Compartir

Bab 95

Autor: Stary Dream
last update Fecha de publicación: 2026-11-05 06:02:33

"Aku masih mencintaimu. Bahkan sampai saat ini masih mengharapkanmu. Namun jika semesta tak menginginkan kita bersama.. maka tak ada yang bisa kubuat selain mengikhlaskan.."

***

Pukul enam pagi. Allea membuka matanya. Mobil itu berhenti tepat di sebuah rumah dengan cat berwarna putih. Memiliki dua tiang penyangga besar di terasnya.

Nuansa klasik kental terlihat. Ornamen yang dipakai serta pondasinya.

<
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (3)
goodnovel comment avatar
menik sobul
impulsif banget nih Arash emang mending batal aja sih àtau digantikan saja sama Bagas he he he
goodnovel comment avatar
Yuli Faith
kayaknya si arash ini cocok sama si lakor itu.....egois dan mau menang sendiri.......jemput karma mu sendiri rash.....
goodnovel comment avatar
lullaby_dreamy
lagian Allea mau bgt kasi ksempatan sm pria karbitan kaya Aarash . tuh laki kan krn gamau malu aja disuru ngmong d dpn keluarga batalin prnikahan . mentalnya masi mental bocah . smoga dgn ini Bagas yg. mnggantikan Aarash nikahi Allea . stlh nikah baru deh Aarash nyesal udh nglepas Allea .
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 101

    "Apa? Kamu dan Allea menikah??" Bagas mendelik kepada Rahul. Pria ini memang tidak bisa menyimpan rahasia. Suaranya yang nyaring terdengar oleh beberapa karyawan lain yang sedang berpapasan dengan mereka. Akhirnya, Bagas menyeret Rahul masuk ke ruang kerjanya sebelum keterkejutan pria ini semakin menjadi hingga berujung menyanyikan lagu India. "Astaga, Bagas! Aku nggak nyangka Arash setega itu!" Rahul sampai tak habis pikir. "Dimana dia sekarang?" Bagas mengedikkan bahu. "Entahlah. Mungkin sedang berlibur keluar negeri. Tahu sendiri bagaimana orangnya." "Ckckck si petualang! Terus Allea gimana? Dia pasti hancur sekali." Bagas menghela nafas. "Mungkin. Aku nggak tahu juga. Kamu ingat malam itu dia kemari untuk mengantarkan lamaran kerja? Nah, sebenarnya itu hanya alasan." "Hah? Maksudmu?" Rahul tak mengerti. Bagas pun menceritakan apa yang terjadi malam itu. Dimana

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 100

    Satu rumah komersil dihadiahkan oleh Afadh untuk anak dan menantunya. Tadinya, Afadh ingin memberikan rumah yang lebih besar. Dua tingkat dengan taman yang luas. Wajar saja. Dia adalah pemilik dari PT properti yang menghasilkan banyak perumahan. Dengan satu telunjuknya, ia bisa memberikan rumah manapun untuk Bagas. Namun sayangnya, Bagas memilih rumah dengan ukuran kecil tapi memiliki taman yang luas di depannya. Rumah sederhana, hanya memiliki dua kamar namun terasa lapang. Allea tahu spesifik rumah ini karena pernah mempromosikannya saat masih menjadi marketing di kantor utama. Sejujujurnya saja, selera Allea dan Bagas hampir mirip. Rumah sederhana satu tingkat dengan memiliki taman depan yang luas. Allea berencana untuk berkebun jika semangatnya telah berkumpul. Setelah izin pindah didapatkan, Bagas membawa Allea untuk tinggal bersama di rumah baru mereka. Di perumahan yang letaknya tak jauh dari kantor Bagas bekerja. "Ini rumahnya." Ucap Bagas mempersilahkan Allea mas

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 99

    "Sampai kapan kamu mau terus begini, Allea? Selalu menghindariku dan menepis perasaanku.." "Aku tidak pernah menepis perasaanmu, mas. Aku hanya tidak terbiasa dengan cinta yang sehangat ini." **** Dua hari setelah pernikahan tak terduga, Afadh diperbolehkan pulang ke rumah. Bagas dan Nurani siap menjaga. Allea hanya bersikap seadanya. Dia hanya orang asing yang tiba-tiba masuk dalam rumah tangga ini. Allea hanyalah seorang wanita yang dibuang oleh Arash. Namun dipungut oleh kakaknya. Sekantung obat sudah ada dalam genggaman Nurani. Malam ini setelah makan bersama, Afadh meminum obat dalam jumlah yang banyak. Obat yang bisa menstabilkan kondisinya. "Kamu masih mau pindah, Bagas?" Bisik Nurani. Keduanya tengah bersama ke dapur untuk mengambil air minum. "Belum tahu, ma." Jawab Bagas tersendat.

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 98

    "Arash bilang dia akan kembali kalau sudah tenang." Ucap Nirmala mengunjungi kakak iparnya di rumah sakit. "Dia bahkan tidak mau mengangkat panggilan dariku, Nirmala." Sahut Nurani sedih. "Sejak siang tadi aku terus menghubunginya." "Mungkin dia takut sama mas Afadh, mbak." Nirmala menarik nafas. "Ya sudahlah. Ini telah menjadi garis takdirnya. Arash dan Allea nggak bisa bersama tapi digantikan dengan yang lain." Yang lebih baik. Mendengar kalimat Nirmala yang terakhir, membuat suasana menjadi hening seketika. Arash memang tidak ditakdirkan bersama dengan Allea. Namun, semesta sepertinya memiliki rencana lain. Di sisi lain, Allea tertidur lelap setelah menjalani hari yang melelahkan. Sudah berapa lama ia tak tidur di kasur yang empuk, seprai yang wangi dan selimut yang tebal.. belum lagi AC yang dingin ini memberikannya kesejukan. Ketika Allea terjaga, wanita ini baru tersadar ji

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 97

    Allea berjalan. Terus berjalan. Heelsnya yang tinggi, terkait di tangannya. Kakinya melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Telapaknya dingin. Cenderung kotor karena terus terseret. Ia menjadi perhatian orang banyak dengan kebaya pengantinnya. Raut wajah layu itu menunjukkan dirinya seperti cinderella yang baru saja kehilangan sepatunya. Kaki Allea terhenti setelah tiba di lorong yang sepi. Di area belakang rumah sakit. Tanpa ada sinar matahari. Dengan hawa dingin yang berdesir ke punggungnya. Pandangan Allea gelap. Dadanya sesak. Ia ingin muntah dan juga pingsan. Namun air mata ini lebih dulu mengaliri wajahnya. Allea jatuh terduduk di kursi. Menangis hebat. Membiarkan suara tangisan itu menggema terdengar karena dibawa udara. Allea lalu tertawa sembari memejamkan mata. Ada yang lucu tapi tak tahu apa. Seperti ada yang mengejeknya dari depan sana.

  • Sampai Aku Mati Rasa   Bab 96

    "Semuanya akan baik-baik saja.." Sentuhan lembut itu menenangkan Nurani yang menangis. Afadh tengah ditangani oleh dokter. Di dadanya tertempel alat perekam jantung. Hidung itu sudah tertaut oksigen. Satu obat di bawah lidah telah diberikan. Mudah-mudahan setelah ini kondisi Afadh bisa membaik. Nurani bersandar pada dada bidang Bagas. Sekarang hanya pada putranya ini lah ia bisa menumpahkan tangisannya. "Saran saya, pak Afadh lebih baik dirawat saja." Ucap dokter berkacamata ini memeriksa. "Apapun itu yang terbaik, dokter." Bagas memilih kamar VIP untuk kenyamanan ayahnya. Disana Afadh sudah berganti pakaian dan harus beristirahat. "Dimana adikmu, Bagas?" Afadh menanyakan itu pertama kali. "Nggak perlu papa pikirkan dia.." "Arash sudah mempermalukan papa hari ini, nak.." sambung

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status