Inicio / Fantasi / Sang Kusir / Bab 17 Jurus Sayap Dewa

Compartir

Bab 17 Jurus Sayap Dewa

Autor: Pujangga
last update Fecha de publicación: 2026-07-23 20:35:40

“Kemana mereka? Mengapa jejaknya berakhir di sini?” gumam Ariani.

“Aku merasakan hawa buruk dari dalam hutan, sebaiknya kita tidak masuk ke sana,” ungkap Jantaka.

Ternyata saat di taman Kaputren, Ariani sudah menyadari bahwa pelaku padamnya lampu taman adalah Arga.

Dia langsung mengenali Arga ketika melihat jejak kaki yang ditinggalkan Liwa.

Ariani sengaja membuat pengalihan palsu kepada Kamal dan Calaka supaya Arga tidak mendapat masalah.

Selepas Calaka dan Kamal pergi, gadis itu mengajak Jantaka untuk mengejar jejak Arga.

Ternyata benar dugaan Ariani, Arga mengambil minyak lampu untuk pergi keluar wilayah kerajaan.

Tetapi ada yang aneh dengan kecepatan berkuda Arga, di mana gerobak rumput yang ditungganginya tidak dapat dikejar meski telah menggunakan ilmu meringankan tubuh.

“Aku sudah terlanjur datang ke sini, jika kau ingin kembali, kembalilah Jantaka, tetapi tolong jangan bilang pada siapa pun jika aku pergi meninggalkan wilayah kerajaan,” ungkap Ariani.

Dia juga merasakan hawa siluman yang begitu pekat dari dalam hutan, tetapi Ariani sangat yakin bahwa Arga masuk ke sana.

“Apa kau gila? Mana mungkin aku meninggalkanmu sendiri memasuki hutan angker seperti ini. Memang siapa yang sedang kau ikuti ini Ariani?” tanya Jantaka penasaran.

“Itu terserah padamu, aku sendiri tetap akan masuk ke sana,” jawab Ariani, “Dia adalah teman baruku, jika kita bisa mengejarnya, maka akan kukenalkan dia padamu,” tambah Ariani kemudian.

“Teman? Kau tidak pernah bercerita memiliki teman di wilayah istana, apa dia seorang pembesar atau semacamnya?” tanya Jantaka.

Mendengar itu Ariani tersenyum canggung, “Tidak, dia hanya seorang pengurus kuda,” jawab Ariani seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Jantaka tidak mengerti entah apa yang dicari gadis itu, dia kira temannya seorang Senopati atau anak dari keluarga kerajaan, tetapi jantaka tidak berniat melanjutkan perbincangan.

Rencana Jantaka sekarang adalah mengantar dan menjaga Ariani khawatir gadis itu mendapatkan masalah.

“Baiklah, siapa pun dia, mari kita kejar,” ungkap Jantaka membuat Ariani sangat senang.

“Kau memang pemuda baik Jantaka,” puji Ariani.

“Hahaha, jangan memujiku atau aku akan selalu mengikutimu,” Jantaka tertawa.

Ariani tidak membalas kata-kata itu selain tersenyum samar yang membuat Jantaka semakin penasaran.

Mereka selanjutnya melesat ke dalam hutan, mencari jejak Liwa yang hilang dibalik semak belukar.

Baru setengah jalan memasuki pinggiran hutan, sesosok burung besar tiba-tiba saja muncul menyerang mereka, membuat keduanya segera menendang angin dan mundur jauh ke belakang.

“Siluman?” seru Jantaka.

“Sial, ternyata benar, hutan ini sarang siluman,” umpat Ariani.

SRIING! Keduanya sama-sama mencabut pedang.

“Krokokokoko,” makhluk yang menyerang mereka bersuara.

“Tidak mungkin! Apa itu seekor ayam?” tanya Ariani.

“Benar, lebih tepatnya itu adalah siluman ayam jantan,” jawab Jantaka melebarkan mata.

Dia terkejut mendapati seekor ayam jantan berukuran sangat besar.

“Dia bahkan lebih besar dari 8 ekor sapi! Aku tidak yakin ini ayam,” ujar Ariani belum percaya.

“Lihatlah, dia memiliki dua sayap, paruh kecil dan jambul kulit layaknya ayam jantan lainnya,” jelas Jantaka.

Di hadapan mereka memanglah siluman ayam, memiliki tinggi sekitar 4 meter hampir menyamai tinggi pohon kelapa.

Tetapi bedanya, paruh ayam itu terlihat memiliki banyak duri seperti bergerigi, serta kedua kakinya juga dipenuhi banyak duri besar yang sepertinya sangat tajam.

“Benar dia memang seperti ayam,” ujar Ariani mulai yakin.

“Sebaiknya kita pergi dari sini, aku tidak yakin kita bisa mengalahkannya,” ungkap Jantaka khawatir.

“Apa kau gila? Jika kita saja diserang ayam sebesar ini, lantas bagaimana nasib temanku yang di dalam sana,” sergah Ariani. “Aku tidak akan pergi,  dengan cara apa pun aku akan menyelamatkan temanku,” tambahnya.

Ariani memang gadis keras kepala, sehingga Jantaka tidak memiliki pilihan lain selain tetap melindunginya.

“Awas!” seru Ariani kepada Jantaka.

“Sial, aku lengah,” umpat Jantaka.

Jantaka terkejut siluman ayam ternyata sudah melesat ke arahnya memberikan serangan.

Siluman itu melayangkan kaki penuh duri yang menderu berniat mencabik tubuh Jantaka, beruntung dia memiliki refleks tubuh yang cepat, sehingga pemuda itu masih sempat menghindar.

Jantaka menggulingkan diri ke arah samping membuat serangan kedua kaki siluman ayam hanya mengenai pohon saja.

Bruaak! Kreek! Braaaak!

Satu batang pohon berukuran besar seketika tumbang terpotong kaki sang ayam.

Jantaka dan Ariani tidak bisa tidak membelalakkan mata menyaksikannya.

Andai saja Jantaka tidak sempat menghindar, maka sudah pasti dia tewas oleh serangan tersebut.

“A-a—apa itu serangan setingkat kependekaran Angin?” Ariani terbata.

“Benar, sepertinya kekuatan siluman ini memang setingkat pendekar angin,” jawab Jantaka yang mulai berhati-hati.

Jika benar kekuatan siluman ayam itu setingkat pendekar angin, gabungan kekuatan Jantaka dan Ariani sekalipun akan sulit mengalahkannya.

“Jurus pedang tarian bunga!” seru Ariani.

Dia melesat menyerang siluman ayam dari jarak dekat.

TRANG! TRANG! Wussss! Trang!

Ariani terus mengayunkan pedang pada tubuh, kepala, dan kaki siluman ayam, namun satu goresan pun tidak mampu gadis itu tinggalkan.

“Sayap penghancur, tebasan dewa!” seru Jantaka.

Dia melompat tinggi ke atas menggunakan ilmu meringankan tubuh, kemudian mengayunkan tebasan pedang berniat membelah siluman ayam yang masih sibuk menahan serangan Ariani.

Tetapi saat pedang Jantaka menyentuh punggung lawan, dia malah terpental jauh ke belakang.

Tubuh pemuda itu melayang cepat menghantam batang pohon dengan sangat keras.

Heegh! Kreees! Brak!

Jantaka jatuh ke tanah, punggung dan dada pemuda itu terasa sangat sakit sementara di sudut bibirnya terlihat keluar sedikit darah.

“Celaka, siluman ini ternyata kebal terhadap senjata,” gumam Jantaka mulai bingung.

Aaaah! Hegh! Brak!

Ariani terhempas terkena tendangan salah satu kaki siluman ayam.

Sama seperti Jantaka, dia menghantam batang pohon dengan sangat keras.

Uhuk! Satu kali Ariani memuntahkan darah segar, sementara pakaian di tengah perutnya robek terkoyak oleh duri kaki sang ayam.

“Ariani!” teriak Jantaka khawatir, “Apa kau baik-baik saja? Ini telanlah!” Jantaka memberikan pil pemulih tubuh.

Ariani terpana melihat pil tersebut, dari sana dia menduga-duga bahwa Jantaka bukanlah pendekar sembarangan.

Seorang yang memiliki pil penyembuh adalah pendekar Elit yang memiliki banyak harta, Ariani sangat yakin, Jantaka sepertinya berasal dari kalangan atas dunia persilatan.

“Sudah telanlah, keselamatanmu adalah yang utama buatku,” ungkap Jantaka.

“Terima kasih,” ujar Ariani tersenyum senang.

“Hewan ini kebal terhadap senjata, tunggulah di sini aku akan membakarnya,” ucap Jantaka kemudian.

“Tapi?” Ariani khawatir.

“Tenang saja, aku tidak akan apa-apa,” ucap Jantaka meyakinkan.

Selanjutnya dia melompat ke depan siluman ayam yang kini tengah memandangi mereka dengan tatapan membunuh.

Sorot matanya begitu mengerikan dengan bola mata berwarna merah, menggambarkan dia adalah sosok hewan yang haus darah.

“Sayap Dewa, anugerah Betara Surya!” seru Jantaka mengeluarkan jurus tertinggi yang dia kuasai.

**

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Sang Kusir   Bab 33 Goa Rahasia Hutan Bugang

    Arga dan Liwa masih tetap berada di hutan Bugang, dia memutuskan menginap di sana karena Liwa menemukan sebuah Goa di dasar lembah tanaman langka.Yang membuat Arga terkejut adalah, di dalam goa tersebut terdapat banyak tumpukan koin emas dan kitab ilmu kanuragan.Entah siapa yang menyimpannya di tempat itu, tetapi dari bentuk kitab dan warna kertasnya, Arga menyimpulkan bahwa barang-barang itu kemungkinan sudah berusia ribuan tahun.“Kitab segel pengekang?” Arga mengerutkan kening membaca salah satu sampul kitab.Karena penasaran, dia lantas membuka lembaran pertama di kitab itu.“Angin sejatinya tidak pernah berhenti bergerak, tetapi dengan kehendak, dia bisa menempati ruang karena pada dasarnya angin juga merupakan makhluk.”Arga menarik nafas panjang memikirkan makna dari kalimat di lembar pertama kitab yang dipegangnya.“Angin adalah makhluk?” gumam Arga.“Apa benar ini kitab ilmu kanuragan? Tapi mengapa sulit sekali dipahami,” tanya Arga kemudian pada dirinya sendiri.Karena tid

  • Sang Kusir   Bab 32 Kematian Senopati Kalhi

    Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda

  • Sang Kusir   Bab 31 Wujud Baru Liwa

    Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,

  • Sang Kusir   Bab 30 Tabib Sinto

    Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h

  • Sang Kusir   Bab 29 Liwa Sang Kuda Tangguh

    Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b

  • Sang Kusir   Bab 28 Penyelamat Tak Terguga

    Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status