LOGINMalam ini adalah malam peresmian Kafe. Bukan, bukan kafe Arkan, tapi kafe milik Nadya, sahabat Zea.
“Jadi sekarang kita punya tempat nongkrong resmi nih.” Ujar Vivid. “Yep, lebih tepatnya satu tempat lagi, selain warung bakso Mang Usep,” tukas Nadya sambil terkekeh. “Selamat ya Beb!” kata Zea, mengangkat gelas berisi sarsaparilla. Cairan pekat berwarna kecoklatan mirip cola. Kedua temannya ikut mengangkat gelas mereka dan mengetukkan pelan bersama, “Cheers!! For a better future!” Seru Vivid. “Aamiin!” Balas Zea. “For a better pacar buat Zea!” Tambah Vivid lagi, membuat kedua temannya tergelak. “Aamiin!” Seru keduanya bersamaan. “Habis ini ya, Ze.” Ujar Nadya. “Pokoknya lo harus nyumbang suara, nggak mau tahu!” Nadya berkata sambil menyipitkan mata. Kafe milik Nadya memang dilengkapi dengan fasilitas live band. Dan Nadya sudah mewanti-wanti temannya itu sejak jauh-jauh hari. “Ehem… mana lagi serek nih gue. Emang lo nggak takut tamunya pada kabur?” Ujar Zea. “Ngaco deh!” Tukas Nadya. “Yang ada pada minta nambah.” Vivid terkekeh. “Siap-siap ya, bentar lagi dipanggil MC, oke. Gue tinggal ke dalem dulu ya.” Pamit Nadya yang memang sibuk wara wiri terus sedari tadi. Tak lama, MC di panggung memanggil nama Zea, meminta gadis itu untuk naik ke atas. Zea tersenyum saat beberapa orang menoleh karena mendengar Vivid bertepuk tangan heboh. “Dasar!” Bisik Zea, sementara Vivid hanya terkekeh. Ia naik ke panggung kecil itu, dan berdiri di depan mikrofon. Kedua tangannya bergerak menyesuaikan tinggi tiang. “Tetap di tempat Anda walau suara ini sedikit sumbang…, sedikiiit yaa,” peringat Zea sambil tersenyum, disambut tawa dan tepuk tangan para penonton. Zea berdehem sebelum mulai melantunkan syair lagu dengan suara lembutnya. Sebelah tangannya menggenggam erat tiang mic. Lampu panggung diredupkan, menyisakan semburat kuning hangat yang jatuh tepat di wajahnya. Nada pembuka mengalun pelan. Zea menarik napas dalam-dalam. Lagu yang ia pilih bukan lagu patah hati yang meratap, melainkan lagu tentang berani melepaskan. Tentang menerima bahwa tidak semua yang dicintai harus dimiliki. Ia bergerak perlahan, jemarinya menepuk pelan tungkainya, sementara matanya menutup sesaat sebelum mulai. Manalah ku tahu datang hari ini Hari di mana ku melihat dia Yang tak aku bidik, yang tak aku cari Duga benih patah hati lagi, tahu begini Jika Bisa memilih tak bertemu mu pasti Itu yang kupilih Jika Bisa kuhindari garis interaksi Itu yang kupilih Seiring deraian kata-kata mengalir, Zea ingin dirinya tahu, bahwa ia memang sudah harus melepaskan. Bahwa ia hanya perlu menghargai apa yang pernah ada, tanpa mengulanginya. Zea menyanyi tanpa air mata. Suaranya jernih, stabil, seolah ia benar-benar sudah sampai pada titik itu. Tentang cinta yang pernah hangat. Tentang kebersamaan yang pernah nyata. Dan tentang keputusan untuk mengakhiri, agar bisa kembali bernapas. Beberapa penonton tersenyum samar. Ada yang saling pandang dengan orang di sampingnya, seolah lagu itu mengingatkan mereka pada seseorang yang pernah singgah. Sementara kedua sahabatnya saling melempar pandang. Merasa lega melihat air muka tenang di wajah Zea. Alam dan s'luruh energinya Apa dalam ciptanya ada aku? Bila bukan untuk aku Hindariku dari patah hati itu Jika dia memang bisa untukku Sini, dekat dan dekatlah Dan jika dia memang bukan untukku Tolong, reda dan redalah Saat bait terakhir selesai, Zea tersenyum kecil. Penonton bertepuk tangan. “Terima kasih,” ucapnya lirih ke mikrofon. Bukan hanya pada penonton, tetapi pada satu nama yang akhirnya ia pahami, harus ia lepaskan dalam hati. Tepuk tangan kembali menggema. Zea menuruni panggung dengan senyum tipis. Begitu kakinya menginjak lantai, Nadya sudah menunggunya di sisi panggung. “Bagus,” ucap Nadya singkat, lalu memeluknya sebentar. Pelukan yang tak lama, tapi hangat. “Makasih,” balas Zea. Suaranya ringan. Keduanya berjalan menuju meja tempat Vivid menunggu. Gadis itu menyodorkan segelas air mineral pada Zea yang langsung menyambut. “Suara lo aman. Hati lo juga, kayaknya.” godanya. Zea terkekeh kecil. “Iya… aman.” Mereka duduk bertiga di sudut kafe. Musik latar kembali mengalun, kali ini dari band pengisi. Suasananya ramai, tapi entah kenapa meja mereka terasa tenang. “Jadi… lo beneran oke?” tanya Nadya pelan, matanya menatap Zea, bukan ingin mengorek, cuma memastikan. Zea mengangguk. “Capek aja kalau terus nyimpen.” Vivid mengangguk paham. “Kadang ngelepas itu bukan kalah.” “Iya,” Zea tersenyum kecil. “Cuma selesai.” Nadya meraih tangan Zea sebentar, menepuknya pelan. “Semua udah di tempatnya.” Zea mengangguk, “Setuju.” Ketiga sahabat itu kembali bersulang. Buat Zea, kebersamaan terakhirnya dengan Arkan beberapa hari lalu sudah menjadi penutup akan kisah mereka. “It’s a closure.” Ujarnya dalam hati.BAB 11 - Batas Yang Hancur Zea hampir tersedak mendengar ucapan lelaki di hadapannya.Ia memang paham sepenuhnya maksud dari perkataan Arkan, tapi mendengarnya secara langsung, dengan nada setenang itu, tetap saja membuat dadanya berdebar keras.Zea berdehem pelan, lalu menyedot es teh lecinya, memberi dirinya waktu untuk bernapas.“Aku paham, Mas,” ujarnya akhirnya. “Coba Mas omongin aja sama Mbak Riyanti. Dia penanggung jawab proyek ini sekarang.”Arkan mengangguk, tapi sorot matanya belum sepenuhnya menerima. “Pasti. Sejauh ini aku suka sama cara kerja kamu. Kamu detail.”Zea membalas dengan anggukan kecil.“Zea…,” panggil Arkan lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih lembut.Zea menggigit bibirnya. Kenapa lelaki ini harus mengucapkan namanya seperti itu?“Apa semua klienmu cuma kamu anggap klien?” tanya Arkan tiba-tiba.Zea tertegun. “M-maksudnya, Mas?”“Apa ngga
BAB 10 - Diputuskan, DicariPagi itu kantor berjalan seperti biasa. Seperti biasa juga Zea menghabiskan awal harinya dengan membaca email, dan menyusun ulang jadwal meeting, memastikan tak ada yang terlewat.Sesekali terdengar candaan ringan rekan-rekan satu timnya menambah semarak suasana, membuat Zea ikut mengembangkan senyum kecil. Ia sudah berencana untuk membuat kopi pertamanya, sebelum sebuah suara memanggil namanya. “Zea!” Zea menoleh, “Kak Riyanti?!!” Gadis itu terperangah. Wanita itu seharusnya berada di Pulau B.“Ruang meeting, sekarang ya.” Kata Riyanti setengah berseru.Semua orang memandang Zea penuh tanda tanya. Zea meneguk ludahnya. Cemas mulai menjalari dadanya. Sementara badannya bergerak mengambil ponsel dan tablet, kepalanya mulai menerka-nerka alasan kemunculan ketua timnya itu.Ruang meeting kecil itu terasa hening ketika pintu ditutup. Riyanti yang sedang be
BAB 9 Seperti ada yang menekan mode tempur di tengkuk Naya. Meski sempat bergetar sejenak, saat melihat kebersamaan kekasihnya dengan perempuan lain di kafe yang kosong, ia memutuskan untuk bersikap tak acuh dan melanjutkan langkahnya dengan mantap. Dilepasnya kacamata hitam mahalnya. Matanya tajam menatap lurus ke arah dua orang di dekat meja bar. Menganalisa. Arkan menelan ludahnya. Malam itu, malam setelah ia mengantar Zea pulang, ia dengan sengaja mengganti nama Zea di ponselnya dengan inisial Z. Dan menambah emotikon hati berwarna putih di sana. Kenapa? Naya juga menanyakan hal yang sama. Dan ia tak bisa memberi jawaban pasti. Mungkin karena panggilan pendek Zea itu Ze? Ia sungguh tak tahu. Tapi satu yang pasti, kekecewaan di mata Naya menamparnya lebih dari apapun. “Pagiii.” Naya menyapa riang, “Pagi Sayang, aku bawain sarapan buat kamu. Kelar ini kita makan bareng ya. Cium deh.” Ujar Naya. Langkah pertamanya untuk menjelaskan batas dengan gamblang. Dari tem
Wajah dan suara lembut itu muncul di beranda media sosialnya. Membuat Arkan terpaku sesaat. Jarinyanya berhenti di udara, tepat sebelum layar kembali ia geser. Ada sesuatu yang berdenyut pelan di dadanya. Suara itu terdengar sangat familiar.Hanya video biasa. Gadis itu berdiri di atas panggung kecil, diiringi band sederhana. Wajahnya tampak bercahaya di bawah sorot lampu.Ada sesuatu yang familiar pada gadis itu. Sesuatu yang terasa… dekat. Zea mengenakan busana kasual dengan hijab sederhana yang membingkai wajahnya. Sesekali matanya menatap kamera, tatapan teduh yang membuat jantung Arkan berdetak lebih cepat tanpa alasan yang jelas.Aneh, Arkan jadi terus bertanya-tanya, terus-menerus merasa yakin bahwa mereka pernah kenal sebelumnya.Tapi entah di mana dan kapan. Sejak kecelakaan itu, ia memang melupakan beberapa hal. Pikiran ini membuatnya tercenung sejenak.Lalu suara itu mengalun.Lembut, jujur, tanpa u
Malam ini adalah malam peresmian Kafe. Bukan, bukan kafe Arkan, tapi kafe milik Nadya, sahabat Zea. “Jadi sekarang kita punya tempat nongkrong resmi nih.” Ujar Vivid.“Yep, lebih tepatnya satu tempat lagi, selain warung bakso Mang Usep,” tukas Nadya sambil terkekeh.“Selamat ya Beb!” kata Zea, mengangkat gelas berisi sarsaparilla. Cairan pekat berwarna kecoklatan mirip cola.Kedua temannya ikut mengangkat gelas mereka dan mengetukkan pelan bersama, “Cheers!! For a better future!” Seru Vivid.“Aamiin!” Balas Zea.“For a better pacar buat Zea!” Tambah Vivid lagi, membuat kedua temannya tergelak.“Aamiin!” Seru keduanya bersamaan.“Habis ini ya, Ze.” Ujar Nadya. “Pokoknya lo harus nyumbang suara, nggak mau tahu!” Nadya berkata sambil menyipitkan mata.Kafe milik Nadya memang dilengkapi dengan fasilitas live band. Dan Nadya sudah mewanti-wanti temannya itu sejak jauh-jauh hari.“Ehem… ma
Naya sudah duduk hampir dua jam di meja di dekat pintu masuk. Tempat yang saat ini paling nyaman di kafe yang belum terbentuk sempurna itu, sembari mengawasi para pekerja.Tidak betul-betul mengawasi sih, karena sudah ada penanggung jawab untuk itu. Jadi dia hanya dia menatap, tanpa tahu apa yang ditatapnya.Kopi dalam tumblrnya sudah nyaris habis, sudah tak lagi hangat, sama seperti pesan-pesan yang tak kunjung berbalas sejak siang. Ia sudah mencoba menelepon Arkan. Berkali-kali bahkan. Tapi hasilnya sama. Tidak aktif. Tidak ada kabar. Tidak ada penjelasan.Seharusnya tak selama ini, sebab lelaki itu hanya melihat dan mengecek beberapa sampel barang yang akan digunakan di cafenya. Naya tahu jadwal kekasihnya itu. Ia menghela nafas panjang. Sore tadi, sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang ia kenal baik. Seorang teman yang merupakan Konsultan Manager di perusahaan supplier yang sedang bekerja sama dengan sang kekasih.







