Share

BAB 13: HANGAT

Author: acaca
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-19 08:36:43

​Laju SUV mewah berwarna hitam itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih tenang dan hangat dibanding malam-malam sebelumnya. Suhu penghangat udara diatur pas pada angka dua puluh empat derajat Celsius, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental klasik berirama lembut yang mengalir pelan dari pemutar audio mobil.

​Kania duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan belakang kepalanya dengan nyaman pada sandaran kulit yang empuk seraya menikmati rasa mint dingin yang menyegarkan dari permen pemberian Arka. Rasa lelah luar biasa yang sempat menggelayuti tubuh dan pikirannya usai mendampingi dua tindakan operasi besar seolah perlahan menguap tanpa bekas.

​Arka yang berada di kursi kemudi melirik sekilas ke arah Kania dari sudut matanya. Kacamata berbingkai tipis masih bertengger manis di pangkal hidungnya, namun kerah kemeja biru gelapnya kini sedikit melonggar setelah ia melepas jas dokternya di bagasi belakang.

​"Permennya cukup membantu?" tanya Arka datar, suaranya yang berat memecah keheningan yang menyelimuti mereka.

​Kania menoleh, mengulas senyum tipis yang merona. "Cukup banget, Dok. Rasa manis sama dinginnya langsung bikin mata saya melek lagi. Makasih banyak ya, Dokter Arka."

​Arka tidak menjawab dengan kata-kata, namun sudut bibirnya terangkat sangat tipis—sebuah respon kecil yang sangat halus, tetapi sudah cukup dipahami oleh Kania sebagai bentuk senyuman dari sang dokter konsulen yang biasanya sangat hemat ekspresi itu.

​"Minggu depan ada simposium kedokteran ortopedi tahunan di Surabaya," ujar Arka tiba-tiba, kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan lurus di depan. "Kamu dijadwalkan ikut mendampingi tim delegasi rumah sakit sebagai asisten riset."

​Mata bulat Kania seketika membelalak kaget. "Hah? Ikut ke Surabaya, Dok? Saya?!"

​"Kenapa? Kamu keberatan?" tanya Arka dengan sebelah alis tebalnya yang terangkat tipis.

​"B-bukannya keberatan, Dok..." gagap Kania seraya membenarkan posisi duduknya. "Tapi kan saya masih mahasiswi koas junior. Biasanya yang diajak untuk acara delegasi tingkat nasional begini kan residen senior. Kenapa harus saya yang ditunjuk?"

​Arka membelokkan mobilnya dengan sangat halus ke jalur arteri. "Dari semua koas di angkatan kamu, penulisan laporan kasus klinis dan ketelitian kamu di meja steril berada di peringkat teratas. Saya tidak biasa membawa asisten yang lambat, ceroboh, atau tidak kompeten dalam perjalanan dinas resmi."

​Puji-pujian yang dibungkus dengan alasan rasional, lugas, dan tegas itu sukses membuat kedua pipi Kania merona merah padam. Meskipun disampaikan dengan gaya bicara yang kaku dan serba profesional, pujian dari seorang Dokter Arka Dewantara memiliki nilai validasi yang luar biasa tinggi bagi Kania.

​"Baik, Dokter Arka... terima kasih atas kepercayaannya," sahut Kania penuh semangat, mengusap tangannya yang agak dingin. "Saya janji akan menyiapkan semua berkas dan draf laporan risetnya dengan sebaik mungkin."

​Tak lama kemudian, mobil SUV mewah Arka mematikan lampu utamanya saat memasuki kawasan pemukiman indekos Kania di daerah Jakarta Pusat. Kendaraan besar itu berhenti dengan mulus tepat di depan gerbang kayu kosan yang agak terlindung oleh bayang-bayang pohon mangga yang rindang.

​Arka menekan tombol engine stop dan mematikan mesin mobil. Suasana di dalam kabin mendadak berubah menjadi teramat sunyi, remang, dan intim.

​Kania meraih tas ranselnya yang tebal di lantai mobil, memasangnya di bahu, lalu menoleh menatap sang dokter konsulen. "Dokter Arka, terima kasih banyak ya buat tumpangannya hari ini, plus... permen mint-nya."

​Arka memutar tubuhnya sedikit, menatap Kania lurus-lurus di balik lensa kacamatanya. Sorot mata hitam pria berusia 32 tahun itu tampak begitu dalam, jernih, dan teduh di bawah pendar temaram lampu jalanan.

​"Sama-sama," balas Arka dengan suara yang teramat pelan dan rendah.

​Sebelum Kania sempat menggerakkan tangannya ke gagang pintu, Arka secara tidak terduga mengulurkan tangan kanannya. Jemari tangannya yang panjang dan hangat bergerak merapikan sehelai anak rambut Kania yang sedikit keluar dari kuncirannya, menyelipkannya ke belakang daun telinga Kania dengan gerakan yang sangat lembut, hati-hati, dan penuh kepatuhan.

​Sentuhan kulit jemari hangat Arka di pelipisnya membuat napas Kania seketika tertahan di tenggorokan. Jantung di dalam dadanya berdegup kencang tak beraturan seperti genderang perang, dan sekujur tubuh mungilnya mendadak kaku, tak mampu bergerak maupun bersuara.

​"Masuklah dan langsung istirahat," bisik Arka dengan suara baritonnya yang rendah, merdu, dan teramat memikat dalam jarak sedekat ini. "Jangan begadang membaca jurnal medis sampai lewat tengah malam lagi."

​Kania meneguk ludahnya yang terasa kesat. Ia mengangguk kikuk dengan wajah yang sudah memerah panas seperti kepiting rebus. "B-baik, Dok... Terima kasih. Dokter Arka juga hati-hati di jalan ya."

​Kania dengan terburu-buru membuka pintu mobil, melangkah keluar dari kabin yang hangat, lalu berjalan cepat menyeberangi pelataran gerbang kosnya tanpa berani menoleh ke belakang lagi. Meskipun ia membelakangi mobil tersebut, Kania bisa merasakan dengan sangat jelas tatapan hangat Arka yang masih terus mengikutinya dari balik kaca mobil hingga ia melangkah masuk ke dalam lorong rumah.

​Begitu sampai di dalam kamar kosnya yang sederhana, Kania langsung memutar kunci dan menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang tertutup rapat. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, merosot pelan hingga terduduk di lantai.

​Kania memegang dadanya sendiri yang masih bergelombang liar, merasakan kehangatan sisa sentuhan jemari Arka yang seolah masih tertinggal dan membekas di kulit pelipisnya.

​Dia benar-benar membuat seluruh pertahanan gue runtuh total, batin Kania sambil menggigit bibirnya rapat-rapat, tersenyum malu-malu di tengah kegelapan kamar kosnya yang sunyi.

​Dokter Arka Dewantara mungkin adalah pria paling dingin, kaku, dan penuh kalkulasi yang pernah ia temui di dunia medis. Namun malam ini, Kania harus mengakui satu kenyataan manis yang membahayakan hatinya: ia telah jatuh sedalam-dalamnya pada pesona sang dokter es batu itu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 16:BERITA

    ​Hari Rabu siang di Rumah Sakit Medika Utama berjalan dengan ritme yang padat, namun bagi Kania, seluruh aktivitas medis di sekitarnya terasa berjalan dalam gerakan lambat yang hampa.​Sudah dua hari sejak Dokter Arka berangkat ke Bandung dengan alasan "perjalanan dinas dan simposium pendahuluan". Pesan singkat malam itu—yang menyuruhnya makan malam dan beristirahat—sempat memberikan sedikit kehangatan palsu di dada Kania. Namun, apa yang ia dengar siang ini di stasiun perawat sukses menghancurkan kepingan terakhir hatinya.​Kania berdiri di balik partisi kaca stasiun perawat untuk mengambil lembaran hasil laboratorium pasien, ketika suara bisik-bisik dari Suster Ratna dan Suster Maya menghentikan langkahnya.​"Eh, kalian sudah lihat Instagram Story Mbak Clara belum?" tanya Suster Maya bersemangat sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Suster Ratna.​"Clara yang anak pemilik jaringan hotel ternama itu? Emangnya ada apa?" sahut Suster Ratna penasaran, mendekatkan kepalanya.​"Itu lo

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 15: JARAK

    ​Dua hari berlalu sejak insiden di kafe lobby, dan Kania berhasil menjalankan misinya dengan sangat profesional: membentangkan benteng pertahanan yang tebal di antara dirinya dan Dokter Arka Dewantara.​Tidak ada lagi obrolan santai, tidak ada lagi senyuman polos, dan tidak ada lagi sapaan riang di pagi hari. Setiap kali berhadapan dengan Arka, Kania menata ekspresi wajahnya sejernih air—dingin, formal, dan murni sebatas hubungan antara dokter konsulen dan mahasiswi koas bimbingannya.​Pukul sembilan pagi, Kania berdiri di stasiun perawat lantai tiga. Ia sedang merapikan draf laporan riset untuk simposium medis Surabaya yang sudah ia jilid rapi.​Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat. Kania tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum woody yang khas sudah lebih dulu mengudara di sekitarnya.​Arka berhenti tepat di samping meja perawat. Pria berusia 32 tahun itu tampil sangat gagah dalam balutan setelan jas hitam formal, lengkap dengan kemeja

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 14: CEMBURU

    ​Pukul satu siang, lorong lantai dasar Rumah Sakit Medika Utama tampak ramai oleh lalu lalang pengunjung dan staf medis. Kania berjalan menyusuri koridor bersama Juju menuju kafe di area lobby utama untuk membeli secangkir kopi dingin demi mengusir rasa kantuk usai visite pagi.​Hati Kania sebenarnya sedang diselimuti perasaan hangat sejak percakapan mereka di dalam mobil semalam. Sentuhan lembut Arka di pelipisnya dan perhatian manis sang dokter konsulen terus membayang di kepalanya, membuat Kania tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar.​"Lo dari tadi senyum-senyum terus, Kan. Kena angin segar darimana sih?" goda Juju sambil menyenggol lengan Kania.​"Gak ada apa-apa, Ju. Lagi senang aja hari ini," sahut Kania malu-malu, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.​Namun, senyuman manis di wajah Kania seketika pudar sepenuhnya saat matanya menatap ke arah meja kaca di sudut kafe lobby.​Di sana, duduk Dokter Arka Dewantara.​Pria itu tampil sangat elegan dengan kemeja putihnya yang r

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 13: HANGAT

    ​Laju SUV mewah berwarna hitam itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih tenang dan hangat dibanding malam-malam sebelumnya. Suhu penghangat udara diatur pas pada angka dua puluh empat derajat Celsius, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental klasik berirama lembut yang mengalir pelan dari pemutar audio mobil.​Kania duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan belakang kepalanya dengan nyaman pada sandaran kulit yang empuk seraya menikmati rasa mint dingin yang menyegarkan dari permen pemberian Arka. Rasa lelah luar biasa yang sempat menggelayuti tubuh dan pikirannya usai mendampingi dua tindakan operasi besar seolah perlahan menguap tanpa bekas.​Arka yang berada di kursi kemudi melirik sekilas ke arah Kania dari sudut matanya. Kacamata berbingkai tipis masih bertengger manis di pangkal hidungnya, namun kerah kemeja biru gelapnya kini sedikit melonggar setelah ia melepas jas dokternya di bagasi belakang.​"Permennya cukup mem

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 12:RUANG PERAWAT

    ​Denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel terdengar konstan di dalam Ruang Operasi 2 yang bersuhu dingin 18 derajat Celsius. Lampu operasi yang terang benderang memancarkan cahayanya tepat ke area insisi lutut pasien.​Kania berdiri tegap di sisi meja steril, memegang instrumen probe dengan jemari yang terbungkus sarung tangan lateks steril. Fokus dan konsentrasinya tercurah sepenuhnya. Di seberang meja, Dokter Arka bekerja dengan ketelitian dan kecepatan yang mengagumkan. Setiap gerakan jemarinya saat menjahit jaringan ligamen yang robek begitu presisi, tanpa ada satu pun langkah yang terbuang sia-sia.​"Suture anchor," pinta Arka pendek, suaranya teredam tipis di balik masker medis.​Dengan sigap, Kania menyerahkan instrumen yang diminta ke telapak tangan Arka. Tidak ada lagi kekokkan atau gerakan ragu-ragu dari Kania seperti minggu-minggu awal koasnya. Kania kini bergerak sangat tangkas mengikuti irama kerja Arka yang cepat.​Arka sempat melirik singkat ke arah mata b

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 11: AROMA WOODY

    ​Aroma woody dan amber yang hangat serta maskulin langsung menyapa indra penciuman Kania begitu ia membuka mata di Senin pagi.​Kania mengerjapkan matanya pelan, memandangi jas hitam tebal milik Dokter Arka yang tergantung rapi di kapstok pintu kamar kosnya. Jas mahal itu sudah ia cuci bersih menggunakan pelembut pakaian terbaik dan disetrika dengan sangat hati-hati kemarin malam. Namun, entah mengapa, bayangan kejadian di dalam mobil SUV Arka saat hujan deras minggu lalu masih terpeta begitu jelas di benaknya.​“Mulai esok hari, kalau kamu harus pulang piket malam dan tidak ada yang menjemput, beri tahu saya... Paham?”​Suara berat dan bernada perintah tegas milik sang dokter konsulen kembali bergema di kepalanya. Kania menyentuh dadanya sendiri yang mendadak berdebar kencang. Wajahnya perlahan memanas.​"Duh, Kania! Buka mata lo! Fokus!" gumam Kania sambil menepuk-nepuk pipinya pelan di depan cermin. "Hari ini ada dua tindakan operasi ortopedi besar. Lo gak boleh hilang konsentrasi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status