LOGIN“Hebat! Pemuda itu mampu bergerak tanpa melihat,” terdengar decak kagum salah satu penonton sayembara.
Beberapa diantara mereka bersorak meneriaki dukungan masing-masing.
“Aku sangat yakin, pendekar muda yang berpakaian biru akan menang! Lihatlah, ilmu pedangnya sangat cepat,” ungkap penonton yang lain.
“Kau jangan cepat menilai, pendekar berkain merah juga tidak kalah hebat,” sergah orang yang di sisinya.
Mereka saling berselisih memperdebatkan siapa yang akan menang.
Di atas arena, kedua pendekar yang mereka bicarakan sedang saling menyerang.
Ini adalah pertarungan ke 7 dari 15 pertarungan yang akan digelar, dimana 30 pemenang sayembara tahap pertama dipertandingkan satu lawan satu.
“Apa hanya sampai di sini kemampuanmu, Waruna?” pendekar berpakaian merah mencoba mempropokasi.
Tetapi Waruna terlihat tidak peduli, dia hanya mendelikan mata kemudian mundur mengambil jarak.
Dari awal pendekar itu memang tidak suka berkata-kata, dia berbicara seperlunya, itupun tanpa ekspresi.
Wajahnya begitu dingin dan datar, membuat siapa pun yang menjadi musuhnya akan kesal sendiri.
“Cih! Dasar si muka meja, kau lebih buruk dari seorang pengemis,” ungkap pendekar berbaju merah.
“Tebasan kincir! Angin beliung tahap ke 2!” seru pendekar berbaju merah.
Dia mengayunkan pedangnya lurus ke depan, menciptakan pusaran angin berukuran sedang yang berputar menuju Waruna.
Tekanan pusaran angin sungguh kuat hingga banyak kursi kayu di dekat arena berterbangan ditarik masuk ke dalam pusaran.
Semua penonton terhenyak menahan nafas terpesona dengan jurus tersebut, sebelum beberapa saat kemudian rasa itu berganti menjadi kengerian yang sesungguhnya dimana semua kursi yang masuk ke dalam pusaran tibat-tiba dimuntahkan kembali ke udara dengan telah menjadi serpihan.
Seperti mulut raksasa yang terdapat banyak pisau tajam berputar di dalamnya, benda apa pun yang ditarik masuk ke dalam pusaran akan berakhir hancur menjadi potongan kecil.
Sehingga suasana di atas arena seketika berubah menegangkan.
Para penonton kini menelan ludahnya tidak dapat membayangkan akan seperti apa nasib Waruna jika masuk ke dalam sana.
“Pemuda itu! Dia menguasai jurus tertinggi milik perguruan Pedang Badai di usianya yang masih sangat muda?” gumam patih Taruma Jati membelalakan mata.
Di atas panggung kehormatan, raja Balwa juga tidak dapat memalingkan pandangan dari jurus tersebut.
Dia begitu terpukau melihat bagaimana kesaktian pendekar muda berbaju merah di atas arena.
Waruna yang menjadi lawannya hanya menyeringai saja tanpa memberikan reaksi yang berlebihan.
“Mata Budha tahap 7, ilusi dan kenyataan!” seru Waruna.
Setelah mengucapkan itu, pusaran angin badai yang mendekat kearahnya tiba-tiba berhenti bergerak.
Kemudian di belakang pusaran angin terdengar teriak pilu dari sang pemilik jurus.
Aaaaaa …!
Pendekar berbaju merah membelalakan mata seperti melihat sesuatu yang mengerikan, setelah itu dari hidung dan matanya keluar darah segar sebelum akhirnya jatuh terkulai tidak sadarkan diri.
Semua penonton membuka mulutnya lebar tidak percaya, mereka tidak melihat apa pun selain seruan jurus dari Waruna, namun tiba-tiba saja pendekar yang menjadi lawannya terkapar tidak berdaya.
Pendekar berbaju merah kalah dengan mendapatkan luka dalam yang sangat serius.
“Pe-p—pemenangnya adalah Waruna dari perguruan Mata Budha!” teriak patih Taruma Jati sedikit terbata.
“Punggawa! Cepat bawa anak ini ke ruang perawatan, nyawa-nya akan melayang jika tidak segera di obati,” seru patih Taruma Jati panik.
“Ma-ma-mata Budha sungguh mengerikan,” gumam raja Balwa Sora.
Para penonton sejenak terdiam menciptakan keheningan, mereka terlalu terkejut dengan kejadian yang baru saja disaksikannya.
“Waruna! Waruna! Waruna!” seseorang tiba-tiba bersorak untuk Waruna.
Mendengar itu semua penonton-pun ikut bersorak memuji kemenangan pemuda itu.
“Cih! Hanya cecunguk kecil,” umpat Waruna pelan, kemudian dia berjalan santai menuju kebarisan para peserta.
Mereka saat ini tidak lagi duduk karena semua bangku peserta telah habis dirusak oleh jurus pemuda berpakaian merah.
Melihat Waruna berjalan ke arahnya, beberapa peserta segera bergeser memberi ruang.
Tubuh mereka bergetar merasa ngeri dengan pemuda itu.
Sementara jauh dipojokan alun-alun, Arga belum memalingkan pandangan dari atas arena.
Seperti melihat malaikat pencabut nyawa, jantung Arga berdetak sangat kencang dengan mata melebar.
Wajahnya memucat dipenuhi banyak ketakutan. sementara tubuhnya tidak berhenti menggigil bermandikan keringat dingin dari punggung dan tengkuknya.
“Oak, Oak,” kuda dekil menggosokan pangkal kepalanya ke punggung Arga mencoba menyadarkan pemuda itu.
Liwa khawatir melihat reaksi Arga yang tiba-tiba berubah tepat setelah menyaksikan jurus milik Waruna.
“Oak, Oak!” Liwa kembali berseru.
Karena masih tidak mendapatkan respon, Liwa akhirnya menjilati wajah Arga berharap tuannya bisa tersadar.
Dan benar saja, merasakan wajahnya basah karena liur si kuda dekil, Arga seketika tersentak kaget dan melompat ke sisi kiri.
“Liwa! Apa yang kau ….?” Arga kembali terkejut mendapati tubuhnya juga basah dipenuhi cairan lengket seperti keringat.
“Ini …? Apa yang kau lakukan kepadaku? kuda nakal,” bentak Arga menyipitkan mata menatap Liwa.
“Oak,Oak,” sergah Liwa tidak terima.
“Itu …! Benar, apa kau tidak melihatnya Liwa?” Arga baru ingat bahwa dirinya tadi melihat sosok raksasa bertubuh besar di atas arena.
Wujudnya sangat mengerikan dengan lidah yang menjulur panjang sampai kepangkal kaki.
Memiliki mata merah menyala, bertaring, dan seluruh tubuhnya ditutupi bulu lebat berwarna hitam.
Arga menyaksikan mahluk raksasa tersebut melilit pemuda berpakaian merah menggunakan lidahnya.
Dan tidak lama, pemuda berbaju merah terkapar dengan mata, hidung dan telinga mengeluarkan darah.
Arga melihat lidah mahluk itu menyerap sesuatu dari tubuh manusia, entah apa tapi itulah yang membuat pemuda berpakaian merah terluka.
“Oak, Oak,” jawab si kuda dekil yang tidak mengerti dengan apa yang di tanyakan Arga.
“Apa kau buta Liwa? Dia sungguh benar-benar besar, mana mungkin kau tidak melihatnya?” tanya Arga bersikukuh dengan apa yang disaksikannya.
“Oak, oak,” umpat Liwa. Dia berkata, “Bukan aku yang buta, tapi kau yang gila, lihatlah! Para penonton yang lain juga masih tetap tenang, andai ada mahluk seperti itu, mungkin semua penonton di sana akan langsung lari tunggang-langgang.”
“Apa?” Arga mulai mengedarkan pandangan ke tempat para penonton.
Dan benar saja, mereka terlihat masih tenang bahkan banyak yang bersorak memuji Waruna sebagi pemenang. Membuat Arga kembali merenung memikirkan kejadian tadi yang disaksikannya.
“Apa hanya aku yang bisa melihatnya?” gumam Arga dalam hati, “Benar, mungkin mataku bermasalah,” umpatnya kemudian.
“Maafkan aku Liwa, terimakasih sudah menyadarkanku,” ungkap Arga kepada si kuda dekil sembari tersenyum bodoh.
“Oak,” ujar Liwa tidak masalah.
Arga tidak sadar, bahwa di barisan para peserta, Waruna sedang menatapnya dingin seperti tidak menyukai keberadaannya.
**
Gagalnya membawa Mutiara Sendayu membuat sesepuh perguruan Walet Darah sangat marah.Meski mereka mendapatkan pusaka selendang sutra, tetapi tanpa darah gadis berambut merah hanya kesia-siaan di mana pusaka tersebut tidak dapat di gunakan.Alih-alih mendapatkan pujian atau hadiah dari sesepuh Walet Darah, Kala Hitam bersama Boyojogo dan teman-temannya malah mendapatkan hukuman berat.Mereka dikurung dengan tubuh terikat rantai berduri membuat darah mereka terus menetes masuk ke dalam wajan batu berukir aksara segel aneh.Mereka tidak dapat menolak atau meronta karena ini adalah hukum Walet Darah.Siapa pun yang berhasil melalui hukuman tersebut selama 40 hari, maka mereka akan dibebaskan.Sementara darah mereka akan dipersembahkan kepada ratu sihir kegelapan sebagai tumbal kegagalan tugas.Bukan hanya gagal, tetapi Kala Hitam juga telah menghilangkan 5000 prajurit kuat perguruan mereka membuat perguruan Walet Darah mengalami kerugian besar.“Penjaga, tolong bebaskan kami. Bukankah kam
“Hewan siluman? Sial!” Kala Hitam kembali mundur menjauh.Dia tidak percaya mengapa bisa ada hewan siluman di perguruan sebesar Sayap Dewa.Tetapi pandangan Boyojogo dan ke 4 ketua pengkhianat tiba-tiba langsung berubah buruk karena ingat di sini adalah bukit terlarang.“Sial! Dia menjebak kita masuk ke sarang siluman,” teriak Boyojogo.“Sarang siluman?” tanya Rakean yang juga terkejut.“Benar, Ki Elang Sakti selain pendekar tanpa tanding, dia juga merupakan pawang hewan siluman. Orang tua itu mengumpulkan banyak siluman hanya untuk di pelihara,” tutur Boyojogo sembari mundur menjauh.“Hahaha, bodoh! Seharusnya kalian menyadari lebih awal,” Arga tertawa terbahak-bahak sementara mulutnya masih saja mengeluarkan darah.Ukhuk!“Sial! Lukaku terlalu parah,” umpat Arga kemudian.Selanjutnya dia memasang posisi bersila untuk memulihkan diri, sementara musuh mulai bertarung melawan ratusan hewan siluman yang baru saja tiba.Ayam berbulu api, singa loreng, kura-kura bertaring setinggi 5 meter
“Sial!” umpat Yamandaru yang merasakan musuh tiba-tiba berada di sana.Sring! Cruaaat! Aaaaaa!Punggung Yamandaru terkena sayatan pedang hitam meninggalkan luka terbuka yang kini mengucurkan banyak darah.Beruntung dia masih sempat menendang angin untuk menghindar, andai Yamandaru tidak bergerak, kemungkinan tubuhnya akan terbelah menjadi dua.Ketua perguruan Walet Darah itu segera turun ke daratan untuk memulihkan diri sementara Arga di hadapi oleh Kala Hitam dan Rakean.Trang! Trang! Trang!Suara pedang beradu di udara. Melawan dua orang secara bersamaan membuat Arga dengan cepat terdesak.“Gelombang kepakan sayap!” teriak Kala Hitam.Dia memanfaatkan situasi saat Arga sedang bertarung dengan rakean.Gelombang energi kuat melesat tepat mengenai tubuh Arga.Bummmm! Aaaaa!Ledakan besar terjadi melemparkan tubuh Arga sejauh 300 meter. Arga jatuh ke daratan dan berhenti setelah menghantam batuan besar membuat batu tersebut langsung hancur menjadi serpihan.Ukhuk!Arga memuntahkan darah
“Kita akan pergi ke mana Arga?” tanya Mutiara Sendayu. Mutiara Sendayu tidak bisa menentukan arah dari atas langit karena ini merupakan kali pertama dia terbang.“Kita akan masuk ke wilayah perguruan Sayap Dewa, di sana ada tempat yang bagus untuk menjebak mereka,” jawab Arga.“Tunggu dulu! Dari mana kau tahu namaku?” tanya Arga kemudian.“A-a—aku menanyakan ke salah satu ketua di Sayap Dewa,” jawab Mutiara Sendayu malu-malu.“Menanyakan?” desak Arga.“Be-be—benar,” jawab Mutiara Sendayu terbata.Gadis itu tidak mungkin berterus terang bahwa dia dari awal sudah penasaran dengan sosok Arga.Bahkan saat di gedung perawatan pun Mutiara Sendayu sengaja diam-diam ke sana hanya untuk melihat keadaan Arga.Namun siapa sangka, kehadirannya di gedung perawatan malah mengulang kejadian yang sama.Lagi-lagi bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir Arga, membuat Mutiara Sendayu semakin bertanya-tanya mengapa ini bisa ternjadi?Dia tahu semua yang terjadi dengannya adalah sebuah kebetulan, tetapi
“Lepaskan aku! apa yang ingin kau lakukan dasar cabul?” Mutiara Sendayu terus meronta ingin terlepas dari pegangan Arga.“Dasar bodoh! Berhenti memanggilku cabul, semua yang terjadi di antara kita adalah ketidak sengajaan,” ketus Arga.Dia masih melesat menyusuri langit menghindari kejaran Kala Hitam dan kelompoknya.“Cih! Aku tidak percaya, buktinya ini kau sedang merangkul tubuhku,” Mutiara Sendayu masih meronta.“Sial! Menyesal aku membebaskan totokannya,” umpat Arga di dalam hati.Karena Mutiara Sendayu tidak bisa diam, Arga-pun berhenti, “Lihatlah! Jika kau kulepaskan, maka mereka akan kembali menangkapmu. Apa kau ingin berakhir dijadikan tumbal?” ungkap Arga sembari menunjuk kelompok Kala Hitam dengan pedangnya, membuat Mutiara Sendayu sontak membelalakan mata.Sedari tadi gadis itu baru sadar bahwa Arga telah menolongnya, sehingga setelah mengetahui itu, Mutiara Sendayu langsung tertunduk malu.“Ma-ma—maaf,” ungkap Mutiara Sendayu lemas.“Sekarang sudah telambat, mereka telah k
Dengan pedang hitam di pundaknya, Arga melesat menyusuri langit mengejar kelompok pendekar Walet Darah yang membawa Mutiara Sendayu.Beruntung Arga pernah bersentuhan bibir dengan gadis itu sehingga meski sudah jauh, Arga masih dapat merasakan hawa energinya, di mana saat itu, secara tidak sengaja mereka telah bertukar energi.“Ternyata mereka pergi ke arah barat,” gumam Arga.Langit senja mulai gelap berganti malam, tetapi semua itu bukan halangan bagi Arga karena matanya mampu menembus kegelapan.Arga memacu tubuhnya agar dapat melesat lebih cepat, dia bahkan menggabungkan teknik lompatan langit dengan ilmu terbang yang pernah dirinya pelajari dari Resi Satya Raga.Belajar sembari menyeimbangkan tubuh dalam kecepatan tinggi sungguh sulit membuat Arga beberapa kali mengalami kegagalan.Tetapi karena kegigihannya, Arga akhirnya mampu menggabungkan dua jurus tersebut sehingga kecepatan terbang Arga bertambah beberapa kali lipat.Wuuussss!Arga melesat bagai cahaya menembus pekatnya mal







