Beranda / Romansa / Sampai Kau Ingat Aku / BAB 6 - Z dan Emot Hati

Share

BAB 6 - Z dan Emot Hati

Penulis: Redezilzie
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-27 23:00:58

Naya sudah duduk hampir dua jam di meja di dekat pintu masuk. Tempat yang saat ini paling nyaman di kafe yang belum terbentuk sempurna itu, sembari mengawasi para pekerja.

Tidak betul-betul mengawasi sih, karena sudah ada penanggung jawab untuk itu. Jadi dia hanya dia menatap, tanpa tahu apa yang ditatapnya.

Kopi dalam tumblrnya sudah nyaris habis, sudah tak lagi hangat, sama seperti pesan-pesan yang tak kunjung berbalas sejak siang. Ia sudah mencoba menelepon Arkan. Berkali-kali bahkan. Tapi hasilnya sama. Tidak aktif. Tidak ada kabar. Tidak ada penjelasan.

Seharusnya tak selama ini, sebab lelaki itu hanya melihat dan mengecek beberapa sampel barang yang akan digunakan di cafenya. Naya tahu jadwal kekasihnya itu.

Ia menghela nafas panjang.

Sore tadi, sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang ia kenal baik. Seorang teman yang merupakan Konsultan Manager di perusahaan supplier yang sedang bekerja sama dengan sang kekasih.

“Nay, di gudang tadi sempat ada insiden kecil. Arkan kena, tapi kayaknya nggak parah.”

Sejak itu, kekhawatiran Naya tumbuh jadi gelisah yang tak bisa ia redam.

Dan kini, saat matahari sudah terbenam dan bulan sudah bergerak dari peraduannya, lelaki itu tak kunjung menampakkan batang hidungnya.

Naya menggeretakkan giginya menahan kesal. Perempuan itu akhirnya bangkit dan meninggalkan kafe, menuju ke suatu tempat.

***

Malam sudah cukup larut ketika Arkan tiba di apartemen. Bibir yang tak henti mengukir senyum itu terus mengalunkan senandung pelan. Hatinya dipenuhi balon-balon hati berwarna pink. Rasanya seperti jatuh cinta.

Ia tertegun.

Ia baru saja kembali dari mengantar Zea. Perempuan itu menjadi sedikit ‘jinak’ sejak insiden siang tadi. Membuat Arkan merasa ‘pengorbanannya’ tak sia-sia. Rasanya rela dijahit berkali-kali.

Lampu ruang tengah apartemen masih menyala ketika Arkan akhirnya memutar kunci pintu. Jam di dinding sudah melewati angka sepuluh. Udara di dalam ruangan terasa dingin, berbanding terbalik dengan hatinya berpendar hangat.

Ketika melihat Naya duduk santai di sofa, kakinya menyilang anggun, dengan kedua tangan di pangkuan memegang ponsel menyala, Arkan terkejut bukan main.

Ia mendapati mata gadis itu menyorot tajam, mengikuti setiap langkahnya begitu melewati pintu. Sial, ia benar-benar lupa pada keberadaan Naya.

Dan ia kemudian tertegun lagi. Terheran pada makian di kepalanya.

“H-hai…,” ia menyapa gugup.

Naya tersenyum, senyum yang tak sampai ke matanya, seraya menepuk-nepuk sofa, seakan meminta Arkan duduk di sampingnya.

“Itu kenapa Yang?” Tanyanya,. melihat ke arah perban di kepalanya.

“Ooh, i-ini, eh, tadi ada kecelakaan dikit.”

Naya menegakkan tubuh, dan Arkan refleks menunduk untuk menunjukkan lukanya.

Perempuan itu hanya mengamati sejenak.

“Kena apa?”

“Kardus isi Tumbler.”

“Tumbler? Sekardus?*

Arkan mengangguk, “Aku nggak cek isinya sih. Tapi lebih dari satu.”

“Trus?”

“Hmmm… ya udah, gitu doang.”

Naya berdecak.

“Dijahit?”

Arkan mengangguk lagi.

“Berapa jahitan?”

“Enam apa delapan gitu kalo nggak salah.”

Naya terdiam lagi.

“Kamu udah makan?” Tanya gadis itu.

Arkan terdiam sebentar, lalu mengangguk.

“Kenapa nggak telepon aku?”

Arkan mengedip. Ia tahu pertanyaan ini akan datang. Ia mencoba mencari alasan yang paling masuk akal.

‘Kenapa nggak ngabarin?”lanjut Naya lagi.

Lalu sunyi. Naya diam dan tetap menunggu. Seperti memberi waktu Arkan untuk menghimpun dan mengambil satu pilihan jawaban.

“Aku…,” ia ragu, “Aku nggak mau bikin kamu khawatir.”

Arkan tahu, bukan itu jawaban yang Naya harapkan. Mereka saling memandang, dan ia melihat kekecewaan di sana. Membuat hatinya terasa tercubit.

Perempuan di depannya ini, sudah menemani hari-harinya selama nyaris setahun belakangan. Ia bukan hanya seorang kekasih, tapi juga suporter terbaiknya.

Balon-balon berbentuk hati tadi menghilang dan berganti kumpulan penyesalan. Ia bertanya-tanya sendiri, apa memang semudah ini hati berpindah?

“Maksudnya?”

Arkan menelan ludah, “A-ku nggak mau ngerepotin kamu.”

Naya terdiam.

“Apa itu artinya…, kamu juga sering merasa direpotkan oleh ku?” Tanya Naya. Suaranya bergetar.

Arkan menggeleng cepat, “Bukan begitu maksudku.”

Arkan melihat mata itu dipenuhi kaca-kaca. Hatinya mencelos.

“Aku…,” Arkan tak mampu melanjutkan, ia meraih kedua tangan Naya. Terkejut sendiri merasakan dinginnya. Sudah berapa lama gadis ini menunggunya di sini. Tiba-tiba Arkan merasa sangat bodoh.

“Maaf…,” katanya pelan. Digenggamnya tangan itu erat.

“Aku cuma luka sedikit. Memang sempat syok. Tapi mereka cukup sigap langsung membawaku ke rumah sakit. Aku diurus dengan baik. Aku betul-betul nggak mau bikin kamu khawatir.”

Naya mengedip, dan sebutir air mata mengalir di pelupuk matanya.

“Sayang…,” bisik Arkan. Dihapusnya air mata itu.

“Kamu…, bersihkan diri kamu dulu aja.” Naya berkata pelan. Gadis itu menarik nafasnya pelan-pelan. Ia berdiri, lalu berjalan menuju dapur.

Sementara Arkan terdiam, sebelum kemudian menyusul.

Dilihatnya Naya membenahi hidangan di atas meja.

“Kamu…,* rasa bersalah menggulung di dadanya, “Kamu ngapain?”

“Beresin ini. Biar besok kamu tinggal manasin.”

“Kamu…, udah makan?”

“Udah sedikit.”

Arkan memandang pada empat potong ayam geprek, sepiring cah kangkung, lalapan, tahu, tempe dan sambal. Semua terlihat masih utuh.

“Aku mandi sebentar ya, habis itu kita makan.”

Gerakan Naya terhenti, “Bukannya kamu udah makan?”

Arkan menggeleng, “Cuma sedikit tadi. Bentar ya, be right back.”

Ia lalu bergegas menuju ke kamar.

Naya sudah meletakkan kembali ssmua hidangan makan malam yang hendak disimpannya, terdengar suara notifikasi.

Ia mengerutkan kening, suara ponsel Arkan. Di atas meja. Rupanya lelaki itu lupa membawanya.

Sesuatu dalam dirinya menggelitik. Ia menghampiri ponsel, dan melihat pesan yang masuk.

Dari Z dengan emoticon hati putih,

“Mas udah sampe rumah, belum?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 13 - Cinnamon Queen

    BAB 13Arkan berdiri mematung sejenak, membiarkan matanya menyapu seluruh penjuru kafe miliknya.Rasa lega yang hangat perlahan merayap, menyelimuti dadanya. Semua kerja keras selama berbulan-bulan, tahun-tahun panjang yang ia habiskan dengan tumpukan sketsa dan mimpi yang berjejalan di kepala, kini berdiri nyata di hadapannya. Kayu-kayu yang ia pilih sendiri, pencahayaan yang ia atur presisinya, hingga aroma cat dan furnitur baru; semuanya terasa hidup. Kafe ini bukan lagi sekadar proyek arsitektur, melainkan perpanjangan dari jiwanya.Dan malam ini, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arkan ingin bernapas tanpa beban.Ia menginginkan sebuah perayaan kecil. Bukan pesta besar. Bukan keramaian. Hanya ruang untuk menenangkan diri. Dan tanpa perlu berpikir lama, ia tahu ke mana harus pergi.Setengah jam kemudian Arkan sudah melangkah memasuki tempat yang ditujunya. Matanya memandang berkeliling, mencari-cari penuh harap.

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 12 - Lelaki dan Bara

    BAB 12Aroma kayu manis yang hangat segera menyergap indra penciuman begitu pintu kafe terbuka. Di salah satu sudut favorit mereka, Zea sedang tenggelam dalam dunianya sendiri. Ia baru saja menyuap sesendok kecil menu andalan kafe Nadya malam itu.Malam ini, tiga sahabat itu kembali berkumpul di tempat nongkrong andalan mereka, kafe kecil bernuansa hangat romantis, yang selalu berhasil menjadi pelarian paling nyaman, sebuah rumah kedua yang meredam bisingnya kota di luar sana.Menu primadona malam ini adalah Apple Cinnamon Pie.Kue pie dengan pinggiran yang rapuh dan buttery, Di dalamnya, potongan apel yang terkaramelisasi dengan sempurna menyembul malu-malu, menebarkan wangi rempah yang menenangkan. Begitu suapan itu mendarat di lidah, perpaduan rasa asam-manis apel dan renyahnya adonan menyatu sempurna. Sederhana tapi nendang! Apalagi saat diselingi sesapan kopi hitam yang pahitnya menyeimbangkan rasa.

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 11 - Batas Yang Hancur

    BAB 11 - Batas Yang Hancur Zea hampir tersedak mendengar ucapan lelaki di hadapannya.Ia memang paham sepenuhnya maksud dari perkataan Arkan, tapi mendengarnya secara langsung, dengan nada setenang itu, tetap saja membuat dadanya berdebar keras.Zea berdehem pelan, lalu menyedot es teh lecinya, memberi dirinya waktu untuk bernapas.“Aku paham, Mas,” ujarnya akhirnya. “Coba Mas omongin aja sama Mbak Riyanti. Dia penanggung jawab proyek ini sekarang.”Arkan mengangguk, tapi sorot matanya belum sepenuhnya menerima. “Pasti. Sejauh ini aku suka sama cara kerja kamu. Kamu detail.”Zea membalas dengan anggukan kecil.“Zea…,” panggil Arkan lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut.Zea menggigit bibirnya. Kenapa lelaki ini harus mengucapkan namanya seperti itu?“Apa semua klienmu cuma kamu anggap klien?” tanya Arkan tiba-tiba.Zea tertegun. “M-maksudnya, Mas?”“Apa ngga

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 10 - Diputuskan, Dicari

    BAB 10 - Diputuskan, DicariPagi itu kantor berjalan seperti biasa. Seperti biasa juga Zea menghabiskan awal harinya dengan membaca email, dan menyusun ulang jadwal meeting, memastikan tak ada yang terlewat.Sesekali terdengar candaan ringan rekan-rekan satu timnya menambah semarak suasana, membuat Zea ikut mengembangkan senyum kecil. Ia sudah berencana untuk membuat kopi pertamanya, sebelum sebuah suara memanggil namanya. “Zea!” Zea menoleh, “Kak Riyanti?!!” Gadis itu terperangah. Wanita itu seharusnya berada di Pulau B.“Ruang meeting, sekarang ya.” Kata Riyanti setengah berseru.Semua orang memandang Zea penuh tanda tanya. Zea meneguk ludahnya. Cemas mulai menjalari dadanya. Sementara badannya bergerak mengambil ponsel dan tablet, kepalanya mulai menerka-nerka alasan kemunculan ketua timnya itu.Ruang meeting kecil itu terasa hening ketika pintu ditutup. Riyanti yang sedang be

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 9 - Jenderal Perang Dingin

    BAB 9 Seperti ada yang menekan mode tempur di tengkuk Naya. Meski sempat bergetar sejenak, saat melihat kebersamaan kekasihnya dengan perempuan lain di kafe yang kosong, ia memutuskan untuk bersikap tak acuh dan melanjutkan langkahnya dengan mantap. Dilepasnya kacamata hitam mahalnya. Matanya tajam menatap lurus ke arah dua orang di dekat meja bar. Menganalisa. Arkan menelan ludahnya. Malam itu, malam setelah ia mengantar Zea pulang, ia dengan sengaja mengganti nama Zea di ponselnya dengan inisial Z. Dan menambah emotikon hati berwarna putih di sana. Kenapa? Naya juga menanyakan hal yang sama. Dan ia tak bisa memberi jawaban pasti. Mungkin karena panggilan pendek Zea itu Ze? Ia sungguh tak tahu. Tapi satu yang pasti, kekecewaan di mata Naya menamparnya lebih dari apapun. “Pagiii.” Naya menyapa riang, “Pagi Sayang, aku bawain sarapan buat kamu. Kelar ini kita makan bareng ya. Cium deh.” Ujar Naya. Langkah pertamanya untuk menjelaskan batas dengan gamblang. Dari tem

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 8 - Ingat Tapi Tak Ingat

    Wajah dan suara lembut itu muncul di beranda media sosialnya. Membuat Arkan terpaku sesaat. Jarinyanya berhenti di udara, tepat sebelum layar kembali ia geser. Ada sesuatu yang berdenyut pelan di dadanya. Suara itu terdengar sangat familiar.Hanya video biasa. Gadis itu berdiri di atas panggung kecil, diiringi band sederhana. Wajahnya tampak bercahaya di bawah sorot lampu.Ada sesuatu yang familiar pada gadis itu. Sesuatu yang terasa… dekat. Zea mengenakan busana kasual dengan hijab sederhana yang membingkai wajahnya. Sesekali matanya menatap kamera, tatapan teduh yang membuat jantung Arkan berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.Aneh, Arkan jadi terus bertanya-tanya, terus-menerus merasa yakin bahwa mereka pernah kenal sebelumnya.Tapi entah di mana dan kapan. Sejak kecelakaan itu, ia memang melupakan beberapa hal. Pikiran ini membuatnya tercenung sejenak.Lalu suara itu mengalun.Lembut, jujur, tanpa u

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status