Home / Romansa / Sampai Kau Ingat Aku / BAB 5 - Luka dan Diam

Share

BAB 5 - Luka dan Diam

Author: Redezilzie
last update Huling Na-update: 2025-12-27 22:59:04

Zea terus bergumam panik. Antara takut gelap, dan takut Arkan klien yang sedang berada dalam tanggung jawabnya terluka.

Hingga ia bahkan tak menyadari telah berdiri terlalu dekat, hingga Arkan dapat membaui aroma shampo yang dipakainya tadi pagi.

Juga tak menyadari bahwa diam-diam ia menikmati aroma lelaki ini.

Lampu gudang akhirnya menyala kembali, keduanya tertegun sejenak, lalu saling menjauhkan diri dengan canggung.

Zea yang lebih dulu menyadari darah yang mengalir di pelipis Arkan. Wajahnya langsung pucat pasi. Kardus yang jatuh menimpa Arkan tadi rupanya berisi tumbler, sisa merchandise pameran. Benda itu tergeletak miring di lantai, salah satu sudutnya robek, menyisakan bekas benturan yang jelas.

“Mas Arkan… kepalanya berdarah…,” suaranya bergetar, telunjuk yang terangkat gemetar.

Arkan mengangkat tangan, menyentuh pelipisnya, lalu menariknya kembali saat ujung jarinya basah. Rasa perih baru terasa beberapa detik kemudian, berdenyut, pelan tapi mengganggu.

Arkan tersenyum kecil, berusaha menenangkan, “Paling robek dikit, nggak papa kok. Nggak gitu sakit.”

Zea membelalak, ia menggelengkan kepalanya cepat, “Nggak, nggak, kita ke rumah sakit sekarang!”

Di dalam mobil, suasana hening. Zea duduk di kursi penumpang depan, tubuhnya sedikit condong ke arah Arkan, seolah ingin memastikan lelaki itu baik-baik saja. Sesekali matanya melirik ke arah pelipis Arkan yang kini dibalut kain bersih seadanya.

Arkan menyetir dengan satu tangan. Yang lain menekan kain itu, menahan darah agar tak merembes lagi. Kepalanya memang sakit, tapi yang lebih riuh justru pikirannya.

“Dibilangin biar aku aja yang pegangin kainnya, Mas.” Rungut Zea, gemas.

Arkan tersenyum, “Malah canggung nanti. Ini udah nggak papa kok. Udah berkurang darahnya. Lagian ini mah nggak seberapa. Beberapa tahun lalu aku pernah ngalamin yang lebih parah dari ini.”

Ada rasa hangat yang aneh di dadanya. Senang, nyaman, karena Zea ada di sini. Menemaninya, mengatur semuanya, bahkan memarahinya dengan cara yang halus. Dan tatapan gadis itu, ada cemas dan takut yang dirasakannya sebagai ketulusan. Bukan sekedar tanggung jawab karena ia kliennya.

Dan di saat yang sama, rasa bersalah menyusul, menekan.

Ia tahu seharusnya tidak seperti ini.

Zea bukan siapa-siapanya. Ia punya Naya. Perempuan yang namanya tiba-tiba terasa seperti beban yang sengaja ia dorong ke sudut pikirannya. Arkan tidak ingin memikirkannya hari ini. Tidak ingin menjelaskan apa pun. Tidak ingin mengirim pesan, apalagi menelepon.

Untuk pertama kalinya, ia memilih diam.

Di ruang tindakan IGD, Arkan duduk di ranjang pasien. Bau antiseptik menusuk hidung. Seorang perawat membersihkan luka di kepalanya, sementara dokter menjelaskan bahwa robekannya perlu dijahit. Meski tidak dalam, tapi cukup panjang.

Zea berdiri dengan setia di sampingnya. Kedua tangannya saling menggenggam di depan perut. Wajahnya serius, alisnya sedikit berkerut.

“Harus banget dicukur ya Dok?” Tanyanya cemas, membuat sang Dokter tersenyum simpul.

“Iyaa Mbak. Cuma sedikit kok. Tenang, Masnya bakal tetep keliatan ganteng. Tinggal kasih topi, langsung keren.” Kata dokter itu sekalian menggoda. Membuat wajah Zea menghangat. Ia menunduk.

Lagi-lagi Arkan tersenyum kecil.

“Bakal sakit dikit ya, Mas,” kata dokter.

Arkan mengangguk. “Iya dok, nggak apa-apa.”

Saat jarum pertama menusuk kulitnya, Arkan refleks mengeraskan rahang. Zea tanpa sadar melangkah lebih dekat.

“Kalau sakit, bilang,” katanya pelan.

Kalimat sederhana itu membuat Arkan tersenyum tipis. Begitu tipis hingga senyum yang tak terlihat oleh siapa pun selain dirinya sendiri. Rasa perih di kepala seolah kalah oleh kehadiran gadis yang berdiri begitu dekat, begitu nyata.

Sementara gadis itu terfokus pada gerakan dokter dan perawat, Arkan justru terfokus pada wajah Zea. Ia menikmati habis-habisan raut itu.

Kadang Zea meringis. Kadang menggigit bibirnya, seakan ikut menahan perih. Membuat Arkan gemas sendiri.

Beberapa jahitan kemudian, semuanya selesai. Kepalanya kini terhias balutan perban rapi.

“Harus kontrol lagi tiga hari ke depan,” pesan dokter.

Zea mengangguk cepat, seolah itu tanggung jawabnya juga. “Iya, Dok.”

Arkan menangkap gestur itu. Ada sesuatu yang menghangat lagi di dadanya lagi. Ia tidak menghentikannya.

Saat mereka keluar dari rumah sakit, malam sudah menjelang. Lampu-lampu parkiran memantulkan cahaya pucat di aspal yang basah.

“Maaf jadi ngerepotin,” ujar Arkan akhirnya.

Zea menggeleng, “Justru aku yang harusnya minta maaf. Karena kelalaianku Mas Arkan jadi terluka.” Katanya pelan.

Lalu menatap Arkan, “Maaf ya Mas. Mana tadi semua biaya Mas tanggung sendiri. Harusnya biar aku aja. Semua terjadi karena kesalahanku.”

Arkan terdiam. Mata gadis itu tampak berkaca-kaca. Membuat hatinya ikut sakit. Ia berdehem.

“Iya juga sih,” katanya sambil tersenyum jahil, “Kalo gitu traktir aku makan aja, gimana? Perutku laper banget. Kita kan belum makan apa-apa dari siang tadi.”

Zea mengangguk cepat.

“Oke Mas. Kebetulan aku tahu tempat bebek goreng yang enak.”

Arkan mengerutkan kening, dari mana gadis ini tahu kalau ia sangat suka bebek goreng.

“Ayo.” Katanya, memutuskan untuk tak bertanya apa pun, “Jauh nggak?” Tanyanya, sekedar basa basi.

“Yah, dua puluh menitan sih. Mas masih kuat nggak nahan lapernya?” Tanyanya polos.

Arkan terkekeh, “Kuat lah asal nggak dua hari.”

Zea tertawa renyah. Membuat Arkan tertegun. Suaranya seperti kicauan burung di pagi hari. Ceria. Menyenangkan.

Ia baru menyadari, belum pernah melihat gadis itu tertawa seperti ini. Tawa yang membuat wajah Zea jadi tampak bersinar-sinar.

Keduanya lalu masuk ke mobil. Tapi sebelum menyalakan mesin, Arkan terdiam.

Ia ingin waktu ini sedikit lebih lama.

Ingin perjalanan yang lebih panjang. Ingin percakapan yang tak terburu-buru. Ingin Zea tetap duduk di kursi sebelahnya, setidaknya untuk malam ini.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 12 - Lelaki dan Bara

    BAB 12Aroma kayu manis yang hangat segera menyergap indra penciuman begitu pintu kafe terbuka. Di salah satu sudut favorit mereka, Zea sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia baru saja menyuap sesendok kecil menu andalan kafe Nadya malam itu.Malam ini, tiga sahabat itu kembali berkumpul di tempat nongkrong andalan mereka, kafe kecil bernuansa hangat romantis, yang selalu berhasil menjadi pelarian paling nyaman, sebuah rumah kedua yang meredam bisingnya kota di luar sana.Menu primadona malam ini adalah Apple Cinnamon Pie.Kue pie dengan pinggiran yang rapuh dan buttery, Di dalamnya, potongan apel yang terkaramelisasi dengan sempurna menyembul malu-malu, menebarkan wangi rempah yang menenangkan. Begitu suapan itu mendarat di lidah, perpaduan rasa asam-manis apel dan renyahnya adonan menyatu sempurna. Sederhana tapi nendang! Apalagi saat diselingi sesapan kopi hitam yang pahitnya menyeimbangkan rasa.

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 11 - Batas Yang Hancur

    BAB 11 - Batas Yang Hancur Zea hampir tersedak mendengar ucapan lelaki di hadapannya.Ia memang paham sepenuhnya maksud dari perkataan Arkan, tapi mendengarnya secara langsung, dengan nada setenang itu, tetap saja membuat dadanya berdebar keras.Zea berdehem pelan, lalu menyedot es teh lecinya, memberi dirinya waktu untuk bernapas.“Aku paham, Mas,” ujarnya akhirnya. “Coba Mas omongin aja sama Mbak Riyanti. Dia penanggung jawab proyek ini sekarang.”Arkan mengangguk, tapi sorot matanya belum sepenuhnya menerima. “Pasti. Sejauh ini aku suka sama cara kerja kamu. Kamu detail.”Zea membalas dengan anggukan kecil.“Zea…,” panggil Arkan lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut.Zea menggigit bibirnya. Kenapa lelaki ini harus mengucapkan namanya seperti itu?“Apa semua klienmu cuma kamu anggap klien?” tanya Arkan tiba-tiba.Zea tertegun. “M-maksudnya, Mas?”“Apa ngga

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 10 - Diputuskan, Dicari

    BAB 10 - Diputuskan, DicariPagi itu kantor berjalan seperti biasa. Seperti biasa juga Zea menghabiskan awal harinya dengan membaca email, dan menyusun ulang jadwal meeting, memastikan tak ada yang terlewat.Sesekali terdengar candaan ringan rekan-rekan satu timnya menambah semarak suasana, membuat Zea ikut mengembangkan senyum kecil. Ia sudah berencana untuk membuat kopi pertamanya, sebelum sebuah suara memanggil namanya. “Zea!” Zea menoleh, “Kak Riyanti?!!” Gadis itu terperangah. Wanita itu seharusnya berada di Pulau B.“Ruang meeting, sekarang ya.” Kata Riyanti setengah berseru.Semua orang memandang Zea penuh tanda tanya. Zea meneguk ludahnya. Cemas mulai menjalari dadanya. Sementara badannya bergerak mengambil ponsel dan tablet, kepalanya mulai menerka-nerka alasan kemunculan ketua timnya itu.Ruang meeting kecil itu terasa hening ketika pintu ditutup. Riyanti yang sedang be

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 9 - Jenderal Perang Dingin

    BAB 9 Seperti ada yang menekan mode tempur di tengkuk Naya. Meski sempat bergetar sejenak, saat melihat kebersamaan kekasihnya dengan perempuan lain di kafe yang kosong, ia memutuskan untuk bersikap tak acuh dan melanjutkan langkahnya dengan mantap. Dilepasnya kacamata hitam mahalnya. Matanya tajam menatap lurus ke arah dua orang di dekat meja bar. Menganalisa. Arkan menelan ludahnya. Malam itu, malam setelah ia mengantar Zea pulang, ia dengan sengaja mengganti nama Zea di ponselnya dengan inisial Z. Dan menambah emotikon hati berwarna putih di sana. Kenapa? Naya juga menanyakan hal yang sama. Dan ia tak bisa memberi jawaban pasti. Mungkin karena panggilan pendek Zea itu Ze? Ia sungguh tak tahu. Tapi satu yang pasti, kekecewaan di mata Naya menamparnya lebih dari apapun. “Pagiii.” Naya menyapa riang, “Pagi Sayang, aku bawain sarapan buat kamu. Kelar ini kita makan bareng ya. Cium deh.” Ujar Naya. Langkah pertamanya untuk menjelaskan batas dengan gamblang. Dari tem

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 8 - Ingat Tapi Tak Ingat

    Wajah dan suara lembut itu muncul di beranda media sosialnya. Membuat Arkan terpaku sesaat. Jarinyanya berhenti di udara, tepat sebelum layar kembali ia geser. Ada sesuatu yang berdenyut pelan di dadanya. Suara itu terdengar sangat familiar.Hanya video biasa. Gadis itu berdiri di atas panggung kecil, diiringi band sederhana. Wajahnya tampak bercahaya di bawah sorot lampu.Ada sesuatu yang familiar pada gadis itu. Sesuatu yang terasa… dekat. Zea mengenakan busana kasual dengan hijab sederhana yang membingkai wajahnya. Sesekali matanya menatap kamera, tatapan teduh yang membuat jantung Arkan berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.Aneh, Arkan jadi terus bertanya-tanya, terus-menerus merasa yakin bahwa mereka pernah kenal sebelumnya.Tapi entah di mana dan kapan. Sejak kecelakaan itu, ia memang melupakan beberapa hal. Pikiran ini membuatnya tercenung sejenak.Lalu suara itu mengalun.Lembut, jujur, tanpa u

  • Sampai Kau Ingat Aku   Bab 7 - Interaksi

    Malam ini adalah malam peresmian Kafe. Bukan, bukan kafe Arkan, tapi kafe milik Nadya, sahabat Zea. “Jadi sekarang kita punya tempat nongkrong resmi nih.” Ujar Vivid.“Yep, lebih tepatnya satu tempat lagi, selain warung bakso Mang Usep,” tukas Nadya sambil terkekeh.“Selamat ya Beb!” kata Zea, mengangkat gelas berisi sarsaparilla. Cairan pekat berwarna kecoklatan mirip cola.Kedua temannya ikut mengangkat gelas mereka dan mengetukkan pelan bersama, “Cheers!! For a better future!” Seru Vivid.“Aamiin!” Balas Zea.“For a better pacar buat Zea!” Tambah Vivid lagi, membuat kedua temannya tergelak.“Aamiin!” Seru keduanya bersamaan.“Habis ini ya, Ze.” Ujar Nadya. “Pokoknya lo harus nyumbang suara, nggak mau tahu!” Nadya berkata sambil menyipitkan mata.Kafe milik Nadya memang dilengkapi dengan fasilitas live band. Dan Nadya sudah mewanti-wanti temannya itu sejak jauh-jauh hari.“Ehem… ma

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status