LOGINBAB 100
Tangan Zea gemetar hebat. Gunting yang tadi digenggamnya terjatuh begitu saja ke atas lantai tegel, menimbulkan bunyi denting yang memekakkan telinga di kesunyian kamarnya.Bau busuk amis yang tadi hanya samar-samar, kini menyeruak bebas, memenuhi setiap sudut ruangan, menusuk indra penciumannya hingga rasa mual menyodok pangkal tenggorokannya.Di dalam kotak itu, terbaring sesuatu yang mengerikan. Seekor tikus got besar dengan perutnya robek, isinya tBAB 102Udara di restoran mendadak mendingin.Naya mengangkat sebelah alisnya, menatap Zea dengan tatapan meremehkan yang biasanya sanggup membuat nyali lawan bicaranya menciut. Namun kali ini, ia salah perhitungan.Zea menyeringai, sebuah senyum miring yang tidak mencapai matanya. Ia bangkit dari kursi, berdiri tegak hingga tinggi badannya hampir sejajar dengan Naya. Ia tidak ingin menjadi korban yang hanya bisa tertunduk pasrah.“Wah bener banget Mba, dunia emang sempit ya, atau… emang takdir sengaja mempertemukan kita, iya nggak Mba?” ujar Zea dengan nada yang tenang namun menusuk.Merasakan situasi yang kian memanas, Arya yang duduk di hadapan Zea seketika menegakkan punggung. Matanya beralih waspada. Tentu ia masih ingat dengan pasangan di depannya ini. Baik si lelaki yang selalu terlihat bosan, dan si perempuan dengan mulut besarnya. Ia bersiap untuk apa pun. Termasuk jika ia harus menyeret Zea keluar dari drama ini secara
BAB 101 Zea terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab dan membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara yang dingin. Ia memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi di balik basa-basi. Kepalanya sudah terlalu penuh, jiwanya terlalu lelah untuk menyusun alasan diplomatis untuk sekedar menolak praduga Ibra. Ia menatap Ibra lekat-lekat, mencoba mencari kejujuran di balik netra pria itu. “Marah kenapa, Mas?” tanyanya balik. Ini mungkin satu-satunya kesempatan untuk mengkonfrontasi pria yang pernah meminta tempat di hatinya itu. “Marah karna aku nggak ngubungin kamu kemarin-kemarin gara-gara masalah itu….” Zea menarik nafas dalam lalu menggeleng, “Nggak. Aku sama sekali nggak marah. Jujur, ada rasa kecewa sedikit, tapi itu manusiawi, kan? Tapi aku lega Mas nggak impulsif trus minta perusahaan aku untuk ganti aku ke orang lain. Masih dipercaya megang proyek ini sampai akhir aja aku udah sangat bersyukur.” Ibra menggeleng kuat-kuat, “Nggak bakal lah….” ia menatap Zea sendu, “Maaf….” Zea
BAB 100Tangan Zea gemetar hebat. Gunting yang tadi digenggamnya terjatuh begitu saja ke atas lantai tegel, menimbulkan bunyi denting yang memekakkan telinga di kesunyian kamarnya. Bau busuk amis yang tadi hanya samar-samar, kini menyeruak bebas, memenuhi setiap sudut ruangan, menusuk indra penciumannya hingga rasa mual menyodok pangkal tenggorokannya.Di dalam kotak itu, terbaring sesuatu yang mengerikan. Seekor tikus got besar dengan perutnya robek, isinya terburai, diletakkan di atas sehelai kain putih yang kini berubah warna menjadi cokelat kehitaman akibat cairan tubuh bangkai tersebut. Sebuah ancaman yang dikemas dalam paket rapi.Dunia seolah berputar di mata Zea. Oksigen di kamarnya mendadak hilang.“AAAARRRGGGHHH!!!”Jeritan itu lolos begitu saja dari kerongkongan Zea. Melengking, penuh ketakutan, dan sarat akan trauma yang mendalam.Refleks ia melempar paket itu ke lantai. Kedua tangannya mengep
BAB 99 “Orang tua kamu selalu bilang kamu anak yang penurut, Ze. Tapi di mataku, belakangan ini kamu keliatan seperti pembangkang yang sangat keras kepala,” Arya memulai percakapan, suaranya tenang namun mengandung penghakiman yang tak terbantahkan. Zea terdiam sejenak, mengamati lekat sepotong timun yang akan disantapnya, lalu menjawab, “Aku punya alasan.” Ia lanjut mencocol timun ke dalam sambal terasi yang nikmat. Gerakannya santai terkesan cuek. Sebelah alis Arya naik, “Oh ya? Apa itu?” “Kalo soal aku yang berangkat nggak sama kamu, aku udah jelasin alasannya. Soal aku pergi duluan dari tempat wisata, itu karena aku nggak enak badan dan kepalaku sakit. Daripada ngerepotin kamu kan mending aku balik duluan.” Jelas Zea panjang. “Siapa bilang aku bakal ngerasa direpotin?” Arya bertanya kalem. Zea mengangkat bahu tak acuh.
BAB 98Malam peresmian Lentera Kafe yang seharusnya menjadi salah satu puncak kemenangan Arkan, seketika berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan.Setelah berhasil menenangkan badai histeria Naya di ruangannya, pesta tetap berlanjut, seolah-olah tak pernah terjadi apapun sebelumnya.Di tengah kerumunan tamu yang masih menyisakan bisik-bisik penasaran, Naya muncul kembali dengan penampilan yang sudah lebih rapi. Walaupun gaunnya tampak sedikit kusut, ujungnya kotor, tapi riasan wajahnya kembali sempurna meski tak paripurna seperti biasanya. Sekedar menyamarkan wajah sembabnya.Binar matanya memancarkan kepuasan dan kebahagiaan. Ia berdiri dengan anggun di samping Arkan, jemarinya menggamit lengan pria itu dengan posesif.Pak Wira, yang sejak awal merasa atmosfer sudah tidak sehat, segera berpamitan begitu melihat Arkan muncul. Ia tidak banyak bertanya, hanya memberikan tatapan penuh arti kepada Arkan sebelum beranjak p
BAB 97Suasana di dalam ruangan kerja pribadi Arkan terasa begitu mencekam, seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habisDi luar, suara hiruk-pikuk peresmian kafe masih terdengar samar, namun di dalam sini, hanya ada suara napas Naya yang memburu dan detak jantung Arkan yang berpacu cepat.Naya berdiri hanya beberapa senti di depan Arkan. Matanya yang merah padam menatap tajam, mengunci manik mata Arkan“Lupa, Mas? Benar-benar sudah lupakah?” desis Naya. Suaranya rendah. Seperti racun yang disemprotkan ke udara.Arkan terdiam. Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menegang. Ia ingin membantah, ingin mengusir wanita di depannya ini, namun lidahnya terasa kelu.“Tiga tahun lalu Mas. Waktu salah satu armada travel kamu kecelakaan di jalan tol?” Naya melanjutkan, suaranya kini naik satu oktaf, penuh dengan penekanan yang mengiris-iris sisa kekuatan Arkan.“Dan korbannya, anak pejabat, dia nyaris lumpu
BAB 77Perbincangannya dengan Ibra ternyata membawa kerinduan yang nyata pada kedua sahabatnya. Jadilah malam ini, ketiganya berkumpul di apartemen nyaman milik Nadya. Perempuan pemilik kafe itu berbaik hati, bersedia menemani kedua sahabatnya dan absen dari kafe miliknya.
BAB 76“Iya, boleh kan? Atau kamu takut mereka juga ikut jatuh pada pesona cowok ganteng ini?” goda Ibra. Ia menaik-naikkan kedua alisnya yang tebal secara bergantian, menyunggingkan senyum narsis yang dibuat-buat namun entah kenapa terlihat sangat pas di wajahnya yang maskulin.
BAB 75 Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah blind jendela kantor, dan memantul di atas layar tablet yang tergeletak di atas meja kerja Zea. Gadis itu sedang bersandar pada kursi kerjanya. Wajahnya terlihat letih meski hari masih terbilang cukup pagi. Ia baru saja kembali dari brief
BAB 74Zea membeku sesaat. Kedua matanya membulat seraya memandang Arkan dengan tatapan tak percaya. Alih-alih tersipu, Zea justru mendengus keras. Suara yang keluar dari hidungnya itu penuh dengan sarkasme.“Issh!! Nggak jelas!”Tanpa menunggu, Zea langsung b







