تسجيل الدخول
"Kanker ovarium."
Dengan mulut bergetar, Citra menyebutkan diagnosa yang tertulis di atas kertas. Helaan nafasnya begitu berat, wajahnya tak mampu tegak untuk membalas tatapan kedua sahabatnya. Hari ini, dunia kedua pasangan ini sudah hancur karena selembar kertas. Sebuah penyakit yang mengantarkan Bunga ke batas tipis antara hidup dan kematian. Nicho merasa dunianya berhenti berputar. Ia mengerjap meneliti wajah Citra yang tertunduk disana. Bibirnya kelu. Air mata mulai menggenang menyibak netranya. Ia merasa semuanya begitu gelap. Penyakit itu... bukankah itu penyakit yang akan mengantarkan istrinya ke kematian? "Apa masih ada harapan?" Tanya Bunga. Nicho dan Citra tersentak. Mereka menoleh pada Bunga. Menatap wajah sendu yang duduk di sisi suaminya. Wajah cantik yang berubah tirus dan pucat. Tubuhnya sekarang ringkih seakan termakan usia. Padahal ia masih muda. Baru berusia 34 tahun, tapi penyakit ini terlalu jauh mencekik sinarnya. Nicho yang ingin menangis lalu menahan air matanya. Ia meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. "Akan selalu ada harapan, sayang.." ucap Nicho tegar sambil memandang istrinya. Bunga membalas tatapan itu dengan sama lembutnya. Di bibirnya tersungging senyuman getir yang juga terlihat Citra. Sekonyong-konyong ia merasa bersalah. Cinta kedua anak manusia ini begitu besar. Bahkan semakin besar di menjelang usia pernikahan mereka yang menuju sembilan tahun. "Kamu bisa menjalani kemoterapi, Bunga. Kamu tenang aja.. aku akan mengupayakan semuanya demi kamu. Yakinlah kamu akan sembuh." Sekarang Citra ikut menegakkan punggungnya. Ia memandang sahabatnya dengan penuh semangat. Apakah harapan itu masih ada? Citra tak tahu. Citra tak bisa memastikan. Dia adalah seorang dokter kandungan yang sering kali menangani kasus seperti ini. Dan yang bisa sembuh dari penyakit mematikan ini hanya segelintir orang. Yaitu orang-orang yang lolos karena berhasil merayu Tuhannya. Ia sudah sering kali melihat wanita yang harus menjalani kemoterapi karena kanker dengan berbagai macam jenisnya. Citra juga sering menjadi saksi dimana ketangguhan wanita diuji saat sakit ini menerpa. Dimana cinta dan kesetiaan dibuktikan melalui kehadiran. Ia pun pernah melihat beberapa kali dimana sang suami yang mengantarkan istrinya sendiri ke ranjang kematian. Dimana selimut putih menutup wajah cantik itu selama-lamanya. Namun, Citra tak menyangka jika ujian ini menimpa sahabatnya. Pasangan suami istri yang tengah menanti kabar baik melalui proses bayi tabung namun beralih mendapatkan kabar buruk karena penyakit yang menghancurkan harapan mereka. Selepas itu, Nicho mengajak Bunga kembali ke rumah. Sebuah tempat pulang yang sederhana. Jauh dari kata mewah dan megah. Hanya rumah kecil yang jauh dari kehidupan perkotaan. Di depan rumah ada taman kecil yang dipenuhi bunga mawar. Seperti namanya, Bunga menyukai mawar merah. Ia rawat bunga-bunga itu dengan baik meskipun jemarinya sering tertusuk oleh duri. Tapi disinilah tempat mereka menepi. Menjadi tempat pulang yang menenangkan setelah lepas dari pekerjaan dunia yang begitu berat. Setibanya di rumah, Bunga masuk ke kamar mandi. Mengganti pembalutnya yang sudah penuh dengan pembalut lain. Air mata ini jatuh jua. Ada alasan kenapa selama ini haidnya tak pernah teratur. Seluruh gejala yang awalnya disangka hanya sakit perut karena maag biasa menjadi kompleks saat Bunga menjalani pemeriksaan lanjutan. Dimana ada sebuah tumor yang bersarang di rahimnya. Sebuah tumor yang berbuah disana. Bunga mencuci tangannya. Ia menyeka air mata dan membilas wajahnya. Wanita ini berusaha menampilkan senyum terbaiknya. Tidak! Penyakit ini memang akan merenggut nyawanya. Tapi tidak dengan jiwanya. Dia akan menjadi Bunga yang lembut, tegar dan berlapang dada. Bunga keluar dari kamar mandi dan menatap Nicho yang terduduk di tepi pembaringan. Keduanya saling melempar pandangan. Bunga tersenyum manis. Nicho bangun dan berjalan ke arah istrinya. Tubuh itu ia peluk dengan erat. Bunga mengusap punggung suaminya dengan lembut. Seolah membisikkan bahwa semuanya baik-baik saja. Tidak akan ada hal berat mengusik dirinya. Nicho menarik diri dan memandang lekat istrinya. Dahi itu lalu diciumnya dengan penuh kasih sayang. Bunga mengusap wajahnya dan tersenyum mesra tanpa beban. "Bersihkan dirimu, mas. Kamu dari rumah sakit!" Ucap Bunga sambil tertawa pelan. Bunga si antiseptik berjalan. Itulah julukan Nicho padanya! Istrinya si pecinta kerapian dan kebersihan. Dia tak mau ada kuman yang menempel sedikit pun di rumah ini. Nicho mengangguk. Ia masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Tubuh pria ini merosot begitu saja di lantai. Ia menangis. Menumpahkan semua kemarahannya pada Tuhan. Dinding ini menjadi saksi betapa hancurnya hati Nicho saat ini. Kenapa?? Kenapa di seluruh wanita yang ada di dunia ini harus istrinya yang menderita penyakit mematikan itu? Kenapa bukan wanita lain saja? Wanita yang jelas-jelas berdosa dan tak bisa menjaga dirinya? Mengapa harus istrinya yang setia. Yang patuh dan menjaga kehormatannya hanya untuk suaminya?? Dunia Nicho hancur! Sambil meremas rambutnya ia berteriak. Ia ingin semuanya diputar. Dia rela menggantikan posisi istrinya dengan dirinya saat ini. Ia rela mati demi Bunga. Tahun ini, mereka berencana memiliki anak setelah sembilan tahun hanya hidup berdua saja. Program bayi tabung sudah dilakukan sejak dua bulan yang lalu. Mereka tengah berdebar untuk mendapatkan kabar baik. Namun jantung itu terlepas dari tempatnya saat Citra malah memberikan kabar yang berbeda. Bunga terduduk lemas di lantai sambil menekuk lututnya. Ia ikut menangis mendengar lirihan suaminya dari dalam. "Maaf, mas.. maaf aku tidak bisa memberikanmu keturunan.." lirih Bunga menangis tersedu-sedu.Rose akhirnya membuat keputusan untuk tinggal di rumah sederhana milik ayahnya. Sambil menyelesaikan pendidikan dokternya, Rose juga sering mengunjungi Citra di rumah baru milik wanita itu. Abraham dan Citra telah resmi berpisah dua bulan setelahnya. Kehidupan Rose di rumah sakit juga berjalan dengan normal. Keinginannya tidak dipandang sebagai anak direktur telah dicapai. Sekarang dia bisa belajar dengan bebas tanpa gangguan. Gelar dokter resmi diraih Rose. Nicho dan Citra mendampingi Rose sebagai orang tuanya saat wisuda. "Kamu selalu membanggakan mama." Citra memeluk anaknya dengan erat. Rose berjalan ke sebelah dan memeluk ayahnya. "Ayah sangat menyayangimu." "Aku juga!" Rose menarik diri. "Kita ke makam ibu Bunga. Aku mau menunjukkan ini." Rose ingin memamerkan ijazahnya pada Bunga. Ketiganya lalu pergi ke makam milik Bunga. Disana Rose bercerita mengenai perjuangan selanjut
Rose dibawa pulang oleh ayah kandungnya. Wanita ini diberikan kamar, diminta untuk berganti pakaian. Tantenya yang baik langsung menghidangkan makanan. Takut jika Rose kelaparan karena terlalu lama berkelana di jalanan."Rumah ini kecil, Rose. Mungkin nggak sebesar tempat tinggal kalian." Ucap Nadia sambil menuangkan nasi pada piring keponakannya.Rose tersenyum pahit. "Itu bukan rumahku, bu Nadia. Itu rumah papa Bram dan mama Citra.""Mamamu bilang kalau kamu kabur dari rumah. Apa itu benar?" Tanya Nadia.Rose mengangguk sambil menunduk."Mereka bilang ingin berpisah. Papa juga ingin menjual rumah itu. Lagi pula, mereka bukan orang tuaku." Jawab Rose sambil memandang wajah ayahnya. "Aku tahu pak Nicho pasti sangat terpukul karena perbuatan mama. Aku pun sama. Aku.. merasa seperti alat yang digunakan untuk mama mendapatkan pak Nicho. Aku.. aku..." Rose menangis tak mampu melanjutkan ucapannya."Nak.." tegur Nicho lembut.
Citra menghubungi semua divisi rumah sakit. Termasuk rekan-rekan coas putrinya. Sayang sekali, Rose tak muncul sejak tiga hari yang lalu. Wanita itu bahkan melewatkan jadwal jaganya tanpa izin."Dimana kamu, Rose.." Citra sangat bersusah hati. Ia terduduk lemas di kursi kerjanya. Andai saja Citra menahan kepergian Rose. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Putrinya itu pasti mengalami hal yang berat. Ia terpukul karena mendapatkan fakta jika bukan anak kandung dari Citra.Terlebih mengingat perlakuan Abraham selama ini padanya. Oh.. Rose pasti kecewa.Pintu diketuk membuat Citra cepat-cepat mengusap air matanya. "Masuk lah." Ujarnya.Seseorang masuk. Citra bersiap dengan menggunakan jas dokternya. Kebetulan dia harus melaksanakan praktek di poliklinik hari ini."Abraham.." mata Citra langsung menyipit. Mau apa lagi pria ini?"Aku sedang melakukan ronde manajemen, jadi sekalian mampir kemari." Abraham menaruh
"Sudah cukup, Renza. Terima kasih." Ucap Nicho menarik kakinya.Keponakannya yang manja ini sudah tumbuh dewasa. Meskipun sedikit galak, Renza memiliki kepribadian seperti ibunya. Yaitu lembut dan penuh perhatian.Contohnya seperti hari ini, Renza bersama Nadia mampir lagi ke rumah Nicho. Tak hanya membawakan bekal makanan, Renza juga memberikan pijatan pada pamannya yang terlihat letih itu."Bahunya mau aku pijit juga nggak?" Tawar Renza.Nicho terkekeh. "Tidak perlu. Kapan kamu wisuda?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan."Dua bulan lagi, paman. Nanti aku mau paman datang.""Pasti paman datang.."Setelah Renza, kini giliran Nadia yang menegur. Wanita ini baru saja membuat bubur kacang hijau."Cicip dulu, mas. Ini nggak terlalu manis."Nicho menerima mangkuk kecil tersebut dan mengaduknya perlahan."Sudah lebih dari tiga hari. Apakah Rose menghubungimu?" Tanya Nadia penasaran.Tiga hari
Pintu kamar itu diketuk berkali-kali. Rose masih enggan bangkit dari tidurnya. Ia terlungkup menyembunyikan tangisannya di bawah bantal.Semalaman ia tak tertidur karena takut kemarahan orang tuanya, namun pagi ini ia mendapatkan kejutan luar biasa yang berhasil meruntuhkan kepercayaannya.Citra yang ia muliakan memberikan fakta jika ternyata bukan ibu kandungnya. Rose hanyalah anak hasil curian. Ia terpisah dari orang tua aslinya karena obsesi yang dimiliki oleh Citra.Rose semakin menangis saat mengingat perlakuan Nicho padanya. Pria yang ternyata menjadi ayah kandung dari Rose. Pria yang sangat lembut dan juga penyayang."Rose, buka pintunya. Mama ingin bicara, nak.." bujuk Citra dari luar. Daritadi ia mengetuk pintu namun Rose masih enggan membukanya. Citra jadi cemas terlebih tak terdengar sahutan dari dalam."Rose! Kalau kamu nggak buka pintunya, mama akan suruh orang untuk mendobrak kamarmu!" Ucap Citra lagi. Kembali ia menggedor p
"Nicho.. mari kita bicara.." Nicho memandang Citra dengan penuh rasa kecewa. Untuk apa lagi wanita ini datang kemari? Hati Nicho sakit sekali dibuat olehnya. Wanita yang mengaku sebagai sahabatnya malah mengiris dan memberikan luka untuknya."Pergilah, Citra." Sahut Nicho dingin."Kumohon, Nicho. Sebentar saja.. aku ingin menjelaskan semuanya.." pinta Citra penuh harap.Nadia mengusap bahu kakaknya. Walau ia tak mengerti apa yang terjadi, tapi Nadia menduga pasti ada hal yang berat sehingga membuat teman lama kakaknya itu datang kemari."Dengarkan saja, mas." Nicho menghela nafas panjang. Ia memutar tubuhnya dan duduk di kursi ruang tamu. Begitu juga dengan Nadia dan Citra yang mengambil tempat duduk dan saling berhadapan."Apa yang kamu pikirkan itu semua benar, Nic. Rose adalah putri kandungmu." Ucap Citra memulai pembicaraan.Nadia terkejut setengah mati. Sedangkan Nicho memejamkan matanya."Aku ti







