Share

Bab 2

Penulis: Snoww
Kenan tidak mendorongnya menjauh.

Aku yang baru saja menyelesaikan operasi intensitas tinggi selama enam jam, terduduk di lorong yang dingin dan menangis tanpa suara saat menyaksikan adegan itu.

Perempuan yang rela ia selamatkan meski harus mengorbankan nyawanya … bukanlah aku.

Saat ia didorong masuk ke ruang resusitasi, seorang perawat muda yang tidak tahu apa-apa memohon sambil menangis kepadaku.

“Dokter Jennie, dia terluka seperti ini karena melindungi istrinya. Tolong selamatkan dia!”

“Kalau tidak tertolong, istrinya pasti akan menderita seumur hidup.”

Aku tidak tahu apakah Selly akan menderita seumur hidup. Yang aku tahu, pada saat itu hatiku terasa seperti diiris-iris pisau.

Kondisi pemulihan Kenan sangat baik.

Ia menyewa dokter kulit terbaik untuk melakukan cangkok pada luka wajahnya, hasilnya hampir sempurna.

Namun di punggungnya tetap tertinggal bekas luka bakar yang luas, merah menyala dan berkelok, tampak mengerikan.

Di hari ia pulang dari rumah sakit, Kenan memelukku.

“Jennie, aku hampir mengira diriku tak akan pernah bisa melihatmu lagi … atau menjadi cacat selamanya.”

Ia tertawa pelan.

“Untung istriku ahli ortopedi. Kamulah yang memberiku kesempatan untuk berdiri kembali. Bagaimana aku harus membalasmu?”

Aku menyentuh kulitnya yang dingin, menelusuri alis dan bibirnya yang tegas.

Wajah itu bahkan lebih sempurna dari sebelumnya.

Namun terasa sangat asing bagiku.

Ia menunduk dan membiarkanku menyentuhnya dengan tenang, ia pun merasa geli.

“Sudah puas?”

Kenan hendak menciumku, tetapi aku memalingkan wajah.

“Aku lelah. Beberapa hari ini diriku bekerja tanpa henti. Aku sedang tidak ingin.”

“Jennie, kamu sudah bekerja keras,” katanya penuh iba.

Malam itu ia berbaring di sisiku, tapi aku tidak tidur semalaman.

Kenan tampaknya bermimpi buruk. Rasa sakit di kakinya membuat keringat dingin membasahi dahinya.

“Selly … Selly …”

Aku memejamkan mata. Setiap erangan namanya membuat hatiku semakin sakit. Air mataku merembes ke bantal.

Kenan tidak tahu, aku pernah menemukan sebuah foto polaroid lama di dalam bukunya.

Itu foto masa SMA-nya bersama Selly, dipotret saat mengenakan seragam sekolah.

Pria tampan dan gadis cantik yang penuh semangat muda.

Di balik foto itu tertulis namanya. Dulu kupikir itu hanya kenangan remaja yang berharga, jadi aku tidak pernah bertanya lebih jauh.

Aku tidak tahu mengapa mereka akhirnya berpisah. Tetapi kini aku mengerti arti Selly baginya.

Dialah orang yang rela Kenan lindungi meski harus menghadapi kematian.

Dari usia tujuh belas hingga dua puluh tujuh tahun, hanya dialah cinta sejatinya.

Lalu aku ini apa?

Di dalam laci, tergeletak surat perjanjian cerai yang sudah kucetak. Aku tahu, sudah waktunya mengakhiri semua ini.

Saat aku terbangun di pagi hari, Kenan sudah terpincang-pincang ke dapur, membuatkan sarapan untukku.

“Jennie, coba makan masakanku.”

Aku duduk dan hendak menyerahkan surat cerai itu, kemudian terdengar suara ketukan di pintu.

Itu asistennya.

“Tuan Kenan, saya membawakan ponsel Anda yang tertinggal di rumah sakit.”

Kenan menerimanya dengan tenang. Namun setelah melirik layar, alisnya langsung berkerut.

Wajahnya panik. “Istriku, aku harus keluar sebentar. Kamu makan saja pelan-pelan. Nanti biar asistenku yang mengantarmu pergi bekerja.”

Aku terdiam dan terus menyendok bubur hangat itu.

Asisten itu menghalanginya.

“Tuan Kenan, kondisi Anda belum cocok untuk menyetir. Anda mau ke mana? Biar saya yang mengantar Anda …”

“Pergi!”

Sekilas kepanikan melintas di wajah Kenan. Ia tetap pergi tanpa ragu, menyeret kaki pincangnya walau sadar dirinya kehilangan kendali.

Aku menunduk dan melihat unggahan media sosial Selly lima belas menit yang lalu.

Itu foto selfie sebelum ia melakukan bungee jumping dari menara tertinggi di Kota Nivie. Wajahnya penuh air mata, namun tersenyum tragis.

[Kami baru saja menghadapi maut bersama, tetapi dia justru memilih berpaling dan mencari cinta lain. Kalau sudah begini, apa lagi yang bisa kutakuti, meski aku takut ketinggian?]

[Selamat tinggal, kekasihku.]

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Salju Turun, Kita Tak Menua   Bab 8

    Sudut Pandang Jennie.Saat pesawat mendarat di Bandara Valava, gelombang panas bercampur debu langsung menerpa wajahku.Aku menyanggul rambut panjangku dengan rapi. Di ujung lengan jas putihku tersemat lencana merah-putih Tim Medis Indonesia.Di landasan, kendaraan lapis baja pasukan penjaga perdamaian PBB mengangkut jenazah-jenazah terbungkus plastik menuju area pembakaran.“Dokter Jennie, di sini!”Joseph sang pemandu local melambaikan tangan. “Situasi di zona wabah lebih parah dari laporan. Sudah ada tiga desa .…”Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, aku sudah melompat ke dalam jip.Di luar jendela, matahari khatulistiwa menyilaukan atap-atap seng kawasan kumuh.Aku menggenggam erat kotak peralatan medis. Telapak tanganku basah oleh keringat.Di dalamnya tersimpan satu-satunya hadiah dari Kenan yang tidak kubakar saat perceraian ….Satu set instrumen bedah presisi tinggi buatan Navis, yang ia berikan ketika aku lulus sebagai profesor.Begitu turun dari mobil, belasan anak berku

  • Salju Turun, Kita Tak Menua   Bab 7

    Sudut Pandang Orang Ketiga.Tak lama kemudian, sebuah berkas gugatan cerai turut menyusul.Dengan jari gemetar, Kenan membuka dokumen itu. Ia terkejut mendapati bahwa Jennie telah lebih dulu menggugatnya ke pengadilan atas dasar perselingkuhan dalam pernikahan dan mengumumkan perceraian secara resmi.Entah sejak kapan, surat perjanjian cerai itu sudah bertanda tangankan namanya sendiri.Dan rekaman pengawasan yang ia unggah adalah adegan pada hari ledakan itu, ketika ia mencium Selly di lorong aula.Bukti nyata terpampang di depan matanya. Wajah Kenan seketika memucat lalu memerah.Asistennya buru-buru masuk sambil membawa laptop, memutar berita wawancara yang baru saja dilihatnya.“Tuan Kenan, silakan lihat ini.”Itu adalah cuplikan dari upacara keberangkatan tim medis internasional. Seorang reporter mewawancarai Jennie:“Dokter Jennie, apa hal yang paling tidak sesali dalam perjalanan karier Anda?”Jennie menatap kamera dan menjawab dengan tenang, “Meski tahu suamiku menahan gelomban

  • Salju Turun, Kita Tak Menua   Bab 6

    Sudut Pandang Orang Ketiga.Pikirannya kosong seketika.Jennie pergi ke Valava? Ke tempat yang dilanda perang dan wabah yang merajalela itu?Kenan terkejut luar biasa. Tanpa sadar ia mundur selangkah, cengkeramannya langsung mengendur.Ia bergumam, “Tidak mungkin. Jennie mana mungkin pergi ke tempat seberbahaya itu.”“Aku sudah melindunginya dengan sangat baik. Bagaimana mungkin dia sanggup menderita seperti itu?”Ia membaca berita … Virus Ebola baru-baru ini menyebar parah di Valava Selatan, bahkan Organisasi Kesehatan Dunia telah mengeluarkan peringatan.Selly melangkah maju dan menggandeng lengannya, kilatan sinis melintas di matanya.“Kenan, jangan khawatir. Kak Jennie pasti hanya ingin menaikkan jabatan dan gelar profesionalnya, mencari reputasi semata. Lagipula kalau sudah kembali nanti, gajinya pasti berlipat ganda.”Matanya berkilat. “Sekalian juga menarik perhatianmu, supaya kamu makin peduli padanya.”Kenan menepis tangannya dan mendorongnya menjauh.Matanya mendadak memerah.

  • Salju Turun, Kita Tak Menua   Bab 5

    Sudut Pandang Orang Ketiga.Kenan berlatih seharian penuh di pusat rehabilitasi, menggertakkan gigi hingga keringat membasahi pakaian latihannya.Setiap sesi terapi terasa seperti tulang yang patah itu dihancurkan kembali dari awal.Ia memejamkan mata. Dentuman ledakan masih terngiang di telinganya. Saat aula runtuh, ia secara naluriah melindungi Selly di bawah tubuhnya.Pada detik itu, hanya ada satu pikiran di kepalanya.Ia sudah pernah kehilangan Selly, ia tak boleh menanggung penyesalan seumur hidup untuk kedua kalinya.Namun ia juga masih ingat, dalam keadaan setengah sadar, terlihat wajah Jennie yang cemas dan butiran keringat besar jatuh di pipinya.Selama tiga hari koma di ICU, Kenan bermimpi panjang.Ia adalah anak luar nikah. Di dalam keluarga, tidak hanya diremehkan semua orang, ia juga tak pernah mendapat kasih sayang ayahnya.Saat remaja, dengan perut kosong dan matahari menyengat, ia dihukum berdiri di luar gerbang oleh ibu tirinya. Ketika hampir pingsan, sebuah bayangan

  • Salju Turun, Kita Tak Menua   Bab 4

    Senyum di wajah Kenan membeku.“Aku sudah tahu tentangmu dan Selly. Di lokasi ledakan hari itu, kamu mengabaikan keselamatanmu sendiri demi menyelamatkannya. Kamu jauh lebih memperhatikan dirinya daripada diriku,” kataku sambil tersenyum tipis.“Kalau begitu, aku akan mengabulkan keinginanmu. Aku mundur.”Entah sudah berapa kali aku menahan diri dari kehancuran, hingga kini bisa menceritakan semuanya dengan wajah setenang ini.Kenan menatapku tajam, antara curiga dan panik.Ia tak bisa memastikan seberapa banyak yang sudah kuketahui.“Aku dan dia hanya teman lama. Kenapa kamu berulah begini?”“Yang gila itu aku, atau kamu yang tak mampu menahan perasaanmu sendiri … kamu yang paling tahu.”Nada bicaraku ringan, tetapi setiap katanya menusuk.Ujung matanya memerah. Ia memelukku erat.Luka di kakinya kembali berdarah, noda merah merembes keluar, tetapi ia tak bergeming.“Kamu itu istriku, selamanya. Aku menyelamatkannya karena instingku. Siapa pun orangnya, tetap akan kutolong. Jangan ber

  • Salju Turun, Kita Tak Menua   Bab 3

    Darah merembes dari telapak tanganku yang terkepal. Rupanya semua kepanikan itu hanya karena dia ingin segera pergi menemani wanita itu. Waktu itu di rumah sakit, Selly tidak mengenaliku karena aku memakai masker. Ia bahkan menamai kontakku sebagai dokter penanggung jawabnya.Dengan tindakannya sendiri, Kenan mengajariku apa itu cinta yang sebenarnya.Ia begitu menyayangi Selly. Bahkan jika Selly sedang murung, setiap tetes air matanya akan membuat hati Kenan terasa tercabik.Saat itu juga, aku menerima telepon dari direktur rumah sakit.“Jennie, daftar tim medis bantuan ke Valava sudah disetujui. Kamu sebagai anggota terbaik akan menjadi ketua tim.”“Direktur, kapan berangkatnya?”“Tanggal 3 bulan depan. Masa tugasnya dua tahun.” Ia menghela napas.“Kamu baru satu tahun menikah, tetapi harus dikirim ke tempat seperti itu ….”Aku mengangkat mata yang memerah, lalu tersenyum tanpa gentar.“Direktur, menyelamatkan nyawa adalah misiku. Di dunia ini, ada banyak hal yang jauh lebih penting

  • Salju Turun, Kita Tak Menua   Bab 1

    “Nona Jennie, apa Anda yakin ingin mengajukan diri dalam daftar tim medis yang akan berangkat membantu ke Valava kali ini?”“Ya, saya sudah yakin.”Setelah menutup telepon, aku menatap foto di layar ponsel. Dibalut gaun pengantin model ekor duyung, aku digandeng Kenan berjalan di atas hamparan bunga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status