LOGIN"Semuanya akan baik-baik saja.."
Sentuhan lembut itu menenangkan Nurani yang menangis. Afadh tengah ditangani oleh dokter. Di dadanya tertempel alat perekam jantung. Hidung itu sudah tertaut oksigen. Satu obat di bawah lidah telah diberikan. Mudah-mudahan setelah ini kondisi Afadh bisa membaik. Nurani bersandar pada dada bidang Bagas. Sekarang hanya pada putranya ini lah ia bisa menumpahkan tangisannya. "Saran saya,Satu rumah komersil dihadiahkan oleh Afadh untuk anak dan menantunya. Tadinya, Afadh ingin memberikan rumah yang lebih besar. Dua tingkat dengan taman yang luas. Wajar saja. Dia adalah pemilik dari PT properti yang menghasilkan banyak perumahan. Dengan satu telunjuknya, ia bisa memberikan rumah manapun untuk Bagas. Namun sayangnya, Bagas memilih rumah dengan ukuran kecil tapi memiliki taman yang luas di depannya. Rumah sederhana, hanya memiliki dua kamar namun terasa lapang. Allea tahu spesifik rumah ini karena pernah mempromosikannya saat masih menjadi marketing di kantor utama. Sejujujurnya saja, selera Allea dan Bagas hampir mirip. Rumah sederhana satu tingkat dengan memiliki taman depan yang luas. Allea berencana untuk berkebun jika semangatnya telah berkumpul. Setelah izin pindah didapatkan, Bagas membawa Allea untuk tinggal bersama di rumah baru mereka. Di perumahan yang letaknya tak jauh dari kantor Bagas bekerja. "Ini rumahnya." Ucap Bagas mempersilahkan Allea mas
"Sampai kapan kamu mau terus begini, Allea? Selalu menghindariku dan menepis perasaanku.." "Aku tidak pernah menepis perasaanmu, mas. Aku hanya tidak terbiasa dengan cinta yang sehangat ini." **** Dua hari setelah pernikahan tak terduga, Afadh diperbolehkan pulang ke rumah. Bagas dan Nurani siap menjaga. Allea hanya bersikap seadanya. Dia hanya orang asing yang tiba-tiba masuk dalam rumah tangga ini. Allea hanyalah seorang wanita yang dibuang oleh Arash. Namun dipungut oleh kakaknya. Sekantung obat sudah ada dalam genggaman Nurani. Malam ini setelah makan bersama, Afadh meminum obat dalam jumlah yang banyak. Obat yang bisa menstabilkan kondisinya. "Kamu masih mau pindah, Bagas?" Bisik Nurani. Keduanya tengah bersama ke dapur untuk mengambil air minum. "Belum tahu, ma." Jawab Bagas tersendat.
"Arash bilang dia akan kembali kalau sudah tenang." Ucap Nirmala mengunjungi kakak iparnya di rumah sakit. "Dia bahkan tidak mau mengangkat panggilan dariku, Nirmala." Sahut Nurani sedih. "Sejak siang tadi aku terus menghubunginya." "Mungkin dia takut sama mas Afadh, mbak." Nirmala menarik nafas. "Ya sudahlah. Ini telah menjadi garis takdirnya. Arash dan Allea nggak bisa bersama tapi digantikan dengan yang lain." Yang lebih baik. Mendengar kalimat Nirmala yang terakhir, membuat suasana menjadi hening seketika. Arash memang tidak ditakdirkan bersama dengan Allea. Namun, semesta sepertinya memiliki rencana lain. Di sisi lain, Allea tertidur lelap setelah menjalani hari yang melelahkan. Sudah berapa lama ia tak tidur di kasur yang empuk, seprai yang wangi dan selimut yang tebal.. belum lagi AC yang dingin ini memberikannya kesejukan. Ketika Allea terjaga, wanita ini baru tersadar ji
Allea berjalan. Terus berjalan. Heelsnya yang tinggi, terkait di tangannya. Kakinya melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Telapaknya dingin. Cenderung kotor karena terus terseret. Ia menjadi perhatian orang banyak dengan kebaya pengantinnya. Raut wajah layu itu menunjukkan dirinya seperti cinderella yang baru saja kehilangan sepatunya. Kaki Allea terhenti setelah tiba di lorong yang sepi. Di area belakang rumah sakit. Tanpa ada sinar matahari. Dengan hawa dingin yang berdesir ke punggungnya. Pandangan Allea gelap. Dadanya sesak. Ia ingin muntah dan juga pingsan. Namun air mata ini lebih dulu mengaliri wajahnya. Allea jatuh terduduk di kursi. Menangis hebat. Membiarkan suara tangisan itu menggema terdengar karena dibawa udara. Allea lalu tertawa sembari memejamkan mata. Ada yang lucu tapi tak tahu apa. Seperti ada yang mengejeknya dari depan sana.
"Semuanya akan baik-baik saja.." Sentuhan lembut itu menenangkan Nurani yang menangis. Afadh tengah ditangani oleh dokter. Di dadanya tertempel alat perekam jantung. Hidung itu sudah tertaut oksigen. Satu obat di bawah lidah telah diberikan. Mudah-mudahan setelah ini kondisi Afadh bisa membaik. Nurani bersandar pada dada bidang Bagas. Sekarang hanya pada putranya ini lah ia bisa menumpahkan tangisannya. "Saran saya, pak Afadh lebih baik dirawat saja." Ucap dokter berkacamata ini memeriksa. "Apapun itu yang terbaik, dokter." Bagas memilih kamar VIP untuk kenyamanan ayahnya. Disana Afadh sudah berganti pakaian dan harus beristirahat. "Dimana adikmu, Bagas?" Afadh menanyakan itu pertama kali. "Nggak perlu papa pikirkan dia.." "Arash sudah mempermalukan papa hari ini, nak.." sambung
"Aku masih mencintaimu. Bahkan sampai saat ini masih mengharapkanmu. Namun jika semesta tak menginginkan kita bersama.. maka tak ada yang bisa kubuat selain mengikhlaskan.." *** Pukul enam pagi. Allea membuka matanya. Mobil itu berhenti tepat di sebuah rumah dengan cat berwarna putih. Memiliki dua tiang penyangga besar di terasnya. Nuansa klasik kental terlihat. Ornamen yang dipakai serta pondasinya. Di depan rumah ini sudah terbentang tenda dengan dudukan kursi di bawahnya. Papan bunga sudah banyak terhias di depan pagar rumah. Sebuah tulisan disana berhasil menggetirkan hari Allea. ["Allea dan Arash."] "Kita sudah sampai, mbak." Ucap sopir yang menjemput Allea. Wanita ini keluar dari mobil. Nurani datang untuk menyambut. "Selamat datang, Allea. Silahkan masuk." Nurani membawa







