Home / Urban / Sang Dewa Perang Terkuat / 10. Kenapa Kau Pergi?

Share

10. Kenapa Kau Pergi?

Author: Zila Aicha
last update Huling Na-update: 2024-12-06 09:30:42

James tersenyum lega.

Sungguh dia pikir Josh Cleve tidak akan percaya kepadanya. Tapi, di saat dia baru saja mendengarkan semangat yang terpancar dari nada suara Josh, James pun merasa luar biasa senang.

Pria muda itu pun berujar pelan, “Yang perlu kau lakukan hanyalah bantu aku untuk mewujudkannya.”

“Kau … akan melihat bahwa prajurit laut pun bisa sehebat prajurit darat dan udara,” James menambahkan.

Josh mengangguk sebagai tanggapan.

Usai meyakinkan Josh, James berkata lagi, “Ayo! Kita harus cepat. Sebelum matahari terbit, kita harus segera memulai semuanya.”

“Baik, Jenderal,” kata tiga komandan perang secara bebarengan.

James meringis, belum terbiasa dengan panggilan itu. Sesungguhnya dia tidak sama sekali tidak mau mengambil posisi itu, meskipun hanya untuk sementara waktu, tapi jika dia tidak mengiyakan permintaan Keannu Wellington, dia akan kesulitan.

Dengan menjadi jenderal perang, dia memiliki wewenang yang lebih banyak sehingga dia menganggap dia bisa memanfaatkan posisinya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sang Dewa Perang Terkuat    93. Ini Belum Berakhir, Gardner!

    Knox menggertakkan gigi, masih terlalu kesal pada First yang memilih untuk mengabaikannya dan pergi dari sana.Belum sempat pemuda itu berpikir untuk menyerang Kyland dan Reinhard, Kyland sudah menendangnya terlebih dulu.Knox yang tidak siap itu kembali terjatuh lagi.Di saat dia hendak bangkit, Reinhard dengan begitu cepat langsung menahannya dan menindihnya. Dia menggunakan pisau milik Kyland untuk berniat menusuk Knox.Tapi tidak disangka-sangka pada saat itu dia dilempar oleh batu yang tepat mengenai tangannya hingga membuat dirinya kehilangan kendali atas pisau itu. Pisau tersebut jatuh dan hal itu dimanfaatkan oleh Knox untuk memukul balik Reinhard.Kyland yang melihat hal itu segera mengambil pisau miliknya lagi dan berniat untuk mengambil alih tugas Reinhard untuk membunuh Knox.Tapi, hal itu tidak bisa dilakukan sebab tangannya malah terpanah secara tiba-tiba.“Brengsek!” Kyland mangumpat sembari mena

  • Sang Dewa Perang Terkuat    92. Kau Pasti Akan Mati dengan Cepat!

    Richard bangkit dengan cepat lalu buru-buru menyusul Kharel.Keduanya mulai mengeluarkan senjata mereka masing-masing, bersiap-siap untuk melakukan serangan balasan terhadap si penyerang yang belum terlihat oleh mereka itu.Sebelum mereka bisa menemukan lokasi si penyerang, dua bola api kembali dilemparkan ke arah mereka.Namun, berkat kelincahan kedua pemuda itu mereka pun bisa menghindar tepat waktu.Tapi, setelah serangan itu Kharel yang memang memiliki pendengaran yang sangat tajam menoleh ke arah Richard, “Aku tahu tadi mana mereka.”Richard menaikkan alis kanan, “Bagaimana kau bisa tahu?”Kharel hanya menjawab, “Ikut aku saja! Ayo cepat, Richard!”Richard tidak memprotes meskipun dia menginginkan sebuah jawaban. Pemuda yang masih berusia tujuh belas tahun dan memiliki perbedaan umur sebanyak empat tahun itu mengikuti Kharel.Sementara itu di arena yang lain suasana ter

  • Sang Dewa Perang Terkuat    91. Fase Kedua

    “Aku … ingin keluar dari tempat ini.”Untuk sesaat Richard hanya bisa berkedip-kedip ketika mendengar jawaban Jeremy.“Aku dan salah seorang temanku sudah terlalu muak berada di sini.” Jeremy menambahkan dengan ekspresi wajah terlihat lelah. Richard menghela napas panjang, tapi belum memberikan komentar apapun.Sebelum dia sempat memberikan tanggapan, dia malah kembali mendengar jeremy berbicara lagi, “Menghancurkan perserikatan kerajaan-kerajaan yang berisi begitu banyak orang yang memiliki kekuatan besar tentu akan sulit.”Dia berhenti sejenak dan menatap Richard dengan tatapan penuh keyakinan, “Tapi … membawaku keluar dari tempat sialan ini kurasa tidak terlalu sulit. Benar begitu, Putra Mahkota?”Richard De Kruk yang memang terkenal memiliki ekspresi datar pun akhirnya menjawab, “Baiklah, sepakat.”Jeremy melebarkan mata, tampak terkejut dengan persetujuan Richard yang begitu mudahnya. “Kau setuju?”“Ya.”“Kau … tidak akan berubah pikiran?”Richard mendengus pelan, “Jika kau ber

  • Sang Dewa Perang Terkuat    Pengumuman -_-

    Hai, Pembaca Setia Mohon maaf sebesar-besarnya saya belum bisa publish lanjutan cerita buku ini di malam ini.Selanjutnya, saya akan coba publish besok ya Readers. Omong-omong masih adakah yang menunggu-nunggu lanjutan cerita ini? Bisakah beri komentar di sini?Kemungkinan besar season 4 buku ini akan segera tamat di bulan ini. Semoga masih setia menunggu akhir dari kisah Kharel Mackenzie dan teman-temannya ya.Terima kasih. ^•^Salam hangat,Zila Aicha

  • Sang Dewa Perang Terkuat    90. Aku Juga Tidak Percaya Mereka!

    Niall terlihat ragu-ragu.Tapi, saat dia mengingat bagaimana ketelitian Richard yang juga sama seperti Kharel, dia pun berpikir bahwa Richard tidak akan mungkin memberikan ide jika dia tahu hal itu akan berakhir burukDikarenakan keyakinannya itu, Niall mengambil napas dalam-dalam, “Baiklah, kita coba saja. Lagipula, kita tidak punya banyak pilihan.”“Kau benar. Mereka juga belum tentu mau menolong Niall,” Kharel juga setuju.Richard menahan napas saat Niall mulai membuka obat yang dimiliki oleh Roy Ways itu.Obat itu ternyata berjumlah cukup banyak sehingga mereka menggunakannya dengan sangat hati-hati.“Tidak ada petunjuk apapun. Berapa dosis yang harus kita gunakan?” Niall pertanyaan dengan alis mengerut.First Kiansa yang baru sa berjalan menuju ke arah mereka pun menjawab cepat-cepat, “Satu butir sudah cukup.”Niall sontak menoleh ke arah sang pangeran

  • Sang Dewa Perang Terkuat    89. Kita Coba Saja!

    Kharel membeku di tempatnya berdiri.Sedangkan Richard dengan gesit langsung berlari menuju ke tempat kecelakaan mobil itu terjadi. Elliot menyambar tangan Kharel lalu mengajak pemuda itu untuk mengejar Richard.Knox mengusap bagian belakang kepalanya, bingung tapi pada akhirnya dia pun ikut menyusul ketiga orang yang saat ini menjadi sekutunya itu.Elliot cukup syok melihat nomor mobil yang mengalami kecelakaan itu.“Mobil nomor sebelas. Ini … mobil Gale, Kharel,” Elliot berkata dengan nada lemas. Beberapa staf penyelenggara telah berdatangan tapi Richard yang lebih dulu tiba itupun dengan cepat membuka pintu mobil yang telah terbalik itu. Kecelakaan itu terlihat begitu parah sebab beberapa kaca pecah dan hancur. Tapi, semua orang belum mengetahui kondisi dari tiga penumpang yang ada di dalamnya.“Kharel, bantu aku!” Richard berteriak. Saat Kharel tidak menanggapi ucapannya karena terlalu terkejut, Richard berteriak sekali lagi, “Kharel, sadarlah!”“Kharel!” kali ini Richard memb

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status