Home / Romansa / Sampai Kau Ingat Aku / Bab 7 - Interaksi

Share

Bab 7 - Interaksi

Author: Redezilzie
last update publish date: 2025-12-28 06:44:15

Malam ini adalah malam peresmian Kafe. Bukan, bukan kafe Arkan, tapi kafe milik Nadya, sahabat Zea.

“Jadi sekarang kita punya tempat nongkrong resmi nih.” Ujar Vivid.

“Yep, lebih tepatnya satu tempat lagi, selain warung bakso Mang Usep,” tukas Nadya sambil terkekeh.

“Selamat ya Beb!” kata Zea, mengangkat gelas berisi sarsaparilla. Cairan pekat berwarna kecoklatan mirip cola.

Kedua temannya ikut mengangkat gelas mereka dan mengetukkan pelan bersama, “Cheers!! For a better future!” Seru Vivid.

“Aamiin!” Balas Zea.

“For a better pacar buat Zea!” Tambah Vivid lagi, membuat kedua temannya tergelak.

“Aamiin!” Seru keduanya bersamaan.

“Habis ini ya, Ze.” Ujar Nadya.

“Pokoknya lo harus nyumbang suara, nggak mau tahu!” Nadya berkata sambil menyipitkan mata.

Kafe milik Nadya memang dilengkapi dengan fasilitas live band. Dan Nadya sudah mewanti-wanti temannya itu sejak jauh-jauh hari.

“Ehem… mana lagi serek nih gue. Emang lo nggak takut tamunya pada kabur?” Ujar Zea.

“Ngaco deh!” Tukas Nadya.

“Yang ada pada minta nambah.” Vivid terkekeh.

“Siap-siap ya, bentar lagi dipanggil MC, oke. Gue tinggal ke dalem dulu ya.” Pamit Nadya yang memang sibuk wara wiri terus sedari tadi.

Tak lama, MC di panggung memanggil nama Zea, meminta gadis itu untuk naik ke atas.

Zea tersenyum saat beberapa orang menoleh karena mendengar Vivid bertepuk tangan heboh.

“Dasar!” Bisik Zea, sementara Vivid hanya terkekeh.

Ia naik ke panggung kecil itu, dan berdiri di depan mikrofon. Kedua tangannya bergerak menyesuaikan tinggi tiang.

“Tetap di tempat Anda walau suara ini sedikit sumbang…, sedikiiit yaa,” peringat Zea sambil tersenyum, disambut tawa dan tepuk tangan para penonton.

Zea berdehem sebelum mulai melantunkan syair lagu dengan suara lembutnya. Sebelah tangannya menggenggam erat tiang mic.

Lampu panggung diredupkan, menyisakan semburat kuning hangat yang jatuh tepat di wajahnya.

Nada pembuka mengalun pelan.

Zea menarik napas dalam-dalam.

Lagu yang ia pilih bukan lagu patah hati yang meratap, melainkan lagu tentang berani melepaskan. Tentang menerima bahwa tidak semua yang dicintai harus dimiliki.

Ia bergerak perlahan, jemarinya menepuk pelan tungkainya, sementara matanya menutup sesaat sebelum mulai.

Manalah ku tahu datang hari ini

Hari di mana ku melihat dia

Yang tak aku bidik, yang tak aku cari

Duga benih patah hati lagi,

tahu begini

Jika

Bisa memilih tak bertemu mu pasti

Itu yang kupilih

Jika

Bisa kuhindari garis interaksi

Itu yang kupilih

Seiring deraian kata-kata mengalir, Zea ingin dirinya tahu, bahwa ia memang sudah harus melepaskan.

Bahwa ia hanya perlu menghargai apa yang pernah ada, tanpa mengulanginya.

Zea menyanyi tanpa air mata. Suaranya jernih, stabil, seolah ia benar-benar sudah sampai pada titik itu.

Tentang cinta yang pernah hangat.

Tentang kebersamaan yang pernah nyata.

Dan tentang keputusan untuk mengakhiri, agar bisa kembali bernapas.

Beberapa penonton tersenyum samar. Ada yang saling pandang dengan orang di sampingnya, seolah lagu itu mengingatkan mereka pada seseorang yang pernah singgah.

Sementara kedua sahabatnya saling melempar pandang. Merasa lega melihat air muka tenang di wajah Zea.

Alam dan s'luruh energinya

Apa dalam ciptanya ada aku?

Bila bukan untuk aku

Hindariku dari patah hati itu

Jika dia memang bisa untukku

Sini, dekat dan dekatlah

Dan jika dia memang bukan untukku

Tolong, reda dan redalah

Saat bait terakhir selesai, Zea tersenyum kecil. Penonton bertepuk tangan.

“Terima kasih,” ucapnya lirih ke mikrofon.

Bukan hanya pada penonton, tetapi pada satu nama yang akhirnya ia pahami, harus ia lepaskan dalam hati.

Tepuk tangan kembali menggema.

Zea menuruni panggung dengan senyum tipis.

Begitu kakinya menginjak lantai, Nadya sudah menunggunya di sisi panggung.

“Bagus,” ucap Nadya singkat, lalu memeluknya sebentar. Pelukan yang tak lama, tapi hangat.

“Makasih,” balas Zea. Suaranya ringan. Keduanya berjalan menuju meja tempat Vivid menunggu.

Gadis itu menyodorkan segelas air mineral pada Zea yang langsung menyambut.

“Suara lo aman. Hati lo juga, kayaknya.” godanya.

Zea terkekeh kecil. “Iya… aman.”

Mereka duduk bertiga di sudut kafe. Musik latar kembali mengalun, kali ini dari band pengisi. Suasananya ramai, tapi entah kenapa meja mereka terasa tenang.

“Jadi… lo beneran oke?” tanya Nadya pelan, matanya menatap Zea, bukan ingin mengorek, cuma memastikan.

Zea mengangguk. “Capek aja kalau terus nyimpen.”

Vivid mengangguk paham. “Kadang ngelepas itu bukan kalah.”

“Iya,” Zea tersenyum kecil. “Cuma selesai.”

Nadya meraih tangan Zea sebentar, menepuknya pelan.

“Semua udah di tempatnya.”

Zea mengangguk, “Setuju.”

Ketiga sahabat itu kembali bersulang.

Buat Zea, kebersamaan terakhirnya dengan Arkan beberapa hari lalu sudah menjadi penutup akan kisah mereka.

“It’s a closure.” Ujarnya dalam hati.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mela Marvelynn
i'm here! ...... seru kak ceritanya... ......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 135 - Selalu Dijaga

    BAB 136“Nggak! Kalian salah orang!! Zea!! Ini pasti kerjaan kamu, kan!! Kamu ngejebak aku!! Dasar brengsek kamu!! Murahaaan!!!Mas Arkan!! Mas Arkan!! Tolong aku, Mas!! MAS TOLOOONG!!”Naya menjerit, mencoba menggapai brankar Arkan, namun petugas dengan cepat menghadang tubuhnya dan menggiringnya keluar dari kamar rawat. Ibra berdiri maju, memposisikan dirinya sedikit di depan Zea. Sebuah gestur protektif.Suara jeritan dan langkah kaki Naya yang terseret perlahan menjauh, meninggalkan keheningan yang damai di dalam ruangan.Zea mengembuskan napas panjang, bahunya yang tegang perlahan melonggar. Ia menatap telapak tangannya yang masih terasa sedikit panas akibat tamparan tadi.Ibra menatap telapak yang memerah itu, dan segera menyadari apa yang telah terjadi. Perlahan, ia membimbing Zea menuju sofa. Lelaki itu kemudian berjongkok di hadapan Zea.Keduanya terdiam sejenak sambil memandang telapak tang

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 135 - Di Penghujung

    BAB 135Zea tertegun. Ia bisa merasakan ketulusan lelaki dengan iris mata madu ini. Pria ini selalu menawarkan keamanan, kestabilan, dan perlindungan. Sungguh, Zea memahami ketakutan dan kekhawatiran Ibra. Namun, di dalam hatinya, ada sesuatu yang telah bergeser sejak truk itu menghantam mobil Arkan. Rasa takutnya telah menguap, digantikan oleh keberanian yang lahir dari rasa sakit.“Aku tau Mas, aku tau kalo Naya itu berbahaya.” jawab Zea, suaranya terdengar jauh lebih tegar dari sebelumnya, “Itulah sebabnya aku setuju pergi ke Pulau ini, aku memilih menyingkir. Menjauh. Tapi bahkan setelah aku memilih pergi dan mengalah, Naya masih terus ngejar aku. Sampe-sampe dia ngedeketin orang kayak Sandra buat ngebantuin dia ngejatuhin aku. Segitu niatnya dia buat bikin aku celaka. Tapi kali ini…,” Zea menggelengkan kepalanya pelan, “Aku nggak akan lari lagi. Aku nggak mau ngumpet lagi. Aku mau nyelesain semuanya. Dan aku rasa, sekaranglah

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 134 - Harga Sebuah Kebenaran

    BAB 134“Sandra udah ditangkap.” Pak Wira berkata tenang. Matanya menatap Zea lekat.Zea membeku.“A-apa…?” Gadis itu memandang dengan tatapan tak percaya pada bosnya. "Bapak tau…?" "Bapak tau soal Sandra? Bahwa dia melakukan sabotase?” ulangnya.Pak Wira menghela napas panjang, dan berat, pria itu menatap nanar lantai rumah sakit, “Saya punya kecurigaan sejak lama, tapi Sandra selalu bermain rapi. Dia tahu celah birokrasi kantor, dan dia tahu bagaimana mengunci mulut orang-orang di bawahnya. Saya butuh sesuatu, atau seseorang, untuk mengacaukan fokusnya. Saat itu saya sudah curiga dia sedang bernegosiasi dengan kompetitor kita di sini, Prima Energy. Dia itu cukup… arogan. Saya sengaja memberi dia waktu dan ruang agar dia berpikir rencananya berjalan sempurna.”Zea mengerjapkan matanya, tak mengerti.“Saya butuh seseorang agar dia jadi terdistraksi, dan membuat kekacauannya sendiri.” l

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 133 - Nyaris Saja

    BAB 133“Hmm…?” Arkan menoleh singkat.Zea memandang kosong ke arah jalanan. Tetapi matanya menyimpan sesuatu yang jauh lebih rumit. Rasa takut, lelah, dan putus asa yang perlahan menumpuk tanpa suara.Ia sudah pergi sejauh ini. Menjauh dari Arkan. Menyerah. Bahkan rela mengorbankan dirinya sendiri demi menghentikan semuanya.Namun ternyata… tangan Naya masih bisa menjangkaunya.Masih bisa menghancurkan hidupnya.Masih bisa menyeret orang-orang di sekitarnya ke dalam bahaya.“Kenapa dia nggak berhenti juga…?” lirih Zea dengan suara yang nyaris pecah. “Aku kan udah pergi….”Arkan meliriknya sekilas. Rahangnya mengeras.“Nggak akan aku biarin dia nyakitin kamu lagi.” Suaranya rendah, tetapi terdengar tegas. “Aku janji.”Kalimat itu membuat dada Zea menghangat sekaligus sesak.Namun sebelum ia sempat menjawab, pandangan Arkan tiba-tiba berubah tajam ke depan.“Brengsk…”Zea spontan iku

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 132 - Menepuk Lalat

    BAB 132Kening Pak Hendra mengerut. Sedang kedua mata Zea menyipit.“Apa maksud kamu?” Tanya Pak Hendra, seperti mewakili isi hati Zea.Sandra menggeleng pelan, “Ah, bukan apa apa kok Pak. Maksud saya, saya juga ingin tahu siapa yang melakukan kekacauan ini.” Sandra berujar sambil menatap Zea penuh arti.Pak Hendra menggeleng kesal, “Ya sudah, ayo cepat, kita harus segera.”Lelaki itu berdecak lalu bergegas menuju lift.Sandra melempar kerlingan tajam pada Zea sebelum kemudian berbalik mengikuti.Sepeninggal kedua orang itu, Zea bergerak cepat. Ia harus segera mengkonfrontasi Anton. Diselipkannya token ke dalam saku blazernya, lalu bergegas menuju tangga darurat.“Mbak!” Beni dan Reni berseru bersamaan. Tapi Zea hanya menatap mereka sekilas. Dia benar-benar sedang diburu waktu. Khawatir Sandra bergerak lebih cepat dan menyuruh Anton menghilang.Dengan napas memburu, ia menuruni tangga darurat. Di s

  • Sampai Kau Ingat Aku   BAB 131 - Perlahan Terkuak

    BAB 131"Mbak, mau ke mana?" bisik Beni panik, begitu menyadari Zea melangkah cepat dengan raut wajah yang tidak biasa."Tolong awasi lorong lift, Ben. Kalo dia balik, missed call aku. Sekali aja," perintah Zea pelan pada anggota timnya itu. Lalu, tanpa menunggu jawaban Beni, Zea menyelinap masuk ke ruangan Sandra. Jantungnya berdegup gila-gilaan, memompa adrenalin hingga ke ujung jari kakinya. Ia tahu, jika ketahuan, ini bukan lagi sekadar soal pemecatan, melainkan tindak pidana pencurian akses. Tapi ia tidak punya pilihan. Reputasi yang susah payah ia bangun sedang dalam bahaya. Zea tak sudi dihancurkan dengan cara licik tanpa perlawanan.Laptop di meja mahoni itu dalam mode sleep. Dan benar saja, arogansi adalah celah terbesar manusia. Token perak kecil itu masih menancap manis di port USB.Tangan Zea sedikit gemetar saat mencabutnya. Benda sekecil ini terasa begitu berat. Ini adalah kunci penentu nasibnya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status