Masuk“Oii, bangun! Apa kau masih hidup, teman?” seru Arga pada Jantaka yang masih berada di punggung-nya.
Bersama Ariani, Arga saat ini telah tiba di atas bukit padang rumput, di sana Juga terdapat Liwa yang sedang asyik mengunyah makanannya.
Uhuk! Uhuk!
Jantaka terbatuk dua kali, dia menutup mulutnya karena takut mengenai pundak Arga.
“Turunkan dia, tuan muda, sepertinya luka Jantaka semakin parah,” pinta Ariani khawatir.
Benar saja, saat Arga membaringkan Jantaka di atas rumput, wajah pemuda itu sudah sangat pucat seperti kehilangan banyak darah.
Padahal di tubuhnya tidak terdapat luka robek, membuat Arga bingung entah luka apa yang pemuda itu derita.
“Ini …? Dia barusan ternyata muntah darah, Ariani,” ungkap Arga panik.
Tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan telapak tangan Jantaka, saat di rasa, Arga seperti menyentuh cairan kental yang terasa hangat.
Dan benar saja, ketika Arga pastikan dengan mendekatkan cahaya obor, dia melihat ada gumpalan darah di tangannya.
“Tidak usah khawatir, bagi kami para pendekar, luka adalah bagian dari kehidupan. Sekarang katakan padaku, di mana letak tanaman obat yang kau ceritakan tadi?” tanya Ariani.
“Tunggulah di sini, aku akan mengambilkannya untukmu,” ujar Arga langsung berlari.
Bukan tanpa alasan dia tidak mengatakan letak tanaman obat kepada Ariani di mana tempat itu sangat berbahaya karena dihuni oleh ribuan ular berbisa.
Arga tahu Ariani sedang terluka, tentu saja dia tidak akan membiarkan gadis itu mempertaruhkan nyawa-nya pergi ke sana.
Sementara dia sendiri tidak menjadi masalah karena sudah mengetahui seluk-beluk hutan Bugang.
“Hati-hat …! Aiiss, sudahlah. Larinya cepat sekali,” Ariani tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena Arga telah lenyap di balik bukit.
“Apa kau masih kuat berbicara Jantaka?” tanya Ariani beralih pada Jantaka.
Tetapi yang diajak berbicara tidak merespons, membuat Ariani segera meraih pergelangan tangan pemuda itu untuk memastikan.
“Lukanya benar-benar parah, ternyata bola energi siluman ayam juga mengandung racun,” gumam Ariani.
Dia terkejut ketika merasakan detak jantung Jantaka tidak selaras dengan detak nadinya, sehingga Ariani menyimpulkan bahwa pemuda itu sepertinya terkena racun.
Demi menjaga keselamatan temannya, Ariani segera mengalirkan sisa energi tenaga dalamnya pada tubuh Jantaka, membuat aliran darah Jantaka kembali normal seperti biasanya.
Tidak lama, Arga kembali dengan membawa banyak tanaman obat, dia memanen apa pun secara acak di mana dirinya tidak tahu harus memetik tanaman obat jenis apa untuk luka-luka mereka.
“Ini …!” Ariani terkejut dengan berbagai tanaman obat langka yang dibawa Arga, dia ingin menanyakannya tetapi keadaan Jantaka tidak bisa menunggu lagi, membuat gadis itu terpaksa harus menunda niatnya.
“Jika masih kurang, panggil aku kembali, aku bisa membawakannya lebih banyak untukmu,” ungkap Arga.
“Ini sudah lebih dari cukup, terima kasih tuan muda,” ujar Ariani.
Selepas mendengar itu, Arga kembali berlalu meninggalkan Ariani karena harus mencari rumput.
Tadi saat mendengar ledakan, gerobak rumput milik Arga baru terisi setengahnya, sehingga mau tidak mau pemuda itu harus kembali mencari rumput.
Melihat tuannya pergi, tanpa bersuara Liwa-pun mengikutinya dari belakang, mereka berjalan ke tepi sungai karena di sanalah lokasi rumput terbaik di hutan ini.
“Oak, Oak,” ungkap Liwa. Dia mengatakan “Mengapa Arga tidak pernah mengambilkan tanaman itu untuknya, padahal dari baunya, rumput seperti itu sepertinya sangat enak sekali.”
“Hahaha, itu adalah tanaman langka, Liwa. Mana mungkin aku membiarkanmu memakannya,” jawab Arga, setelah itu, dia mulai bekerja.
“Oak, Oak,” Liwa tetap merengek menginginkan rumput yang tadi Arga bawa.
“Baiklah, baiklah. Aku akan mengambilkannya untukmu, tapi tidak sekarang,” ungkap Arga membuat Liwa senang.
“Sekarang bernyanyilah, temani aku mengambil rumput,” pinta Arga kemudian.
“Oak, Oak,” ujar Liwa semangat.
“Oak, oak, oak, oak! Oaaaak, oak,” si kuda dekil mulai bernyanyi.
Suaranya begitu sangat sumbang, sehingga sepasang mata tua yang memperhatikan Arga segera menutup telinga-nya.
“Sial! Mohon jangan nyanyian itu lagi anak muda,” gumam sepasang mata tua.
Dia begitu kesal terhadap Liwa, namun sampai saat ini, dirinya belum bisa menampakkan diri.
“Andai tidak ada dua manusia itu, mungkin kita bisa bertemu, anak muda. Tapi …! Sudahlah, mungkin belum waktunya,” kembali sepasang mata tua bergumam.
Seperti tidak ada bosannya, dia terus memperhatikan Arga dari balik kegelapan.
Selesai mengumpulkan rumput, Arga dan Liwa segera kembali menuju bukit tempat di mana Ariani dan Jantaka berada.
Ternyata kedua-nya saat ini sedang memulihkan diri, baik Jantaka maupun Ariani, mereka sama-sama bersila melakukan meditasi mengumpulkan energi.
Mendapati itu, Arga memilih menunggu mereka dengan berbaring di atas gerobak rumput.
**
“Sial! Ini sudah pagi, kita pasti akan terlambat menuju tempat sayembara,” Jantaka langsung melompat dari sila-nya. (Sila = posisi duduk bertumpu dengan dua kaki disilangkan).
“Eh …? Ke mana semua orang?” gumam Jantaka kemudian.
Kali ini dia lebih terkejut karena selain gerobak rumput, Jantaka tidak menemukan siapa pun di tempat itu.
“Celaka! apa Ariani sengaja meninggalkanku agar kalah sayembara? Tunggu dulu …! Tapi apa tujuan-nya? tidak mungkin!” Jantaka terus berbicara pada diri sendiri.
Dia ingin marah karena merasa dicampakkan oleh Ariani dan Arga, namun pikirannya kembali menolak di mana tidak mungkin mereka tega meninggalkan Jantaka seorang diri di hutan penuh bahaya.
Pemuda itu kemudian menarik nafas panjang agar dapat menenangkan diri.
Dan benar saja, setelah beberapa saat, pikiran Jantaka mulai tenang, dia tidak lagi berpikir tentang sayembara, menang kalah dalam perlombaan sudah tidak penting baginya.
Pengalaman kejadian semalam membuat pemuda itu menjadi lebih tertarik berteman dengan Ariani dan Arga.
Di mana sosok keduanya secara tidak sengaja telah memberi warna baru pada kehidupan Jantaka.
“Hahaha, benar, bersama mereka aku bisa tertawa bebas. Baiklah! Sudah kuputuskan,” seru Jantaka tertawa lantang, “Tapi ke mana perginya mereka?” gumam Jantaka kemudian.
“Gerobak rumputnya masih di sini, berarti Arga memang masih berada di sekitar wilayah hutan ini,” Jantaka berbicara seraya menghampiri gerobak lusuh di depannya.
Dia mendapati gerobak itu sudah penuh dengan rumput pakan kuda, menandakan bahwa Arga memang telah selesai dengan pekerjaannya.
“Bukankah itu jejak kaki Ariani?” gumam Jantaka melihat jejak di pinggir sungai.
“Benar, ini milik Ariani, dan itu mungkin milik Arga. Ternyata arah mereka menuju lembah, apa Arga berniat menangkap siluman? Tapi untuk apa? Tidak mungkin dia berniat membawa hewan siluman ke wilayah kerajaan,” Jantaka masih bergulat dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
Sampai di mana sebuah suara menarik perhatian pemuda itu.
“Oii…, kami di sini!” teriak Arga.
“Dia …? Bagaimana cara dia bisa tiba di seberang sungai? Apa Arga memang seorang pendekar?” gumam Jantaka.
Dia heran karena arus sungai di hadapannya sangat deras sekali, tidak mungkin manusia biasa dapat menyeberanginya.
**
Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda
Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,
Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h
Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b
Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b
Siang yang awalnya meriah seketika berubah mencekam dalam sekejap.Aura siluman tiba-tiba muncul entah dari mana membawa kengerian yang belum pernah dirasakan sebelumnya.Tidak hanya di dalam lapang pacuan, tetapi semua penduduk yang menonton pun turut ikut merasakannya.“Kalian, bantu patih Taruma hentikan kuda itu!” seru raja Balwa panik.Tidak hanya memberi perintah, dia juga ikut turun ke lapangan pacuan untuk menyelamatkan putrinya.Sementara permaisuri Sri Nanda sudah sedari tadi menangis tidak ingin putrinya terjadi sesuatu yang buruk.“Hahaha, kali ini kau akan benar-benar mati putri kecil,” putri Ardani tertawa bahagia jauh di dalam hati.Kereta yang ditumpangi oleh Jantaka dan putri Anandya terus melaju bahkan bertambah cepat.Kali ini kecepatannya telah setara dengan ilmu meringankan tubuh pendekar awal tanding.Debu tanah seketika tercipta dari hempasan roda kereta, membumbung menghalangi pandangan.Sementara patih Taruma Jati dan 100 orang Punggawa masih berdiri di depan







