeping-keping. Kania tersadar dari mimpi indahnya. Ia lupa bahwa Arka Dewantara adalah seorang pendiri jaringan rumah sakit, anak konglomerat, dan pria dewasa matang berusia 32 tahun. Sementara dirinya di rumah sakit ini hanyalah seorang anak koas biasa yang ceroboh. Perhatian Arka semalam tentang 'efisiensi' dan 'keselamatan asisten' mungkin memang murni sebatas profesionalitas seorang atasan, bukan rasa suka seperti yang ia harapkan secara naif. "Ju... gue balik ke ruangan koas duluan ya. Tiba-tiba perut gue agak sakit," cicit Kania dengan suara gemetar, tak sanggup lagi berdiri di tempat itu. Tanpa menunggu balasan Juju, Kania berbalik cepat dan berjalan terburu-buru menuju tangga darurat, meninggalkan kafe dengan mata yang mulai berkaca-kaca. **** Di dalam Ruang Diskusi Koas lantai tiga yang sepi, Kania duduk menyendiri di kursi sudut. Ia melipat kedua tangannya di atas meja, menyandarkan kepalanya di sana untuk menyembunyikan wajahnya yang muram. Dadanya terasa sesak luar biasa oleh rasa cemburu dan kekecewaan yang tak terbendung. Kania tidak pernah menyangka bahwa rasa sukanya pada sang dokter es batu ternyata sudah bertumbuh sedalam ini, hingga melihat pria itu tersenyum pada wanita lain saja sanggup membuat hatinya hancur berantakan. Pintu ruang diskusi mendadak bergeser terbuka. Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat ke arah mejanya. Bau harum parfum woody yang khas seketika menyapu ruangan. "Kania," panggil suara berat dan tenang yang sangat familier. Kania tersentak kecil, namun ia tidak langsung mendongak. Ia buru-buru mengusap sudut matanya yang basah sebelum perlahan mengangkat kepalanya. Arka berdiri tegap di samping mejanya. Pria itu menyilangkan tangan di dada, menatap Kania lurus-lurus di balik kacamata tipisnya. "Kenapa kamu tidak ada di stasiun perawat saat jadwal penyerahan berkas riset Surabaya tadi?" tanya Arka datar, suaranya tetap teratur seperti biasa. Kania meneguk ludah, mencoba membalas tatapan Arka dengan raut wajah sejernih mungkin, meski senyuman hangatnya yang biasa kini telah hilang sepenuhnya. "Maaf, Dokter Arka," sahut Kania dengan nada suara yang sangat dingin, formal, dan berjarak. "Berkasnya sudah saya letakkan di meja kerja Dokter lewat Suster Ratna sepuluh menit lalu." Arka menyipitkan matanya tipis. Pria cerdas itu langsung menyadari perubahan drastis pada nada bicara dan ketiadaan binar keceriaan di mata Kania. "Kamu sakit?" tanya Arka pelan, melangkah satu tapak lebih dekat. Kania refleks menggeser kursinya sedikit ke belakang, menciptakan jarak di antara mereka. "Saya sehat, Dokter. Terima kasih atas perhatiannya. Kalau tidak ada instruksi medis lain, saya izin kembali ke bangsal rawat inap." Kania berdiri, membungkuk sopan secara kaku seperti bawahan pada atasan biasa, lalu melangkah pergi melewati Arka tanpa menatap matanya lagi. Arka mematung di tempatnya berdiri, menatap punggung Kania yang menjauh dengan alis tebal yang bertaut tajam. Untuk pertama kalinya, sang dokter dingin yang selalu penuh kalkulasi itu dibuat bingung setengah mati oleh sikap dingin dan jarak tiba-tiba yang dibentangkan oleh mahasiswi koasnya tersebut.Hari Rabu siang di Rumah Sakit Medika Utama berjalan dengan ritme yang padat, namun bagi Kania, seluruh aktivitas medis di sekitarnya terasa berjalan dalam gerakan lambat yang hampa.Sudah dua hari sejak Dokter Arka berangkat ke Bandung dengan alasan "perjalanan dinas dan simposium pendahuluan". Pesan singkat malam itu—yang menyuruhnya makan malam dan beristirahat—sempat memberikan sedikit kehangatan palsu di dada Kania. Namun, apa yang ia dengar siang ini di stasiun perawat sukses menghancurkan kepingan terakhir hatinya.Kania berdiri di balik partisi kaca stasiun perawat untuk mengambil lembaran hasil laboratorium pasien, ketika suara bisik-bisik dari Suster Ratna dan Suster Maya menghentikan langkahnya."Eh, kalian sudah lihat Instagram Story Mbak Clara belum?" tanya Suster Maya bersemangat sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Suster Ratna."Clara yang anak pemilik jaringan hotel ternama itu? Emangnya ada apa?" sahut Suster Ratna penasaran, mendekatkan kepalanya."Itu lo
Dua hari berlalu sejak insiden di kafe lobby, dan Kania berhasil menjalankan misinya dengan sangat profesional: membentangkan benteng pertahanan yang tebal di antara dirinya dan Dokter Arka Dewantara.Tidak ada lagi obrolan santai, tidak ada lagi senyuman polos, dan tidak ada lagi sapaan riang di pagi hari. Setiap kali berhadapan dengan Arka, Kania menata ekspresi wajahnya sejernih air—dingin, formal, dan murni sebatas hubungan antara dokter konsulen dan mahasiswi koas bimbingannya.Pukul sembilan pagi, Kania berdiri di stasiun perawat lantai tiga. Ia sedang merapikan draf laporan riset untuk simposium medis Surabaya yang sudah ia jilid rapi.Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat. Kania tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum woody yang khas sudah lebih dulu mengudara di sekitarnya.Arka berhenti tepat di samping meja perawat. Pria berusia 32 tahun itu tampil sangat gagah dalam balutan setelan jas hitam formal, lengkap dengan kemeja
Pukul satu siang, lorong lantai dasar Rumah Sakit Medika Utama tampak ramai oleh lalu lalang pengunjung dan staf medis. Kania berjalan menyusuri koridor bersama Juju menuju kafe di area lobby utama untuk membeli secangkir kopi dingin demi mengusir rasa kantuk usai visite pagi.Hati Kania sebenarnya sedang diselimuti perasaan hangat sejak percakapan mereka di dalam mobil semalam. Sentuhan lembut Arka di pelipisnya dan perhatian manis sang dokter konsulen terus membayang di kepalanya, membuat Kania tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar."Lo dari tadi senyum-senyum terus, Kan. Kena angin segar darimana sih?" goda Juju sambil menyenggol lengan Kania."Gak ada apa-apa, Ju. Lagi senang aja hari ini," sahut Kania malu-malu, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.Namun, senyuman manis di wajah Kania seketika pudar sepenuhnya saat matanya menatap ke arah meja kaca di sudut kafe lobby.Di sana, duduk Dokter Arka Dewantara.Pria itu tampil sangat elegan dengan kemeja putihnya yang r
Laju SUV mewah berwarna hitam itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih tenang dan hangat dibanding malam-malam sebelumnya. Suhu penghangat udara diatur pas pada angka dua puluh empat derajat Celsius, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental klasik berirama lembut yang mengalir pelan dari pemutar audio mobil.Kania duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan belakang kepalanya dengan nyaman pada sandaran kulit yang empuk seraya menikmati rasa mint dingin yang menyegarkan dari permen pemberian Arka. Rasa lelah luar biasa yang sempat menggelayuti tubuh dan pikirannya usai mendampingi dua tindakan operasi besar seolah perlahan menguap tanpa bekas.Arka yang berada di kursi kemudi melirik sekilas ke arah Kania dari sudut matanya. Kacamata berbingkai tipis masih bertengger manis di pangkal hidungnya, namun kerah kemeja biru gelapnya kini sedikit melonggar setelah ia melepas jas dokternya di bagasi belakang."Permennya cukup mem
Denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel terdengar konstan di dalam Ruang Operasi 2 yang bersuhu dingin 18 derajat Celsius. Lampu operasi yang terang benderang memancarkan cahayanya tepat ke area insisi lutut pasien.Kania berdiri tegap di sisi meja steril, memegang instrumen probe dengan jemari yang terbungkus sarung tangan lateks steril. Fokus dan konsentrasinya tercurah sepenuhnya. Di seberang meja, Dokter Arka bekerja dengan ketelitian dan kecepatan yang mengagumkan. Setiap gerakan jemarinya saat menjahit jaringan ligamen yang robek begitu presisi, tanpa ada satu pun langkah yang terbuang sia-sia."Suture anchor," pinta Arka pendek, suaranya teredam tipis di balik masker medis.Dengan sigap, Kania menyerahkan instrumen yang diminta ke telapak tangan Arka. Tidak ada lagi kekokkan atau gerakan ragu-ragu dari Kania seperti minggu-minggu awal koasnya. Kania kini bergerak sangat tangkas mengikuti irama kerja Arka yang cepat.Arka sempat melirik singkat ke arah mata b
Aroma woody dan amber yang hangat serta maskulin langsung menyapa indra penciuman Kania begitu ia membuka mata di Senin pagi.Kania mengerjapkan matanya pelan, memandangi jas hitam tebal milik Dokter Arka yang tergantung rapi di kapstok pintu kamar kosnya. Jas mahal itu sudah ia cuci bersih menggunakan pelembut pakaian terbaik dan disetrika dengan sangat hati-hati kemarin malam. Namun, entah mengapa, bayangan kejadian di dalam mobil SUV Arka saat hujan deras minggu lalu masih terpeta begitu jelas di benaknya.“Mulai esok hari, kalau kamu harus pulang piket malam dan tidak ada yang menjemput, beri tahu saya... Paham?”Suara berat dan bernada perintah tegas milik sang dokter konsulen kembali bergema di kepalanya. Kania menyentuh dadanya sendiri yang mendadak berdebar kencang. Wajahnya perlahan memanas."Duh, Kania! Buka mata lo! Fokus!" gumam Kania sambil menepuk-nepuk pipinya pelan di depan cermin. "Hari ini ada dua tindakan operasi ortopedi besar. Lo gak boleh hilang konsentrasi







