登入Sebagian besar orang di tempat itu sama sekali tidak menyadari ada sesuatu yang aneh.Bagi mereka, itu hanya pertunjukan sulap biasa. Hanya saja trik terakhir tadi tidak terlalu berhasil.Namun secara keseluruhan, masih tetap mengesankan.Trik kartu remi sebelumnya dan berbagai pertunjukan lain sudah cukup membuat semua orang kagum.Kebanyakan tamu di sini memang orang kaya, tetapi tidak semua punya kesempatan berinteraksi dengan kultivator. Kalaupun pernah, biasanya mereka tidak menunjukkan kemampuan mereka secara terang-terangan.Jadi, hampir semua orang tetap merasa puas.Kecuali Ella.Gagal lagi. Percobaan pembunuhan itu kembali gagal.Tatapan Kelvin barusan entah kenapa membuatnya merasa takut.Di momen itu, Ella benar-benar yakin bahwa Kelvin jelas bukan orang desa biasa seperti yang terlihat.Ditambah lagi Ella teringat kejadian di Balai Munres, saat pemilik tempat itu langsung memberikan Kartu Emas kepada Kelvin. Identitas Kelvin terasa makin misterius.Ekspresi Ella pun beruba
Niveria merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Meskipun sudah berada di Tahap Pembukaan Batin, dia tidak punya pengalaman bertarung sama sekali. Perubahan mendadak ini membuatnya tidak sempat bereaksi dan dia hanya bisa berdiri terpaku di tempat.Kartu itu memelesat sangat cepat dan langsung menuju ke tengah dahinya."Sudah berakhir!" Senyum muncul di sudut bibir si pesulap."Sudah berakhir!" Ella juga tersenyum tipis. Dia bahkan sudah bersiap berdiri. Begitu Niveria mati, dia akan segera berlari mendekat dan memeluk tubuhnya, lalu diam-diam mengambil liontin di lehernya.Plak!Tiba-tiba, sebuah tangan muncul di depan Niveria.Hanya dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan, Kelvin menjepit kartu yang berputar dengan kecepatan tinggi itu. Di depan mata semua orang yang terkejut, kartu itu berhenti dan tidak bisa bergerak sama sekali."Hmm?"Senyum di wajah Ella langsung membeku.Di atas panggung, ekspresi Tarot juga berubah sedikit.Tarot sama sekali tidak merasakan adanya ali
Orang-orang di tempat itu langsung menjadi heboh.Dari cara pesulap itu berbicara, dia tampaknya akan melemparkan seluruh kartu remi ke arah Niveria. Jarak di antara mereka setidaknya 50 hingga 60 meter. Hanya dengan melempar semua kartu sejauh itu saja sudah cukup membuat orang takjub.Belum lagi pesulap itu harus menebak kartu yang dipikirkan Niveria."Semuanya, tunggu sebentar!" Pada saat ini, pesulap itu berujar sambil tersenyum, "Tolong siapkan kertas dan pena, biarkan dia menuliskan kartu yang dia pikirkan. Aku nggak akan melihatnya."Segera setelah itu, seorang staf segera membawa kertas dan pena. Niveria menuliskan kartu yang dia pikirkan, yaitu as hati."Sudah selesai? Silakan ulurkan tangan kananmu," ucap pesulap itu sambil tersenyum.Niveria mengulurkan tangan kanannya. Di wajahnya yang cantik, ada sedikit rasa penasaran."Oke .... Ayo, kita mulai!" Pesulap itu tertawa ringan. Dia lalu berputar di tempat. Kartu-kartu remi di tangannya langsung dilemparkan ke udara.Satu set
Aksi pembuka itu langsung membuat hampir semua orang terpukau.Niveria bertanya dengan suara pelan, "Itu cincin penyimpanan ya?"Kelvin membalas sambil mengangguk, "Ya. Dia menyimpan banyak kartu remi di dalam cincin penyimpanan, lalu menggunakan kekuatan sejati untuk mengendalikan kartu-kartu itu supaya terbang dan membentuk pola. Setelah itu, dia langsung menariknya kembali ke dalam cincin. Orang biasa pasti nggak bisa membongkar trik seperti ini.""Bagus!"Tiba-tiba seseorang berseru keras dan tepuk tangan langsung bergemuruh di seluruh ruangan."Veronika bisa-bisanya menemukan pesulap sebagus ini?" Niveria terlihat sedikit terkejut.Pada saat yang sama, Veronika dan Heru datang menghampiri meja mereka untuk bersulang dengan ditemani beberapa orang. Melihat Kelvin dan Niveria duduk di sana, Veronika berucap sambil tersenyum pahit, "Niver, maaf ya. Kalian jadi duduk di sini.""Nggak apa-apa. Ini hari pernikahanmu, nggak perlu menambah masalah." Niveria memuji, "Hari ini, kamu cantik
Melihat Bella pergi, Kelvin dan Niveria sama-sama tersenyum.Niveria mendengus dingin sebelum berkata, "Pantas tuh. Dasar nggak tahu diri!"Kelvin juga mengangguk. Kemudian, pandangannya tertuju pada Sheren dan alisnya sedikit berkerut.Sejak pertama kali melihat Sheren, Kelvin merasa ada sesuatu yang berbeda dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu."Ada apa?" tanya Niveria."Nggak apa-apa." Kelvin bertanya sambil tersenyum, "Rencananya, kamu kapan mau mengumumkan identitasmu?""Setelah aku mengakuisisi beberapa bisnis lagi di Kota Yanir," jawab Niveria. "Setelah itu, asetnya sudah terkumpul. Tinggal integrasi dan pengelolaan. Kalau berjalan baik, nilainya bisa meningkat berkali-kali lipat dalam waktu singkat."Mereka berdua lalu mengobrol pelan.Waktu terus berlalu. Orang-orang di aula makin banyak. Perwakilan dari enam keluarga besar Kota Yanir hampir semuanya hadir.Termasuk dari Keluarga Sunardi. Niveria juga mengatakan bahwa putri dari Martin datang sebagai perwakilan, tetap
Akan tetapi, Niveria tidak berniat melanjutkan pembicaraan. Dia langsung menutup telepon.Setelah itu, Niveria menjelaskan kepada Kelvin, "Grup Holinda dan Keluarga Samsudin sebenarnya sama-sama bergerak di bisnis kaca dan kapasitas produksi mereka juga nggak jauh berbeda. Sebenarnya, Grup Holinda juga nggak pernah menghubungiku."Kelvin hanya terdiam, lalu diam-diam mengacungkan jempol ke arah Niveria.Kemudian, mereka berdua sama-sama menoleh ke arah meja tadi. Niveria bertanya, "Kamu bisa dengar apa yang mereka bicarakan?"Niveria baru saja memasuki Tahap Pembukaan Batin dan baru membuka mulut batin. Pendengarannya memang sedikit lebih tajam dari orang biasa, tetapi dalam suasana ramai seperti ini, dia tetap tidak bisa mendengar percakapan di sana.Akan tetapi, Kelvin berbeda. Dia sudah mencapai Tahap Pemeliharaan Spiritual dan juga telah membuka telinga batinnya. Selama dia mau, dia bisa mendengar dengan sangat jelas.Kelvin mengangguk, lalu fokus mendengarkan.Di sana, Bella masih
"Selain itu di generasi Revan ini, cuma dia satu-satunya anak laki-laki. Ke depannya, dia pasti akan menjadi pewaris Keluarga Wijaya. Karena itu, seluruh Keluarga Wijaya sangat memanjakannya. Hal inilah yang membentuk kepribadiannya yang arogan dan semena-mena," kata Natasha sambil tersenyum pahit.
Ruang VIP itu sangat sunyi.Tiga orang itu duduk terpaku di kursi masing-masing. Di dalam mata mereka, hanya tersisa keputusasaan yang tak berujung.Kelvin memegang ponsel di tangannya. Di wajahnya, terpasang senyum tipis. Dia berkata dengan nada ramah, "Halo, aku Kelvin."Di seberang telepon, suasa
Keluarga Lorenz, Kota Jingawan!Saat ini di rumah Keluarga Lorenz, kepala keluarga yang hanya berstatus nama saja, Gino Lorenz, sedang mondar-mandir di dalam sebuah kamar.Di atas ranjang di sampingnya, ada seseorang yang sedang berbaring. Orang itu tidak lain adalah Karlo."Kenapa belum kembali jug
Adrian menatap ke arah Kelvin. Wajah dan sorot matanya dipenuhi keputusasaan, ketakutan, dan amarah!Yang membuat Adrian putus asa adalah karena dia mengira rencana yang disusunnya kali ini sudah sempurna tanpa celah. Namun kenyataannya, Kelvin justru berhasil membalikkan keadaan.Awalnya setelah te







