LOGINBAB 113
Di sudut kedai rawon di bandara yang riuh oleh suara denting sendok dan percakapan para pelancong, Zea menemukan sisi lain Ibra. Tak seperti Arkan, Ibra tak memperlakukan Zea bak porselen rapuh yang mudah pecah.Ibra tak mengelap peralatan makan yang hendak ia gunakan, atau melarang Zea memasukkan terlalu banyak sambal ke dalam mangkuk rawonnya. Lelaki itu hanya mengamati dan menghargai kemandiriannya.Zea mengambil tisu lalu mengelap sendok dan garpuBAB 125Matahari di pesisir utara Pulau B terasa seperti oven yang dinyalakan ke suhu maksimal. Bersama yang lain, Zea melangkah turun dari mobil, merasakan pasir halus menyusup ke sela sepatunya. Di depannya, bangunan megah *Royal Grand Resort & Spa* berdiri cantik dan elegan secara bersamaan.Cukup kontras dengan suasana di sekitarnya, di area proyek yang tampak kacau. Beberapa truk pengangkut terlihat parkir di sana sini. Beberapa orang juga terdengar saling berteriak memberikan instruksi entah apa, karena saling tumpang tindih.Sandra melangkah di depan rombongan kecil mereka dengan gerakan anggun yang terlihat dibuat-buat di mata Zea. Perempuan itu mengenakan kacamata hitam besar, seakan menyembunyikan tatapan predatornya di balik lensa gelap. Di belakangnya, Zea, Reni, dan Beni mengekor seperti ajudan yang sedang mengiringi ke medan perang."Ingat, Zea," Sandra berbisik tanpa m
BAB 124Zea menelan ludahnya kembali. Ia sungguh-sungguh tidak mengetahui perihal ini. Meski akun yang mengeluarkan perintah tersebut adalah akunnya, tapi Zea merasa yakin kalau bukan dia yang melakukan hal itu.“Dibatalkan? Dan spesifikasinya diubah? Pak, saya sungguh tidak mengetahui perihal ini. Saya baru saja membuka sistem pagi ini dan melihat notifikasi merah itu. Saya… saya bahkan berencana melaporkannya pada Bapak sesegera mungkin.”“Apa mksud kamu? Kamu nggak tahu?” Pak Hendra memajukan tubuhnya, menatap Zea dengan penuh intimidasi.Zea menggeleng lemah namun tegas. “Meski yang melakukan perubahan itu tercatat atas nama akun saya, tapi saya bersumpah Pak, .bukan saya yang melakukannya. Kemarin sore saya fokus mempelajari company profile vendor bersama Reni dan Beni.”“Sistem tidak bohong, Zea! Instruksi perubahan spesifikasi itu keluar dari akun milik kamu. Kamu pikir karena kamu orang pusat, kamu bisa seenaknya menguba
BAB 123Cahaya matahari pagi pulau B masuk menembus jajaran jendela di lantai dua gedung tempat Zea berkantor. Sinarnya terasa lebih tajam dari yang biasa Zea temui di kota tempat tinggalnya dulu. Gadis itu berdiri di pantry kecil, sambil mengaduk kopinya perlahan. Aroma kafein yang kuat beradu dengan sisa-sisa aroma laut, yang entah bagaimana berhasil menyusup masuk melalui kisi-kisi pendingin ruangan, benar-benar sukses membangun mood baiknya.Sisa percakapan dengan Ibra semalam masih membekas di kepalanya. Hatinya benar-benar tersentuh oleh semua perlakuan lelaki itu padanya. Ucapannya dan… kiriman makanannya.Ketenangan yang menyelimuti dadanya itulah yang membuat tidurnya terasa lebih nyenyak, meski ia berada di tempat yang sama sekali baru.Zea melangkah menuju meja kerjanya. Kantor masih sepi, hanya ada beberapa orang ditemani dengung pendingin ruangan dan suara mesin fotokopi yang baru dipanaskan di sudut ruangan.
BAB 122Zea berguling ke kiri dan kanan, berusaha menyamankan dirinya ke posisi uwenak. Sekaligus untuk meredakan pegal yang merambat di sekujur punggungnya. Kamar ini kecil, dindingnya putih bersih tanpa hiasan, dan hanya ada suara putaran kipas angin yang membelah keheningan malam di Pulau B. Namun, bagi Zea, kesunyian ini adalah kemewahan setelah seharian telinganya "dicuci" oleh suara tajam Sandra.Selain dari Ibra, juga ada pesan dari kedua sahabatnya. Melihat nama mereka membuat Zea merasakan setetes rasa rindu mendadak merembes di sudut hati. Ia merasa sangat jauh. Dengan sedikit emosional, yang membalas pesan keduanya di grup chat pribadi mereka. Meluapkan kekesalannya pada Sandra juga penyesalannya karena telah menyulitkan Anton, hanya demi ego mencari kenyamanan pribadi.Lalu, jarinya terhenti sejenak. Ada satu hal lagi yang mengganjal di benaknya.“Tadi aku ketemu Arkan di bandara,” tulisnya perlahan.Z
BAB 121“Ini pasti soal kecil buat kamu, kan? Gimana pun juga kamu karyawan pilihan Pak Wira, jadi pastinya kamu sekompeten itu.” tambah wanita itu lagi.Zea meringis. Ucapan sarkas diiringi tatapan merendahkan itu mengingatkannya pada seseorang. Salah satu alasan ia berada di tempatnya sekarang. Naya. Ia mendengus pelan. Tak menyadari kedua tangannya mengepal kuat.“Gimana Ze? Bisa, kan?” Tanya Sandra lagi sambil tersenyum miring.“Siap, Ka.” jawab Zea, suaranya terdengar lantang dan tegas. "Aku akan berusaha semaksimal mungkin.” Meski menjawab dengan tingkat keyakinan tinggi, sebenarnya rasa takut dan keraguan mulai merayapi benak Zea. Ia belum pernah menangani proyek sebesar ini sendirian, apalagi di lingkungan yang begitu asing dan kompetitif. Ia merasa seperti dilemparkan ke tengah laut tanpa pelampung.Namun, di tengah keputusasaan itu, ia mengingat betapa kerasnya ia bekerja untuk sampai di titik ini, Zea tahu ia tak
BAB 120Zea meneguk ludahnya kasar. Matanya membulat. Ia betul-betul terkejut dengan respon dingin Sandra. Ungkapan kerendahan hati yang baru saja ia ucapkan, mengenai bimbingan, hanyalah basa-basi profesional semata, standard kesopanan antar rekan kerja. Tentu saja Pak Wira tidak mungkin mengirim seseorang yang tidak kompeten, apalagi untuk menduduki posisi krusial, sebagai team leader. Sikap kaku Sandra membakar rasa yakin dalam diri Zea. Atmosfer kompetisi yang tajam, yang dirasakannya sewaktu ia memasuki gedung tadi, jelas bukan sekadar imajinasinya sendiri. Itu nyata, sedingin pendingin ruangan di kantor ini.Zea memilih untuk mengangguk sopan, berusaha tidak mengoreksi tuduhan dan memperpanjang masalah dengan Sandra. Terlebih perempuan ini merupakan atasannya. Dalam hati ia berjanji tak akan membiarkan rasa tersinggung ini merusak harinya. Bisa saja Sandra sebenarnya memiliki kepribadian yang lebih hangat dari yang







