Se connecterGagalnya serangan Onagi membuat pertarungan jarak dekat tidak terelakan.
Jurus pedang Ruyuk Samudra terus berbenturan dengan jurus pedang Melati Sakti, menciptakan banyak percikan api yang menerangi panggung arena.
Raja Balwa dan permaisuri sangat terpukau dengan kemampuan berpedang Melasita, gerakannya sangat halus tetapi mengandung tenaga yang begitu kuat.
“Tebasan pemecah karang!” seru Onagi.
Selarik cahaya kuning melesat hampir saja menghantam tubuh Melasita.
Tetapi gadis itu bergerak cepat menghadang serangan tersebut, “Gugur bunga!” teriak Melasita.
Dia berputar mengayunkan pedangnya ke arah depan, menciptakan energi berwarna ungu yang berbentuk kelopak bunga.
Kedua serangan mereka kembali bertemu, kali ini menciptakan ledakan besar yang menghancurkan sebagian kayu pembatas arena.
Melasita terpundur sejauh 10 langkah, sementara Onagi melayang sejauh 20 langkah.
“Itu adalah pembalasan bagi pendekar licik seperti kalian,” umpat Melasita menyeringai puas.
Tetapi setelah itu, Melasita terjatuh memuntahkan darah segar.
“Kakak, mengapa kau memaksakan memakai jurus yang belum sempurna?” gumam Ariani di bawah arena.
Dia sangat khawatir dengan kondisi Melasita karena selain membahayakan lawan, jurus yang belum sempurna juga akan membahayakan diri sendiri.
Melasita sangat yakin, dengan jurus itu Onagi pasti akan kalah.
Dia sangat geram sekali terhadap perguruan Ruyuk Samudra, sehingga kekalahan Onagi baginya merupakan sarana balas dendam.
Tetapi dugaannya salah, tepat setelah melancarkan serangan, Onagi segera melapisi tubuhnya dengan energi sebagai bentuk pertahanan.
Dimana sesungguhnya, dia sengaja memancing Melasita menggunakan jurus tersebut karena tahu, dipertarungan sebelumnya energi gadis itu tidak setabil.
Dan benar saja, setelah mengeluarkan jurus ‘Gugur Bunga’. Melasita mengalami luka dalam yang serius, sementara Onagi hanya mengalami sedikit lecet saja pada dadanya.
“Hahaha, bodoh! Sekarang siapa yang pecundang gadis sialan?” seru Onagi tertawa lantang.
“Ka-ka—kau?” Melasita menggigit bawah bibirnya tidak percaya.
“Hahaha, benar. Aku hanya menipumu,” Onagi kembali tertawa.
Merasa dipecundangi lawan, Melasita mengenggam kuat gagang pedangnya.
Dia tidak lagi peduli dengan kondisinya, asal bisa mengalahkan Onagi, mati tidak masalah bagi Melasita.
Dengan sisa tenaga serta rasa nyeri dari efek jurus gugur bunga, gadis itu kembali berdiri melayangkan tatapan membunuh ke arah Onagi.
Membuat Ariani tidak bisa tinggal diam, “Kakak, menyerahlah! pertarunganmu sudah berakhir,” teriak Ariani tidak ingin Melasita terbunuh.
Patih Taruma Jati juga setuju dengan gadis itu, dia merasa Melasita sudah tidak bisa bertarung lagi.
“Tidak adik, ini pertarunganku, kau tidak perlu ikut campur,” ucap Melasita tidak peduli.
Mendengar itu, Ariani hampir saja melompat ke atas arena berniat membawa Melasita turun, tetapi langkahnya segera dihentikan oleh Jantaka.
“Jangan bodoh! Kau akan dikeluarkan dari sayembara jika naik ke sana sebelum pertarungan berakhir,” kata Jantaka.
“Tapi …!” Ariani melirik ke atas arena.
“Kau tidak bisa mengahalangi kehendak seseorang, dia sudah menyatakan diri tidak ingin diganggu, jadi bagaimanapun itu adalah pilihannya,” ujar Jantaka berdiri di depan Ariani.
Mendengar itu Ariani tidak bisa berbuat banyak, dengan perasaan cemas, dia kembali duduk di bangku peserta.
Sementara Jantaka menarik nafas lega, entah mengapa pemuda itu sepertinya sangat peduli sekali dengan Ariani.
“Terima kasih, Jantaka,” ucap Melasita pelan.
Peraturan tetaplah peraturan, selama Melasita tidak menyatakan menyerah, tidak ada yang bisa menghalanginya bertarung, termasuk patih Taruma Jati sebagai pembawa acara.
“Gadis keras kepala, kau akan membahayakan dirimu sendiri,” gumam patih Taruma Jati, tetapi tidak ada yang mendengarnya karena dia berbicara di dalam hati.
“Cih! Dasar sok pahlawan,” Waruna berdecak kesal kepada Jantaka, membuat Jantaka langsung melayangkan tatapan membunuh, namun Waruna terlihat tidak peduli.
Di atas arena, pertarungan kembali berlangsung, Onagi melesat melakukan banyak serangan.
Tendangan dan sabetan pedang datang bertubi-tubi berniat menumbangkan Melasita.
Namun sampai sekarang gadis itu masih tetap bertahan. Melasita menggunakan sisa tenaganya untuk menangkis dan menghindar.
Dia berusaha tidak terkena serangan menanti waktu yang tepat untuk menumbangkan Onagi.
Tetapi semakin lama, kondisi tubuhnya malah semakin melemah, membuat Melasita terus terpojok hingga ke pinggir arena.
“Hahaha, sampai kapan kau akan bertahan gadis sialan?” seru Onagi seraya mundur mengambil jarak.
Dia sengaja tidak langsung mengalahkan Melasita karena ingin melihatnya menderita terlebih dahulu.
Bahkan Onagi telah merencanakan akan membunuh gadis itu jika dia sudah puas.
“Angin tenggara, pukulan pedang samudra!” teriak Onagi.
Dari tebasan pedangnya seketika tercipta angin berbentuk kepalan tangan yang langsung menghantam tubuh Melasita secara telak.
Membuat gadis itu terlempar jauh kembali ke tengah arena
Uhuk! Uhuk!
Melasita kembali memuntahkan darah, dia tidak menyangka lawan akan menyerangnya dari belakang.
“Hahaha, tentu saja aku tidak akan membiarkanmu jatuh dari arena,” Onagi tertawa licik.
Dia tidak menyerang Melasita keluar arena karena jika gadis itu terjatuh, maka pertarungannya akan berakhir.
“Cuh! Tanpa kau kasihani pun aku tidak akan mundur, jahanam,” Melasita meludahkan darah dari mulutnya.
Lututnya bergetar mencoba kembali berdiri, Melasita harus menggunakan pedang sebagai tumpuan agar dia bisa melakukannya.
Dan dengan susah payah, diapun kembali berdiri.
“Sepertinya tubuhku tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi, baiklah! Aku akan mengakhirinya,” gumam Melasita di dalam hati, dia menatap dingin penuh dendam ke arah Onagi.
Uhuk!
Melasita kembali memuntahkan darah segar, tetapi dia masih tetap berdiri, “Jika tidak bisa mengalahkanmu, maka akan kubawa kau mati bersamaku,” katanya kemudian.
Selanjutnya dia mulai membentuk kuda-kuda sempurna akan kembali melakukan jurus gugur bunga.
“Hahaha, mimpimu terlalu jauh gadis gila,” Onagi tertawa mendengarnya, dia pun segera membentuk kuda-kuda.
“Gugur bunga!” teriak Melasita sembari mengayunkan pedang.
“Gelombang samudra, tebasan pelenyap jasad!” seru Onagi mengeluarkan jurus terkuatnya.
Dua serangan tingkat tinggi melesat saling bertemu, cahaya kuning dari jurus Onagi terus mendorong cahaya ungu milik Melasita.
Sedikit demi sedikit jurus gugur bunga mulai terkikis membuat cahaya energi kuning Onagi semakin mendekat.
“Sudah hentikan!” seru patih Taruma Jati yang tidak ingin ada korban dalam pertarungan.
Tetapi serangan energi dari jurus gelombang samudra tidak bisa berhenti, sekali diluncurkan, serangan itu akan tetap melaju sampai sasaran lenyap menjadi debu.
Ariani sudah berteriak sedari tadi meminta kakak seperguruannya menyerah, namun Melasita tidak mendengarnya.
Tubuh Melasita melayang jauh kebelakang tidak sadarkan diri, sementara pedangnya terlempar ke arah berbeda, bersamaan dengan itu, jurus gugur bungapun sirna menyisakan cahaya energi kuning yang terus melesat menuju tubuh Melasita.
Mendapati itu, patih Taruma Jati segera melompat berniat menahan cahaya energi tersebut, tetapi jurus gelombang samudra terlalu cepat untuk bisa dia tahan.
Para penonton terhenyak melebarkan mata menatap arena, mereka tidak percaya pemuda berambut keras itu akan tega membunuh lawannya.
Jantaka di bawah juga melesat ke atas arena bermaksud menyelamatkan Melasita, tetapi sudah terlambat dimana cahaya kuning dari jurus gelombang samudra sudah hampir mencapai tubuh gadis itu.
Tidak hanya penduduk, Raja Balwa dan ratu juga sama paniknya, mereka tidak ingin ada pendekar berbakat di negerinya yang meninggal karena sayembara.
Begitupun dengan putri Anandya, dia memejamkan mata tidak tega melihatnya.
Sementara ketiga putri lain terlihat bahagia, mereka menyeringai puas menatap Onagi dengan penuh kekaguman.
Di saat semua berpikir Melasita akan tewas, pedang milik gadis itu tiba-tiba bergerak sendiri melesat dengan kecepatan tinggi, menahan serangan gelombang samudra dengan badannya.
Trang! BUUUM! Wussss! Ledakan dahsyat terjadi di atas arena, meluluh lantahkan apa pun yang di lewatinya.
Patih Taruma Jati dan Jantaka terlempar jauh ke bawah arena, berikut Onagi sang pemilik jurus, membuat dia mau tidak mau harus gugur dari sayembara.
Setengah panggung arena hancur karena ledakan, begitu juga dengan pedang Melasita yang kini telah berubah menjadi debu.
Tetapi secara ajaib, tubuh gadis itu selamat, bahkan tidak sedikitpun gelombang ledakan mengenai dirinya.
“Syukurlah dia selamat,” gumam seorang pemuda yang jauh berada di atas bukit.
“Oak, Oak.”
**
Gagalnya membawa Mutiara Sendayu membuat sesepuh perguruan Walet Darah sangat marah.Meski mereka mendapatkan pusaka selendang sutra, tetapi tanpa darah gadis berambut merah hanya kesia-siaan di mana pusaka tersebut tidak dapat di gunakan.Alih-alih mendapatkan pujian atau hadiah dari sesepuh Walet Darah, Kala Hitam bersama Boyojogo dan teman-temannya malah mendapatkan hukuman berat.Mereka dikurung dengan tubuh terikat rantai berduri membuat darah mereka terus menetes masuk ke dalam wajan batu berukir aksara segel aneh.Mereka tidak dapat menolak atau meronta karena ini adalah hukum Walet Darah.Siapa pun yang berhasil melalui hukuman tersebut selama 40 hari, maka mereka akan dibebaskan.Sementara darah mereka akan dipersembahkan kepada ratu sihir kegelapan sebagai tumbal kegagalan tugas.Bukan hanya gagal, tetapi Kala Hitam juga telah menghilangkan 5000 prajurit kuat perguruan mereka membuat perguruan Walet Darah mengalami kerugian besar.“Penjaga, tolong bebaskan kami. Bukankah kam
“Hewan siluman? Sial!” Kala Hitam kembali mundur menjauh.Dia tidak percaya mengapa bisa ada hewan siluman di perguruan sebesar Sayap Dewa.Tetapi pandangan Boyojogo dan ke 4 ketua pengkhianat tiba-tiba langsung berubah buruk karena ingat di sini adalah bukit terlarang.“Sial! Dia menjebak kita masuk ke sarang siluman,” teriak Boyojogo.“Sarang siluman?” tanya Rakean yang juga terkejut.“Benar, Ki Elang Sakti selain pendekar tanpa tanding, dia juga merupakan pawang hewan siluman. Orang tua itu mengumpulkan banyak siluman hanya untuk di pelihara,” tutur Boyojogo sembari mundur menjauh.“Hahaha, bodoh! Seharusnya kalian menyadari lebih awal,” Arga tertawa terbahak-bahak sementara mulutnya masih saja mengeluarkan darah.Ukhuk!“Sial! Lukaku terlalu parah,” umpat Arga kemudian.Selanjutnya dia memasang posisi bersila untuk memulihkan diri, sementara musuh mulai bertarung melawan ratusan hewan siluman yang baru saja tiba.Ayam berbulu api, singa loreng, kura-kura bertaring setinggi 5 meter
“Sial!” umpat Yamandaru yang merasakan musuh tiba-tiba berada di sana.Sring! Cruaaat! Aaaaaa!Punggung Yamandaru terkena sayatan pedang hitam meninggalkan luka terbuka yang kini mengucurkan banyak darah.Beruntung dia masih sempat menendang angin untuk menghindar, andai Yamandaru tidak bergerak, kemungkinan tubuhnya akan terbelah menjadi dua.Ketua perguruan Walet Darah itu segera turun ke daratan untuk memulihkan diri sementara Arga di hadapi oleh Kala Hitam dan Rakean.Trang! Trang! Trang!Suara pedang beradu di udara. Melawan dua orang secara bersamaan membuat Arga dengan cepat terdesak.“Gelombang kepakan sayap!” teriak Kala Hitam.Dia memanfaatkan situasi saat Arga sedang bertarung dengan rakean.Gelombang energi kuat melesat tepat mengenai tubuh Arga.Bummmm! Aaaaa!Ledakan besar terjadi melemparkan tubuh Arga sejauh 300 meter. Arga jatuh ke daratan dan berhenti setelah menghantam batuan besar membuat batu tersebut langsung hancur menjadi serpihan.Ukhuk!Arga memuntahkan darah
“Kita akan pergi ke mana Arga?” tanya Mutiara Sendayu. Mutiara Sendayu tidak bisa menentukan arah dari atas langit karena ini merupakan kali pertama dia terbang.“Kita akan masuk ke wilayah perguruan Sayap Dewa, di sana ada tempat yang bagus untuk menjebak mereka,” jawab Arga.“Tunggu dulu! Dari mana kau tahu namaku?” tanya Arga kemudian.“A-a—aku menanyakan ke salah satu ketua di Sayap Dewa,” jawab Mutiara Sendayu malu-malu.“Menanyakan?” desak Arga.“Be-be—benar,” jawab Mutiara Sendayu terbata.Gadis itu tidak mungkin berterus terang bahwa dia dari awal sudah penasaran dengan sosok Arga.Bahkan saat di gedung perawatan pun Mutiara Sendayu sengaja diam-diam ke sana hanya untuk melihat keadaan Arga.Namun siapa sangka, kehadirannya di gedung perawatan malah mengulang kejadian yang sama.Lagi-lagi bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir Arga, membuat Mutiara Sendayu semakin bertanya-tanya mengapa ini bisa ternjadi?Dia tahu semua yang terjadi dengannya adalah sebuah kebetulan, tetapi
“Lepaskan aku! apa yang ingin kau lakukan dasar cabul?” Mutiara Sendayu terus meronta ingin terlepas dari pegangan Arga.“Dasar bodoh! Berhenti memanggilku cabul, semua yang terjadi di antara kita adalah ketidak sengajaan,” ketus Arga.Dia masih melesat menyusuri langit menghindari kejaran Kala Hitam dan kelompoknya.“Cih! Aku tidak percaya, buktinya ini kau sedang merangkul tubuhku,” Mutiara Sendayu masih meronta.“Sial! Menyesal aku membebaskan totokannya,” umpat Arga di dalam hati.Karena Mutiara Sendayu tidak bisa diam, Arga-pun berhenti, “Lihatlah! Jika kau kulepaskan, maka mereka akan kembali menangkapmu. Apa kau ingin berakhir dijadikan tumbal?” ungkap Arga sembari menunjuk kelompok Kala Hitam dengan pedangnya, membuat Mutiara Sendayu sontak membelalakan mata.Sedari tadi gadis itu baru sadar bahwa Arga telah menolongnya, sehingga setelah mengetahui itu, Mutiara Sendayu langsung tertunduk malu.“Ma-ma—maaf,” ungkap Mutiara Sendayu lemas.“Sekarang sudah telambat, mereka telah k
Dengan pedang hitam di pundaknya, Arga melesat menyusuri langit mengejar kelompok pendekar Walet Darah yang membawa Mutiara Sendayu.Beruntung Arga pernah bersentuhan bibir dengan gadis itu sehingga meski sudah jauh, Arga masih dapat merasakan hawa energinya, di mana saat itu, secara tidak sengaja mereka telah bertukar energi.“Ternyata mereka pergi ke arah barat,” gumam Arga.Langit senja mulai gelap berganti malam, tetapi semua itu bukan halangan bagi Arga karena matanya mampu menembus kegelapan.Arga memacu tubuhnya agar dapat melesat lebih cepat, dia bahkan menggabungkan teknik lompatan langit dengan ilmu terbang yang pernah dirinya pelajari dari Resi Satya Raga.Belajar sembari menyeimbangkan tubuh dalam kecepatan tinggi sungguh sulit membuat Arga beberapa kali mengalami kegagalan.Tetapi karena kegigihannya, Arga akhirnya mampu menggabungkan dua jurus tersebut sehingga kecepatan terbang Arga bertambah beberapa kali lipat.Wuuussss!Arga melesat bagai cahaya menembus pekatnya mal







