Home / Romansa / Sampai Kau Ingat Aku / BAB 4 - Deja Vu

Share

BAB 4 - Deja Vu

Author: Redezilzie
last update Last Updated: 2025-12-27 22:57:27

“Hai Sayang…,” rungu Zea menangkap suara manja dari ujung sambungan. Seketika ia membeku.

“H-hai…” terdengar Arkan menjawab. Tergagap.

“Kangeen…,” kata suara manja itu lagi. Lalu terdengar bunyi seperti, “Muaach.”

Lalu sambungan tiba-tiba terputus. Zea masih terpaku. Sampai kemudian ia tersadar, dan menurunkan ponsel dari telinganya perlahan.

Ia tersenyum kecut. Sial. Zea memaki dalam hati saat sadar bahwa dirinya baru saja mendengar suara anomali. Menyebalkan. Padahal kan bisa dilakukannya setelah mengakhiri percakapan mereka dulu. Ah, Zea memaki lagi.

Rasanya ia butuh mendinginkan kepalanya sejenak. Ia lalu menuju pantry, untuk membuat kopi dingin, dan menuju atap gedung.

Di sana ia bisa berpikir atau sekedar mengalihkan pikirannya, saat otaknya butuh break. Sayangnya kali ini, bukan hanya otaknya yang butuh break, tapi hatinya juga.

Meski ia terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa nama Arkan sudah terhapus dari dadanya, tapi interaksi intim yang sempat tertangkap pendengarannya tadi ternyata bisa membuatnya merasa terluka.

“Kenapa…,” bisiknya lirih.

Zea tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Perjumpaan terakhirnya dengan lelaki itu berakhir sangat manis.

Arkan membawanya ke pantai, mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol dari hati ke hati. Merancang masa depan bersama. Lalu kemudian, lelaki itu menggambar hati di atas pasir di sekeliling Zea.

Awalnya Zea pikir Arkan hanya iseng. Tapi kemudian lelaki itu berlutut, sambil mengacungkan sebuah kotak beludru mungil berisi cincin cantik.

“Zea, kita sudah lama saling mengenal, kamu tahu kekuranganku, begitu pun aku. Terima kasih karena masih setia di sini mendampingiku. Dan teruslah mendampingiku sampai kelak maut memisahkan kita, dengan menjadi istriku.”

“Jadi, Azalea Rosela Adhyasa, maukah kamu menjadi istriku, mendampingi aku sampai di ujung waktuku?”

Zea mengerjap-ngerjap. Ingatan sekelebat itu hadir, membuat pandangannya buram. Itulah saat terakhir mereka bersama. Lelaki itu mengantarkannya pulang, mereka bahkan masih saling melempar tatapan mesra sebelum berpisah.

Dan setelah itu, sunyi. Arkan mendadak tak bisa dihubungi. Zea mencari dan mencari, tapi lelaki itu bak hilang ditelan bumi.

Zea memijit keningnya.

Dan sekarang lelaki itu tiba-tiba muncul dihadapannya, mengganggu hari-harinya. Andai saja ia tahu bahwa akan ada Arkan di projek ini, sudah tentu ia akan menolak.

Tapi mungkin ia bisa meminta Riyanti untuk mencari orang lain saja untuk menggantikannya, pikirnya.

Tapi, kemudian ingatan bahwa Pak Wira sendiri yang menurunkan instruksi padanya, membuatnya lemas. Tidak, ia tak mungkin menolak. Karena bisa jadi nantinya ia akan dipercaya juga memegang proyek lainnya. Ini pertanda bagus untuk karirnya.

Zea mendesah. Baiklah, demi bonus, demi karir, ia harus bertahan sedikit lagi saja dengan Arkan.

***

Hari ini mereka bertemu lagi. Meski Arkan menawarkan untuk menjemput, Zea tentu saja harus tahu diri. Ia menolak halus. Suara kecupan kecil itu masih terdengar jelas di telinganya.

Keduanya kemudian bertemu di salah satu gudang perusahaan Zea, salah satu alasan Arkan memilih untuk bekerja sama yaitu keberadaan gudang ini. Sehingga dia bisa melihat secara langsung sampel barang -barang yang dipilihnya.

Lelaki itu lebih dulu sampai. Ia tersenyum lebar saat melihat Zea. Zea membalas dengan sapaan sopan dan senyum simpul.

Gudang itu luas dan dingin, bau kardus bercampur debu tipis memenuhi udara. Zea berjalan di samping Arkan, mencatat beberapa kode barang di ponsel, sesekali mengangguk ketika Arkan menjelaskan detail pesanan.

“Ini kursi barnya,” katanya menunjuk deretan bar stool beraneka model.

Arkan meneliti dan menanyakan beberapa hal.

“Rak gondola yang ini buat area minuman,” kata Arkan sambil menunjuk deretan rak gondola supermarket yang masih terbungkus plastik bening. “Yang sana buat produk kering.”

Zea mendekat, memperhatikan sambungan besi dan jarak antar ambalan. Ia hendak bertanya, ketika sesuatu terjadi.

Tiba-tiba lampu padam. Membuat segalanya menjadi gelap. Total.

Zea tersentak dan berseru tertahan. Refleks tubuhnya lebih cepat dari pikirannya. Ia melangkah ke depan dan meraih lengan Arkan, jari-jarinya mencengkeram kain kemeja pria itu.

Dalam gelap yang sama, tubuh Arkan juga bergerak spontan. Tangannya langsung melingkar, menarik dan memeluk Zea, seolah melindungi. Tubuh mereka bertabrakan ringan, napas saling beradu di ruang sempit tanpa cahaya.

“Takut! Aku takut gelap!” rintih Zea.

Arkan mendekap erat, “Ada aku. Kamu nggak sendiri.”

Beberapa detik berlalu. Hanya ada suara napas yang sedikit tersengal.

Lalu tiba-tiba Zea tersadar.

“Apa sih…!” Zea terkejut oleh posisinya sendiri. Ia langsung mendorong Arkan menjauh.

Arkan yang tak siap, terdorong dan kehilangan keseimbangan.

“Zea!” serunya.

Tubuh Arkan terbentur keras ke rak gondola display di belakangnya. Besi itu bergetar. Dari ambalan atas, sebuah kotak kardus besar berisi entah apa meluncur cepat, dan jatuh tepat ke atas kepalanya.

Brak!

Kardus itu lalu menghantam bahu Arkan dan jatuh ke lantai. Arkan meringis dan terhuyung.

“Ya Allah!” Zea panik. “Mas Arkan!”

Ia langsung mendekat lagi, kali ini tanpa pikir panjang. Dalam gelap, tangannya meraba-raba bahu dan dada Arkan, memastikan ia masih berdiri.

“Kena yang mana ,Mas? Sakit nggak?” suaranya bergetar.

Sejenak Arkan terdiam. Bukan karena sakit. Tapi karena,

Sentuhan itu. Suara itu.

Cara Zea meraba dengan cemas, napasnya yang dekat, suara paniknya, semuanya laksana menghantam ruangan ingatan lama yang terkunci rapat di kepalanya. Seperti,

Déjà vu.

Lampu mati.

Ruang gelap.

Rapat malam di kampus.

Ia melihat bayangan itu begitu jelas.

Dulu. Di ruang seminar lantai tiga. Mereka mahasiswa tingkat akhir, diskusi molor sampai malam. Tiba-tiba listrik padam. Zea yang dulu juga panik, refleks memegang lengannya. Arkan yang tanpa sadar memeluknya. Detik-detik canggung yang sama. Napas yang terlalu dekat. Jantung yang berdegup terlalu cepat.

Semuanya sama.

Bahkan jarak di antara mereka sekarang… nyaris identik.

“Mas?” Zea memanggil lagi, tangannya masih di bahunya.

Lampu belum menyala.

Dan Arkan berdiri di sana, menahan napas, dengan satu kesadaran yang menekan dadanya pelan tapi pasti:

Ini…, pernah terjadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 12 - Lelaki dan Bara

    BAB 12Aroma kayu manis yang hangat segera menyergap indra penciuman begitu pintu kafe terbuka. Di salah satu sudut favorit mereka, Zea sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia baru saja menyuap sesendok kecil menu andalan kafe Nadya malam itu.Malam ini, tiga sahabat itu kembali berkumpul di tempat nongkrong andalan mereka, kafe kecil bernuansa hangat romantis, yang selalu berhasil menjadi pelarian paling nyaman, sebuah rumah kedua yang meredam bisingnya kota di luar sana.Menu primadona malam ini adalah Apple Cinnamon Pie.Kue pie dengan pinggiran yang rapuh dan buttery, Di dalamnya, potongan apel yang terkaramelisasi dengan sempurna menyembul malu-malu, menebarkan wangi rempah yang menenangkan. Begitu suapan itu mendarat di lidah, perpaduan rasa asam-manis apel dan renyahnya adonan menyatu sempurna. Sederhana tapi nendang! Apalagi saat diselingi sesapan kopi hitam yang pahitnya menyeimbangkan rasa.

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 11 - Batas Yang Hancur

    BAB 11 - Batas Yang Hancur Zea hampir tersedak mendengar ucapan lelaki di hadapannya.Ia memang paham sepenuhnya maksud dari perkataan Arkan, tapi mendengarnya secara langsung, dengan nada setenang itu, tetap saja membuat dadanya berdebar keras.Zea berdehem pelan, lalu menyedot es teh lecinya, memberi dirinya waktu untuk bernapas.“Aku paham, Mas,” ujarnya akhirnya. “Coba Mas omongin aja sama Mbak Riyanti. Dia penanggung jawab proyek ini sekarang.”Arkan mengangguk, tapi sorot matanya belum sepenuhnya menerima. “Pasti. Sejauh ini aku suka sama cara kerja kamu. Kamu detail.”Zea membalas dengan anggukan kecil.“Zea…,” panggil Arkan lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut.Zea menggigit bibirnya. Kenapa lelaki ini harus mengucapkan namanya seperti itu?“Apa semua klienmu cuma kamu anggap klien?” tanya Arkan tiba-tiba.Zea tertegun. “M-maksudnya, Mas?”“Apa ngga

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 10 - Diputuskan, Dicari

    BAB 10 - Diputuskan, DicariPagi itu kantor berjalan seperti biasa. Seperti biasa juga Zea menghabiskan awal harinya dengan membaca email, dan menyusun ulang jadwal meeting, memastikan tak ada yang terlewat.Sesekali terdengar candaan ringan rekan-rekan satu timnya menambah semarak suasana, membuat Zea ikut mengembangkan senyum kecil. Ia sudah berencana untuk membuat kopi pertamanya, sebelum sebuah suara memanggil namanya. “Zea!” Zea menoleh, “Kak Riyanti?!!” Gadis itu terperangah. Wanita itu seharusnya berada di Pulau B.“Ruang meeting, sekarang ya.” Kata Riyanti setengah berseru.Semua orang memandang Zea penuh tanda tanya. Zea meneguk ludahnya. Cemas mulai menjalari dadanya. Sementara badannya bergerak mengambil ponsel dan tablet, kepalanya mulai menerka-nerka alasan kemunculan ketua timnya itu.Ruang meeting kecil itu terasa hening ketika pintu ditutup. Riyanti yang sedang be

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 9 - Jenderal Perang Dingin

    BAB 9 Seperti ada yang menekan mode tempur di tengkuk Naya. Meski sempat bergetar sejenak, saat melihat kebersamaan kekasihnya dengan perempuan lain di kafe yang kosong, ia memutuskan untuk bersikap tak acuh dan melanjutkan langkahnya dengan mantap. Dilepasnya kacamata hitam mahalnya. Matanya tajam menatap lurus ke arah dua orang di dekat meja bar. Menganalisa. Arkan menelan ludahnya. Malam itu, malam setelah ia mengantar Zea pulang, ia dengan sengaja mengganti nama Zea di ponselnya dengan inisial Z. Dan menambah emotikon hati berwarna putih di sana. Kenapa? Naya juga menanyakan hal yang sama. Dan ia tak bisa memberi jawaban pasti. Mungkin karena panggilan pendek Zea itu Ze? Ia sungguh tak tahu. Tapi satu yang pasti, kekecewaan di mata Naya menamparnya lebih dari apapun. “Pagiii.” Naya menyapa riang, “Pagi Sayang, aku bawain sarapan buat kamu. Kelar ini kita makan bareng ya. Cium deh.” Ujar Naya. Langkah pertamanya untuk menjelaskan batas dengan gamblang. Dari tem

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 8 - Ingat Tapi Tak Ingat

    Wajah dan suara lembut itu muncul di beranda media sosialnya. Membuat Arkan terpaku sesaat. Jarinyanya berhenti di udara, tepat sebelum layar kembali ia geser. Ada sesuatu yang berdenyut pelan di dadanya. Suara itu terdengar sangat familiar.Hanya video biasa. Gadis itu berdiri di atas panggung kecil, diiringi band sederhana. Wajahnya tampak bercahaya di bawah sorot lampu.Ada sesuatu yang familiar pada gadis itu. Sesuatu yang terasa… dekat. Zea mengenakan busana kasual dengan hijab sederhana yang membingkai wajahnya. Sesekali matanya menatap kamera, tatapan teduh yang membuat jantung Arkan berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.Aneh, Arkan jadi terus bertanya-tanya, terus-menerus merasa yakin bahwa mereka pernah kenal sebelumnya.Tapi entah di mana dan kapan. Sejak kecelakaan itu, ia memang melupakan beberapa hal. Pikiran ini membuatnya tercenung sejenak.Lalu suara itu mengalun.Lembut, jujur, tanpa u

  • Sampai Kau Ingat Aku   Bab 7 - Interaksi

    Malam ini adalah malam peresmian Kafe. Bukan, bukan kafe Arkan, tapi kafe milik Nadya, sahabat Zea. “Jadi sekarang kita punya tempat nongkrong resmi nih.” Ujar Vivid.“Yep, lebih tepatnya satu tempat lagi, selain warung bakso Mang Usep,” tukas Nadya sambil terkekeh.“Selamat ya Beb!” kata Zea, mengangkat gelas berisi sarsaparilla. Cairan pekat berwarna kecoklatan mirip cola.Kedua temannya ikut mengangkat gelas mereka dan mengetukkan pelan bersama, “Cheers!! For a better future!” Seru Vivid.“Aamiin!” Balas Zea.“For a better pacar buat Zea!” Tambah Vivid lagi, membuat kedua temannya tergelak.“Aamiin!” Seru keduanya bersamaan.“Habis ini ya, Ze.” Ujar Nadya. “Pokoknya lo harus nyumbang suara, nggak mau tahu!” Nadya berkata sambil menyipitkan mata.Kafe milik Nadya memang dilengkapi dengan fasilitas live band. Dan Nadya sudah mewanti-wanti temannya itu sejak jauh-jauh hari.“Ehem… ma

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status