ホーム / Fantasi / Sang Kusir / Bab 15 Energi Terpendam

共有

Bab 15 Energi Terpendam

作者: Pujangga
last update 公開日: 2026-07-22 20:57:31

Patih Taruma Jati dan Jantaka lekas bangkit untuk segera memastikan keadaan Melasita, sementara Onagi tergeletak tidak sadarkan diri.

Semua penonton termasuk raja, permaisuri serta ke 4 putrinya masih tercengang belum bisa mepercayai akan apa yang terjadi di atas arena.

Mereka tidak dapat melihat ada pedang yang meluncur sendiri, sehingga ledakan di atas arena dianggap sebagai kegagalan dari jurus gelombang samudra.

Peserta lain juga mengira demikian, sehingga mereka mengutuk Onagi karena telah merusak fasilitas kerajaan, terlebih dia membahayakan nyawa seseorang.

“Cih, dasar memalukan! Ternyata sama saja, dia menggunakan jurus yang belum sempurna,” umpat Arakenda murid dari perguruan Singa Kumbang.

“Bah! Sudah kuduga dia hanya menggertak saja, tapi sial, arena kita hancur akibat si perusuh itu,” maki Calaka, dia seorang murid inti dari perguruan gunung Damar.

“Benar! Ternyata dia hanya menyombongkan diri saja,” Naralayan juga ikut berkomentar, dia berasal dari perguruan Pedang Badai kakak seperguruan pendekar berbaju merah yang sebelumnya di kalahkan Waruna saat pertandingan pertama.

“Siapa yang menggagalkan jurusnya? Apa di sini terdapat seorang pendekar Tanpa Tanding?” gumam Waruna.

Berbeda dengan yang lain, ternyata dia mampu melihat ada sebuah pedang yang menahan serangan Onagi, membuat pemuda itu langsung mengedarkan pandangan mencari pelaku yang menggerakkan pedang tersebut.

Tetapi sampai sekarang, Waruna belum bisa menemukannya.

“Bagaimana keadaannya?” tanya patih Taruma Jati kepada Ariani.

Ternyata saat semua orang sibuk mempertanyakan penyebab ledakan, Ariani langsung melesat menuju arena untuk memberikan pertolongan pertama pada saudarinya.

Gadis itu menyalurkan banyak tenaga dalam pada tubuh Melasita membuat kakak seperguruannya dapat terselamatkan.

“Kakak Melasita terkena luka dalam dari jurusnya sendiri, tuan patih, sebuah keberuntungan ledakan dari jurus lawan tidak mengenainya” jawab Ariani menjelaskan.

Jantaka sudah lebih dulu menyipitkan mata memandang tubuh Melasita. Dia sangat terkejut melihat keadaan gadis itu yang memang selamat dari dampak ledakan.

“Tidak mungkin! Siapa yang menyelamatkannya?” Jantaka bertanya-tanya di dalam hati.

Menyaksikan bagaimana kekuatan ledakan, Jantaka sangat yakin tubuh Melasita seharusnya hancur menjadi serpihan daging, tetapi jangankan luka robek, sedikit sayatan pun tidak bisa dia temukan.

“Ini adalah sebuah keajaiban,” gumam patih Taruma Jati, “Punggawa! Segera bawa mereka ke ruang perawatan,” serunya kemudian.

Dua orang punggawa membawa tandu ke atas arena untuk Melasita, sementara dua lagi membawa tandu menghampiri tubuh Onagi di bawah panggung arena.

Keduanya dibawa menuju ruang perawatan, sementara Ariani dan Jantaka diminta kembali bergabung dengan peserta lain.

Karena panggung arena saat ini telah hancur, patih Taruma Jati segera menghampiri raja Balwa untuk meminta pendapatnya.

“Baik baginda, hamba mengerti,” patih Taruma Jati mengangguk dan kembali undur diri.

Dalam sekejap, dia telah berdiri lagi di atas panggung arena yang saat ini tinggal separuh.

“Dikarenakan panggung arena tidak dapat digunakan lagi, maka pertarungan sayembara akan ditunda hingga besok siang, semua peserta akan kami sediakan kediaman khusus untuk beristirahat, jadi untuk semua orang, silakan membubarkan diri!” seru patih Taruma lantang.

Mendengar itu tentu saja para penonton kecewa, terlebih mereka yang berasal dari luar kota sehingga malam ini terpaksa harus mencari penginapan.

Begitu juga para mantan peserta yang telah gugur, mereka tidak bisa pulang ke perguruannya karena jarak yang begitu jauh.

“Kalian para peserta, silakan ikut kami ke Kaputren istana,” seru salah satu punggawa kerajaan, membuat Ariani, Jantaka dan peserta lain berjalan berdampingan mengikuti punggawa tersebut.

Semua orang berhamburan membubarkan diri menuju tujuannya masing-masing.

Raja Balwa dan keluarga kerajaan pulang kembali ke istana, begitu juga dengan semua prajurit jaga.

Sehingga di wilayah sayembara hanya tinggal patih Taruma Jati dan beberapa orang yang akan memperbaiki panggung arena, dilihat dari kerusakannya, sepertinya mereka harus bekerja semalaman karena panggung tersebut akan kembali digunakan esok hari.

Sementara Arga dan Liwa masih berada di atas bukit, dia bingung, kalau sayembara diundur ke hari esok, maka malam ini Arga harus mencari rumput dan membersihkan kandang.

“Oak, oak,” ungkap si kuda dekil.

“Betul Liwa, sepertinya kita harus membuat obor,” jawab Arga seraya menarik nafas berat, “Ayo kembali ke gubukku, sebentar lagi senja, kita sebaiknya bergerak cepat,” sambung Arga.

“Oak, oak,” Liwa menghentakan dua kaki depannya menyuruh Arga segera naik.

Selanjutnya mereka melesat menuju ke belakang wilayah istana tempat di mana gubuk reyot milik Arga berdiri.

Tepat ketika Liwa sedang melaju, di atas punggungnya, Arga tengah melamun memikirkan kejadian tadi yang dia sendiri pun tidak mengerti.

“Apa yang terjadi dengan tubuhku?” gumam Arga di dalam hati. Dia bingung saat tadi berada di atas bukit, dadanya tiba-tiba saja kembali terasa panas sama seperti waktu saat dia sedang sakit tempo hari.

Melihat Melasita akan tewas oleh serangan Onagi, Arga tanpa sadar telah mengeluarkan energi pengendalian logam miliknya, membuat pedang Melasita seketika bisa bergerak sendiri seperti apa kata hati Arga.

Namun pemuda itu malah tidak mengetahuinya. Dia bahkan tidak sadar bibirnya telah berucap sesuatu memberi perintah pada pedang Melasita.

Mengendalikan benda dari jarak 4 kilo meter adalah sebuah kemustahilan bahkan bagi pendekar Tanpa Tanding sekalipun.

Tetapi kekuatan Arga mampu melakukannya dengan sangat tepat, itu artinya, jauh di dalam tubuh Arga terpendam suatu energi yang maha dahsyat yang bahkan Arga sendiri sewaktu masih memiliki ingatan tidak menyadarinya.

Sementara Liwa hanya tersenyum simpul menyadari Arga sedang melamun.

Di atas bukit Liwa memang merasakan ada energi besar yang keluar dari tubuh Arga, membuat dia dengan cepat mundur menjauh, tetapi kuda dekil itu tidak menceritakannya.

Liwa malah berpura-pura tidak tahu dengan menanyakan keadaan pertarungan.

“Ah, mungkin itu hanya kebetulan saja,” gumam Arga kemudian.

Sekeras apa pun dia berpikir tentang pedang yang bisa bergerak sendiri, Arga tetap saja tidak menemukan jawaban.

Alih-alih mendapatkan jawaban, dia malah menjadi sakit kepala karenanya.

Waktu berjalan begitu cepat, tidak terasa Liwa sudah tiba di depan gubuk Arga.

“Oak, oak,” suara Liwa mengagetkan pemuda itu.

“Aish, aku lupa Liwa, baiklah, baiklah,” ujar Arga seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Setelah turun dari punggung Liwa, Arga segera masuk ke dalam gubuknya mengambil beberapa peralatan untuk keperluan membuat obor.

Tidak lama Arga membuatnya, dia hanya memotong beberapa ruas bambu kemudian menutupnya dengan kain sebagai sumbu.

“Hahaha, sudah selesai Liwa,” Arga tertawa mendapati obor ciptaannya telah rampung dibuat, tetapi tawa itu tiba-tiba kembali lenyap ketika Arga menyadari bahwa dia tidak memiliki minyak untuk menyalakan obor tersebut.

“Celaka, aku lupa bahwa obor dinyalakan menggunakan cairan minyak, bagaimana ini?” umpat Arga bertanya kepada Liwa.

“Oak, Oak,” jawab si kuda dekil, dia mengatakan, “Pergi saja ke Kaputren tengah, bukankah di sana terdapat banyak minyak di lampu taman?”

“Hahaha, kau benar Liwa, dirimu sungguh cerdas,” Arga tertawa. Dia segera mengajak Liwa pergi ke sana karena hari sudah mulai memasuki malam.

Arga tidak tahu bahwa Kaputren tengah yang biasa kosong karena dibangun khusus untuk para tamu kini sedang ditempati oleh para peserta sayembara.

**

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Sang Kusir   Bab 33 Goa Rahasia Hutan Bugang

    Arga dan Liwa masih tetap berada di hutan Bugang, dia memutuskan menginap di sana karena Liwa menemukan sebuah Goa di dasar lembah tanaman langka.Yang membuat Arga terkejut adalah, di dalam goa tersebut terdapat banyak tumpukan koin emas dan kitab ilmu kanuragan.Entah siapa yang menyimpannya di tempat itu, tetapi dari bentuk kitab dan warna kertasnya, Arga menyimpulkan bahwa barang-barang itu kemungkinan sudah berusia ribuan tahun.“Kitab segel pengekang?” Arga mengerutkan kening membaca salah satu sampul kitab.Karena penasaran, dia lantas membuka lembaran pertama di kitab itu.“Angin sejatinya tidak pernah berhenti bergerak, tetapi dengan kehendak, dia bisa menempati ruang karena pada dasarnya angin juga merupakan makhluk.”Arga menarik nafas panjang memikirkan makna dari kalimat di lembar pertama kitab yang dipegangnya.“Angin adalah makhluk?” gumam Arga.“Apa benar ini kitab ilmu kanuragan? Tapi mengapa sulit sekali dipahami,” tanya Arga kemudian pada dirinya sendiri.Karena tid

  • Sang Kusir   Bab 32 Kematian Senopati Kalhi

    Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda

  • Sang Kusir   Bab 31 Wujud Baru Liwa

    Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,

  • Sang Kusir   Bab 30 Tabib Sinto

    Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h

  • Sang Kusir   Bab 29 Liwa Sang Kuda Tangguh

    Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b

  • Sang Kusir   Bab 28 Penyelamat Tak Terguga

    Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status