MasukWajah dan suara lembut itu muncul di beranda media sosialnya. Membuat Arkan terpaku sesaat.
Jarinyanya berhenti di udara, tepat sebelum layar kembali ia geser. Ada sesuatu yang berdenyut pelan di dadanya. Suara itu terdengar sangat familiar.Hanya video biasa. Gadis itu berdiri di atas panggung kecil, diiringi band sederhana. Wajahnya tampak bercahaya di bawah sorot lampu.Ada sesuatu yang familiar pada gadis itu. Sesuatu yang terasa… dekat.Zea mengenakaBAB 103Angin sore di atap gedung perkantoran itu berembus cukup kencang. Zea memutar tubuhnya perlahan dan membeku. Di dekat jejeran tangki air raksasa, sesosok pria duduk di kursi lipat kecil. Pak Wira. Bosnya itu tidak mengenakan jasnya. Ia hanya mengenakan kemeja batik sutra bermotif parang yang lengannya digulung hingga siku. Di sela jarinya, sebatang rokok menyala, mengirimkan asap tipis yang menari ditiup angin. Matanya menatap lurus Zea dengan tatapan datar namun sangat dalam. Sepertinya beliau sudah berada di sana sejak Zea menapakkan kaki di rooftop.Zea terpaku. Jantungnya berdegup kencang karena malu. ‘O-omg... Pak Wira?’“Kenapa, Ze? Ada apaan?” Ia mendengar suara Vivid di seberang sambungan video yang masih berlangsung.“E-eeh nggak, betewe, udah dulu ya, Beb. Tar gue telpon lagi. Bye.” Dengan wajah setengah panik, Zea buru-buru menyudahi panggilannya, bahkan tanpa menunggu balasan Vivid.Zea meringi
BAB 102Udara di restoran mendadak mendingin.Naya mengangkat sebelah alisnya, menatap Zea dengan tatapan meremehkan yang biasanya sanggup membuat nyali lawan bicaranya menciut. Namun kali ini, ia salah perhitungan.Zea menyeringai, sebuah senyum miring yang tidak mencapai matanya. Ia bangkit dari kursi, berdiri tegak hingga tinggi badannya hampir sejajar dengan Naya. Ia tidak ingin menjadi korban yang hanya bisa tertunduk pasrah.“Wah bener banget Mba, dunia emang sempit ya, atau… emang takdir sengaja mempertemukan kita, iya nggak Mba?” ujar Zea dengan nada yang tenang namun menusuk.Merasakan situasi yang kian memanas, Arya yang duduk di hadapan Zea seketika menegakkan punggung. Matanya beralih waspada. Tentu ia masih ingat dengan pasangan di depannya ini. Baik si lelaki yang selalu terlihat bosan, dan si perempuan dengan mulut besarnya. Ia bersiap untuk apa pun. Termasuk jika ia harus menyeret Zea keluar dari drama ini secara
BAB 101 Zea terdiam sejenak. Ia tidak langsung menjawab dan membiarkan pertanyaan itu menggantung di udara yang dingin. Ia memutuskan untuk tidak lagi bersembunyi di balik basa-basi. Kepalanya sudah terlalu penuh, jiwanya terlalu lelah untuk menyusun alasan diplomatis untuk sekedar menolak praduga Ibra. Ia menatap Ibra lekat-lekat, mencoba mencari kejujuran di balik netra pria itu. “Marah kenapa, Mas?” tanyanya balik. Ini mungkin satu-satunya kesempatan untuk mengkonfrontasi pria yang pernah meminta tempat di hatinya itu. “Marah karna aku nggak ngubungin kamu kemarin-kemarin gara-gara masalah itu….” Zea menarik nafas dalam lalu menggeleng, “Nggak. Aku sama sekali nggak marah. Jujur, ada rasa kecewa sedikit, tapi itu manusiawi, kan? Tapi aku lega Mas nggak impulsif trus minta perusahaan aku untuk ganti aku ke orang lain. Masih dipercaya megang proyek ini sampai akhir aja aku udah sangat bersyukur.” Ibra menggeleng kuat-kuat, “Nggak bakal lah….” ia menatap Zea sendu, “Maaf….” Zea
BAB 100Tangan Zea gemetar hebat. Gunting yang tadi digenggamnya terjatuh begitu saja ke atas lantai tegel, menimbulkan bunyi denting yang memekakkan telinga di kesunyian kamarnya. Bau busuk amis yang tadi hanya samar-samar, kini menyeruak bebas, memenuhi setiap sudut ruangan, menusuk indra penciumannya hingga rasa mual menyodok pangkal tenggorokannya.Di dalam kotak itu, terbaring sesuatu yang mengerikan. Seekor tikus got besar dengan perutnya robek, isinya terburai, diletakkan di atas sehelai kain putih yang kini berubah warna menjadi cokelat kehitaman akibat cairan tubuh bangkai tersebut. Sebuah ancaman yang dikemas dalam paket rapi.Dunia seolah berputar di mata Zea. Oksigen di kamarnya mendadak hilang.“AAAARRRGGGHHH!!!”Jeritan itu lolos begitu saja dari kerongkongan Zea. Melengking, penuh ketakutan, dan sarat akan trauma yang mendalam.Refleks ia melempar paket itu ke lantai. Kedua tangannya mengep
BAB 99 “Orang tua kamu selalu bilang kamu anak yang penurut, Ze. Tapi di mataku, belakangan ini kamu keliatan seperti pembangkang yang sangat keras kepala,” Arya memulai percakapan, suaranya tenang namun mengandung penghakiman yang tak terbantahkan. Zea terdiam sejenak, mengamati lekat sepotong timun yang akan disantapnya, lalu menjawab, “Aku punya alasan.” Ia lanjut mencocol timun ke dalam sambal terasi yang nikmat. Gerakannya santai terkesan cuek. Sebelah alis Arya naik, “Oh ya? Apa itu?” “Kalo soal aku yang berangkat nggak sama kamu, aku udah jelasin alasannya. Soal aku pergi duluan dari tempat wisata, itu karena aku nggak enak badan dan kepalaku sakit. Daripada ngerepotin kamu kan mending aku balik duluan.” Jelas Zea panjang. “Siapa bilang aku bakal ngerasa direpotin?” Arya bertanya kalem. Zea mengangkat bahu tak acuh.
BAB 98Malam peresmian Lentera Kafe yang seharusnya menjadi salah satu puncak kemenangan Arkan, seketika berubah menjadi panggung sandiwara yang menyesakkan.Setelah berhasil menenangkan badai histeria Naya di ruangannya, pesta tetap berlanjut, seolah-olah tak pernah terjadi apapun sebelumnya.Di tengah kerumunan tamu yang masih menyisakan bisik-bisik penasaran, Naya muncul kembali dengan penampilan yang sudah lebih rapi. Walaupun gaunnya tampak sedikit kusut, ujungnya kotor, tapi riasan wajahnya kembali sempurna meski tak paripurna seperti biasanya. Sekedar menyamarkan wajah sembabnya.Binar matanya memancarkan kepuasan dan kebahagiaan. Ia berdiri dengan anggun di samping Arkan, jemarinya menggamit lengan pria itu dengan posesif.Pak Wira, yang sejak awal merasa atmosfer sudah tidak sehat, segera berpamitan begitu melihat Arkan muncul. Ia tidak banyak bertanya, hanya memberikan tatapan penuh arti kepada Arkan sebelum beranjak p
BAB 95Cahaya lampu sorot kuning hangat di panggung kecil Lentera Kafe seolah mengunci sosok Zea. Di genggamannya, mikrofon itu terasa dingin, kontras dengan telapak tangannya yang mulai lembab karena gugup. Di bawah sana, puluhan pasang mata menatapnya, namun hanya satu pasang mata
BAB 92Taksi online yang membawa Zea dan Arkan membelah kemacetan tipis di pagi itu dan berhenti tepat di depan selasar keberangkatan stasiun. Suasana stasiun masih cukup riuh dengan orang-orang yang mengejar jadwal pagi.Arkan melirik beberapa kali ke arah Zea. Gadis itu b
BAB 91Suasana di ruang tamu yang semula kaku mendadak menjadi hening yang menekan. Bapak masih menatap Arkan dengan sorot mata menginterogasi.“Bukan Pak,” sahut Zea mantap, matanya menatap sang ayah tanpa ragu. “Aku yang minta Mas Arkan jemput ke sini.”Bapak men
BAB 90 Sementara itu di kota yang berbeda, Arkan menatap layar ponsel yang tiba-tiba berpendar. Sebuah notifikasi muncul menampilkan pesan yang sudah ia nanti-nantikan sejak semalam. Awalnya ia nyaris berseru girang, tapi kemudian keningnya berkerut saat melihat rangkaian kata







