Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 16 Hutan Bugang

Share

Bab 16 Hutan Bugang

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-07-23 20:35:21

Malam yang pekat memasuki musim salju tidak membiarkan cahaya rembulan hinggap ke Madyapada.

Di saat yang lain terlelap beristirahat, seorang pemuda bersama seekor kuda kumal dekil mengendap-ngendap memasuki taman Kaputren wilayah tengah.

“Oak, Oak.”

“Jangan berisik, sepertinya kita salah perhitungan, di dalam Kaputren terdapat banyak orang,” bisik Arga.

“Oak.”

Arga terkejut ketika mendapati ada suara orang yang masih belum tidur, dia tidak menyangka Kaputren tengah ternyata menjadi tempat peri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 145 Hutan Kematian

    “Ini …?” Arga terkejut mendapati tubuhnya tidak bisa berdiri.Bukan karena luka atau tulang Arga pernah patah, tetapi sama seperti di bukit terlarang, di sana terdapat suatu energi yang menarik tubuh Arga hingga terasa sangat berat.“Ini bahkan jauh lebih berat ratusan kali lipat dari energi bukit terlarang,” gumam Arga.Beberapa kali Arga mencoba bangkit, tetapi selalu saja gagal, dia kembali terjatuh dan terjatuh lagi, sampai pada akhirnya, Arga memilih pasrah berbaring di lantai ranting.“Tempat macam apa ini? Mengapa tekanan di sini begitu sangat berat,” gumam Arga.Selanjutnya dia memandangi wajah Mutiara Sendayu yang amat teramat cantik, Arga tersenyum sembari menggeleng.Pemuda itu tidak menyangka akan terjebak di tempat seperti ini bersama gadis yang pernah merepotkannya.Kemudian dia teringat janjinya kepada Karnia saat gadis itu akan meninggal, membuat Arga segera kembali bangkit.Dia tidak bisa menyerah pada alam, janji adalah janji, sesuatu yang harus Arga penuhi.“Benar!

  • Sang Kusir   Bab 144 Zufu

    Di atas sebuah pohon setinggi 300 meter terdapat sebuah gubuk kayu yang cukup besar.Dinding dan atapnya terbuat dari kulit pohon yang sangat lebar, semetara lantainya terbentuk dari tumpukan ranting kering.Arga dan Mutiara Sendayu dibaringkan secara berdampingan, sementara seluruh tubuh mereka dibalut dengan tanah liat hingga menyerupai kepongpong.Tidak jauh dari tempat mereka, seorang pria tampan bertelinga runcing tengah asyik menyantap daging tikus mentah dari hasil buruannya.Ternyata Arga dan Mutiara Sendayu dibawa ke sana untuk diobati, tetapi entah mengapa cara mereka dibawa dan diobati sungguh sangat aneh.Setelah selesai menyantap daging tikus mentah, sang pria tampan lantas menghampiri tubuh Arga dan Mutiara Sendayu.“Siapa kalian? Mengapa bisa sampai ke tempat seperti ini?” gumam pria tampan.Beberapa kali dia mengerutkan kening merasa heran memikirkan Arga dan Mutiara Sendayu.Selama ribuan tahun, tidak pernah ada satupun manusia yang bisa mencapai tempat ini.Hutan kem

  • Sang Kusir   Bab 143 Kekalahan Telak

    Gagalnya membawa Mutiara Sendayu membuat sesepuh perguruan Walet Darah sangat marah.Meski mereka mendapatkan pusaka selendang sutra, tetapi tanpa darah gadis berambut merah hanya kesia-siaan di mana pusaka tersebut tidak dapat di gunakan.Alih-alih mendapatkan pujian atau hadiah dari sesepuh Walet Darah, Kala Hitam bersama Boyojogo dan teman-temannya malah mendapatkan hukuman berat.Mereka dikurung dengan tubuh terikat rantai berduri membuat darah mereka terus menetes masuk ke dalam wajan batu berukir aksara segel aneh.Mereka tidak dapat menolak atau meronta karena ini adalah hukum Walet Darah.Siapa pun yang berhasil melalui hukuman tersebut selama 40 hari, maka mereka akan dibebaskan.Sementara darah mereka akan dipersembahkan kepada ratu sihir kegelapan sebagai tumbal kegagalan tugas.Bukan hanya gagal, tetapi Kala Hitam juga telah menghilangkan 5000 prajurit kuat perguruan mereka membuat perguruan Walet Darah mengalami kerugian besar.“Penjaga, tolong bebaskan kami. Bukankah kam

  • Sang Kusir   Bab 142 Bantuan Binatang Siluman

    “Hewan siluman? Sial!” Kala Hitam kembali mundur menjauh.Dia tidak percaya mengapa bisa ada hewan siluman di perguruan sebesar Sayap Dewa.Tetapi pandangan Boyojogo dan ke 4 ketua pengkhianat tiba-tiba langsung berubah buruk karena ingat di sini adalah bukit terlarang.“Sial! Dia menjebak kita masuk ke sarang siluman,” teriak Boyojogo.“Sarang siluman?” tanya Rakean yang juga terkejut.“Benar, Ki Elang Sakti selain pendekar tanpa tanding, dia juga merupakan pawang hewan siluman. Orang tua itu mengumpulkan banyak siluman hanya untuk di pelihara,” tutur Boyojogo sembari mundur menjauh.“Hahaha, bodoh! Seharusnya kalian menyadari lebih awal,” Arga tertawa terbahak-bahak sementara mulutnya masih saja mengeluarkan darah.Ukhuk!“Sial! Lukaku terlalu parah,” umpat Arga kemudian.Selanjutnya dia memasang posisi bersila untuk memulihkan diri, sementara musuh mulai bertarung melawan ratusan hewan siluman yang baru saja tiba.Ayam berbulu api, singa loreng, kura-kura bertaring setinggi 5 meter

  • Sang Kusir   Bab 141 Arga Vs Petinggi Walet Darah bagian 2

    “Sial!” umpat Yamandaru yang merasakan musuh tiba-tiba berada di sana.Sring! Cruaaat! Aaaaaa!Punggung Yamandaru terkena sayatan pedang hitam meninggalkan luka terbuka yang kini mengucurkan banyak darah.Beruntung dia masih sempat menendang angin untuk menghindar, andai Yamandaru tidak bergerak, kemungkinan tubuhnya akan terbelah menjadi dua.Ketua perguruan Walet Darah itu segera turun ke daratan untuk memulihkan diri sementara Arga di hadapi oleh Kala Hitam dan Rakean.Trang! Trang! Trang!Suara pedang beradu di udara. Melawan dua orang secara bersamaan membuat Arga dengan cepat terdesak.“Gelombang kepakan sayap!” teriak Kala Hitam.Dia memanfaatkan situasi saat Arga sedang bertarung dengan rakean.Gelombang energi kuat melesat tepat mengenai tubuh Arga.Bummmm! Aaaaa!Ledakan besar terjadi melemparkan tubuh Arga sejauh 300 meter. Arga jatuh ke daratan dan berhenti setelah menghantam batuan besar membuat batu tersebut langsung hancur menjadi serpihan.Ukhuk!Arga memuntahkan darah

  • Sang Kusir   Bab 140 Taktik Cerdik

    “Kita akan pergi ke mana Arga?” tanya Mutiara Sendayu. Mutiara Sendayu tidak bisa menentukan arah dari atas langit karena ini merupakan kali pertama dia terbang.“Kita akan masuk ke wilayah perguruan Sayap Dewa, di sana ada tempat yang bagus untuk menjebak mereka,” jawab Arga.“Tunggu dulu! Dari mana kau tahu namaku?” tanya Arga kemudian.“A-a—aku menanyakan ke salah satu ketua di Sayap Dewa,” jawab Mutiara Sendayu malu-malu.“Menanyakan?” desak Arga.“Be-be—benar,” jawab Mutiara Sendayu terbata.Gadis itu tidak mungkin berterus terang bahwa dia dari awal sudah penasaran dengan sosok Arga.Bahkan saat di gedung perawatan pun Mutiara Sendayu sengaja diam-diam ke sana hanya untuk melihat keadaan Arga.Namun siapa sangka, kehadirannya di gedung perawatan malah mengulang kejadian yang sama.Lagi-lagi bibirnya kembali bersentuhan dengan bibir Arga, membuat Mutiara Sendayu semakin bertanya-tanya mengapa ini bisa ternjadi?Dia tahu semua yang terjadi dengannya adalah sebuah kebetulan, tetapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status