Beranda / Fantasi / Sang Dewa Iblis Pembantai / Bab 12: Hanya ini kualitas Klan mu?

Share

Bab 12: Hanya ini kualitas Klan mu?

Penulis: Mr. Xenon
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-02 20:44:56
BOOM!

"Siapa yang begitu berani menindas anakku di gerbang kota?!"

Tekanan aura berat menghantam Paviliun Awan Tenang dari luar, membuat tirai jendela bergetar hebat. Xi Qianyue membuka matanya, sorotnya berubah tajam dan kejam.

“Sudah datang,” gumamnya.

Tian Hei yang berdiri di samping ranjang menoleh. "Siapa?"

“Ayah Tuan Muda itu,” jawab Xi Qianyue dingin. "Itulah mengapa kukatakan padamu untuk memangkas musuh secepatnya. Melepaskan mereka hanya membuang-buang waktu kita."

Bagi Xi Qianyue, musuh yang sudah menunjukkan taring seharusnya dipangkas saat itu juga.

Langkah kaki terdengar di luar—banyak, teratur, dan penuh intimidasi. Aura puluhan kultivator mengunci area paviliun seperti jaring raksasa. Suara berat dan berwibawa menggema ke dalam bangunan.

"Siapa orang yang begitu berani mencari masalah di depan Paviliun Awan Tenang-ku?!"

Suara itu milik sang Manajer Paviliun yang langsung keluar menghadapi kerumunan.

Di depan pintu, berdiri seorang pria paruh baya d
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 20: Dampak keserakahan

    Pelelangan Paviliun Seratus Harta berakhir tanpa insiden lanjutan, namun gema peristiwa malam itu belum mereda. Nama Si Iblis Pembantai menyebar lebih cepat daripada api yang disiram minyak. Tian Hei dan Xi Qianyue meninggalkan paviliun dengan langkah ringan Setiap langkah kaki Tian Hei bergema pelan, mantap, tanpa ragu—seolah dunia di sekitarnya tak lebih dari latar belakang yang tak layak diperhatikan. malam Kota Qing Yun menyambut dengan angin dingin. Keramaian telah berkurang, namun beberapa kelompok kultivator masih berdiri di kejauhan, berpura-pura berbincang sembari sesekali melirik ke arah mereka. Beberapa tatapan orang-orang tidak lagi penuh penghinaan. Melainkan kehati-hatian dan rasa ingin tahu. Xi Qianyue melirik Tian Hei dari samping. Wajah pemuda itu tetap datar nan dingin tak peduli dengan tatapan orang-orang. Namun Xi Qianyue berbeda. Saat telah berada di luar paviliun indra persepsinya terbuka penuh. “Tiga kelompok.” bisiknya pelan tanpa menoleh. Tian

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 19: Pelelangan di Kota Qing Yun

    Hening di depan Paviliun Seratus Harta tidak berlangsung lama, namun bekasnya tertinggal jelas di wajah setiap orang yang menyaksikannya. Penjaga yang tersisa berdiri kaku, tangannya gemetar memegang tombak. Tatapannya tidak lagi berani menatap Tian Hei secara langsung. Ia hanya menunduk, lalu melangkah ke samping dengan gerakan tergesa. Tidak ada yang menertawakan perubahan sikapnya. Tidak ada pula yang mencibir. Semua orang di sana mengerti satu hal—nama Si Iblis Pembantai bukanlah julukan kosong. Seorang pria paruh baya berjubah hijau tua keluar dari arah dalam paviliun dengan langkah cepat. Dari auranya—jelas bukan orang sembarangan. “Tamu terhormat,” ucapnya dengan senyum sopan, menangkupkan tangan. “Insiden barusan adalah kelalaian kami. Paviliun Seratus Harta memohon maaf.” Tian Hei menatapnya sekilas. “Aku hanya ingin mengikuti pelelangan.” “Tentu. Tentu.” Pria itu mengangguk cepat. “Silakan ikut saya. Jika Anda membutuhkan apa pun, cukup beri tahu.” Tanpa menung

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 18: Tidak seharusnya di singgung

    Setelah tujuh hari melintasi pegunungan dan jalur terpencil, tembok megah Kota Qing Yun akhirnya menjulang di hadapan Tian Hei dan Xi Qianyue. Sebagai salah satu kota penyangga utama Kerajaan Ning, Qing Yun jauh lebih besar dan lebih bising daripada kota sebelumnya. Kota Qing Yun jauh lebih hidup dibanding kota sebelumnya. Jalanan batu lebar dipenuhi kereta kuda, pedagang keliling, serta kultivator dari berbagai wilayah. Bangunan bertingkat berjajar rapi. Aura Qi di udara terasa lebih padat—tanda bahwa tempat ini sering menjadi persinggahan para kultivator kuat. Saat matahari condong ke barat, Tian Hei dan Xi Qianyue memasuki sebuah rumah makan besar di sudut jalan utama. Bangunannya tiga lantai, dipenuhi suara tawa, denting cangkir, dan percakapan keras yang bercampur aroma daging panggang serta arak. Meski seorang kultivator tidak bergantung pada makanan biasa, Tian Hei tetap memilih duduk. Memanjakan lidah sesekali bukanlah hal sia-sia—terutama setelah perjalanan panjang. Merek

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 17: Mengancamku?

    Matahari baru saja menyembul dari ufuk timur kabut tipis masih menyelimuti jalanan batu, namun suasana di sana sudah mencekik. Tian Hei berjalan dengan langkah tenang, palu raksasa Pemusnah Surga dan besi panjang hitam tersampir di punggungnya, dibungkus kain hitam kasar. Di sampingnya, Xi Qianyue berjalan dengan jubah biru pucat yang berkibar tertiup angin fajar, wajahnya tertutup cadar, menyembunyikan rona pucat yang masih tersisa. Keduanya berjalan menuju gerbang kota dengan tenang, Namun di balik ketenangan itu, indra persepsi keduanya terbuka penuh. di pertengahan jalan, Xi Qianyue berbisik pelan kepada Tian Hei. "Apakah kau merasakannya juga?" Bisiknya. Dari saat meninggalkan Paviliun Awan Tenang ia telah merasakan ada seseorang yang mengawasinya. Tian Hei mengangguk tipis. “Tiga… tidak. Empat aura. Mereka menjaga jarak cukup jauh." Saat keduanya sampai di gerbang kota. Langkah mereka terhenti sepuluh meter sebelum gerbang. Bukan karena gerbang ditutup, melainka

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 16: Eksperimen yang gagal

    Setelah mendapatkan informasi dari manajer rumah makan, terkait dunia luar. Tian Hei dan Xi Qianyue kembali ke Paviliun Awan Tenang. Kota ini mulai terasa seperti sarang lebah yang terusik, setiap pasang mata seolah mengikuti gerak-gerik "Si Iblis Pembantai" dengan ketakutan yang tertahan. Saat keduanya sampai di paviliun, keduanya langsung memasuki kamar mereka, Begitu pintu kamar VVIP tertutup rapat, Tian Hei tidak membuang waktu. Ia segera duduk bersila dan membentangkan gulungan kusam pemberian Lie Sha di atas meja kayu gaharu. "Seni Meramu Pil..." gumam Tian Hei, matanya menyapu baris demi baris aksara kuno itu. Xi Qianyue, yang duduk di tepi ranjang sambil mengatur napasnya yang masih berat, mengamati dengan saksama. "Alkimia bukan sekadar mencampur tanaman. Kau butuh dua hal dasar: Api Spiritual di dalam tubuh dan sebuah tungku yang mampu menahan tekanan energi. Tanpa itu, kau hanya akan gagal." Tian Hei terhenti pada satu bagian di gulungan tersebut. Benar kata Xi Qia

  • Sang Dewa Iblis Pembantai    Bab 15: Tidak ada Informasi yang gratis

    Kepergian Lie Sha meninggalkan keheningan aneh di Ruang VVIP. Tian Hei berdiri sejenak, menimbang perkataan pria itu, lalu menyimpan token giok dan gulungan kuno ke dalam cincin ruangnya. Palu Pemusnah Surga tetap berada di punggungnya, diselimuti kain hitam tebal. Meski tertutup rapat, auranya masih terasa—liar, berat, dan menekan. “Dunia ini sangat luas,” ucap Xi Qianyue pelan saat mereka melangkah keluar dari ruangan. “Sebaiknya kita mencari beberapa informasi di dalam kota.” Tian Hei tidak menyangkal. Ia juga merasakan hal yang sama. Mereka berjalan keluar dari Paviliun Awan Tenang. Sang manajer paviliun langsung membungkuk hormat saat berpapasan dengan Tian Hei, tubuhnya sedikit gemetar. Tian Hei dan Xi Qianyue melangkah memasuki distrik perdagangan utama kota. Jalanan batu yang lebar dipenuhi kios-kios, paviliun kecil, serta bangunan bertingkat tempat para kultivator dan pedagang berkumpul. Namun, suasana yang biasanya riuh kini terasa sedikit kaku. Beberapa orang berh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status