Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 12 Jurus Mata Budha

Share

Bab 12 Jurus Mata Budha

Author: Pujangga
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-20 20:54:50

“Hebat! Pemuda itu mampu bergerak tanpa melihat,” terdengar decak kagum salah satu penonton sayembara.

Beberapa diantara mereka bersorak meneriaki dukungan masing-masing.

“Aku sangat yakin, pendekar muda yang berpakaian biru akan menang! Lihatlah, ilmu pedangnya sangat cepat,” ungkap penonton yang lain.

“Kau jangan cepat menilai, pendekar berkain merah juga tidak kalah hebat,” sergah orang yang di sisinya.

Mereka saling berselisih memperdebatkan siapa yang akan menang.

Di atas arena, kedua pendekar yang mereka bicarakan sedang saling menyerang.

Ini adalah pertarungan ke 7 dari 15 pertarungan yang akan digelar, dimana 30 pemenang sayembara tahap pertama dipertandingkan satu lawan satu.

“Apa hanya sampai di sini kemampuanmu, Waruna?” pendekar berpakaian merah mencoba mempropokasi.

Tetapi Waruna terlihat tidak peduli, dia hanya mendelikan mata kemudian mundur mengambil jarak.

Dari awal pendekar itu memang tidak suka berkata-kata, dia berbicara seperlunya, itupun tanpa ekspresi.

Wajahnya begitu dingin dan datar, membuat siapa pun yang menjadi musuhnya akan kesal sendiri.

“Cih! Dasar si muka meja, kau lebih buruk dari seorang pengemis,” ungkap pendekar berbaju merah.

“Tebasan kincir! Angin beliung tahap ke 2!” seru pendekar berbaju merah.

Dia mengayunkan pedangnya lurus ke depan, menciptakan pusaran angin berukuran sedang yang berputar menuju Waruna.

Tekanan pusaran angin sungguh kuat hingga banyak kursi kayu di dekat arena berterbangan ditarik masuk ke dalam pusaran.

Semua penonton terhenyak menahan nafas terpesona dengan jurus tersebut, sebelum beberapa saat kemudian rasa itu berganti menjadi kengerian yang sesungguhnya dimana semua kursi yang masuk ke dalam pusaran tibat-tiba dimuntahkan kembali ke udara dengan telah menjadi serpihan.

Seperti mulut raksasa yang terdapat banyak pisau tajam berputar di dalamnya, benda apa pun yang ditarik masuk ke dalam pusaran akan berakhir hancur menjadi potongan kecil.

Sehingga suasana di atas arena seketika berubah menegangkan.

Para penonton kini menelan ludahnya tidak dapat membayangkan akan seperti apa nasib Waruna jika masuk ke dalam sana.

“Pemuda itu! Dia menguasai jurus tertinggi milik perguruan Pedang Badai di usianya yang masih sangat muda?” gumam patih Taruma Jati membelalakan mata.

Di atas panggung kehormatan, raja Balwa juga tidak dapat memalingkan pandangan dari jurus tersebut.

Dia begitu terpukau melihat bagaimana kesaktian pendekar muda berbaju merah di atas arena.

Waruna yang menjadi lawannya hanya menyeringai saja tanpa memberikan reaksi yang berlebihan.

“Mata Budha tahap 7, ilusi dan kenyataan!” seru Waruna.

Setelah mengucapkan itu, pusaran angin badai yang mendekat kearahnya tiba-tiba berhenti bergerak.

Kemudian di belakang pusaran angin terdengar teriak pilu dari sang pemilik jurus.

Aaaaaa …!

Pendekar berbaju merah membelalakan mata seperti melihat sesuatu yang mengerikan, setelah itu dari hidung dan matanya keluar darah segar sebelum akhirnya jatuh terkulai tidak sadarkan diri.

Semua penonton membuka mulutnya lebar tidak percaya, mereka tidak melihat apa pun selain seruan jurus dari Waruna, namun tiba-tiba saja pendekar yang menjadi lawannya terkapar tidak berdaya.

Pendekar berbaju merah kalah dengan mendapatkan luka dalam yang sangat serius.

“Pe-p—pemenangnya adalah Waruna dari perguruan Mata Budha!” teriak patih Taruma Jati sedikit terbata.

“Punggawa! Cepat bawa anak ini ke ruang perawatan, nyawa-nya akan melayang jika tidak segera di obati,” seru patih Taruma Jati panik.

“Ma-ma-mata Budha sungguh mengerikan,” gumam raja Balwa Sora.

Para penonton sejenak terdiam menciptakan keheningan, mereka terlalu terkejut dengan kejadian yang baru saja disaksikannya.

“Waruna! Waruna! Waruna!” seseorang tiba-tiba bersorak untuk Waruna.

Mendengar itu semua penonton-pun ikut bersorak memuji kemenangan pemuda itu.

“Cih! Hanya cecunguk kecil,” umpat Waruna pelan, kemudian dia berjalan santai menuju kebarisan para peserta.

Mereka saat ini tidak lagi duduk karena semua bangku peserta telah habis dirusak oleh jurus pemuda berpakaian merah.

Melihat Waruna berjalan ke arahnya, beberapa peserta segera bergeser memberi ruang.

Tubuh mereka bergetar merasa ngeri dengan pemuda itu.

Sementara jauh dipojokan alun-alun, Arga belum memalingkan pandangan dari atas arena.

Seperti melihat malaikat pencabut nyawa, jantung Arga berdetak sangat kencang dengan mata melebar.

Wajahnya memucat dipenuhi banyak ketakutan. sementara tubuhnya tidak berhenti menggigil bermandikan keringat dingin dari punggung dan tengkuknya.

“Oak, Oak,” kuda dekil menggosokan pangkal kepalanya ke punggung Arga mencoba menyadarkan pemuda itu.

Liwa khawatir melihat reaksi Arga yang tiba-tiba berubah tepat setelah menyaksikan jurus milik Waruna.

“Oak, Oak!” Liwa kembali berseru.

Karena masih tidak mendapatkan respon, Liwa akhirnya menjilati wajah Arga berharap tuannya bisa tersadar.

Dan benar saja, merasakan wajahnya basah karena liur si kuda dekil, Arga seketika tersentak kaget dan melompat ke sisi kiri.

“Liwa! Apa yang kau ….?” Arga kembali terkejut mendapati tubuhnya juga basah dipenuhi cairan lengket seperti keringat.

“Ini …? Apa yang kau lakukan kepadaku? kuda nakal,” bentak Arga menyipitkan mata menatap Liwa.

“Oak,Oak,” sergah Liwa tidak terima.

“Itu …! Benar, apa kau tidak melihatnya Liwa?” Arga baru ingat bahwa dirinya tadi melihat sosok raksasa bertubuh besar di atas arena.

Wujudnya sangat mengerikan dengan lidah yang menjulur panjang sampai kepangkal kaki.

Memiliki mata merah menyala, bertaring, dan seluruh tubuhnya ditutupi bulu lebat berwarna hitam.

Arga menyaksikan mahluk raksasa tersebut melilit pemuda berpakaian merah menggunakan lidahnya.

Dan tidak lama, pemuda berbaju merah terkapar dengan mata, hidung dan telinga mengeluarkan darah.

Arga melihat lidah mahluk itu menyerap sesuatu dari tubuh manusia, entah apa tapi itulah yang membuat pemuda berpakaian merah terluka.

“Oak, Oak,” jawab si kuda dekil yang tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan Arga.

“Apa kau buta Liwa? Dia sungguh benar-benar besar, mana mungkin kau tidak melihatnya?” tanya Arga bersikukuh dengan apa yang disaksikannya.

“Oak, oak,” umpat Liwa. Dia berkata, “Bukan aku yang buta, tapi kau yang gila, lihatlah! Para penonton yang lain juga masih tetap tenang, andai ada mahluk seperti itu, mungkin semua penonton di sana akan langsung lari tunggang-langgang.”

“Apa?” Arga mulai mengedarkan pandangan ke tempat para penonton.

Dan benar saja, mereka terlihat masih tenang bahkan banyak yang bersorak memuji Waruna sebagi pemenang. Membuat Arga kembali merenung memikirkan kejadian tadi yang disaksikannya.

“Apa hanya aku yang bisa melihatnya?” gumam Arga dalam hati, “Benar, mungkin mataku bermasalah,” umpatnya kemudian.

“Maafkan aku Liwa, terimakasih sudah menyadarkanku,” ungkap Arga kepada si kuda dekil sembari tersenyum bodoh.

“Oak,” ujar Liwa tidak masalah.

Arga tidak sadar, bahwa di barisan para peserta, Waruna sedang menatapnya dingin seperti tidak menyukai keberadaannya.

**

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sang Kusir   Bab 37 Arga Berangkat

    Terdapat tiga jalur jalan menuju puncak gunung Lawu yang dilalui para kereta putri raja.Damayanti bersama Waruna dan Barong melesat menggunakan jalur selatan, melalui lembah dan pedesaan.Sementara putri Kanaya bersama Ariani dan Arakenda memacu kuda menggunakan jalur barat melewati pegunungan hutan bambu.Dan terakhir putri Anandya bersama Jantaka melesat menggunakan jalur timur melalui hutan berkabut.Ketiga jalur itu sama-sama berbahaya karena selalu terdapat penyamun dan perampok, terlebih di hutan-hutan juga terdapat banyak siluman yang kerap menyerang kepada siapa pun yang lewat.Saat pertama memasuki wilayah hutan, Jantaka dan Putri Anandya langsung dihadang oleh siluman kodok, mereka berjumlah puluhan mengepung kereta kuda berniat memangsa putri Anandya.Beruntung Jantaka masih bisa menghadapi mereka dan membunuh semuanya.“Berani menghadang perjalanan kami maka matilah bayaran untuk kalian!” umpat Jantaka sembari meludah pada salah satu mayat siluman.Kemudian dia mengambil

  • Sang Kusir   Bab 36 Permintaan Raja Balwa

    “Berhenti di sana kau orang asing!” seru 2 orang prajurit jauh sebelum memasuki wilayah kerajaan.Kotoplak! Kotoplak! Kotoplak!Arga memperlambat laju kudanya.“Apa paman memanggil saya?” tanya Arga sopan.“Cepat turun dari sana, kau orang asing!” prajurit tadi membentak Arga.“Orang asing? Apa mereka tidak mengenaliku?” gumam Arga dalam hati.“Maaf paman, aku buka …,”“Cepat turun!” apa kau ingin kami hajar?” prajurit yang lain ikut membentak.Arga tidak dapat menjelaskan siapa dirinya karena terpotong oleh prajurit tadi.Karena tidak ingin mendapat masalah, pemuda itu pun mau tidak mau langsung turun dari punggung Liwa.Baru saja Arga menyentuh tanah dan berniat menjelaskan kembali siapa dirinya, sebuah pukulan keras telah lebih dulu bersarang di tengkuknya.Brak! Hegh!Arga melenguh kemudian terjatuh.“Apa-apaan ini …. Hegh!” Kali ini Arga langsung tidak sadarkan diri karena menerima pukulan kedua yang jauh lebih keras.“Apa benar bocah ini si Arga pengurus kandang kuda?” tanya pra

  • Sang Kusir   Bab 35 Pendamping Kusir

    Malam telah berlalu digantikan pagi yang baru saja kembali.Meski langit masih mendung tertutupi awan salju, tetapi upacara kedewasaan untuk para putri raja harus dimulai.Waruna telah siap di atas kereta tanpa atap yang mirip seperti gerobak rumput milik Arga.Namun bedanya, kereta itu ditarik oleh dua kuda perang berukuran besar.Di sampingnya terdapat seorang pendamping kusir yang tiada lain adalah pendekar berbaju merah yang pernah Waruna kalahkan pada pertandingan pertama sayembara.“Kau jaga putri Damayanti, biar aku yang mengendalikan kuda,” ketus Waruna pada Barong.“Ka-ka—kau? Aku bukan bawahanmu mengapa kau memberi perintah padaku,” sergah Barong tidak terima.Tetapi Waruna tidak bersuara lagi selain tatapan membunuh yang dilemparkan ke arah Barong, membuat pendekar berbaju merah tersebut langsung terdiam seribu bahasa tidak berani lagi berkata-kata.Jika Waruna mendapatkan Barong sebagai pendamping kusir, maka Ariani mendapatkan Arakenda sebagai pendampingnya.Murid dari pe

  • Sang Kusir   Bab 34 Ki Reksa Bumi

    Di dunia awan, angin berhembus semilir membuat siapa pun yang berada di sana akan merasakan kesejukan seperti tengah berada di bawah rindangnya pohon di saat teriknya siang.Tetapi bagi seorang pemuda tampan berbaju lusuh, dunia itu tidak ubahnya seperti kehampaan tak berujung. Sunyi, senyap, tiada seorang pun di sana.Sebelum suara tidak berwujud menampakkan diri menyapanya dengan kata yang membingungkan.“Hahaha, kau sepertinya memang bukan manusia biasa anak muda, sayang ingatanmu ternyata terkena segel dari jurus seseorang.”“I-i—itu? Si-si—siapa kau? Mengapa membawaku kemari?” teriak Arga terbata.“Hahaha, aku tidak membawamu, tetapi kamu sendiri yang datang kemari,” jawab suara tersebut.“Ak—aku? Ti-ti—tidak mungkin!” teriak Arga.“Si-si—siapa kau, cepat katakan!” tanya Arga mencoba tegar.“Aku tidak akan mengatakan siapa diriku sebelum kau memanggilku guru,” sergah suara asing.“Aa—apa? Guru? Tidak mungkin! Aku belum pernah berguru, dan ingatanku masih ada tidak pernah tersegel

  • Sang Kusir   Bab 33 Goa Rahasia Hutan Bugang

    Arga dan Liwa masih tetap berada di hutan Bugang, dia memutuskan menginap di sana karena Liwa menemukan sebuah Goa di dasar lembah tanaman langka.Yang membuat Arga terkejut adalah, di dalam goa tersebut terdapat banyak tumpukan koin emas dan kitab ilmu kanuragan.Entah siapa yang menyimpannya di tempat itu, tetapi dari bentuk kitab dan warna kertasnya, Arga menyimpulkan bahwa barang-barang itu kemungkinan sudah berusia ribuan tahun.“Kitab segel pengekang?” Arga mengerutkan kening membaca salah satu sampul kitab.Karena penasaran, dia lantas membuka lembaran pertama di kitab itu.“Angin sejatinya tidak pernah berhenti bergerak, tetapi dengan kehendak, dia bisa menempati ruang karena pada dasarnya angin juga merupakan makhluk.”Arga menarik nafas panjang memikirkan makna dari kalimat di lembar pertama kitab yang dipegangnya.“Angin adalah makhluk?” gumam Arga.“Apa benar ini kitab ilmu kanuragan? Tapi mengapa sulit sekali dipahami,” tanya Arga kemudian pada dirinya sendiri.Karena tid

  • Sang Kusir   Bab 32 Kematian Senopati Kalhi

    Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status