LOGINMasing-masing sudah meluapkan emosi mereka dengan menangis. Nicho dan istrinya kembali berpura-pura. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya dimana mereka berdua memasak bersama. Sambil bercanda dan mengobrol ringan.
Setelah makan malam, maka Nicho akan mencuci piring sementara Bunga membereskan bekas makan mereka. "Tinggalkan saja, sayang. Biar aku yang membersihkannya!" Seru Nicho membawa piring kotor ke washtafel. "Aku masih kuat kalau hanya mengelap meja, mas." Sahut Bunga tersenyum manis. "Oh, iya. Mumpung besok libur, aku mau minta temenin." "Mau kemana, sayang?" "Ke rumah mama, terus ke rumah ibu." Nicho sampai menoleh. Ia menatap istrinya dengan penuh pertanyaan. "Cuma mau silahturahmi, mas.. udah lama nggak ketemu mama." Sambung Bunga. Nicho menghela nafas berat. "Baik. Akan ku temani." Sebenarnya Nicho malas sekali pergi ke rumah mertuanya. Entah kenapa watak Bunga dan mamanya itu sangat berbeda. Bunga yang lembut dan bertutur kata sopan harus memiliki ibu yang kasar, suka merendahkan orang lain dan sering kali melihat seseorang dari hartanya. Ya, bisa dikatakan sampai sekarang Nicho belum bisa merebut hati mertuanya. Sembilan tahun menikah dan tiga tahun berpacaran.. dua belas tahun Nicho mengenal ibu mertuanya. Dan sampai saat ini, restu dari wanita itu belum di dapatkan juga. Pria miskin! Cuma anak yatim! Kamu tidak akan punya masa depan jika menikahi pria itu! Masih terngiang-ngiang hinaan yang diberikan ibunya Bunga pada Nicho saat melamar istri tercintanya saat itu. Tak hanya itu, di pelaminan yang harusnya menjadi tempat bahagia mereka mengikat janji, ibu mertuanya main melenggang pergi sambil menunjuk-nunjuk wajah Niko. Menantu tak berguna katanya! Hati Nicho sakit sekali. Tapi ia tahan semua emosinya demi Bunga. Apalagi Bunga malah membentangkan jarak dan memberikan permusuhan pada ibunya sejak hari itu. Sebagai suami yang bijak, Nicho berusaha melunakkan hatinya. Ia selalu memberikan nasehat agar Bunga memaafkan ucapan ibunya. Walau harus Nicho yang berkorban perasaan secara penuh. Esok pagi, Nicho tiba bersama Bunga di kediaman Tati, mertuanya. Baru saja masuk ke ruang tamu, Tati memberikan penghinaan. "Mama pikir motor butut itu nggak bernyawa lagi! Ternyata panjang umur juga!" Sindirnya pada motor bebek butut yang dibawa oleh Nicho. Bunga dan Nicho hanya tersenyum menganggap ucapan Tati sebagai angin lalu saja. Keduanya lalu menciumi tangan Tati dengan takzim. "Melati baru aja beli mobil, Bunga! Mobil keluaran terbaru lagi. Suaminya baru aja naik jabatan!" Seloroh wanita tua ini. Bunga dan Nicho lalu mengambil tempat duduk di sofa ruang keluarga. "Alhamdulillah, ma. Aku senang dengarnya." "Nah, kamu! Apa perolehanmu menikah dengan Nicho? Udah sembilan tahun, loh! Hidup kalian masih begitu-begitu saja! Suamimu masih jadi guru honorer. Motornya masih butut! Rumah kalian juga sempit! Gimana nanti kalau ada perayaan disana? Pasti banyak tamu yang nggak mau datang!" Tangan Nicho terkepal dengan erat mendengar sindiran dari mertuanya. Dia memang guru honorer tapi semua nafkah yang ia berikan pada istrinya adalah harta yang halal. Tidak seperti adik iparnya yang katanya bekerja di perusahaan tapi hebat sekali bisa membeli rumah dan kendaraan dalam sekejap! Simpang siurnya, suami Melati malah suka bertarung di meja judi. Ah, mau jadi apa keluarga itu jika di nafkahi dengan uang yang haram? Hmm.. tapi Nicho hanya bisa menahan ucapannya di dalam hati. "Nggak masalah, ma. Yang penting hidup kami tenang.. nggak ada hutang dan nggak menumpang. Apa yang kami miliki sudah lebih dari cukup." Sahut Bunga lembut. Berbeda sekali dengan ibunya yang sangat congkak dan kasar. Tati mendengkus dan menatap sinis Nicho. "Gimana kabar bayi tabung kalian? Pasti gagal lagi, kan?! Udahlah, Bunga. Cepat periksakan diri kalian. Mama yakin suamimu itu bermasalah." Tati terkesiap. Sontak ia mengangkat kakinya. Begitu juga dengan Nicho yang melotot. Tiba-tiba saja istrinya berlutut di hadapan Tati. "Ada apa ini, Bunga???" Tanya Tati kaget. Dengan wajah yang memerah menahan tangis, Bunga mengambil tangan Tati. Ia mencium tangan itu begitu lama dan takzim. Setelah itu, ia bersimpuh hingga membuat Tati semakin terkejut. Bunga merundukkan kepalanya dan mencium kaki ibunya. Nicho yang melihat itu langsung terenyuh, ia memalingkan wajahnya ke arah lain. "Kenapa, Bunga??!" Tati mengangkat kedua bahu anaknya dan memaksa Bunga menatap wajahnya. Namun seketika itu juga Tati terperangah. Wajah anaknya sudah penuh akan air mata. "Kedatangan ku kemari untuk meminta pengampunan mama. Selama ini, aku selalu membantah ucapan mama. Menyakiti mama dengan tindakanku.. aku mohon maafkan aku.." ucapnya terisak. Tati tak mengerti. Ia lalu menatap menantunya. "Kamu menyakitinya, Nicho?? Sebab itulah Bunga mengatakan hal ini karena dia menyesal menikah denganmu???!" Tati menatap sengit. Bunga menggeleng. Ia menangkupkan tangannya. "Tidak, ma. Mas Nicho tidak bersalah. Dia suamiku yang setia. Dia sangat mencintaiku dan selalu melindungiku. Hanya saja, aku harus memberikan kabar ini pada mama.." Tati menatap putrinya yang sekarang menangis tersedu-sedu. Ia menangkupkan kedua tangannya seolah memohon ampunan. "Aku mohon maafkan seluruh kesalahanku, ma. Aku tahu dosaku begitu besar.." "Apa yang terjadi? Cepat katakan!" Bentak Tati tak sabar lagi. Bunga meneguk ludah. Tenggorokannya tercekat. "Aku tervonis kanker ovarium, ma. Hidupku tak lama lagi." Sekarang tak hanya dua dunia yang hancur, melainkan dunia Tati ikut patah hari ini juga."Pak Nicho."Suara itu lirih terdengar hingga membuat Nicho sontak menoleh. Ia pun terkejut mendapati Rose berada di tempat yang sama."Rose ? Kamu belum pulang?" Tanyanya."Belum. Saya.. belum dijemput." Jawab Rose tersendat. "Pak Nicho sedang apa disini?""Menunggu angkutan umum. Sudah kamu hubungi sopirmu?" Nicho lebih mengkhawatirkan wanita ini daripada dirinya sendiri."Sudah. Mungkin sedang dijalan. Ngngng.." Rose memandang sekeliling yang sepi. "Sepertinya nggak ada yang akan angkutan yang lewat, pak. Kecuali taksi online. Mau saya pesankan?" Tawarnya.Nicho menggeleng. Lagi-lagi ia tersenyum hingga membuat hati Rose berdebar tak enak. "Tidak perlu. Aku akan menunggu saja.""Tapi pak Nicho masih sakit.. wajah bapak terlihat pucat." Rose jadi khawatir. Ia mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu. "Tunggu saja, pak. Sebentar lagi taksinya akan datang.""Ya, Tuhan. Kamu nggak perlu berbaik hati sep
Nicho harus menuntaskan kesalah pahaman ini. Ia tak mau jika Rose menjauhi bahkan lebih buruk membencinya karena tindakannya kemarin.Sebab itulah, Nicho datang lagi ke rumah sakit umum. Berkunjung ke IGD dimana coas Rose tengah praktek. Namun sayang.. Rose tak terlihat. Rupanya ia tengah libur hari ini."Bukannya itu pria tua yang memeluk coas Rose kemarin, kan? Ngapain dia kesini lagi?" Bisik perawat berkacamata pada rekan kerjanya.Perawat pria itu ikut melihat."Benar. Nggak kapok kayaknya. Kalau begitu kita harus laporin ini ke dokter Citra. Beliau bilang untuk memantau gerak gerik putrinya disini."Perawat wanita ini mengangguk. "Benar. Laporkan saja."Oleh karena tak berhasil menemui Rose, Nicho akhirnya pulang ke rumah. Namun esok harinya, ia yang tak menyerah pergi lagi ke rumah sakit. Dia sudah mengantongi informasi jika Rose tengah bekerja di shift siang. Sore hari, Nicho datang dan melihat wanita cantik yang
"Papanya Rose?" Nicho nampak terkejut. "Oh silahkan masuk."Abraham tak perduli. Dia menatap dingin pria paruh baya yang ada di hadapannya. Abraham sudah menerima semua informasi mengenai Nicho. Baik dari rumah sakit maupun Regi.Pria ini lebih muda darinya. Tapi lihatlah. Wajah yang penuh kerutan, uban yang dimana-mana belum lagi punggung yang sedikit membungkuk. Berbeda sekali dengan Abraham yang masih bugar di usianya yang ke 60 tahun."Tidak perlu. Saya kemari hanya ingin mengingatkan." Ucap Abraham menatap intens. "Putri saya melakukan kesalahan dengan menabrak motor milik anda. Tapi bukan berarti anda bisa mencari keuntungan darinya."Pandangan Abraham beralih pada rumah kecil yang dimiliki Nicho. Tatapan itu meremehkan."Saya tahu apa maksudnya. Anda mendekati Rose karena ingin mendapatkan uang, kan? Tapi jangan harap, Tuan. Kami tidak akan termakan drama orang miskin seperti kalian."Mendengar itu, Nicho hanya tersenyum t
Nicho mengusap batu nisan itu dengan lembut. Seakan takut jika tangan keriputnya itu bisa menyakiti orang yang berpuluh tahun sudah berbaring di dalam sana.Rose hanya bisa memandang tanpa mengeluarkan kata satu apapun. Cinta mereka begitu besar. Hingga maut memisahkan, cinta itu semakin besar bertumbuh. Mekar dan merona seperti bunga mawar yang ikut berkembang disini."Saya nggak bisa membayangkan bagaimana rasanya waktu itu. Saat anda meminta dokter menghentikan resusitasi." Ujar Rose tercekat. Sebuah bayangan melintas. Seolah dia ikut hadir dalam penjemputan ajal istri pria ini."Bunga sudah terlalu lama sakit.. dia bertahan berbulan-bulan dengan sakitnya. Dia nggak pernah mengeluh sama sekali. Sebab itulah, aku tidak tega melihat saat tubuhnya di tekan dengan hebat. Sudah cukup penderitaannya." Rose meneguk ludah. Sambil memandangi batu nisan itu, ia mengatakan sesuatu yang berhasil menyentak Nicho."21 tahun lalu.. saya juga lahir d
"Mama mau kemana?" Tegur Rose. Dia baru saja keluar dari dapur untuk mengambil air dan menemukan ibunya yang ingin bersiap pergi."Ke rumah sakit. Ingin menemui pria yang sudah melecehkanmu.""Oh, mama! Jangan!" Rose yang terkesiap lalu mengejar ibunya dan memegang tangan itu."Kenapa, Rose? Dia sudah memelukmu di depan umum. Mama nggak terima itu!""Dia sudah meminta maaf, mama. Keluarganya juga sudah menemuiku untuk meminta maaf. Aku sudah mendengar semua cerita aslinya. Mereka bilang wajahku mirip dengan mendiang istri pria itu. Aku pikir orang tua itu mendapatkan tekanan psikoligis karena kehilangan istrinya. Kumohon, ma. Demi aku.. jangan temui mereka." Pinta Rose memelas.Dia tak mau memperpanjang masalah. Apalagi ibunya adalah dokter terkenal yang memiliki jabatan. Masalah ini akan lebar kemana-mana. Yang Rose takutkan adalah nama baik papa sambungnya."Kamu mirip dengan mendiang istrinya?" Citra menggeleng tak percaya. "M
"Panggil Rose kemari!"Abraham duduk di sofa single sambil menyilangkan kaki. Mendengar suara suaminya, wanita itu keluar dari kamar dan memandang lekat."Kamu baru pulang?"Abraham melirik. "Kamu juga?"Citra mengangguk. Ia duduk di sofa sebelahnya."Kamu sudah tahu apa yang diperbuat oleh anakmu itu?"Citra berdeham. "Aku sudah mendengar semuanya. Tapi ini bukan salahnya.""Jangan membelanya.""Kumohon jangan terlalu keras.. bagaimanapun dia putrimu." Ucap Citra memelas.Abraham tak menghiraukan. Sampai yang dipanggil turun. Rose datang dengan wajah yang tertunduk."Duduk disini." Ujar Abraham.Rose duduk di dekat papanya. Ia pun bersiap menerima hukuman saat melihat tatapan mematikan dari ayah dan ibunya."Jadi kamu sudah punya pacar?""Nggak punya, pa.""Lalu apa yang terjadi?" Bentak Abraham. "Baru satu hari kamu praktek di IGD. Tapi kamu membuat masalah







