MasukZea terus bergumam panik. Antara takut gelap, dan takut Arkan klien yang sedang berada dalam tanggung jawabnya terluka.
Hingga ia bahkan tak menyadari telah berdiri terlalu dekat, hingga Arkan dapat membaui aroma shampo yang dipakainya tadi pagi. Juga tak menyadari bahwa diam-diam ia menikmati aroma lelaki ini. Lampu gudang akhirnya menyala kembali, keduanya tertegun sejenak, lalu saling menjauhkan diri dengan canggung. Zea yang lebih dulu menyadari darah yang mengalir di pelipis Arkan. Wajahnya langsung pucat pasi. Kardus yang jatuh menimpa Arkan tadi rupanya berisi tumbler, sisa merchandise pameran. Benda itu tergeletak miring di lantai, salah satu sudutnya robek, menyisakan bekas benturan yang jelas. “Mas Arkan… kepalanya berdarah…,” suaranya bergetar, telunjuk yang terangkat gemetar. Arkan mengangkat tangan, menyentuh pelipisnya, lalu menariknya kembali saat ujung jarinya basah. Rasa perih baru terasa beberapa detik kemudian, berdenyut, pelan tapi mengganggu. Arkan tersenyum kecil, berusaha menenangkan, “Paling robek dikit, nggak papa kok. Nggak gitu sakit.” Zea membelalak, ia menggelengkan kepalanya cepat, “Nggak, nggak, kita ke rumah sakit sekarang!” Di dalam mobil, suasana hening. Zea duduk di kursi penumpang depan, tubuhnya sedikit condong ke arah Arkan, seolah ingin memastikan lelaki itu baik-baik saja. Sesekali matanya melirik ke arah pelipis Arkan yang kini dibalut kain bersih seadanya. Arkan menyetir dengan satu tangan. Yang lain menekan kain itu, menahan darah agar tak merembes lagi. Kepalanya memang sakit, tapi yang lebih riuh justru pikirannya. “Dibilangin biar aku aja yang pegangin kainnya, Mas.” Rungut Zea, gemas. Arkan tersenyum, “Malah canggung nanti. Ini udah nggak papa kok. Udah berkurang darahnya. Lagian ini mah nggak seberapa. Beberapa tahun lalu aku pernah ngalamin yang lebih parah dari ini.” Ada rasa hangat yang aneh di dadanya. Senang, nyaman, karena Zea ada di sini. Menemaninya, mengatur semuanya, bahkan memarahinya dengan cara yang halus. Dan tatapan gadis itu, ada cemas dan takut yang dirasakannya sebagai ketulusan. Bukan sekedar tanggung jawab karena ia kliennya. Dan di saat yang sama, rasa bersalah menyusul, menekan. Ia tahu seharusnya tidak seperti ini. Zea bukan siapa-siapanya. Ia punya Naya. Perempuan yang namanya tiba-tiba terasa seperti beban yang sengaja ia dorong ke sudut pikirannya. Arkan tidak ingin memikirkannya hari ini. Tidak ingin menjelaskan apa pun. Tidak ingin mengirim pesan, apalagi menelepon. Untuk pertama kalinya, ia memilih diam. Di ruang tindakan IGD, Arkan duduk di ranjang pasien. Bau antiseptik menusuk hidung. Seorang perawat membersihkan luka di kepalanya, sementara dokter menjelaskan bahwa robekannya perlu dijahit. Meski tidak dalam, tapi cukup panjang. Zea berdiri dengan setia di sampingnya. Kedua tangannya saling menggenggam di depan perut. Wajahnya serius, alisnya sedikit berkerut. “Harus banget dicukur ya Dok?” Tanyanya cemas, membuat sang Dokter tersenyum simpul. “Iyaa Mbak. Cuma sedikit kok. Tenang, Masnya bakal tetep keliatan ganteng. Tinggal kasih topi, langsung keren.” Kata dokter itu sekalian menggoda. Membuat wajah Zea menghangat. Ia menunduk. Lagi-lagi Arkan tersenyum kecil. “Bakal sakit dikit ya, Mas,” kata dokter. Arkan mengangguk. “Iya dok, nggak apa-apa.” Saat jarum pertama menusuk kulitnya, Arkan refleks mengeraskan rahang. Zea tanpa sadar melangkah lebih dekat. “Kalau sakit, bilang,” katanya pelan. Kalimat sederhana itu membuat Arkan tersenyum tipis. Begitu tipis hingga senyum yang tak terlihat oleh siapa pun selain dirinya sendiri. Rasa perih di kepala seolah kalah oleh kehadiran gadis yang berdiri begitu dekat, begitu nyata. Sementara gadis itu terfokus pada gerakan dokter dan perawat, Arkan justru terfokus pada wajah Zea. Ia menikmati habis-habisan raut itu. Kadang Zea meringis. Kadang menggigit bibirnya, seakan ikut menahan perih. Membuat Arkan gemas sendiri. Beberapa jahitan kemudian, semuanya selesai. Kepalanya kini terhias balutan perban rapi. “Harus kontrol lagi tiga hari ke depan,” pesan dokter. Zea mengangguk cepat, seolah itu tanggung jawabnya juga. “Iya, Dok.” Arkan menangkap gestur itu. Ada sesuatu yang menghangat lagi di dadanya lagi. Ia tidak menghentikannya. Saat mereka keluar dari rumah sakit, malam sudah menjelang. Lampu-lampu parkiran memantulkan cahaya pucat di aspal yang basah. “Maaf jadi ngerepotin,” ujar Arkan akhirnya. Zea menggeleng, “Justru aku yang harusnya minta maaf. Karena kelalaianku Mas Arkan jadi terluka.” Katanya pelan. Lalu menatap Arkan, “Maaf ya Mas. Mana tadi semua biaya Mas tanggung sendiri. Harusnya biar aku aja. Semua terjadi karena kesalahanku.” Arkan terdiam. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Membuat hatinya ikut sakit. Ia berdehem. “Iya juga sih,” katanya sambil tersenyum jahil, “Kalo gitu traktir aku makan aja, gimana? Perutku laper banget. Kita kan belum makan apa-apa dari siang tadi.” Zea mengangguk cepat. “Oke Mas. Kebetulan aku tahu tempat bebek goreng yang enak.” Arkan mengerutkan kening, dari mana gadis ini tahu kalau ia sangat suka bebek goreng. “Ayo.” Katanya, memutuskan untuk tak bertanya apa pun, “Jauh nggak?” Tanyanya, sekedar basa basi. “Yah, dua puluh menitan sih. Mas masih kuat nggak nahan lapernya?” Tanyanya polos. Arkan terkekeh, “Kuat lah asal nggak dua hari.” Zea tertawa renyah. Membuat Arkan tertegun. Suaranya seperti kicauan burung di pagi hari. Ceria. Menyenangkan. Ia baru menyadari, belum pernah melihat gadis itu tertawa seperti ini. Tawa yang membuat wajah Zea jadi tampak bersinar-sinar. Keduanya lalu masuk ke mobil. Tapi sebelum menyalakan mesin, Arkan terdiam. Ia ingin waktu ini sedikit lebih lama. Ingin perjalanan yang lebih panjang. Ingin percakapan yang tak terburu-buru. Ingin Zea tetap duduk di kursi sebelahnya, setidaknya untuk malam ini.BAB 140 Pagi bahkan belum sepenuhnya meninggi, tetapi kafe di puncak bukit itu sudah tampak hidup dengan dekorasi cantik yang menyatu manis dengan alam di sekitarnya.Di atas hamparan rumput hijau yang membentang, berdiri satu set meja dan kursi bernuansa putih gading, dihiasi lengkungan-lengkungan elegan serta rangkaian bunga kecil yang tersusun lembut di tiap sisi.Kain-kain putih menjuntai dari atas kanopi, bergerak perlahan tertiup angin pagi, membuat suasana terasa hangat tanpa kesan berlebihan. Di belakangnya, pelaminan berdiri anggun menyatu dengan alam sekitar, memberi kesan mewah yang tetap tenang dan tidak kaku.Alunan musik lembut mengisi udara yang masih sejuk, sementara aroma mentega panggang menguar hangat ke berbagai penjuru, menggoda siapa pun yang tengah sibuk hilir mudik mempersiapkan acara hari itu.Tak jauh dari sana, di dalam kamar utama rumah bergaya hangat nan asri itu, Zea berdiri di depan cermin be
BAB 139Di dalam perjalanan pulang, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil SUV keluaran Eropa milik Ibra. Zea tampak terdiam, melemparkan tatapan kosong ke luar jendela, memandangi lalu lalang kendaraan yang bergerak cepat di balik kaca.Benaknya riuh, dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa dilakukan oleh orang tua Naya terhadap dirinya maupun keluarganya di kampung halaman.Ancaman terselubung di restoran tadi bukan sekadar gertak sambal. Mereka punya uang, koneksi, dan kuasa untuk membalikkan fakta hukum. Kini, kubah perlindungan dari Ibra berupa pernikahan mendadak terdengar sangat masuk akal.Namun, jauh di lubuk hatinya, Zea tetap berharap ada jalan keluar lain. Sebuah celah alternatif selain dua penawaran ekstrem yang disodorkan kepadanya. Membiarkan Naya bebas setelah semua kejahatan yang dilakukannya kepada Zea atau menyerahkan seluruh hidupnya dalam ikatan pernikahan bisnis bersa
BAB 138Ibra menolak mentah-mentah pengaturan pertemuan yang diajukan kedua orang tua Naya.Lelaki itu entah bagaimana caranya berhasil mengambil alih kendali, merubah waktu dan tempat pertemuan ke keesokan harinya, pada jam makan siang, di sebuah ruang VIP restoran hotel bintang lima.Zea yang memang sudah pasrah, memilih mempercayai dan mengikuti keputusan lelaki itu.Satu yang pasti, Ibra tidak datang untuk bernegosiasi dengan tangan kosong.Saat pintu ruang VIP itu dibuka, kedua orang tua Naya yang sudah duduk di dalam tampak terkejut, ketika mereka tak hanya melihat Zea dan Ibra, melainkan juga tiga orang pria bersetelan necis dengan tas kerja premium di belakang keduanya. Mereka adalah tim pengacara korporat terbaik yang disewa langsung oleh Ibra."Selamat siang, Tuan dan Nyonya," sapa Ibra, suaranya terdengar dingin meski dilengkapi bibir yang melengkungkan senyuman datar. Ia menarikkan kursi untuk
BAB 137Lengkingan teriakan Naya-lah yang menyadarkan Arkan. Menariknya dari kegelapan pekat. Gelora emosi wanita itu menyentuh jiwanya yang tertidur. Menggapai kesadarannya yang telah berhari-hari mati rasa.Ketika akhirnya hal itu perlahan mencapainya, kelopak matanya yang terasa berat perlahan bergetar. Hal pertama yang ditangkap oleh rungunya adalah suara lembut seseorang yang sangat ia rindukan.Zea.Suara gadis itu terdengar begitu dekat, nyata, dan hangat. Jantung Arkan berdenyut liar, memberikan pasokan energi instan yang memicu otaknya untuk bekerja kembali.Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sepersekian detik.Lamat-lamat, sebuah suara bariton menimpali ucapan Zea. Nadanya tegas, namun tenang, dan sarat akan keintiman. Seakan pemiliknya begitu dekat, begitu akrab dengan Zea. Rasa tidak suka mendadak membakar dada Arkan, sebuah sengatan cemburu yang lebih menyakitkan daripada luka robek di bahunya.
BAB 136“Nggak! Kalian salah orang!! Zea!! Ini pasti kerjaan kamu, kan!! Kamu ngejebak aku!! Dasar brengsek kamu!! Murahaaan!!!Mas Arkan!! Mas Arkan!! Tolong aku, Mas!! MAS TOLOOONG!!”Naya menjerit, mencoba menggapai brankar Arkan, namun petugas dengan cepat menghadang tubuhnya dan menggiringnya keluar dari kamar rawat. Ibra berdiri maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Zea. Sebuah gestur protektif.Suara jeritan dan langkah kaki Naya yang terseret perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang damai di dalam ruangan.Zea mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar. Ia menatap telapak tangannya yang masih terasa sedikit panas akibat tamparan tadi.Ibra menatap telapak yang memerah itu, dan segera menyadari apa yang telah terjadi. Perlahan, ia membimbing Zea menuju sofa. Lelaki itu kemudian berjongkok di hadapan Zea.Keduanya terdiam sejenak sambil memandang telapak tang
BAB 135Zea tertegun. Ia bisa merasakan ketulusan lelaki dengan iris mata madu ini. Pria ini selalu menawarkan keamanan, kestabilan, dan perlindungan. Sungguh, Zea memahami ketakutan dan kekhawatiran Ibra. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang telah bergeser sejak truk itu menghantam mobil Arkan. Rasa takutnya telah menguap, digantikan oleh keberanian yang lahir dari rasa sakit.“Aku tau Mas, aku tau kalo Naya itu berbahaya.” jawab Zea, suaranya terdengar jauh lebih tegar dari sebelumnya, “Itulah sebabnya aku setuju pergi ke Pulau ini, aku memilih menyingkir. Menjauh. Tapi bahkan setelah aku memilih pergi dan mengalah, Naya masih terus ngejar aku. Sampe-sampe dia ngedeketin orang kayak Sandra buat ngebantuin dia ngejatuhin aku. Segitu niatnya dia buat bikin aku celaka. Tapi kali ini…,” Zea menggelengkan kepalanya pelan, “Aku nggak akan lari lagi. Aku nggak mau ngumpet lagi. Aku mau nyelesain semuanya. Dan aku rasa, sekaranglah
Malam ini adalah malam peresmian Kafe. Bukan, bukan kafe Arkan, tapi kafe milik Nadya, sahabat Zea. “Jadi sekarang kita punya tempat nongkrong resmi nih.” Ujar Vivid.“Yep, lebih tepatnya satu tempat lagi, selain warung bakso Mang Usep,” tukas Nadya sambil terkekeh.“S
Naya sudah duduk hampir dua jam di meja di dekat pintu masuk. Tempat yang saat ini paling nyaman di kafe yang belum terbentuk sempurna itu, sembari mengawasi para pekerja.Tidak betul-betul mengawasi sih, karena sudah ada penanggung jawab untuk itu. Jadi dia hanya dia menatap, tanpa
“Hai Sayang…,” rungu Zea menangkap suara manja dari ujung sambungan. Seketika ia membeku.“H-hai…” terdengar Arkan menjawab. Tergagap.“Kangeen…,” kata suara manja itu lagi. Lalu terdengar bunyi seperti, “Muaach.”Lalu sambungan tiba-tiba terputus. Zea masih terpaku. Sa
“Zea.”Zea membalikkan badan, menoleh. Satu tangan Arkan masih di saku celana, sikapnya santai, tatapannya dalam, tapi ada ragu yang menguasai wajahnya.“Kita…” Arkan berhenti sebentar, seperti menimbang kata. “Pernah ketemu sebelumnya, ya?”Pertanyaan itu mengalir







