LOGINBAB 122Zea berguling ke kiri dan kanan, berusaha menyamankan dirinya ke posisi uwenak. Sekaligus untuk meredakan pegal yang merambat di sekujur punggungnya. Kamar ini kecil, dindingnya putih bersih tanpa hiasan, dan hanya ada suara putaran kipas angin yang membelah keheningan malam di Pulau B. Namun, bagi Zea, kesunyian ini adalah kemewahan setelah seharian telinganya "dicuci" oleh suara tajam Sandra.Selain dari Ibra, juga ada pesan dari kedua sahabatnya. Melihat nama mereka membuat Zea merasakan setetes rasa rindu mendadak merembes di sudut hati. Ia merasa sangat jauh. Dengan sedikit emosional, yang membalas pesan keduanya di grup chat pribadi mereka. Meluapkan kekesalannya pada Sandra juga penyesalannya karena telah menyulitkan Anton, hanya demi ego mencari kenyamanan pribadi.Lalu, jarinya terhenti sejenak. Ada satu hal lagi yang mengganjal di benaknya.“Tadi aku ketemu Arkan di bandara,” tulisnya perlahan.Z
BAB 121“Ini pasti soal kecil buat kamu, kan? Gimana pun juga kamu karyawan pilihan Pak Wira, jadi pastinya kamu sekompeten itu.” tambah wanita itu lagi.Zea meringis. Ucapan sarkas diiringi tatapan merendahkan itu mengingatkannya pada seseorang. Salah satu alasan ia berada di tempatnya sekarang. Naya. Ia mendengus pelan. Tak menyadari kedua tangannya mengepal kuat.“Gimana Ze? Bisa, kan?” Tanya Sandra lagi sambil tersenyum miring.“Siap, Ka.” jawab Zea, suaranya terdengar lantang dan tegas. "Aku akan berusaha semaksimal mungkin.” Meski menjawab dengan tingkat keyakinan tinggi, sebenarnya rasa takut dan keraguan mulai merayapi benak Zea. Ia belum pernah menangani proyek sebesar ini sendirian, apalagi di lingkungan yang begitu asing dan kompetitif. Ia merasa seperti dilemparkan ke tengah laut tanpa pelampung.Namun, di tengah keputusasaan itu, ia mengingat betapa kerasnya ia bekerja untuk sampai di titik ini, Zea tahu ia tak
BAB 120Zea meneguk ludahnya kasar. Matanya membulat. Ia betul-betul terkejut dengan respon dingin Sandra. Ungkapan kerendahan hati yang baru saja ia ucapkan, mengenai bimbingan, hanyalah basa-basi profesional semata, standard kesopanan antar rekan kerja. Tentu saja Pak Wira tidak mungkin mengirim seseorang yang tidak kompeten, apalagi untuk menduduki posisi krusial, sebagai team leader. Sikap kaku Sandra membakar rasa yakin dalam diri Zea. Atmosfer kompetisi yang tajam, yang dirasakannya sewaktu ia memasuki gedung tadi, jelas bukan sekadar imajinasinya sendiri. Itu nyata, sedingin pendingin ruangan di kantor ini.Zea memilih untuk mengangguk sopan, berusaha tidak mengoreksi tuduhan dan memperpanjang masalah dengan Sandra. Terlebih perempuan ini merupakan atasannya. Dalam hati ia berjanji tak akan membiarkan rasa tersinggung ini merusak harinya. Bisa saja Sandra sebenarnya memiliki kepribadian yang lebih hangat dari yang
BAB 119Perjalanan itu terasa lebih panjang dari dua jam yang seharusnya.Zea duduk di kursi dekat jendela, menatap langit yang membentang tanpa batas. Awan-awan bergeser perlahan, seolah tak peduli pada apa pun yang sedang ia rasakan.Tangannya terangkat tanpa sadar, menyentuh pergelangan tangan kirinya. Gelang perak cantik itu masih melingkar di sana.Sebuah hadiah sederhana. Bukan sesuatu yang mahal dan mewah. Tidak mencolok. Tapi cukup untuk membuat dadanya menghangat, dan sesak di saat bersamaan.Kemunculan Arkan di saat ia sedang berbincang hangat dengan Ibra sungguh mengganggunya. Ada sedikit rasa bersalah yang muncul di hatinya saat melihat tatapan lelaki itu. Tatapan itu.Tanpa kata, tanpa senyuman, hanya sejurus pandangan tapi cukup untuk membuat hatinya goyah sesaat.Pandangan itu kosong, tapi penuh luka.Zea bisa merasakan kepedihan mendalam juga kerinduan dan cinta di sana.Ia memejamkan mata.“Kenapa sih…” gumamnya
BAB 118Arkan duduk mematung. Matanya menatap kosong pada ukiran meja di depannya setelah mendengarkan semua ucapan Tuan Prayoga, Papa Naya. Bahkan setelah pria itu berhenti bicara, kepalanya masih terus berdenyut. Bukan karena sisa-sisa luka kecelakaan, tapi karena beban pilihan yang baru saja diletakkan di pundaknya.Ia hanya punya waktu beberapa detik untuk memutuskan. Terus memberontak dan dihancurkan, atau menunduk dan menyusun strategi dari dalam sangkar emas yang ditawarkan.Di balik semua kisahnya, Tuan Prayoga seakan hendak mengatakan, bahwa pria itu memiliki tangan yang bisa menjangkau apa saja, termasuk aparat hukum dan penguasa. Sebuah peringatan halus bahwa jika ia bisa membuat masalah hukum Arkan menghilang, maka ia juga bisa menciptakan masalah hukum lain untuk Arkan. Sedang penawaran dukungan seratus persen bagi semua lini bisnisnya, di telinga Arkan, justru terdengar bagai satu lagi jeratan hutang budi. Sebuah pen
BAB 117“Mas... kenapa? Kepala kamu sakit lagi?” Naya mencoba mendekat. Jemarinya yang lentik dengan manikur sempurna terulur, hendak menyentuh dahi ArkanArkan segera mundur, memberikan isyarat berhenti, mengibas kasar dengan tangannya. “Jangan! Jangan sentuh aku!”Ucapan itu membuat tangan Naya menggantung di udara. Wajahnya yang khawatir berubah menjadi pucat. Kecewa bercampur marah, karena lagi-lagi Arkan menolaknya.Sementara Arkan, lelaki itu berbalik, melangkah cepat menuju pintu. Ia merasa harus segera keluar dari ruangan ini, dari rumah ini, atau ia akan benar-benar kehilangan kontrol dan melakukan sesuatu yang akan ia sesali. Ia butuh udara segar. Ia butuh menjauh dari aroma parfum Naya yang terasa mencekik.“Mas!”Terdengar suara Naya, lirih memanggil. Ada sesuatu dalam nada suara gadis itu yang membuat Arkan menghentikan langkahnya tepat sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu.







