Share

BAB 16:BERITA

Author: acaca
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-24 14:40:32

​Hari Rabu siang di Rumah Sakit Medika Utama berjalan dengan ritme yang padat, namun bagi Kania, seluruh aktivitas medis di sekitarnya terasa berjalan dalam gerakan lambat yang hampa.

​Sudah dua hari sejak Dokter Arka berangkat ke Bandung dengan alasan "perjalanan dinas dan simposium pendahuluan". Pesan singkat malam itu—yang menyuruhnya makan malam dan beristirahat—sempat memberikan sedikit kehangatan palsu di dada Kania. Namun, apa yang ia dengar siang ini di stasiun perawat sukses menghancurkan kepingan terakhir hatinya.

​Kania berdiri di balik partisi kaca stasiun perawat untuk mengambil lembaran hasil laboratorium pasien, ketika suara bisik-bisik dari Suster Ratna dan Suster Maya menghentikan langkahnya.

"Eh, kalian sudah lihat I*******m Story Mbak Clara belum?" tanya Suster Maya bersemangat sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Suster Ratna.

​"Clara yang anak pemilik jaringan hotel ternama itu? Emangnya ada apa?" sahut Suster Ratna penasaran, mendekatkan kepalanya.

​"Itu loh! Dia kan lagi liburan mewah di resort bintang lima di Bandung. Dan kalian tahu siapa yang ada di foto background-nya? Dokter Arka!" seru Suster Maya tertahan. "Mereka lagi dinner romantis di pinggir kolam renang privat. Padahal kemarin bilangnya Dokter Arka ke Bandung buat dinas kantor atau simposium medis, eh ternyata malah liburan berdua sama tunangannya!"

​Deg!

​Nama 'tunangan' yang meluncur bebas dari bibir Suster Maya terasa bagaikan sambaran petir di siang bolong bagi Kania. Tangan Kania yang memegang map rekam medis mendadak lemas, membuat sudut map itu hampir meluncur jatuh ke lantai.

​"Wah, seriusan? Jadi mereka benar-benar sudah merencanakan pernikahan ya?" timpal Suster Ratna takjub. "Pantesan serasi banget. Bibit, bebet, bobotnya sama-sama sempurna. Dokter Arka emang paling bisa nutupin kehidupan pribadinya dari rumah sakit."

​Kania tidak sanggup lagi mendengarkan lebih lama. Ia menarik langkahnya mundur secara perlahan, berbalik, dan berjalan tergesa-gesa menjauhi stasiun perawat dengan napas yang memburu dan dada yang sesak luar biasa.

​Dinas kantor... simposium pendahuluan...

​Kalimat-kalimat itu berputar liar di kepala Kania, menghantam kesadarannya dengan kenyataan yang amat telak. Semua alasan profesional yang diberikan Arka sebelum berangkat ternyata hanyalah sebuah kebohongan manis untuk menutupi fakta bahwa pria itu sedang menikmati liburan romantis bersama wanita dari kalangan sosialita terpandang.

​Air mata Kania langsung tumpah membasahi pipinya begitu ia berhasilmencapai ujung koridor sepi dekat tangga darurat.

​Jadi, selama ini dirinya dianggap apa? Hanya mainan pengisi kebosanan di sela-sela kesibukan sang dokter? Hanya asisten koas naif yang dengan mudahnya terbawa perasaan oleh perhatian palsu seorang pria berkelas tinggi yang ternyata sudah memiliki wanita di sisi hidupnya?

​Kania merosot pelan menyandarkan punggungnya di dinding dingin tangga darurat. Ia memeluk kedua lututnya, membiarkan isak tangisnya pecah dalam kesunyian. Rasa sakit karena dikhianati oleh harapan sendiri ternyata jauh lebih menyakitkan daripada teguran paling kejam sekalipun di ruang operasi.

​Ponsel di dalam saku jas scrub-nya tiba-tiba bergetar nyaring.

​Kania mengeluarkan ponsel itu dengan tangan bergetar hebat. Nama yang tertera di layar membuat dadanya makin terkoyak perih.

​Dr. Arka Dewantara:

Agenda simposium hari ini sudah selesai. Jadwal operasi kita minggu depan di rumah sakit sudah saya atur ulang. Jangan lupa makan siang, Kania.

​Kania menatap pesan itu dengan pandangan kabur karena air mata. Pesan perhatian yang dulunya terasa begitu manis kini terasa bagaikan sebuah ejekan yang kejam. Untuk apa pria itu masih mengirim pesan perhatian seperti ini jika di saat yang sama ia sedang berlibur bersama wanita lain? Apakah Arka menikmati saat-saat mempermainkan perasaannya?

​Dengan jemari yang gemetar hebat, Kania mengetikkan balasan singkat—balasan yang mencurahkan seluruh kekecewaan dan kemarahan tertahan di dadanya:

​Terima kasih atas perhatiannya, Dokter Arka. Tapi mulai sekarang, saya mohon Anda tidak perlu repot-repot mengirim pesan pribadi seperti ini lagi. Saya ingin kita menjaga hubungan murni sebatas atasan dan bawahan di rumah sakit. Selamat menikmati liburan Anda di Bandung.

​Kania langsung menekan tombol kirim, lalu mematikan ponselnya secara total agar tidak bisa menerima panggilan atau balasan apa pun.

​Ia menghapus air matanya dengan kasar, bangkit berdiri dengan tekad yang sudah bulat. Bodoh jika ia harus terus menangisi pria yang tidak bisa menjangkau dunianya. Mulai detik ini, Kania berjanji pada dirinya sendiri: ia akan mencabut seluruh perasaan konyol itu dari hatinya, menutup rapat pintu hatinya, dan kembali menjadi Kania yang independen—mahasiswi koas yang tidak akan pernah lagi luluh oleh pesona dingin seorang Dr. Arka Dewantara.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 16:BERITA

    ​Hari Rabu siang di Rumah Sakit Medika Utama berjalan dengan ritme yang padat, namun bagi Kania, seluruh aktivitas medis di sekitarnya terasa berjalan dalam gerakan lambat yang hampa.​Sudah dua hari sejak Dokter Arka berangkat ke Bandung dengan alasan "perjalanan dinas dan simposium pendahuluan". Pesan singkat malam itu—yang menyuruhnya makan malam dan beristirahat—sempat memberikan sedikit kehangatan palsu di dada Kania. Namun, apa yang ia dengar siang ini di stasiun perawat sukses menghancurkan kepingan terakhir hatinya.​Kania berdiri di balik partisi kaca stasiun perawat untuk mengambil lembaran hasil laboratorium pasien, ketika suara bisik-bisik dari Suster Ratna dan Suster Maya menghentikan langkahnya.​"Eh, kalian sudah lihat Instagram Story Mbak Clara belum?" tanya Suster Maya bersemangat sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Suster Ratna.​"Clara yang anak pemilik jaringan hotel ternama itu? Emangnya ada apa?" sahut Suster Ratna penasaran, mendekatkan kepalanya.​"Itu lo

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 15: JARAK

    ​Dua hari berlalu sejak insiden di kafe lobby, dan Kania berhasil menjalankan misinya dengan sangat profesional: membentangkan benteng pertahanan yang tebal di antara dirinya dan Dokter Arka Dewantara.​Tidak ada lagi obrolan santai, tidak ada lagi senyuman polos, dan tidak ada lagi sapaan riang di pagi hari. Setiap kali berhadapan dengan Arka, Kania menata ekspresi wajahnya sejernih air—dingin, formal, dan murni sebatas hubungan antara dokter konsulen dan mahasiswi koas bimbingannya.​Pukul sembilan pagi, Kania berdiri di stasiun perawat lantai tiga. Ia sedang merapikan draf laporan riset untuk simposium medis Surabaya yang sudah ia jilid rapi.​Suara langkah kaki yang tegap dan teratur terdengar mendekat. Kania tidak perlu mendongak untuk tahu siapa yang datang. Aroma parfum woody yang khas sudah lebih dulu mengudara di sekitarnya.​Arka berhenti tepat di samping meja perawat. Pria berusia 32 tahun itu tampil sangat gagah dalam balutan setelan jas hitam formal, lengkap dengan kemeja

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 14: CEMBURU

    ​Pukul satu siang, lorong lantai dasar Rumah Sakit Medika Utama tampak ramai oleh lalu lalang pengunjung dan staf medis. Kania berjalan menyusuri koridor bersama Juju menuju kafe di area lobby utama untuk membeli secangkir kopi dingin demi mengusir rasa kantuk usai visite pagi.​Hati Kania sebenarnya sedang diselimuti perasaan hangat sejak percakapan mereka di dalam mobil semalam. Sentuhan lembut Arka di pelipisnya dan perhatian manis sang dokter konsulen terus membayang di kepalanya, membuat Kania tersenyum-senyum sendiri tanpa sadar.​"Lo dari tadi senyum-senyum terus, Kan. Kena angin segar darimana sih?" goda Juju sambil menyenggol lengan Kania.​"Gak ada apa-apa, Ju. Lagi senang aja hari ini," sahut Kania malu-malu, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya.​Namun, senyuman manis di wajah Kania seketika pudar sepenuhnya saat matanya menatap ke arah meja kaca di sudut kafe lobby.​Di sana, duduk Dokter Arka Dewantara.​Pria itu tampil sangat elegan dengan kemeja putihnya yang r

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 13: HANGAT

    ​Laju SUV mewah berwarna hitam itu membelah jalanan ibu kota yang mulai lengang. Suasana di dalam kabin terasa jauh lebih tenang dan hangat dibanding malam-malam sebelumnya. Suhu penghangat udara diatur pas pada angka dua puluh empat derajat Celsius, berpadu harmonis dengan alunan musik instrumental klasik berirama lembut yang mengalir pelan dari pemutar audio mobil.​Kania duduk di kursi penumpang depan, menyandarkan belakang kepalanya dengan nyaman pada sandaran kulit yang empuk seraya menikmati rasa mint dingin yang menyegarkan dari permen pemberian Arka. Rasa lelah luar biasa yang sempat menggelayuti tubuh dan pikirannya usai mendampingi dua tindakan operasi besar seolah perlahan menguap tanpa bekas.​Arka yang berada di kursi kemudi melirik sekilas ke arah Kania dari sudut matanya. Kacamata berbingkai tipis masih bertengger manis di pangkal hidungnya, namun kerah kemeja biru gelapnya kini sedikit melonggar setelah ia melepas jas dokternya di bagasi belakang.​"Permennya cukup mem

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 12:RUANG PERAWAT

    ​Denting halus alat-alat medis berbahan stainless steel terdengar konstan di dalam Ruang Operasi 2 yang bersuhu dingin 18 derajat Celsius. Lampu operasi yang terang benderang memancarkan cahayanya tepat ke area insisi lutut pasien.​Kania berdiri tegap di sisi meja steril, memegang instrumen probe dengan jemari yang terbungkus sarung tangan lateks steril. Fokus dan konsentrasinya tercurah sepenuhnya. Di seberang meja, Dokter Arka bekerja dengan ketelitian dan kecepatan yang mengagumkan. Setiap gerakan jemarinya saat menjahit jaringan ligamen yang robek begitu presisi, tanpa ada satu pun langkah yang terbuang sia-sia.​"Suture anchor," pinta Arka pendek, suaranya teredam tipis di balik masker medis.​Dengan sigap, Kania menyerahkan instrumen yang diminta ke telapak tangan Arka. Tidak ada lagi kekokkan atau gerakan ragu-ragu dari Kania seperti minggu-minggu awal koasnya. Kania kini bergerak sangat tangkas mengikuti irama kerja Arka yang cepat.​Arka sempat melirik singkat ke arah mata b

  • Salah Kirim, Dapat Dokter   BAB 11: AROMA WOODY

    ​Aroma woody dan amber yang hangat serta maskulin langsung menyapa indra penciuman Kania begitu ia membuka mata di Senin pagi.​Kania mengerjapkan matanya pelan, memandangi jas hitam tebal milik Dokter Arka yang tergantung rapi di kapstok pintu kamar kosnya. Jas mahal itu sudah ia cuci bersih menggunakan pelembut pakaian terbaik dan disetrika dengan sangat hati-hati kemarin malam. Namun, entah mengapa, bayangan kejadian di dalam mobil SUV Arka saat hujan deras minggu lalu masih terpeta begitu jelas di benaknya.​“Mulai esok hari, kalau kamu harus pulang piket malam dan tidak ada yang menjemput, beri tahu saya... Paham?”​Suara berat dan bernada perintah tegas milik sang dokter konsulen kembali bergema di kepalanya. Kania menyentuh dadanya sendiri yang mendadak berdebar kencang. Wajahnya perlahan memanas.​"Duh, Kania! Buka mata lo! Fokus!" gumam Kania sambil menepuk-nepuk pipinya pelan di depan cermin. "Hari ini ada dua tindakan operasi ortopedi besar. Lo gak boleh hilang konsentrasi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status