INICIAR SESIÓNMalam yang pekat memasuki musim salju tidak membiarkan cahaya rembulan hinggap ke Madyapada.
Di saat yang lain terlelap beristirahat, seorang pemuda bersama seekor kuda kumal dekil mengendap-ngendap memasuki taman Kaputren wilayah tengah.
“Oak, Oak.”
“Jangan berisik, sepertinya kita salah perhitungan, di dalam Kaputren terdapat banyak orang,” bisik Arga.
“Oak.”
Arga terkejut ketika mendapati ada suara orang yang masih belum tidur, dia tidak menyangka Kaputren tengah ternyata menjadi tempat peristirahatan para peserta sayembara.
Pantas saja mereka belum tidur karena para pendekar memang tidak terlalu membutuhkan tidur untuk beristirahat.
Beruntung Arga memiliki telinga yang sensitif sehingga dia dapat mendengar suara dari kejauhan.
Andai waktu awal Arga lengah, kemungkinan dia bisa tertangkap basah akan mencuri minyak di lampu taman.
Bisa saja Arga meminta minyak ke gudang militer, tetapi dia tidak yakin akan diberikan mengingat statusnya yang hanya pegawai rendahan.
Mau beli ke kota raja Arga tidak memiliki uang karena selama bekerja dia tidak pernah diberi upah.
Membuatnya terpaksa harus mencuri karena untuk kepentingan kerajaan juga.
“Kau keterlaluan Liwa, membawaku pada kompleks perumahan pendekar sama saja masuk ke kandang macan,” umpat Arga berbisik.
“Oak,” Liwa meminta maaf karena dia sendiri pun tidak mengetahuinya.
“Sudahlah! Kita harus bergerak cepat, mendapatkan minyak untuk 3 obor sepertinya sudah lebih dari cukup untuk kita bisa berangkat menuju hutan Bugang,” bisik Arga.
“Oak, Oak,” ujar Liwa.
Beberapa lampu taman sudah mulai redup satu-persatu, membuat beberapa pendekar merasa curiga dengan keadaan itu.
“Apa kau melihatnya?” Arakenda bertanya kepada Masudev, mereka mendiami satu bangunan yang sama karena sama-sama berasal dari perguruan Singa Kumbang.
“Tentu saja aku melihatnya, tapi bukankah sudah biasa ada lampu yang redup? Barangkali itu prajurit jaga yang sedang mengganti minyak,” ujar Masudev menanggapi.
“Aku pikir juga begitu. Sudahlah, kita lanjutkan bermeditasi,” Arakenda tidak berpikir lebih jauh karena Masudev pun tidak curiga.
Tetapi beda lagi dengan Calaka dan Kamal, kedua murid perguruan Gunung Damar tersebut selalu berhati-hati pada lingkungan sekitarnya, membuat kedua-nya segera melesat untuk memastikan keadaan.
Beruntung saat mereka tiba, Arga telah selesai sehingga dirinya bersama Liwa bisa langsung bersembunyi.
“Sudah kuduga, ternyata benar ada yang tidak beres dengan lampu-lampu taman ini,” ungkap Calaka mengerutkan kening.
“Lihatlah, sepertinya itu tapak bekas kaki kuda?” tunjuk Kamal.
“Kau benar! Tapi kuda macam apa yang tapaknya kecil seperti ini?” Calaka menggaruk kepalanya.
“Aku juga tidak tahu, mungkin saja keledai,” ujar Kamal.
“Tidak mungkin, perasaan di kerajaan Bunisora tidak ada yang memiliki keledai, ini pasti ada yang tidak beres, cepat kita cari,” ungkap Calaka.
Baru saja mereka akan mengikuti tapak kaki Liwa, seorang pemuda tampan dan gadis cantik datang menghampiri.
Mereka tiada lain adalah Ariani dan Jantaka, kedua muda-mudi ini baru saja selesai berbincang saat lampu taman mulai redup.
Curiga akan keadaan taman, Jantaka pun langsung mengajak Ariani untuk memeriksa.
“Kamal, Calaka? Apa yang kau lakukan di sini? Dan mengapa lampu-lampu taman itu mati?” tanya Jantaka.
“Kalian? Entahlah, kami juga sedang memastikan,” jawab Kamal merentangkan bahunya.
“Tapi kami menemukan tapak kuda yang mencurigakan, lihatlah!” ungkap Calaka menjelaskan.
“Apa yang mencurigakan? Tapak kuda memang seperti itu bentuknya,” tanggap Jantaka cepat.
“Kau lihatlah Jantaka? Kuda macam apa yang memiliki ukuran tapak sekecil itu,” sergah Calaka, membuat pemuda tampan dari perguruan Sayap Dewa tersebut menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Benar juga, aku memang kurang mengerti tentang kuda, tapi memang tidak ada tapak kuda sekecil ini,” gumam Jantaka.
“Itu maksudku, ayo sebaiknya kita periksa lebih jauh, aku khawatir ada yang ingin bermaksud jahat kepada semua peserta,” ajak Kamal.
“Itu tidak perlu teman-teman! Bukankah ini wilayah dalam kerajaan? Tidak mungkin ada penjahat yang berhasil masuk kemari, jika tidak prajurit jaga, mungkin tapak itu bekas punggawa yang lewat, sedangkan lampu taman ini kemungkinan para abdi dalem lupa mengisi ulang minyaknya,” Ariani ikut berbicara.
Mendengar itu, ketiga pemuda di sana langsung berbalik menyapukan pandangan ke arah Ariani.
“Kuda apa yang memiliki kaki sekecil ini?” Calaka masih tetap ingin memastikan.
“Bisa saja itu adalah anak kuda yang akan dipindah tempatkan, bukankah ini wilayah istana? Pastinya di istana akan banyak kuda bukan?” jelas Ariani.
“Ariani benar, mungkin kita hanya terlalu parno saja dalam menilai,” kata Jantaka meyakinkan.
“Mmm, aku sebetulnya tidak ingin percaya. Tetapi sudahlah, tidak mungkin juga pihak kerajaan ingin mencelakai kita,” ungkap Kamal.
“Jadi …?” Calaka menatap dalam kepada Kamal.
“Jadi apa? Ayo kita kembali ke kediaman,” ujar Kamal.
“Aiss! Baiklah,” ucap Calaka lemas.
Ke 4 pendekar itu pun memutuskan bubar memasuki kediamannya masing-masing.
“Hampir saja, jantungku copot karena berada di sini Liwa,” Arga mengelus dada di balik semak-semak.
“Oak,” ujar Liwa merasakan hal yang sama.
Keduanya begitu ketakutan tidak ingin tertangkap oleh para pendekar itu, sehingga tubuh Arga dan Liwa basah bermandikan keringat dingin.
Dengan jantung masih berdebar, Arga dan Liwa lekas melesat menuju kandang kuda untuk mengambil gerobak rumput, selanjutnya mereka segera pergi ke arah hutan Bugang.
Arga memiliki jalan sendiri keluar dari gerbang kerajaan, sehingga mudah baginya keluar masuk tanpa diketahui.
Dengan dua obor diikat pada tangan gerobak, Liwa dapat melihat jalanan dengan jelas, dia melesat membelah keheningan malam menerobos kelebatan hutan Bugang.
Ini adalah kali pertama Arga memasuki hutan Bugang di malam hari, membuat bulu kuduknya merinding merasakan hawa siluman yang sangat pekat.
Tetapi aneh, semakin dalam Arga memasuki wilayah hutan, hawa siluman di sana perlahan mulai berubah menjadi aura menenangkan. Aura inilah yang membuat Arga selalu betah di hutan Bugang di mana dirinya selalu merasa damai dan nyaman.
Arga tidak tahu bahwa 2 kilo meter sebelum dia memasuki hutan, semua siluman di sana sudah lari tunggang-langgang tidak ingin bertemu dengan-nya.
“Ternyata tetap saja, saat malam pun hutan ini masih hangat seperti di siang hari,” ungkap Arga.
“Oak, oak,” Liwa setuju, dia mempercepat laju gerobak membuat Arga serasa melayang tidak menyentuh jalanan.
“Hahaha, aku selalu percaya kau memang kuda yang hebat Liwa,” puji Arga.
Mendengar itu, hidung Liwa serasa membesar sehingga dia ingin bernyanyi.
Dan suara sumbang yang tidak disukai oleh seluruh penghuni hutan pun mulai terdengar.
Alunan nada kacau menyiksa telinga bersenandung menjadi simponi tersendiri memenuhi wilayah hutan.
“Sial, suara hewan jelek itu lagi,” umpat sepasang mata tua yang selalu memperhatikan Arga.
Sementara jauh di luar sana, sepasang pemuda yang mengikuti Arga mulai kehilangan jejak Liwa tepat ketika memasuki bibir hutan.
**
Arga dan Liwa masih tetap berada di hutan Bugang, dia memutuskan menginap di sana karena Liwa menemukan sebuah Goa di dasar lembah tanaman langka.Yang membuat Arga terkejut adalah, di dalam goa tersebut terdapat banyak tumpukan koin emas dan kitab ilmu kanuragan.Entah siapa yang menyimpannya di tempat itu, tetapi dari bentuk kitab dan warna kertasnya, Arga menyimpulkan bahwa barang-barang itu kemungkinan sudah berusia ribuan tahun.“Kitab segel pengekang?” Arga mengerutkan kening membaca salah satu sampul kitab.Karena penasaran, dia lantas membuka lembaran pertama di kitab itu.“Angin sejatinya tidak pernah berhenti bergerak, tetapi dengan kehendak, dia bisa menempati ruang karena pada dasarnya angin juga merupakan makhluk.”Arga menarik nafas panjang memikirkan makna dari kalimat di lembar pertama kitab yang dipegangnya.“Angin adalah makhluk?” gumam Arga.“Apa benar ini kitab ilmu kanuragan? Tapi mengapa sulit sekali dipahami,” tanya Arga kemudian pada dirinya sendiri.Karena tid
Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda
Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,
Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h
Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b
Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b







