共有

Bab 3

作者: Stary Dream
last update 公開日: 2026-06-06 15:48:04

Sebagai seorang ibu tak ada yang membuat mereka patah hati melainkan melihat hidup anaknya berantakan.

Tati pikir anaknya menderita karena diperistri oleh pria miskin yang hanya bermodalkan cinta. Apalagi selama sembilan tahun pernikahan, keduanya belum juga mendapatkan keturunan.

Tati juga masih ingat bagaimana ia menghardik Nicho di hari raya lebaran tiga bulan yang lalu. Saat itu, Bunga terlihat lebih kurus. Wajahnya juga pucat. Ketika ditanya, Bunga mengatakan sedang terkena sakit maag biasa.

Tati sudah berpikir macam-macam. Pasti Nicho tak memberikan nafkah yang cukup untuk putrinya. Buktinya, Bunga tidak makan dengan baik hingga tubuhnya berubah menjadi kurus. Bukan main, Tati membandingkan kedua menantu laki-lakinya di depan umum. Membuat harga diri Nicho jatuh berkeping-keping.

"Aku mohon ampuni semua kesalahanku, ma.. agar aku bisa ikhlas menjalani penyakitku ini.. agar aku bisa tenang jika sewaktu-waktu menerima panggilan dari Tuhanku.." lirih Bunga.

Nicho sudah tak tahan. Ia beranjak dari duduknya dan membantu istrinya bangkit berdiri. Nicho lalu memeluk Bunga dengan erat.

Bunga menelusupkan kepalanya di dada Nicho dan menangis tersedu-sedu. Air mata pun ikut lolos dari mata pria ini.

"Jangan bicara begitu, sayang. Citra bilang akan mencari jalan keluarnya.." Nicho mengelus pucuk kepala istrinya yang tertutup hijab.

Bunga hanya bisa menangis. Dia sudah skeptis.

Kanker ovarium stadium tiga. Rasanya kesembuhan itu sulit didapatkan, yang mereka bisa lakukan adalah menunda kematian saja.

Keduanya menangis sambil berpelukan dengan erat. Dan pemandangan itu ditangkap langsung melalui kedua netra Tati.

Inilah menantu yang selalu dihinakannya. Pria yang katanya miskin tapi memiliki hati seluas samudera.

Alih-alih meninggalkan istrinya yang terpuruk, Nicho malah mengambil tangan itu dan mendekapnya dengan erat. Seolah berkata, bahwa dia rela melawan dunia ini demi istrinya.

Mata itu akhirnya tertunduk. Tati pun menangis dalam diamnya.

Setelah dari rumah Tati, sekarang keduanya mengunjungi rumah Murni, ibu dari Nicho.

Sesampainya disana, Bunga melakukan hal yang sama. Namun ia tak sendiri, Nicho ikut bersimpuh meminta ibunya mendoakan kesehatan Bunga.

Murni merangkul kedua anaknya dan memeluk sembari beruraian air mata.

"Cobaan kalian sangat berat, nak.." lirih Murni.

Sebagai mertua, Murni tak pernah membedakan kasih sayangnya pada anak dan menantunya. Dia sudah menyayangi Bunga bahkan lebih seperti anak kandungnya sendiri.

"Maafkan aku, ibu.." lirih Bunga. "Selama menjadi menantu aku mungkin sudah bersikap tidak sopan dan menyakiti hati ibu."

"Tidak, sayang. Kamu adalah anak ibu yang paling ibu sayangi." Murni mengganti pelukannya pada Bunga seorang. Ia mengusap air mata yang mengalir di wajah menantunya.

Mengunjungi kedua ibunya sudah dilakukan, sekarang Bunga dan Nicho pulang ke rumah.

Nicho menghambakan dirinya pada Maha Kuasa. Mengiba agar segera mengangkat penyakit istrinya. Ia ingin hidup selamanya bersama dengan Bunga.

Tak masalah jika mereka tak dihadiahkan seorang anak, asalkan hidup berdua saja dengan Bunga itu sudah cukup baginya.

Selesai menghambakan diri, Nicho menghubungi Citra mengenai rencana pengobatan Bunga. Sesuai rencana, Bunga akan menjalani operasi pengangkatan tumor. Setelah itu baru di kemoterapi.

Pintu kamar mandi dibuka oleh Bunga. Sudah tak terhitung berapa kali wanita ini mengganti pembalutnya. Rasanya darah ini masih tidak berhenti berjuga.

Nicho berbaring di tempat tidur, ia merentangkan tangan agar Bunga masuk ke pelukannya.

Pelan-pelan, Bunga naik ke atas tempat tidur dan naik ke atas dada suaminya. Semuanya masih sama, dada Nicho adalah tempat ternyamannya. Ia pun merebahkan kepalanya disana.

"Mas.." panggil Bunga sendu.

"Hmm?" Nicho membelai rambut indah istrinya. Rambut yang sebentar lagi rontok karena menjalani kemoterapi.

"Jika kamu mau menikah lagi akan aku izinkan. Aku ikhlas, mas.."

"Tidak akan. Selamanya kamu akan menjadi istriku." Jawab Nicho tegas.

"Meskipun aku pergi lebih dulu?" Bunga mendongak untuk menatap wajah suaminya.

Nicho membalas tatapan istrinya. Mata yang selalu berbinar itu dihiasi ketakutan.

"Maka aku akan menyusulmu. Kemanapun kamu pergi, aku akan ikut."

Bunga menggeleng. Dia memeluk Nicho dengan erat.

"Berjanjilah padaku kamu harus melanjutkan hidupmu. Kamu harus menikah dan punya anak." Ucapnya pelan.

"Tidak! Jika wanita itu bukan kamu, aku tidak akan menikah lagi! Kamu adalah satu-satunya wanita yang kucintai!" Nicho mengecup dahi istrinya.

Tangan itu terulur dan mengambil wajah istrinya. Keduanya saling memandang.

Nicho mendekatkan dahinya pada dahi istrinya. Bibir itu menyentuh bibir Bunga dengan lembut.

Bibir manis yang selalu membuat Nicho lupa diri setelah menyentuhnya.

"Sampai maut memisahkan kita, aku akan selalu mencintaimu." Bisik Nicho dan membawa Bunga dalam dekapannya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Bab 55

    Citra menghubungi semua divisi rumah sakit. Termasuk rekan-rekan coas putrinya. Sayang sekali, Rose tak muncul sejak tiga hari yang lalu. Wanita itu bahkan melewatkan jadwal jaganya tanpa izin."Dimana kamu, Rose.." Citra sangat bersusah hati. Ia terduduk lemas di kursi kerjanya. Andai saja Citra menahan kepergian Rose. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Putrinya itu pasti mengalami hal yang berat. Ia terpukul karena mendapatkan fakta jika bukan anak kandung dari Citra.Terlebih mengingat perlakuan Abraham selama ini padanya. Oh.. Rose pasti kecewa.Pintu diketuk membuat Citra cepat-cepat mengusap air matanya. "Masuk lah." Ujarnya.Seseorang masuk. Citra bersiap dengan menggunakan jas dokternya. Kebetulan dia harus melaksanakan praktek di poliklinik hari ini."Abraham.." mata Citra langsung menyipit. Mau apa lagi pria ini?"Aku sedang melakukan ronde manajemen, jadi sekalian mampir kemari." Abraham menaruh

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Bab 54

    "Sudah cukup, Renza. Terima kasih." Ucap Nicho menarik kakinya.Keponakannya yang manja ini sudah tumbuh dewasa. Meskipun sedikit galak, Renza memiliki kepribadian seperti ibunya. Yaitu lembut dan penuh perhatian.Contohnya seperti hari ini, Renza bersama Nadia mampir lagi ke rumah Nicho. Tak hanya membawakan bekal makanan, Renza juga memberikan pijatan pada pamannya yang terlihat letih itu."Bahunya mau aku pijit juga nggak?" Tawar Renza.Nicho terkekeh. "Tidak perlu. Kapan kamu wisuda?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan."Dua bulan lagi, paman. Nanti aku mau paman datang.""Pasti paman datang.."Setelah Renza, kini giliran Nadia yang menegur. Wanita ini baru saja membuat bubur kacang hijau."Cicip dulu, mas. Ini nggak terlalu manis."Nicho menerima mangkuk kecil tersebut dan mengaduknya perlahan."Sudah lebih dari tiga hari. Apakah Rose menghubungimu?" Tanya Nadia penasaran.Tiga hari

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Bab 53

    Pintu kamar itu diketuk berkali-kali. Rose masih enggan bangkit dari tidurnya. Ia terlungkup menyembunyikan tangisannya di bawah bantal.Semalaman ia tak tertidur karena takut kemarahan orang tuanya, namun pagi ini ia mendapatkan kejutan luar biasa yang berhasil meruntuhkan kepercayaannya.Citra yang ia muliakan memberikan fakta jika ternyata bukan ibu kandungnya. Rose hanyalah anak hasil curian. Ia terpisah dari orang tua aslinya karena obsesi yang dimiliki oleh Citra.Rose semakin menangis saat mengingat perlakuan Nicho padanya. Pria yang ternyata menjadi ayah kandung dari Rose. Pria yang sangat lembut dan juga penyayang."Rose, buka pintunya. Mama ingin bicara, nak.." bujuk Citra dari luar. Daritadi ia mengetuk pintu namun Rose masih enggan membukanya. Citra jadi cemas terlebih tak terdengar sahutan dari dalam."Rose! Kalau kamu nggak buka pintunya, mama akan suruh orang untuk mendobrak kamarmu!" Ucap Citra lagi. Kembali ia menggedor p

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Bab 52

    "Nicho.. mari kita bicara.." Nicho memandang Citra dengan penuh rasa kecewa. Untuk apa lagi wanita ini datang kemari? Hati Nicho sakit sekali dibuat olehnya. Wanita yang mengaku sebagai sahabatnya malah mengiris dan memberikan luka untuknya."Pergilah, Citra." Sahut Nicho dingin."Kumohon, Nicho. Sebentar saja.. aku ingin menjelaskan semuanya.." pinta Citra penuh harap.Nadia mengusap bahu kakaknya. Walau ia tak mengerti apa yang terjadi, tapi Nadia menduga pasti ada hal yang berat sehingga membuat teman lama kakaknya itu datang kemari."Dengarkan saja, mas." Nicho menghela nafas panjang. Ia memutar tubuhnya dan duduk di kursi ruang tamu. Begitu juga dengan Nadia dan Citra yang mengambil tempat duduk dan saling berhadapan."Apa yang kamu pikirkan itu semua benar, Nic. Rose adalah putri kandungmu." Ucap Citra memulai pembicaraan.Nadia terkejut setengah mati. Sedangkan Nicho memejamkan matanya."Aku ti

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Bab 51

    "Ca ovarium?" Tebakan dokter Chandra memang lah benar. Pantas saja Nicho dan Bunga sulit dihubungi selama satu bulan terakhir ini. Rupanya sang calon ibu tengah bergelut dengan penyakitnya."Iya. Dengan berat hati rahimnya akan diangkat." Ucap Citra."Lalu bagaimana dengan calon anak mereka, Citra? Sudah satu bulan ini programnya berhasil, kita harus mengembalikannya kepada sang pemilik untuk berkembang."Citra mengusap wajahnya kasar. Ia pun tak bisa berpikir. Kenapa harus ada cahaya dibalik masalah yang tidak memiliki titik temunya?Bunga sudah kehilangan harapan. Nicho pun tidak berniat menikah lagi. Lalu bagaimana nasib calon anak mereka? Oh.. Citra gusar sendiri."Lebih baik kita panggil Nicho kemari. Dia harus tahu program bayi tabungnya berhasil."Citra menggeleng. "Dia sedang mengurusi Bunga yang kemoterapi."Citra lalu menyenderkan punggungnya sambil menghela nafas panjang. Ia menatap nanar langit putih yang ada

  • Sampai Maut Memisahkan Cinta   Bab 50

    "Ni.. Nicho.."Citra tak percaya melihat siapa yang ada di hadapannya. Lebih dari 20 tahun tak bertemu. Kini keduanya kembali dipertemukan dalam kondisi tak terduga. Apalagi Nicho kini berdiri di sisi putrinya, Rose. Pria itu menatapnya dengan tajam."Mama mengenal pak Nicho?" Tanya Rose kaget saat mendengar ibunya memanggil nama pria ini."Dia ibumu, Rose?" Tanya Nicho dengan rahang mengeras.Rose mengangguk cepat. "Iya.""Nicho!" Panggil Citra cepat.Tatapan tajam Nicho beralih lagi pada wanita ini."Katakan padaku, apa Rose adalah anakmu?" Tanyanya."Nic.. aku bisa jelaskan!" Citra mengucapkan itu dengan memelas."Apa kamu yang melahirkan dia???" Tanya Nicho lantang."Nic..""Jawab, Citra!"Rose sampai terkejut mendengar Nicho membentak ibunya. Pria yang terlihat lembut ternyata bisa juga marah."I-iya, aku yang melahirkannya. Tapi aku bisa menjelaskan semuanya, Ni

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status