Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 13 Melasita Vs Onagi

Share

Bab 13 Melasita Vs Onagi

Author: Pujangga
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-20 20:55:13

Pertarungan demi pertarungan berlangsung begitu cepat di atas arena.

Setiap peserta mengeluarkan jurus terbaik perguruan mereka untuk dapat menang.

Tetapi dari 30 peserta, kini hanya tinggal tersisa 14 orang saja yang masuk ke babak semi final.

Satu peserta dikeluarkan dari sayembara akibat berbuat curang. Dia menggunakan racun dalam pertarungan hingga patih Taruma Jati harus bertindak tegas.

“Baiklah, bagi peserta yang terpanggil namanya harap segera naik ke atas arena!” seru patih Taruma Jati.

Sayembara sebelumnya dihentikan selama 15 menit sebagai waktu istirahat bagi para peserta yang akan masuk ke babak selanjutnya.

“Jantaka dari perguruan Sayap Dewa, Waruna dan Somali dari perguruan Mata Budha, Ariani dan Melasita dari padepokan Melati Sakti, Mahendra dan Naralayan dari perguruan Pedang Badai, Arakenda dan Masudev dari perguruan Singa Kumbang, Lintih Kemangi dan Bulga dari perguruan Awan Suci, Calaka dan Kamal dari perguruan gunung Damar, terakhir adalah Onagi dari perguruan Ruyuk Samudra!”

Mendengar itu, ke 14 peserta yang dipanggil segera berlompatan naik ke atas arena.

Arga di kejauhan masih tetap setia menyaksikan sayembara, dia sangat prihatin kepada salah satu kakak seperguruan Ariani yang tadi hampir saja tewas terkena racun.

“Oak, oak?” tanya Liwa.

“Namanya Caca, Liwa. Beruntung dia segera diselamatkan oleh patih Taruma Jati. Telat sedikit saja nyawa-nya pasti melayang,” jawab Arga.

“Oak,” ujar Liwa.

“Aku juga tidak mengerti, tetapi dari yang aku lihat, perguruan Ruyuk Samudra sepertinya memiliki kepentingan lain terhadap padepokan Melati Sakti,” tutur Arga.

Setelah itu Arga berhenti berbicara karena dari atas panggung kehormatan, putri Anandya kedapatan sedang mencuri pandang terhadapnya.

“Celaka, tuan putri sepertinya menemukan keberadaanku,” gumam Arga di dalam hati.

Dia sengaja menyaksikan sayembara dari kejauhan karena tidak ingin diketahui oleh pihak kerajaan.

Tidak disangka, gadis tercantik di kerajaan Bunisora tersebut menemukannya.

Tidak ingin diusir dari tempat sayembara, Arga segera membawa Liwa pindah ke tempat yang lebih sepi.

“Oak?” tanya Liwa.

“Kita tidak bisa tetap di sana karena keberadaan kita telah diketahui,” jawab Arga.

“Oak?” Liwa kembali bertanya. Dia mengatakan “Jika di sini, bagaimana cara aku melihat pertarungan para pendekar?”

“Tenang saja, aku bisa menceritakan pertarungan mereka kepadamu,” ujar Arga.

Ternyata Arga membawa Liwa ke tempat yang lebih jauh, tepatnya di atas bukit di sebrang alun-alun kerajaan.

Setelah mengetahui kelebihan pada matanya, jarak bukan lagi masalah bagi Arga, dia bisa menyaksikan pertarungan sayembara dari jarak 4 kilo meter dengan sangat jelas.

Sementara di atas panggung kehormatan, putri Anandya saat ini sedang mengerutkan kening karena tidak mendapati Arga di manapun.

“Dia? Kemana perginya? Apa dia menyadari aku tadi melihatnya?” gumam putri Anandya heran.

Entah mengapa hatinya tiba-tiba saja merasa gundah, padahal tadi saat masih ada Arga di pinggir alun-alun, hati putri Anandya terasa begitu tenang.

“Apa mungkin nasibku seburuk ini?” putri Anandya memandang ke atas langit, “Kakek, andai engkau masih ada, mungkin semua orang tidak akan menjauhiku,” ucapnya lirih.

“Ada apa Ayu? Mengapa dirimu terlihat begitu sedih?” tanya raja Balwa yang menyadari perubahan pada wajah putri bungsunya.

“Ti—tidak apa ayahanda, hamba hanya teringat pada mendiang kakek,” jawab putri Anandya.

“Percayalah, kakek sekarang pasti sedang berbahagia memandangi dirimu yang sebentar lagi akan beranjak dewasa,” ucap raja Balwa.

“Apa kakek prabu bisa melihatku?” tanya putri Anandya.

Mendengar itu raja Balwa tersenyum, “Tentu saja Ayu, dia bisa melihatmu, hanya kita tidak bisa melihat dirinya,” jawab sang raja kemudian.

Mereka terus berbincang layaknya seorang ayah dan anak, membuat Putri Ardani dan ke 2 saudarinya mengepalkan tangan merasa iri.

“Cih! Dasar penjilat, anjing kecil ini pasti sedang membujuk ayahanda agar menyerahkan tahtanya kepada dia,” umpat putri Ardani.

“Hmmm, tunggu saja, sebentar lagi kau akan mampus putri kecil,” Ardani menyeringai licik.

Sedari kecil tumbuh dalam didikan senopati Rajo, putri Ardani kini menjelma menjadi sosok gadis jahat yang haus akan kekuasaan.

Tidak hanya tega membunuh adiknya, dia juga telah merencanakan kudeta terhadap raja Balwa.

Menurut putri Ardani, ayahnya terlalu kaku dalam memimpin, dia berambisi menguasai kerajaan Bunisora dan akan membawanya menjadi kerajaan besar yang di segani oleh kerajaan lain.

Tujuannya adalah menjadi penguasa besar yang dipuja oleh banyak orang dan tentu saja memiliki kekayaan yang tidak terbatas.

“Apa kalian mengerti tentang aturan pertarungannya?” teriak patih Taruma Jati kepada semua peserta.

Teriakan itu terdengar sangat lantang membangunkan putri Ardani dari lamunannya.

“Kami mengerti!” seru semua pendekar.

“Jika ada yang berani lagi menggunakan racun atau semacamnya, kalian tidak hanya akan dikeluarkan dari sayembara, tetapi juga akan mendapatkan hukuman pancung dari kerajaan!” ungkap patih Taruma Jati menegaskan, membuat semua peserta mengangguk secara bersamaan.

“Baiklah, selain Melasita dan Onagi, semuanya kembali turun dari arena,” seru sang patih.

Satu persatu para pendekarpun kembali turun dari arena, menyisakan dua peserta yang sebentar lagi akan bertarung.

Melasita dari padepokan Melati Sakti dan Onagi dari perguruan Ruyuk Samudera.

“Kakak, berhati-hatilah! Jangan biarkan emosi membutakanmu,” ucap Ariani mengingatkan.

“Aku mengerti adik,” ujar Melasita sembari tersenyum lembut, tetapi jauh di dalam hatinya, dia sangat geram sekali terhadap Onagi, dimana adik seperguruannya Caca hampir saja tewas oleh rekan Onagi dari perguruan Ruyuk Samudra.

“Baiklah, selamat berjuang,” kata Ariani, seperti pendekar lain, dia-pun berlalu meninggalkan arena pertandingan.

Sepeninggalan Ariani, patih Taruma Jati maju ke depan Melasita dan Onagi.

“Apa kalian siap?” tanya patih Taruma kepada keduanya.

“Kami siap tuan patih,” jawab Melasita dan Onagi serentak.

“Baiklah, silahkan bertarung!” seru patih Taruma Jati, dia langsung melompat jauh ke belakang.

“Hahaha, menyerahlah! Melati Sakti tidak akan pernah bisa mengalahkan Ruyuk Samudra,” Onagi tertawa mencoba memprovokasi.

“Menang secara curang adalah tindakan pecundang, ternyata Ruyuk Samudra memang mencetak para pecundang,” balas Melasita.

“Bangsat! Kau menghina perguruanku, sialan,” geram Onagi. SRIING! Suara pedang begitu nyaring ditarik dari sarungnya.

“Hm, kau yang bangsat! Dasar pecundang,” Melasita juga tidak bisa menyembunyikan amarahnya.

Onagi maju menyerang lebih dulu, dia melompat ke udara berputar menghunuskan ujung pedang berniat menusuk jantung lawan.

Gerakannya begitu cepat hingga para penonton tidak bisa melihat entah apa yang akan dilakukan Onagi.

Namun Melasita sudah menduganya, gadis itu mundur sejauh dua langkah, kemudian mengayunkan pedang ke arah langit.

Membuat para penonton lagi-lagi merasa heran karena di langit terlihat kosong tidak ada apa-apa.

Tetapi sedetik kemudian, mata mereka terbelalak lebar menyasikan cahaya terang dari benturan senjata keduanya.

Blam!

Gelombang energi menyeruak ke segala arah berwujud seperti riak air di ketinggian.

Beruntung semua penonton berada di luar pagar sehingga mereka tidak terkena hempasan energi itu.

Andai lokasi penonton berada di dekat arena, maka sudah pasti mereka akan terluka parah, karena hempasan energi kedua peserta mengandung unsur panas.

**

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sang Kusir   Bab 143 Kekalahan Telak

    Gagalnya membawa Mutiara Sendayu membuat sesepuh perguruan Walet Darah sangat marah.Meski mereka mendapatkan pusaka selendang sutra, tetapi tanpa darah gadis berambut merah hanya kesia-siaan di mana pusaka tersebut tidak dapat di gunakan.Alih-alih mendapatkan pujian atau hadiah dari sesepuh Walet Darah, Kala Hitam bersama Boyojogo dan teman-temannya malah mendapatkan hukuman berat.Mereka dikurung dengan tubuh terikat rantai berduri membuat darah mereka terus menetes masuk ke dalam wajan batu berukir aksara segel aneh.Mereka tidak dapat menolak atau meronta karena ini adalah hukum Walet Darah.Siapa pun yang berhasil melalui hukuman tersebut selama 40 hari, maka mereka akan dibebaskan.Sementara darah mereka akan dipersembahkan kepada ratu sihir kegelapan sebagai tumbal kegagalan tugas.Bukan hanya gagal, tetapi Kala Hitam juga telah menghilangkan 5000 prajurit kuat perguruan mereka membuat perguruan Walet Darah mengalami kerugian besar.“Penjaga, tolong bebaskan kami. Bukankah kam

  • Sang Kusir   Bab 142 Bantuan Binatang Siluman

    “Hewan siluman? Sial!” Kala Hitam kembali mundur menjauh.Dia tidak percaya mengapa bisa ada hewan siluman di perguruan sebesar Sayap Dewa.Tetapi pandangan Boyojogo dan ke 4 ketua pengkhianat tiba-tiba langsung berubah buruk karena ingat di sini adalah bukit terlarang.“Sial! Dia menjebak kita masuk ke sarang siluman,” teriak Boyojogo.“Sarang siluman?” tanya Rakean yang juga terkejut.“Benar, Ki Elang Sakti selain pendekar tanpa tanding, dia juga merupakan pawang hewan siluman. Orang tua itu mengumpulkan banyak siluman hanya untuk di pelihara,” tutur Boyojogo sembari mundur menjauh.“Hahaha, bodoh! Seharusnya kalian menyadari lebih awal,” Arga tertawa terbahak-bahak sementara mulutnya masih saja mengeluarkan darah.Ukhuk!“Sial! Lukaku terlalu parah,” umpat Arga kemudian.Selanjutnya dia memasang posisi bersila untuk memulihkan diri, sementara musuh mulai bertarung melawan ratusan hewan siluman yang baru saja tiba.Ayam berbulu api, singa loreng, kura-kura bertaring setinggi 5 meter

  • Sang Kusir   Bab 141 Arga Vs Petinggi Walet Darah bagian 2

    “Sial!” umpat Yamandaru yang merasakan musuh tiba-tiba berada di sana.Sring! Cruaaat! Aaaaaa!Punggung Yamandaru terkena sayatan pedang hitam meninggalkan luka terbuka yang kini mengucurkan banyak darah.Beruntung dia masih sempat menendang angin untuk menghindar, andai Yamandaru tidak bergerak, kemungkinan tubuhnya akan terbelah menjadi dua.Ketua perguruan Walet Darah itu segera turun ke daratan untuk memulihkan diri sementara Arga di hadapi oleh Kala Hitam dan Rakean.Trang! Trang! Trang!Suara pedang beradu di udara. Melawan dua orang secara bersamaan membuat Arga dengan cepat terdesak.“Gelombang kepakan sayap!” teriak Kala Hitam.Dia memanfaatkan situasi saat Arga sedang bertarung dengan rakean.Gelombang energi kuat melesat tepat mengenai tubuh Arga.Bummmm! Aaaaa!Ledakan besar terjadi melemparkan tubuh Arga sejauh 300 meter. Arga jatuh ke daratan dan berhenti setelah menghantam batuan besar membuat batu tersebut langsung hancur menjadi serpihan.Ukhuk!Arga memuntahkan darah

  • Sang Kusir   140 Taktik Cerdik

    “Kita akan pergi ke mana Arga?” tanya Mutiara Sendayu. Mutiara Sendayu tidak bisa menentukan arah dari atas langit karena ini merupakan kali pertama dia terbang.“Kita akan masuk ke wilayah perguruan Sayap Dewa, di sana ada tempat yang bagus untuk menjebak mereka,” jawab Arga.“Tunggu dulu! Dari mana kau tahu namaku?” tanya Arga kemudian.“A-a—aku menanyakan ke salah satu ketua di Sayap Dewa,” jawab Mutiara Sendayu malu-malu.“Menanyakan?” desak Arga.“Be-be—benar,” jawab Mutiara Sendayu terbata.Gadis itu tidak mungkin berterus terang bahwa dia dari awal sudah penasaran dengan sosok Arga.Bahkan saat di gedung perawatan pun Mutiara Sendayu sengaja diam-diam ke sana hanya untuk melihat keadaan Arga.Namun siapa sangka, kehadirannya di gedung perawatan malah mengulang kejadian yang sama.Lagi-lagi bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir Arga, membuat Mutiara Sendayu semakin bertanya-tanya mengapa ini bisa ternjadi?Dia tahu semua yang terjadi dengannya adalah sebuah kebetulan, tetapi

  • Sang Kusir   Bab 139 Arga Vs Petinggi Walet Darah

    “Lepaskan aku! apa yang ingin kau lakukan dasar cabul?” Mutiara Sendayu terus meronta ingin terlepas dari pegangan Arga.“Dasar bodoh! Berhenti memanggilku cabul, semua yang terjadi di antara kita adalah ketidak sengajaan,” ketus Arga.Dia masih melesat menyusuri langit menghindari kejaran Kala Hitam dan kelompoknya.“Cih! Aku tidak percaya, buktinya ini kau sedang merangkul tubuhku,” Mutiara Sendayu masih meronta.“Sial! Menyesal aku membebaskan totokannya,” umpat Arga di dalam hati.Karena Mutiara Sendayu tidak bisa diam, Arga-pun berhenti, “Lihatlah! Jika kau kulepaskan, maka mereka akan kembali menangkapmu. Apa kau ingin berakhir dijadikan tumbal?” ungkap Arga sembari menunjuk kelompok Kala Hitam dengan pedangnya, membuat Mutiara Sendayu sontak membelalakan mata.Sedari tadi gadis itu baru sadar bahwa Arga telah menolongnya, sehingga setelah mengetahui itu, Mutiara Sendayu langsung tertunduk malu.“Ma-ma—maaf,” ungkap Mutiara Sendayu lemas.“Sekarang sudah telambat, mereka telah k

  • Sang Kusir   138 Misi Penyelamatan

    Dengan pedang hitam di pundaknya, Arga melesat menyusuri langit mengejar kelompok pendekar Walet Darah yang membawa Mutiara Sendayu.Beruntung Arga pernah bersentuhan bibir dengan gadis itu sehingga meski sudah jauh, Arga masih dapat merasakan hawa energinya, di mana saat itu, secara tidak sengaja mereka telah bertukar energi.“Ternyata mereka pergi ke arah barat,” gumam Arga.Langit senja mulai gelap berganti malam, tetapi semua itu bukan halangan bagi Arga karena matanya mampu menembus kegelapan.Arga memacu tubuhnya agar dapat melesat lebih cepat, dia bahkan menggabungkan teknik lompatan langit dengan ilmu terbang yang pernah dirinya pelajari dari Resi Satya Raga.Belajar sembari menyeimbangkan tubuh dalam kecepatan tinggi sungguh sulit membuat Arga beberapa kali mengalami kegagalan.Tetapi karena kegigihannya, Arga akhirnya mampu menggabungkan dua jurus tersebut sehingga kecepatan terbang Arga bertambah beberapa kali lipat.Wuuussss!Arga melesat bagai cahaya menembus pekatnya mal

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status