LOGIN“Hai Sayang…,” rungu Zea menangkap suara manja dari ujung sambungan. Seketika ia membeku.
“H-hai…” terdengar Arkan menjawab. Tergagap. “Kangeen…,” kata suara manja itu lagi. Lalu terdengar bunyi seperti, “Muaach.” Lalu sambungan tiba-tiba terputus. Zea masih terpaku. Sampai kemudian ia tersadar, dan menurunkan ponsel dari telinganya perlahan. Ia tersenyum kecut. Sial. Zea memaki dalam hati saat sadar bahwa dirinya baru saja mendengar suara anomali. Menyebalkan. Padahal kan bisa dilakukannya setelah mengakhiri percakapan mereka dulu. Ah, Zea memaki lagi. Rasanya ia butuh mendinginkan kepalanya sejenak. Ia lalu menuju pantry, untuk membuat kopi dingin, dan menuju atap gedung. Di sana ia bisa berpikir atau sekedar mengalihkan pikirannya, saat otaknya butuh break. Sayangnya kali ini, bukan hanya otaknya yang butuh break, tapi hatinya juga. Meski ia terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa nama Arkan sudah terhapus dari dadanya, tapi interaksi intim yang sempat tertangkap pendengarannya tadi ternyata bisa membuatnya merasa terluka. “Kenapa…,” bisiknya lirih. Zea tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Perjumpaan terakhirnya dengan lelaki itu berakhir sangat manis. Arkan membawanya ke pantai, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol dari hati ke hati. Merancang masa depan bersama. Lalu kemudian, lelaki itu menggambar hati di atas pasir di sekeliling Zea. Awalnya Zea pikir Arkan hanya iseng. Tapi kemudian lelaki itu berlutut, sambil mengacungkan sebuah kotak beludru mungil berisi cincin cantik. “Zea, kita sudah lama saling mengenal, kamu tahu kekuranganku, begitu pun aku. Terima kasih karena masih setia di sini mendampingiku. Dan teruslah mendampingiku sampai kelak maut memisahkan kita, dengan menjadi istriku.” “Jadi, Azalea Rosela Adhyasa, maukah kamu menjadi istriku, mendampingi aku sampai di ujung waktuku?” Zea mengerjap-ngerjap. Ingatan sekelebat itu hadir, membuat pandangannya buram. Itulah saat terakhir mereka bersama. Lelaki itu mengantarkannya pulang, mereka bahkan masih saling melempar tatapan mesra sebelum berpisah. Dan setelah itu, sunyi. Arkan mendadak tak bisa dihubungi. Zea mencari dan mencari, tapi lelaki itu bak hilang ditelan bumi. Zea memijit keningnya. Dan sekarang lelaki itu tiba-tiba muncul dihadapannya, mengganggu hari-harinya. Andai saja ia tahu bahwa akan ada Arkan di projek ini, sudah tentu ia akan menolak. Tapi mungkin ia bisa meminta Riyanti untuk mencari orang lain saja untuk menggantikannya, pikirnya. Tapi, kemudian ingatan bahwa Pak Wira sendiri yang menurunkan instruksi padanya, membuatnya lemas. Tidak, ia tak mungkin menolak. Karena bisa jadi nantinya ia akan dipercaya juga memegang proyek lainnya. Ini pertanda bagus untuk karirnya. Zea mendesah. Baiklah, demi bonus, demi karir, ia harus bertahan sedikit lagi saja dengan Arkan. *** Hari ini mereka bertemu lagi. Meski Arkan menawarkan untuk menjemput, Zea tentu saja harus tahu diri. Ia menolak halus. Suara kecupan kecil itu masih terdengar jelas di telinganya. Keduanya kemudian bertemu di salah satu gudang perusahaan Zea, salah satu alasan Arkan memilih untuk bekerja sama yaitu keberadaan gudang ini. Sehingga dia bisa melihat secara langsung sampel barang -barang yang dipilihnya. Lelaki itu lebih dulu sampai. Ia tersenyum lebar saat melihat Zea. Zea membalas dengan sapaan sopan dan senyum simpul. Gudang itu luas dan dingin, bau kardus bercampur debu tipis memenuhi udara. Zea berjalan di samping Arkan, mencatat beberapa kode barang di ponsel, sesekali mengangguk ketika Arkan menjelaskan detail pesanan. “Ini kursi barnya,” katanya menunjuk deretan bar stool beraneka model. Arkan meneliti dan menanyakan beberapa hal. “Rak gondola yang ini buat area minuman,” kata Arkan sambil menunjuk deretan rak gondola supermarket yang masih terbungkus plastik bening. “Yang sana buat produk kering.” Zea mendekat, memperhatikan sambungan besi dan jarak antar ambalan. Ia hendak bertanya, ketika sesuatu terjadi. Tiba-tiba lampu padam. Membuat segalanya menjadi gelap. Total. Zea tersentak dan berseru tertahan. Refleks tubuhnya lebih cepat dari pikirannya. Ia melangkah ke depan dan meraih lengan Arkan, jari-jarinya mencengkeram kain kemeja pria itu. Dalam gelap yang sama, tubuh Arkan juga bergerak spontan. Tangannya langsung melingkar, menarik dan memeluk Zea, seolah melindungi. Tubuh mereka bertabrakan ringan, napas saling beradu di ruang sempit tanpa cahaya. “Takut! Aku takut gelap!” rintih Zea. Arkan mendekap erat, “Ada aku. Kamu nggak sendiri.” Beberapa detik berlalu. Hanya ada suara napas yang sedikit tersengal. Lalu tiba-tiba Zea tersadar. “Apa sih…!” Zea terkejut oleh posisinya sendiri. Ia langsung mendorong Arkan menjauh. Arkan yang tak siap, terdorong dan kehilangan keseimbangan. “Zea!” serunya. Tubuh Arkan terbentur keras ke rak gondola display di belakangnya. Besi itu bergetar. Dari ambalan atas, sebuah kotak kardus besar berisi entah apa meluncur cepat, dan jatuh tepat ke atas kepalanya. Brak! Kardus itu lalu menghantam bahu Arkan dan jatuh ke lantai. Arkan meringis dan terhuyung. “Ya Allah!” Zea panik. “Mas Arkan!” Ia langsung mendekat lagi, kali ini tanpa pikir panjang. Dalam gelap, tangannya meraba-raba bahu dan dada Arkan, memastikan ia masih berdiri. “Kena yang mana ,Mas? Sakit nggak?” suaranya bergetar. Sejenak Arkan terdiam. Bukan karena sakit. Tapi karena, Sentuhan itu. Suara itu. Cara Zea meraba dengan cemas, napasnya yang dekat, suara paniknya, semuanya laksana menghantam ruangan ingatan lama yang terkunci rapat di kepalanya. Seperti, Déjà vu. Lampu mati. Ruang gelap. Rapat malam di kampus. Ia melihat bayangan itu begitu jelas. Dulu. Di ruang seminar lantai tiga. Mereka mahasiswa tingkat akhir, diskusi molor sampai malam. Tiba-tiba listrik padam. Zea yang dulu juga panik, refleks memegang lengannya. Arkan yang tanpa sadar memeluknya. Detik-detik canggung yang sama. Napas yang terlalu dekat. Jantung yang berdegup terlalu cepat. Semuanya sama. Bahkan jarak di antara mereka sekarang… nyaris identik. “Mas?” Zea memanggil lagi, tangannya masih di bahunya. Lampu belum menyala. Dan Arkan berdiri di sana, menahan napas, dengan satu kesadaran yang menekan dadanya pelan tapi pasti: Ini…, pernah terjadi.BAB 140 Pagi bahkan belum sepenuhnya meninggi, tetapi kafe di puncak bukit itu sudah tampak hidup dengan dekorasi cantik yang menyatu manis dengan alam di sekitarnya.Di atas hamparan rumput hijau yang membentang, berdiri satu set meja dan kursi bernuansa putih gading, dihiasi lengkungan-lengkungan elegan serta rangkaian bunga kecil yang tersusun lembut di tiap sisi.Kain-kain putih menjuntai dari atas kanopi, bergerak perlahan tertiup angin pagi, membuat suasana terasa hangat tanpa kesan berlebihan. Di belakangnya, pelaminan berdiri anggun menyatu dengan alam sekitar, memberi kesan mewah yang tetap tenang dan tidak kaku.Alunan musik lembut mengisi udara yang masih sejuk, sementara aroma mentega panggang menguar hangat ke berbagai penjuru, menggoda siapa pun yang tengah sibuk hilir mudik mempersiapkan acara hari itu.Tak jauh dari sana, di dalam kamar utama rumah bergaya hangat nan asri itu, Zea berdiri di depan cermin be
BAB 139Di dalam perjalanan pulang, keheningan yang mencekam menyelimuti kabin mobil SUV keluaran Eropa milik Ibra. Zea tampak terdiam, melemparkan tatapan kosong ke luar jendela, memandangi lalu lalang kendaraan yang bergerak cepat di balik kaca.Benaknya riuh, dipenuhi oleh kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa dilakukan oleh orang tua Naya terhadap dirinya maupun keluarganya di kampung halaman.Ancaman terselubung di restoran tadi bukan sekadar gertak sambal. Mereka punya uang, koneksi, dan kuasa untuk membalikkan fakta hukum. Kini, kubah perlindungan dari Ibra berupa pernikahan mendadak terdengar sangat masuk akal.Namun, jauh di lubuk hatinya, Zea tetap berharap ada jalan keluar lain. Sebuah celah alternatif selain dua penawaran ekstrem yang disodorkan kepadanya. Membiarkan Naya bebas setelah semua kejahatan yang dilakukannya kepada Zea atau menyerahkan seluruh hidupnya dalam ikatan pernikahan bisnis bersa
BAB 138Ibra menolak mentah-mentah pengaturan pertemuan yang diajukan kedua orang tua Naya.Lelaki itu entah bagaimana caranya berhasil mengambil alih kendali, merubah waktu dan tempat pertemuan ke keesokan harinya, pada jam makan siang, di sebuah ruang VIP restoran hotel bintang lima.Zea yang memang sudah pasrah, memilih mempercayai dan mengikuti keputusan lelaki itu.Satu yang pasti, Ibra tidak datang untuk bernegosiasi dengan tangan kosong.Saat pintu ruang VIP itu dibuka, kedua orang tua Naya yang sudah duduk di dalam tampak terkejut, ketika mereka tak hanya melihat Zea dan Ibra, melainkan juga tiga orang pria bersetelan necis dengan tas kerja premium di belakang keduanya. Mereka adalah tim pengacara korporat terbaik yang disewa langsung oleh Ibra."Selamat siang, Tuan dan Nyonya," sapa Ibra, suaranya terdengar dingin meski dilengkapi bibir yang melengkungkan senyuman datar. Ia menarikkan kursi untuk
BAB 137Lengkingan teriakan Naya-lah yang menyadarkan Arkan. Menariknya dari kegelapan pekat. Gelora emosi wanita itu menyentuh jiwanya yang tertidur. Menggapai kesadarannya yang telah berhari-hari mati rasa.Ketika akhirnya hal itu perlahan mencapainya, kelopak matanya yang terasa berat perlahan bergetar. Hal pertama yang ditangkap oleh rungunya adalah suara lembut seseorang yang sangat ia rindukan.Zea.Suara gadis itu terdengar begitu dekat, nyata, dan hangat. Jantung Arkan berdenyut liar, memberikan pasokan energi instan yang memicu otaknya untuk bekerja kembali.Namun, kebahagiaan itu hanya bertahan sepersekian detik.Lamat-lamat, sebuah suara bariton menimpali ucapan Zea. Nadanya tegas, namun tenang, dan sarat akan keintiman. Seakan pemiliknya begitu dekat, begitu akrab dengan Zea. Rasa tidak suka mendadak membakar dada Arkan, sebuah sengatan cemburu yang lebih menyakitkan daripada luka robek di bahunya.
BAB 136“Nggak! Kalian salah orang!! Zea!! Ini pasti kerjaan kamu, kan!! Kamu ngejebak aku!! Dasar brengsek kamu!! Murahaaan!!!Mas Arkan!! Mas Arkan!! Tolong aku, Mas!! MAS TOLOOONG!!”Naya menjerit, mencoba menggapai brankar Arkan, namun petugas dengan cepat menghadang tubuhnya dan menggiringnya keluar dari kamar rawat. Ibra berdiri maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Zea. Sebuah gestur protektif.Suara jeritan dan langkah kaki Naya yang terseret perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang damai di dalam ruangan.Zea mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar. Ia menatap telapak tangannya yang masih terasa sedikit panas akibat tamparan tadi.Ibra menatap telapak yang memerah itu, dan segera menyadari apa yang telah terjadi. Perlahan, ia membimbing Zea menuju sofa. Lelaki itu kemudian berjongkok di hadapan Zea.Keduanya terdiam sejenak sambil memandang telapak tang
BAB 135Zea tertegun. Ia bisa merasakan ketulusan lelaki dengan iris mata madu ini. Pria ini selalu menawarkan keamanan, kestabilan, dan perlindungan. Sungguh, Zea memahami ketakutan dan kekhawatiran Ibra. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang telah bergeser sejak truk itu menghantam mobil Arkan. Rasa takutnya telah menguap, digantikan oleh keberanian yang lahir dari rasa sakit.“Aku tau Mas, aku tau kalo Naya itu berbahaya.” jawab Zea, suaranya terdengar jauh lebih tegar dari sebelumnya, “Itulah sebabnya aku setuju pergi ke Pulau ini, aku memilih menyingkir. Menjauh. Tapi bahkan setelah aku memilih pergi dan mengalah, Naya masih terus ngejar aku. Sampe-sampe dia ngedeketin orang kayak Sandra buat ngebantuin dia ngejatuhin aku. Segitu niatnya dia buat bikin aku celaka. Tapi kali ini…,” Zea menggelengkan kepalanya pelan, “Aku nggak akan lari lagi. Aku nggak mau ngumpet lagi. Aku mau nyelesain semuanya. Dan aku rasa, sekaranglah
Malam ini adalah malam peresmian Kafe. Bukan, bukan kafe Arkan, tapi kafe milik Nadya, sahabat Zea. “Jadi sekarang kita punya tempat nongkrong resmi nih.” Ujar Vivid.“Yep, lebih tepatnya satu tempat lagi, selain warung bakso Mang Usep,” tukas Nadya sambil terkekeh.“S
Naya sudah duduk hampir dua jam di meja di dekat pintu masuk. Tempat yang saat ini paling nyaman di kafe yang belum terbentuk sempurna itu, sembari mengawasi para pekerja.Tidak betul-betul mengawasi sih, karena sudah ada penanggung jawab untuk itu. Jadi dia hanya dia menatap, tanpa
Zea terus bergumam panik. Antara takut gelap, dan takut Arkan klien yang sedang berada dalam tanggung jawabnya terluka.Hingga ia bahkan tak menyadari telah berdiri terlalu dekat, hingga Arkan dapat membaui aroma shampo yang dipakainya tadi pagi.Juga tak menyadari bahwa diam-di
“Zea.”Zea membalikkan badan, menoleh. Satu tangan Arkan masih di saku celana, sikapnya santai, tatapannya dalam, tapi ada ragu yang menguasai wajahnya.“Kita…” Arkan berhenti sebentar, seperti menimbang kata. “Pernah ketemu sebelumnya, ya?”Pertanyaan itu mengalir







