Mag-log inSetelah mendapatkan informasi dari manajer rumah makan, terkait dunia luar. Tian Hei dan Xi Qianyue kembali ke Paviliun Awan Tenang. Kota ini mulai terasa seperti sarang lebah yang terusik, setiap pasang mata seolah mengikuti gerak-gerik "Si Iblis Pembantai" dengan ketakutan yang tertahan. Saat keduanya sampai di paviliun, keduanya langsung memasuki kamar mereka, Begitu pintu kamar VVIP tertutup rapat, Tian Hei tidak membuang waktu. Ia segera duduk bersila dan membentangkan gulungan kusam pemberian Lie Sha di atas meja kayu gaharu. "Seni Meramu Pil..." gumam Tian Hei, matanya menyapu baris demi baris aksara kuno itu. Xi Qianyue, yang duduk di tepi ranjang sambil mengatur napasnya yang masih berat, mengamati dengan saksama. "Alkimia bukan sekadar mencampur tanaman. Kau butuh dua hal dasar: Api Spiritual di dalam tubuh dan sebuah tungku yang mampu menahan tekanan energi. Tanpa itu, kau hanya akan gagal." Tian Hei terhenti pada satu bagian di gulungan tersebut. Benar kata Xi Qia
Kepergian Lie Sha meninggalkan keheningan aneh di Ruang VVIP. Tian Hei berdiri sejenak, menimbang perkataan pria itu, lalu menyimpan token giok dan gulungan kuno ke dalam cincin ruangnya. Palu Pemusnah Surga tetap berada di punggungnya, diselimuti kain hitam tebal. Meski tertutup rapat, auranya masih terasa—liar, berat, dan menekan. “Dunia ini sangat luas,” ucap Xi Qianyue pelan saat mereka melangkah keluar dari ruangan. “Sebaiknya kita mencari beberapa informasi di dalam kota.” Tian Hei tidak menyangkal. Ia juga merasakan hal yang sama. Mereka berjalan keluar dari Paviliun Awan Tenang. Sang manajer paviliun langsung membungkuk hormat saat berpapasan dengan Tian Hei, tubuhnya sedikit gemetar. Tian Hei dan Xi Qianyue melangkah memasuki distrik perdagangan utama kota. Jalanan batu yang lebar dipenuhi kios-kios, paviliun kecil, serta bangunan bertingkat tempat para kultivator dan pedagang berkumpul. Namun, suasana yang biasanya riuh kini terasa sedikit kaku. Beberapa orang berh
Keheningan di depan Paviliun Awan Tenang terasa begitu berat hingga suara tetesan darah Tian Hei yang jatuh ke lantai batu terdengar jelas. Xi Qianyue menopang tubuh Tian Hei yang terasa panas membara akibat aliran Qi yang mengamuk siap meledakkan tubuh Tian Hei. "Dasar gila," bisik Xi Qianyue, meskipun ada kilas kekaguman di matanya. "Untung saja kau memiliki tubuh yang kuat, kalau tidak kau pasti telah meledak sekarang." "Ambil semua harta mereka," bisik Tian Hei parau. Ia tidak menanggapi perkataan Xi Qianyue malah, ia malah menyuruh gadis itu memanen hasil pertarungan. Setelah itu perlahan-lahan pandangannya mengabur. Xi Qianyue tidak membantah, lagi pula tanpa Tian Hei perintah, ia tidak akan meloloskan semua harta-harta itu. Dengan lambaian tangan, ia mengambil cincin ruang Gu Tianhong dan tas penyimpanan dari sisa-sisa anggota Klan Gu yang tewas. Setelah itu, ia membawa Tian Hei masuk ke dalam paviliun, mengabaikan tatapan ngeri dari para saksi mata. “Gu Tianhong… benar
"Bocah iblis! Kau benar-benar mencari mati!" Gu Tianhong mengaum marah. Auranya sebagai kultivator Ranah Inti Sunyi Bintang Satu meledak sepenuhnya, membentuk tekanan berat yang menghantam area di depan Paviliun Awan Tenang. Batu-batu lantai retak, debu beterbangan, dan udara seolah membeku di bawah tekanan itu. “Bocah iblis!” teriak Gu Tianhong. “Hari ini aku akan mematahkan tulangmu satu per satu, lalu menguliti jiwamu!” Udara di sekitar Paviliun Awan Tenang kini terasa jauh lebih pekat. Bau amis darah yang menguap dari puluhan tubuh anggota Klan Gu bercampur dengan aroma hangus akibat gesekan Qi yang luar biasa. Tian Hei berdiri di tengah puing-puing, palu hitam di tangannya bergetar pelan. Bukan karena takut—melainkan karena Qi di dalam tubuhnya mulai bergejolak hebat, ditekan oleh perbedaan ranah yang begitu jauh. Ia tahu. Jika Gu Tianhong menyerang dengan kekuatan penuh, satu kesalahan saja cukup untuk membunuhnya. "Kau memiliki bakat, Bocah. Tapi bakat tanpa umur panjan
BOOM! "Siapa yang begitu berani menindas anakku di gerbang kota?!" Tekanan aura berat menghantam Paviliun Awan Tenang dari luar, membuat tirai jendela bergetar hebat. Xi Qianyue membuka matanya, sorotnya berubah tajam dan kejam. “Sudah datang,” gumamnya. Tian Hei yang berdiri di samping ranjang menoleh. "Siapa?" “Ayah Tuan Muda itu,” jawab Xi Qianyue dingin. "Itulah mengapa kukatakan padamu untuk memangkas musuh secepatnya. Melepaskan mereka hanya membuang-buang waktu kita." Bagi Xi Qianyue, musuh yang sudah menunjukkan taring seharusnya dipangkas saat itu juga. Langkah kaki terdengar di luar—banyak, teratur, dan penuh intimidasi. Aura puluhan kultivator mengunci area paviliun seperti jaring raksasa. Suara berat dan berwibawa menggema ke dalam bangunan. "Siapa orang yang begitu berani mencari masalah di depan Paviliun Awan Tenang-ku?!" Suara itu milik sang Manajer Paviliun yang langsung keluar menghadapi kerumunan. Di depan pintu, berdiri seorang pria paruh baya d
“Apakah ada salah satu dari tanaman ini yang bisa menekan aura itu…?” Wanita itu membelalakkan mata saat melihat tumpukan tanaman spiritual yang dikeluarkan Tian Hei memenuhi lantai kamar. Aroma obat yang pekat menyebar ke segala arah, membuat udara terasa berat untuk dihirup. “Ini…” napasnya tercekat. “Bunga Salju Abadi? Rumput Pengikat Jiwa?” Ia menatap Tian Hei dengan sorot tak percaya. “Tanaman tingkat tinggi seperti ini… dari mana kau mendapatkannya?” Tian Hei tidak menjawab. Wajahnya tetap datar saat tangannya menyisir tumpukan herbal satu per satu, seolah yang ada di hadapannya hanyalah rumput liar biasa. “Jawab saja pertanyaanku,” ucapnya singkat. “Aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya.” “Ukhuk—ukhuk!” Sebelum wanita itu sempat berkata lebih jauh, batuk keras mengguncang tubuhnya. Dadanya bergetar hebat, dan seteguk darah gelap memercik dari bibirnya, membasahi cadar tipis yang dikenakannya. Tubuhnya menegang, lalu melemas di atas ranjang. Aura hitam di







