بيت / Fantasi / Sang Kusir / Bab 14 Jurus Gelombang Samudra

مشاركة

Bab 14 Jurus Gelombang Samudra

مؤلف: Pujangga
last update تاريخ النشر: 2026-07-21 21:50:36

Gagalnya serangan Onagi membuat pertarungan jarak dekat tidak terelakan.

Jurus pedang Ruyuk Samudra terus berbenturan dengan jurus pedang Melati Sakti, menciptakan banyak percikan api yang menerangi panggung arena.

Raja Balwa dan permaisuri sangat terpukau dengan kemampuan berpedang Melasita, gerakannya sangat halus tetapi mengandung tenaga yang begitu kuat.

“Tebasan pemecah karang!” seru Onagi.

Selarik cahaya kuning melesat hampir saja menghantam tubuh Melasita.

Tetapi gadis itu bergerak cepat menghadang serangan tersebut, “Gugur bunga!” teriak Melasita.

Dia berputar mengayunkan pedangnya ke arah depan, menciptakan energi berwarna ungu yang berbentuk kelopak bunga.

Kedua serangan mereka kembali bertemu, kali ini menciptakan ledakan besar yang menghancurkan sebagian kayu pembatas arena.

Melasita terpundur sejauh 10 langkah, sementara Onagi melayang sejauh 20 langkah.

“Itu adalah pembalasan bagi pendekar licik seperti kalian,” umpat Melasita menyeringai puas.

Tetapi setelah itu, Melasita terjatuh memuntahkan darah segar.

“Kakak, mengapa kau memaksakan memakai jurus yang belum sempurna?” gumam Ariani di bawah arena.

Dia sangat khawatir dengan kondisi Melasita karena selain membahayakan lawan, jurus yang belum sempurna juga akan membahayakan diri sendiri.

Melasita sangat yakin, dengan jurus itu Onagi pasti akan kalah.

Dia sangat geram sekali terhadap perguruan Ruyuk Samudra, sehingga kekalahan Onagi baginya merupakan sarana balas dendam.

Tetapi dugaannya salah, tepat setelah melancarkan serangan, Onagi segera melapisi tubuhnya dengan energi sebagai bentuk pertahanan.

Dimana sesungguhnya, dia sengaja memancing Melasita menggunakan jurus tersebut karena tahu, dipertarungan sebelumnya energi gadis itu tidak setabil.

Dan benar saja, setelah mengeluarkan jurus ‘Gugur Bunga’. Melasita mengalami luka dalam yang serius, sementara Onagi hanya mengalami sedikit lecet saja pada dadanya.

“Hahaha, bodoh! Sekarang siapa yang pecundang gadis sialan?” seru Onagi tertawa lantang.

“Ka-ka—kau?” Melasita menggigit bawah bibirnya tidak percaya.

“Hahaha, benar. Aku hanya menipumu,” Onagi kembali tertawa.

Merasa dipecundangi lawan, Melasita mengenggam kuat gagang pedangnya.

Dia tidak lagi peduli dengan kondisinya, asal bisa mengalahkan Onagi, mati tidak masalah bagi Melasita.

Dengan sisa tenaga serta rasa nyeri dari efek jurus gugur bunga, gadis itu kembali berdiri melayangkan tatapan membunuh ke arah Onagi.

Membuat Ariani tidak bisa tinggal diam, “Kakak, menyerahlah! pertarunganmu sudah berakhir,” teriak Ariani tidak ingin Melasita terbunuh.

Patih Taruma Jati juga setuju dengan gadis itu, dia merasa Melasita sudah tidak bisa bertarung lagi.

“Tidak adik, ini pertarunganku, kau tidak perlu ikut campur,” ucap Melasita tidak peduli.

Mendengar itu, Ariani hampir saja melompat ke atas arena berniat membawa Melasita turun, tetapi langkahnya segera dihentikan oleh Jantaka.

“Jangan bodoh! Kau akan dikeluarkan dari sayembara jika naik ke sana sebelum pertarungan berakhir,” kata Jantaka.

“Tapi …!” Ariani melirik ke atas arena.

“Kau tidak bisa mengahalangi kehendak seseorang, dia sudah menyatakan diri tidak ingin diganggu, jadi bagaimanapun itu adalah pilihannya,” ujar Jantaka berdiri di depan Ariani.

Mendengar itu Ariani tidak bisa berbuat banyak, dengan perasaan cemas, dia kembali duduk di bangku peserta.

Sementara Jantaka menarik nafas lega, entah mengapa pemuda itu sepertinya sangat peduli sekali dengan Ariani.

“Terima kasih, Jantaka,” ucap Melasita pelan.

Peraturan tetaplah peraturan, selama Melasita tidak menyatakan menyerah, tidak ada yang bisa menghalanginya bertarung, termasuk patih Taruma Jati sebagai pembawa acara.

“Gadis keras kepala, kau akan membahayakan dirimu sendiri,” gumam patih Taruma Jati, tetapi tidak ada yang mendengarnya karena dia berbicara di dalam hati.

“Cih! Dasar sok pahlawan,” Waruna berdecak kesal kepada Jantaka, membuat Jantaka langsung melayangkan tatapan membunuh, namun Waruna terlihat tidak peduli.

Di atas arena, pertarungan kembali berlangsung, Onagi melesat melakukan banyak serangan.

Tendangan dan sabetan pedang datang bertubi-tubi berniat menumbangkan Melasita.

Namun sampai sekarang gadis itu masih tetap bertahan. Melasita menggunakan sisa tenaganya untuk menangkis dan menghindar.

Dia berusaha tidak terkena serangan menanti waktu yang tepat untuk menumbangkan Onagi.

Tetapi semakin lama, kondisi tubuhnya malah semakin melemah, membuat Melasita terus terpojok hingga ke pinggir arena.

“Hahaha, sampai kapan kau akan bertahan gadis sialan?” seru Onagi seraya mundur mengambil jarak.

Dia sengaja tidak langsung mengalahkan Melasita karena ingin melihatnya menderita terlebih dahulu.

Bahkan Onagi telah merencanakan akan membunuh gadis itu jika dia sudah puas.

“Angin tenggara, pukulan pedang samudra!” teriak Onagi.

Dari tebasan pedangnya seketika tercipta angin berbentuk kepalan tangan yang langsung menghantam tubuh Melasita secara telak.

Membuat gadis itu terlempar jauh kembali ke tengah arena

Uhuk! Uhuk!

Melasita kembali memuntahkan darah, dia tidak menyangka lawan akan menyerangnya dari belakang.

“Hahaha, tentu saja aku tidak akan membiarkanmu jatuh dari arena,” Onagi tertawa licik.

Dia tidak menyerang Melasita keluar arena karena jika gadis itu terjatuh, maka pertarungannya akan berakhir.

“Cuh! Tanpa kau kasihani pun aku tidak akan mundur, jahanam,” Melasita meludahkan darah dari mulutnya.

Lututnya bergetar mencoba kembali berdiri, Melasita harus menggunakan pedang sebagai tumpuan agar dia bisa melakukannya.

Dan dengan susah payah, diapun kembali berdiri.

“Sepertinya tubuhku tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi, baiklah! Aku akan mengakhirinya,” gumam Melasita di dalam hati, dia menatap dingin penuh dendam ke arah Onagi.

Uhuk!

Melasita kembali memuntahkan darah segar, tetapi dia masih tetap berdiri, “Jika tidak bisa mengalahkanmu, maka akan kubawa kau mati bersamaku,” katanya kemudian.

Selanjutnya dia mulai membentuk kuda-kuda sempurna akan kembali melakukan jurus gugur bunga.

“Hahaha, mimpimu terlalu jauh gadis gila,” Onagi tertawa mendengarnya, dia pun segera membentuk kuda-kuda.

“Gugur bunga!” teriak Melasita sembari mengayunkan pedang.

“Gelombang samudra, tebasan pelenyap jasad!” seru Onagi mengeluarkan jurus terkuatnya.

Dua serangan tingkat tinggi melesat saling bertemu, cahaya kuning dari jurus Onagi terus mendorong cahaya ungu milik Melasita.

Sedikit demi sedikit jurus gugur bunga mulai terkikis membuat cahaya energi kuning Onagi semakin mendekat.

“Sudah hentikan!” seru patih Taruma Jati yang tidak ingin ada korban dalam pertarungan.

Tetapi serangan energi dari jurus gelombang samudra tidak bisa berhenti, sekali diluncurkan, serangan itu akan tetap melaju sampai sasaran lenyap menjadi debu.

Ariani sudah berteriak sedari tadi meminta kakak seperguruannya menyerah, namun Melasita tidak mendengarnya.

Tubuh Melasita melayang jauh kebelakang tidak sadarkan diri, sementara pedangnya terlempar ke arah berbeda, bersamaan dengan itu, jurus gugur bungapun sirna menyisakan cahaya energi kuning yang terus melesat menuju tubuh Melasita.

Mendapati itu, patih Taruma Jati segera melompat berniat menahan cahaya energi tersebut, tetapi jurus gelombang samudra terlalu cepat untuk bisa dia tahan.

Para penonton terhenyak melebarkan mata menatap arena, mereka tidak percaya pemuda berambut keras itu akan tega membunuh lawannya.

Jantaka di bawah juga melesat ke atas arena bermaksud menyelamatkan Melasita, tetapi sudah terlambat dimana cahaya kuning dari jurus gelombang samudra sudah hampir mencapai tubuh gadis itu.

Tidak hanya penduduk, Raja Balwa dan ratu juga sama paniknya, mereka tidak ingin ada pendekar berbakat di negerinya yang meninggal karena sayembara.

Begitupun dengan putri Anandya, dia memejamkan mata tidak tega melihatnya.

Sementara ketiga putri lain terlihat bahagia, mereka menyeringai puas menatap Onagi dengan penuh kekaguman.

Di saat semua berpikir Melasita akan tewas, pedang milik gadis itu tiba-tiba bergerak sendiri melesat dengan kecepatan tinggi, menahan serangan gelombang samudra dengan badannya.

Trang! BUUUM! Wussss! Ledakan dahsyat terjadi di atas arena, meluluh lantahkan apa pun yang di lewatinya.

Patih Taruma Jati dan Jantaka terlempar jauh ke bawah arena, berikut Onagi sang pemilik jurus, membuat dia mau tidak mau harus gugur dari sayembara.

Setengah panggung arena hancur karena ledakan, begitu juga dengan pedang Melasita yang kini telah berubah menjadi debu.

Tetapi secara ajaib, tubuh gadis itu selamat, bahkan tidak sedikitpun gelombang ledakan mengenai dirinya.

“Syukurlah dia selamat,” gumam seorang pemuda yang jauh berada di atas bukit.

“Oak, Oak.”

**

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sang Kusir   Bab 49 Dua Orang Asing

    Selepas kembalinya Arga dari dalam alam jiwa, rombongan putri Anandya-pun melanjutkan perjalanan.Beruntung kereta kuda mereka berada di lokasi hutan bekas perkampungan Teritis sehingga tidak terkena dampak ledakan dari pertarungan Arga.Khyaaah! Khyaah!Arga dan Liwa melesat berlari di samping kereta, mereka kini sudah melalui hutan kabut dan mulai memasuki hutan pinus dikaki gunung Lawu.Setelah kejadian di kampung Teritis hatinya selalu berdebar tidak ingin jauh dari pemuda itu.Putri Anandya terus saja mencuri pandang menatap wajah Arga dari kereta, entah mengapa itu.“Arga, apa pedang kebalikan adalah senjata pusaka? Mengapa aku tidak bisa mengangkatnya, dan kenapa nama pedang itu terdengar jelek sekali?” tanya Jantaka penasaran.Kemarin, setelah Arga baru saja terbangun, perhatian Jantaka teralihkan pada sebuah benda besar yang menancap di tanah.Dia kira awalnya itu adalah batu sedang berdiri karena berwarna hitam dan berukuran besar, tetapi setelah di dekati, Jantaka terkejut

  • Sang Kusir   Bab 48 Alam Jiwa

    Matahari telah condong ke arah barat pertanda senja akan segera datang, tetapi seorang pemuda berpakaian lusuh masih terbaring di atas tanah bersalju.Di sisinya tertancap sebuah pedang sangat besar bergagang merah dengan seluruh permukaan badan pedang berwarna hitam legam.Sementara jauh dari tubuh sang pemuda, tepatnya di bawah bukit terdapat se-ekor kuda putih dan sepasang muda-mudi yang juga tengah terbaring, tetapi di tubuh mereka terdapat banyak balutan kain.“Arga! Arga! Arga …?” putri Anandya berteriak-teriak memanggil nama Arga membuat pemuda dan kuda putih di sampingnya langsung tersentak kaget terbangun.“Putri, ada apa?” Jantaka terkejut segera menghampiri putri Anandya yang kini masih terbaring, tetapi kedua tangannya terus meronta seperti sedang terjebak dalam mimpi buruk.Hihihik! Hihihik! Wueheer! Liwa meringkik.“Aisss, sepertinya dia hanya bermimpi,” Jantaka menggeleng, lalu dengan sopan dia mengguncangkan tubuh gadis itu agar terbangun.“Argaaaa ........!” putri Ana

  • Sang Kusir   Bab 47 Pedang Kebalikan

    Arga tidak habis pikir dengan semua ini, jelas-jelas yang tadi dia dekap itu adalah Julman dan Sulastri, tetapi mengapa berubah menjadi pedang?“Selama 500 tahun aku telah mencari pewaris bagi pedang ciptaanku ini, ternyata dirimulah yang paling pantas menjadi tuannya,” ungkap sang kakek berjanggut putih.“Kamu memiliki hati yang baik anak muda, sebesar apa pun energi kegelapan di dalam tubuhmu, dia tidak sebanding dengan kemuliaan hatimu, percayalah pada diri sendiri,” sambung sang kakek.“Baiklah, kuwariskan pedangku ini padamu, bawa dia mengarungi dunia persilatan untuk menebar kebaikan, aku percaya padamu,” tutup sang kakek tua.“Tu—tunggu dulu! Siapa namamu pak tua?” sergah Arga.“Hahaha, kau bisa memanggilku Empu Harsa sang raja pencipta pedang,” kakek tua tertawa terbahak-bahak.Empu Harsa sangat senang karena penantiannya selama ini telah membuahkan hasil.Setelah itu, sosoknya seketika lenyap menjadi butiran cahaya.Tidak ada yang bisa mendengar percakapan antara Arga dan Kak

  • Sang Kusir   Bab 46 Sosok Kakek Berjubah Merah

    “Hahaha, mampus kalian berengsek!” pemimpin pendekar berbaju hitam tertawa.Arga dan Jantaka sama-sama memuntahkan darah merah, tubuh keduanya terbaring lemas di atas tanah.Putri Anandya akan berlari menghampiri tubuh Arga, tetapi salah satu pendekar berbaju hitam menangkap dengan cepat.Begitu juga dengan Sulastri dan Julman, ketiganya meronta berusaha melepaskan diri.“Lepaskan! Kalian akan menyesal menangkapku,” teriak putri Anandya.“Hahaha, tentu saja kami akan menyesal. Menyesal tidak sempat menikmatimu, hahaha,” pria yang menangkapnya tertawa.“Arga!” Tarik putri Anandya.“Kakak Arga!” Julman juga ikut berteriak.“Kakak!” Sulastri terus meronta.Ke-tiganya saat ini menangis meratapi nasib, tanpa Arga dan Jantaka, kematian mereka hanya tinggal menunggu waktu.Kesadaran Arga mulai samar akan menghilang, sementara Jantaka sudah sedari tadi tidak sadarkan diri.Kini yang masih berjuang tinggal Liwa seorang, kuda putih itu terus melesat menyerang para pendekar berbaju hitam menggun

  • Sang Kusir   Bab 45 Serangan tak terduga

    “Dia tewas terkena anak panah beracun,” gumam Arga lirih di dalam hati.Setelah memastikan kondisi perempuan tersebut, Arga kemudian kembali menghampiri Julman dan Sulastri.“Ibu kalian benar-benar sedang sakit, sebaiknya ayo kita keluar, biarkan dia beristirahat dengan tenang,” ungkap Arga.Arga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena tidak tega melihat kondisi Julman dan Sulastri masih sangat kecil.“Apakah ibu akan sembuh kak? Benarkan, kak?” Sulastri bertanya dengan semangat.Mendapati itu Arga segera memalingkan wajah karena setetes air matanya terjatuh tidak mampu dibendung lagi.“Ibu Sulastri pasti akan sehat,” jawab Arga lirih.“Hore!” sang gadis kecil kembali melompat riang.Begitu juga dengan Julman, mereka berpelukan melompat-lompat kegirangan.Arga kemudian membawa mereka keluar kamar.“Bagaimana?” tanya putri Anandya.Arga tidak bisa menjawab dengan kata-kata, dia menggeleng dengan air mata menggenang menunjukkan kesedihan.Jantaka langsung menunduk mengerti apa yang

  • Sang Kusir   Bab 44 Kenyataan Memilukan

    “Itu kediamanku, kak Arga, aku ingin memperkenalkan kakak kepada ibu, mohon mampirlah,” pinta Julman.“Maaf adik kecil, kakak-kakak ini sedang dalam perjalanan menjalankan misi, jadi kami tidak bisa mampir,” ungkap putri Anandya menjawab pertanyaan Julman.Dia mengatakan itu karena dalam upacara kedewasaan tidak boleh singgah ke sembarang tempat sesuka hati, menyelesaikan upacara adalah tujuan utama.Mendengar itu Julman tentu saja sedih, padahal dia ingin mempertemukan teman satu-satunya yang telah menolong dia pada sang ibu.“Tidak apa Julman, kakak akan mampir,” potong Arga membuat Julman melompat senang.“Benarkah, benarkah?” anak kecil itu bertanya cepat.“Benar, bukankah ibumu tengah sakit?” Arga balik bertanya.“Benar kak Arga,” jawab Julman Lirih.“Baiklah, ayo pulang,” kata Arga sembari mengangkat bangkai rusa ke pundaknya.“Arga!” seru putri Anandya sedikit berbisik.“Ada apa tuan putri?” jawab Arga.“Dirimu tidak bisa berbuat seenaknya! Kita sedang dalam perjalanan menjalan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status