เข้าสู่ระบบWajah dan suara lembut itu muncul di beranda media sosialnya. Membuat Arkan terpaku sesaat.
Jarinyanya berhenti di udara, tepat sebelum layar kembali ia geser. Ada sesuatu yang berdenyut pelan di dadanya. Suara itu terdengar sangat familiar.Hanya video biasa. Gadis itu berdiri di atas panggung kecil, diiringi band sederhana. Wajahnya tampak bercahaya di bawah sorot lampu.Ada sesuatu yang familiar pada gadis itu. Sesuatu yang terasa… dekat.Zea mengenakaBAB 119Perjalanan itu terasa lebih panjang dari dua jam yang seharusnya.Zea duduk di kursi dekat jendela, menatap langit yang membentang tanpa batas. Awan-awan bergeser perlahan, seolah tak peduli pada apa pun yang sedang ia rasakan.Tangannya terangkat tanpa sadar, menyentuh pergelangan tangan kirinya. Gelang perak cantik itu masih melingkar di sana.Sebuah hadiah sederhana. Bukan sesuatu yang mahal dan mewah. Tidak mencolok. Tapi cukup untuk membuat dadanya menghangat, dan sesak di saat bersamaan.Kemunculan Arkan di saat ia sedang berbincang hangat dengan Ibra sungguh mengganggunya. Ada sedikit rasa bersalah yang muncul di hatinya saat melihat tatapan lelaki itu. Tatapan itu.Tanpa kata, tanpa senyuman, hanya sejurus pandangan tapi cukup untuk membuat hatinya goyah sesaat.Pandangan itu kosong, tapi penuh luka.Zea bisa merasakan kepedihan mendalam juga kerinduan dan cinta di sana.Ia memejamkan mata.“Kenapa sih…” gumamnya
BAB 118Arkan duduk mematung. Matanya menatap kosong pada ukiran meja di depannya setelah mendengarkan semua ucapan Tuan Prayoga, Papa Naya. Bahkan setelah pria itu berhenti bicara, kepalanya masih terus berdenyut. Bukan karena sisa-sisa luka kecelakaan, tapi karena beban pilihan yang baru saja diletakkan di pundaknya.Ia hanya punya waktu beberapa detik untuk memutuskan. Terus memberontak dan dihancurkan, atau menunduk dan menyusun strategi dari dalam sangkar emas yang ditawarkan.Di balik semua kisahnya, Tuan Prayoga seakan hendak mengatakan, bahwa pria itu memiliki tangan yang bisa menjangkau apa saja, termasuk aparat hukum dan penguasa. Sebuah peringatan halus bahwa jika ia bisa membuat masalah hukum Arkan menghilang, maka ia juga bisa menciptakan masalah hukum lain untuk Arkan. Sedang penawaran dukungan seratus persen bagi semua lini bisnisnya, di telinga Arkan, justru terdengar bagai satu lagi jeratan hutang budi. Sebuah pen
BAB 117“Mas... kenapa? Kepala kamu sakit lagi?” Naya mencoba mendekat. Jemarinya yang lentik dengan manikur sempurna terulur, hendak menyentuh dahi ArkanArkan segera mundur, memberikan isyarat berhenti, mengibas kasar dengan tangannya. “Jangan! Jangan sentuh aku!”Ucapan itu membuat tangan Naya menggantung di udara. Wajahnya yang khawatir berubah menjadi pucat. Kecewa bercampur marah, karena lagi-lagi Arkan menolaknya.Sementara Arkan, lelaki itu berbalik, melangkah cepat menuju pintu. Ia merasa harus segera keluar dari ruangan ini, dari rumah ini, atau ia akan benar-benar kehilangan kontrol dan melakukan sesuatu yang akan ia sesali. Ia butuh udara segar. Ia butuh menjauh dari aroma parfum Naya yang terasa mencekik.“Mas!”Terdengar suara Naya, lirih memanggil. Ada sesuatu dalam nada suara gadis itu yang membuat Arkan menghentikan langkahnya tepat sebelum jemarinya menyentuh gagang pintu.
BAB 116Arkan tertegun. Selama beberapa saat ruangan dingin itu terasa hening. Tiba-tiba ia merasa tercekik.Arkan perlahan menengadah, mengalihkan pandangannya dari detail ukiran karpet Persia yang tadi ia amati tanpa fokus. Iris matanya kini menatap lurus, terkunci pada mata pria di depannya. Tuan Prayoga.Pria berkuasa yang rela menelan seluruh egonya dan sudi menerimanya menjadi bagian dari singgasana kekuasaannya. Menyerahkan sang putri mahkota begitu saja padanya.Tenggorokannya terasa tercekat. Ia berusaha berdehem untuk menghilangkan sumbatannya. Ia baru hendak bicara ketika terdengar suara Naya memotongnya dengan nada yang begitu ringan, seolah-olah jawabannya tidaklah begitu penting.“Pah! Semua yang aku jelasin tadi itu udah didiskusiin sama Mas Arkan. Dia setuju-setuju aja. Dia kan gimana aku aja, yang penting aku seneng. Ya kan, Mas?” Naya bertanya, menoleh pada Arkan dengan senyuman manis.
BAB 115Beberapa jam kemudian setelah perjalanan yang cukup melelahkan jiwa dan raga, akhirnya Arkan dan Naya tiba di kediaman megah yang berdiri angkuh di jantung kota S.Perlahan, mobil sedan mewah yang menjemput mereka tadi memasuki gerbang berpagar besi tempa tinggi. Rumah ber-arsitektur Victoria, dengan pilar-pilar yang dicat putih dan keemasan di ujung-ujungnya yang berjejer tinggi di depan saat ini, merupakan kediaman pribadi Tuan dan Nyonya Prayoga, orang tua Naya.Kediaman keluarga Naya bukan sekadar tempat tinggal. Itu adalah monumen kekuasaan, tempat di mana perusahaan keluarga mereka berpusat dan di mana bisnis dikendalikan.Sudah cukup lama sejak Arkan terakhir menginjakkan kaki di rumah ini. Ternyata Naya cukup pandai dalam menyembunyikan keretakan hubungan mereka beberapa waktu lalu dari kedua orang tuanya.Mungkin itulah alasan mengapa lini usaha Arkan masih tetap berdiri hingga detik ini. Karena di hadapan
BAB 114Zea nyaris tersedak kopi yang baru saja disesapnya. Cairan kental itu sudah menyentuh lidahnya. Ia terbatuk kecil, buru-buru meletakkan cangkir porselen itu ke atas meja dengan gerakan canggung yang menimbulkan bunyi denting nyaring.“Mas, iih….” sungutnya kesal. Ia mengelap kedua bibirnya dengan tisu. Matanya mendelik menatap Ibra tajam. Sementara lelaki itu balas menatapnya tanpa merasa bersalah sedikit pun. “Aku kan cuma nanya, mau memastikan aja,” Ujarnya berusaha membela diri, sambil tersenyum kecil.Zea tak menjawab, ia sibuk mengelap ceceran kopi di atas meja. “Jadi gimana?” tanya Ibra tak sabar.“Apanya?” Zea balas bertanya, terkesan tak acuh, masih sibuk mengeringkan permukaan meja.“Kamu lagi jual mahal ke aku?” Ibra mengulang pertanyaannya. Matanya menatap tanpa dosa. Zea menarik nafas dalam, “Nggak Mas. Mana mungkin aku begitu. Aku beneran nggak kepikiran ke sana.”Ibra







