登入Tiba harinya dimana Bunga harus berjuang di meja operasi. Kabar buruknya, tumor tersebut berkembang dengan cepat. Seakan berpacu dengan usia Bunga yang bias. Tumor yang tadinya terdeteksi hanya satu kini memiliki dua teman dengan ukuran yang berbeda.
Pantas saja jika Bunga semakin banyak mengeluarkan darah dari bagian bawahnya, ternyata itu lah alasannya. Sebelum di operasi, Bunga diberikan transfusi terlebih dahulu. Setelah itu, ia berjuang untuk membuang penyakitnya. Dari tadi Nicho mondar mandir menunggu di depan pintu operasi. Disana ada Tati dan Murni yang ikut menunggu. Keduanya berdoa kencang untuk keselamatan putrinya. Pintu pembatas ruang operasi itu terbuka memperlihatkan seorang dokter wanita cantik yang keluar dari sana, Nicho pun langsung memburu. "Nicho!" "Bagaimana, Citra???" Citra menata nafasnya dan memandang lekat. "Bunga mengalami perburukan. Kami akan memindahkannya ke ICU." Tubuh Nicho terhuyung mundur ke belakang, dengan cepat Murni bangkit dan menahan tubuh anaknya. "Apa, dok??? Anak saya kritis??" Tati mengerjap air matanya. "Iya. Ketiga tumornya sudah kami ambil, tapi keadaan Bunga sekarang memburuk. Saya memohon doa dari keluarga terdekat." Sambung Citra lagi. Nicho jatuh terduduk dibantu oleh Murni. Pria ini menutup wajahnya sambil menangis. "Kita berdoa saja, nak.." ucap Murni tak tahan mendengar tangis pilu putranya. Bunga akhirnya dipindahkan ke ruang ICU. Tumor yang diangkat sudah dibawa untuk diperiksa lebih lanjut. Kondisi wanita ini begitu lemah, kulit tubuhnya sudah seputih tembok. Wajahnya melayu. Mata itu tertutup rapat. Menit demi menit bergulir menjadi jam dan berganti hari. Kini sudah tiga hari Bunga tertidur nyenyak di ICU. Tak ada sewaktu pun dilewatkan oleh Nicho untuk melihat istrinya. Tangan lembut itu digenggamnya erat. Ia berdoa dengan khusyuk agar penyakit itu pindah ke dirinya saja. Dia tak kuat melihat tubuh istrinya terbalut dengan selang untuk menopang kehidupan. "Jam besuk sudah berakhir, pak." Tegur seorang perawat pada Nicho. Nicho mengangguk dan berpamitan pada istrinya. "Nanti mas kesini lagi." Bisik Nicho mengecup dahi Bunga dengan lembut. Selanjutnya, pria ini keluar dari ruang ICU dimana Tati dan Murni sudah menunggu. "Bagaimana keadaan Bunga, nak?" Tanya Murni. "Masih sama seperti tadi. Belum sadar." "Ya, Allah.." Tati menangis sambil mengelus dadanya. "Kasihanilah putriku." Murni merengkuh bahu besannya dan mengajaknya duduk di ruang tunggu. Sementara, Nicho pergi lagi menghambakan diri ke musholla. Merayu Sang Pencipta agar bisa membuka mata istrinya. Selepas dari sholat, Nicho kembali ke ruang tunggu. Murni meraih putranya dan mengajaknya duduk. "Kamu belum makan sejak kemarin, nak. Setidaknya makan dulu sedikit." Murni membuka kotak bekal dimana ada nasi dan ayam goreng disana. Nicho menggeleng. "Aku nggak lapar, bu." "Sayang.. bagaimana kamu bisa menjaga Bunga jika badanmu saja tidak kamu jaga? Makanlah sedikit." Ucap Murni lembut. Nicho menatap kotak nasi itu dengan getir. Perut ini menolak diberi makan, tapi ucapan ibunya ada benarnya. Dia butuh kekuatan untuk menjalani kehidupan yang masih panjang. Jika bukan dirinya yang menjaga Bunga, lantas siapa ? Akhirnya, Nicho mengambil sendok dan memakan nasi itu dengan gemetaran. Mulut itu mengunyah dengan berat seolah makanan tersebut enggan ditelan. Tati yang melihat menantunya tersebut memilih diam saja. Di dalam benaknya ia masih memikirkan putrinya yang terbaring koma. Pada hari keempat, Nicho masih menunggu di ruang tunggu. Kali ini hanya berdua saja dengan Murni karena Tati yang terpaksa pulang karena tak enak badan. "Ibu pulang saja. Biar aku yang berjaga disini." Kata Nicho memandang wajah kelelahan ibunya. Murni tersenyum tipis memberikan rasa teduh pada hati putranya yang gelisah. "Ibu disini aja." "Nanti ibu sakit." "Jangan lupa kalau ini di rumah sakit, nak. Jika ibu jatuh sakit, kita tinggal berdoa saja." Murni mencoba putranya dengan memberikan jenaka. Namun tidak mempan. Nicho yang biasanya memiliki selera humor yang baik kini berselubung dengan duka. Ia cemas menunggu kabar dari istrinya. Sambil menunggu jam besuk, Nicho berusaha beristirahat sejenak dengan menyenderkan kepalanya di kursi. Hingga terdengar suara speaker dari atas membuat Nicho terlonjak dari duduknya. "Keluarga ibu Bunga." Terdengar panggilan dari pengeras suara. "Nak!" Murni menepuk paha putranya dengan panik. Begitu juga dengan Nicho yang beranjak berdiri. "Aku tidak ingin mendengar kabar buruk!" Seru Nicho berlari dengan mata yang memerah. Panggilan itu terdengar sebanyak tiga kali. Pria ini berlari menuju ruang ICU dan menukar bajunya dengan pakaian steril. Ia memburu ke nurse station dengan wajah cemas luar biasa. "Saya suami Bunga, suster. Apa yang terjadi pada istri saya??" Mata Nicho menggelepar panik. Perawat wanita ini tersenyum. "Ibu Bunga sudah siuman. Beliau memanggil nama anda." "Oh.. syukurlah.." dua tetes air mata lolos ke wajah tampan Nicho. Pria ini lalu berjalan ke tempat tidur dimana istrinya berada. Saat tirai itu tersibak, ia melihat mata Bunga yang terbuka tengah menatap getir ke langit ruangan. "Cintaku.." lirih Nicho. Bunga menoleh dimana suara itu berasal. Ia pun menurunkan air matanya. "Mas Nicho.." Bunga mengulurkan tangannya. Nicho menerima tangan itu dan menciuminya. "Aku mencintaimu." Jawab pria ini terisak. Dia hampir gila karena berpikir telah terjadi sesuatu pada istrinya. Untunglah Bunga telah sadar sempurna. "Mas.. sakit.." keluhnya. Nicho tersentak. "Dimana yang sakit?" "Perutku.." Nicho menghela nafas. "Tumornya sudah diangkat, sayang.. kamu tenang saja.." Nicho mungkin bisa berkata demikian tapi perasaan itu tak bisa dibohonginya. Dia juga menunggu dengan cemas hasil dari patologi tumor tersebut. Dua hari berikutnya, Bunga yang stabil dipindahkan ke rawat inap biasa. Sadar akan kemampuan dirinya, Nicho tak bisa memaksakan diri untuk memberikan ruang rawat dengan fasilitas yang mewah. Ia memberikan kamar yang biasa saja untuk istrinya. Kali ini, Tati tak berkicau seperti biasa. Dia diam saja. Asalkan Bunga sudah selamat, itu sudah cukup baginya. "Selamat pagi, Bunga, Nicho." Sapa Citra saat visitasi. "Pagi, Citra." Balas Bunga. "Bagaimana keadaanmu sekarang?" "Masih sedikit sakit di daerah sini." Bunga menunjuk perut buka lekas operasinya. Citra meminta izin untuk menengok luka tersebut. Setelah itu, ia menyampaikan sesuatu lagi. "Ada yang ingin aku sampaikan. Menurut hasil pemeriksaan sel kanker Bunga sudah menyebar ke beberapa organ." "Apa itu parah, dokter?" Sela Tati bertanya. Citra hanya menghela nafas berat dan semua orang sudah mengetahui maksudnya. "Minggu depan jika kondisimu membaik kita akan melakukan kemoterapi." Citra lalu menjelaskan efek samping dari kemoterapi tersebut kepada Bunga dan lainnya. "Apa hasil PA tumor kemarin sudah keluar?" Tanya Nicho. "Belum. Tapi..." Citra meneguk ludah sebelum melanjutkan ucapannya. Inilah realitanya. Ia harus mengatakan secara jujur mengenai penyakit yang pasiennya derita meskipun dia adalah sahabatnya sendiri. "Aku menduga kalau itu keganasan, Nicho. Dan jika tebakanku benar, aku sarankan agar rahim Bunga diangkat agar tumor tersebut tidak bertumbuh lagi." Sambungnya pahit. Bunga menitikkan air matanya. Membuang lagi air kesedihan itu dengan percuma. "Tapi itu hanya dugaanku, Bunga.." Citra mengusap lengan sahabatnya. "Apapun itu aku hanya meminta kalian menyelamatkan istriku." Pinta Nicho serius. "Mas!" Bunga yang mendengar itu ingin menangis. "Aku tidak ingin menjadi wanita tanpa rahim." "Sayang.." tegur Nicho lembut. "Aku nggak mau rahimku diangkat!" Bunga menangis tersedu-sedu. Nicho pun sigap dengan menarik istrinya masuk ke dekapannya. "Aku akan melakukan apapun demi kesembuhanmu. Dan jika semesta menginginkanku menukar nyawaku untukmu maka aku ikhlas melakukannya." Nicho mengecup dahi istrinya dan memeluknya erat. Citra yang melihat itu langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak.Rose akhirnya membuat keputusan untuk tinggal di rumah sederhana milik ayahnya. Sambil menyelesaikan pendidikan dokternya, Rose juga sering mengunjungi Citra di rumah baru milik wanita itu. Abraham dan Citra telah resmi berpisah dua bulan setelahnya. Kehidupan Rose di rumah sakit juga berjalan dengan normal. Keinginannya tidak dipandang sebagai anak direktur telah dicapai. Sekarang dia bisa belajar dengan bebas tanpa gangguan. Gelar dokter resmi diraih Rose. Nicho dan Citra mendampingi Rose sebagai orang tuanya saat wisuda. "Kamu selalu membanggakan mama." Citra memeluk anaknya dengan erat. Rose berjalan ke sebelah dan memeluk ayahnya. "Ayah sangat menyayangimu." "Aku juga!" Rose menarik diri. "Kita ke makam ibu Bunga. Aku mau menunjukkan ini." Rose ingin memamerkan ijazahnya pada Bunga. Ketiganya lalu pergi ke makam milik Bunga. Disana Rose bercerita mengenai perjuangan selanjut
Rose dibawa pulang oleh ayah kandungnya. Wanita ini diberikan kamar, diminta untuk berganti pakaian. Tantenya yang baik langsung menghidangkan makanan. Takut jika Rose kelaparan karena terlalu lama berkelana di jalanan."Rumah ini kecil, Rose. Mungkin nggak sebesar tempat tinggal kalian." Ucap Nadia sambil menuangkan nasi pada piring keponakannya.Rose tersenyum pahit. "Itu bukan rumahku, bu Nadia. Itu rumah papa Bram dan mama Citra.""Mamamu bilang kalau kamu kabur dari rumah. Apa itu benar?" Tanya Nadia.Rose mengangguk sambil menunduk."Mereka bilang ingin berpisah. Papa juga ingin menjual rumah itu. Lagi pula, mereka bukan orang tuaku." Jawab Rose sambil memandang wajah ayahnya. "Aku tahu pak Nicho pasti sangat terpukul karena perbuatan mama. Aku pun sama. Aku.. merasa seperti alat yang digunakan untuk mama mendapatkan pak Nicho. Aku.. aku..." Rose menangis tak mampu melanjutkan ucapannya."Nak.." tegur Nicho lembut.
Citra menghubungi semua divisi rumah sakit. Termasuk rekan-rekan coas putrinya. Sayang sekali, Rose tak muncul sejak tiga hari yang lalu. Wanita itu bahkan melewatkan jadwal jaganya tanpa izin."Dimana kamu, Rose.." Citra sangat bersusah hati. Ia terduduk lemas di kursi kerjanya. Andai saja Citra menahan kepergian Rose. Mungkin semua ini tidak akan terjadi. Putrinya itu pasti mengalami hal yang berat. Ia terpukul karena mendapatkan fakta jika bukan anak kandung dari Citra.Terlebih mengingat perlakuan Abraham selama ini padanya. Oh.. Rose pasti kecewa.Pintu diketuk membuat Citra cepat-cepat mengusap air matanya. "Masuk lah." Ujarnya.Seseorang masuk. Citra bersiap dengan menggunakan jas dokternya. Kebetulan dia harus melaksanakan praktek di poliklinik hari ini."Abraham.." mata Citra langsung menyipit. Mau apa lagi pria ini?"Aku sedang melakukan ronde manajemen, jadi sekalian mampir kemari." Abraham menaruh
"Sudah cukup, Renza. Terima kasih." Ucap Nicho menarik kakinya.Keponakannya yang manja ini sudah tumbuh dewasa. Meskipun sedikit galak, Renza memiliki kepribadian seperti ibunya. Yaitu lembut dan penuh perhatian.Contohnya seperti hari ini, Renza bersama Nadia mampir lagi ke rumah Nicho. Tak hanya membawakan bekal makanan, Renza juga memberikan pijatan pada pamannya yang terlihat letih itu."Bahunya mau aku pijit juga nggak?" Tawar Renza.Nicho terkekeh. "Tidak perlu. Kapan kamu wisuda?" Tanyanya mengalihkan pembicaraan."Dua bulan lagi, paman. Nanti aku mau paman datang.""Pasti paman datang.."Setelah Renza, kini giliran Nadia yang menegur. Wanita ini baru saja membuat bubur kacang hijau."Cicip dulu, mas. Ini nggak terlalu manis."Nicho menerima mangkuk kecil tersebut dan mengaduknya perlahan."Sudah lebih dari tiga hari. Apakah Rose menghubungimu?" Tanya Nadia penasaran.Tiga hari
Pintu kamar itu diketuk berkali-kali. Rose masih enggan bangkit dari tidurnya. Ia terlungkup menyembunyikan tangisannya di bawah bantal.Semalaman ia tak tertidur karena takut kemarahan orang tuanya, namun pagi ini ia mendapatkan kejutan luar biasa yang berhasil meruntuhkan kepercayaannya.Citra yang ia muliakan memberikan fakta jika ternyata bukan ibu kandungnya. Rose hanyalah anak hasil curian. Ia terpisah dari orang tua aslinya karena obsesi yang dimiliki oleh Citra.Rose semakin menangis saat mengingat perlakuan Nicho padanya. Pria yang ternyata menjadi ayah kandung dari Rose. Pria yang sangat lembut dan juga penyayang."Rose, buka pintunya. Mama ingin bicara, nak.." bujuk Citra dari luar. Daritadi ia mengetuk pintu namun Rose masih enggan membukanya. Citra jadi cemas terlebih tak terdengar sahutan dari dalam."Rose! Kalau kamu nggak buka pintunya, mama akan suruh orang untuk mendobrak kamarmu!" Ucap Citra lagi. Kembali ia menggedor p
"Nicho.. mari kita bicara.." Nicho memandang Citra dengan penuh rasa kecewa. Untuk apa lagi wanita ini datang kemari? Hati Nicho sakit sekali dibuat olehnya. Wanita yang mengaku sebagai sahabatnya malah mengiris dan memberikan luka untuknya."Pergilah, Citra." Sahut Nicho dingin."Kumohon, Nicho. Sebentar saja.. aku ingin menjelaskan semuanya.." pinta Citra penuh harap.Nadia mengusap bahu kakaknya. Walau ia tak mengerti apa yang terjadi, tapi Nadia menduga pasti ada hal yang berat sehingga membuat teman lama kakaknya itu datang kemari."Dengarkan saja, mas." Nicho menghela nafas panjang. Ia memutar tubuhnya dan duduk di kursi ruang tamu. Begitu juga dengan Nadia dan Citra yang mengambil tempat duduk dan saling berhadapan."Apa yang kamu pikirkan itu semua benar, Nic. Rose adalah putri kandungmu." Ucap Citra memulai pembicaraan.Nadia terkejut setengah mati. Sedangkan Nicho memejamkan matanya."Aku ti







