Home / Fantasi / Sang Kusir / Bab 27 Tragedi Kuda Gila

Share

Bab 27 Tragedi Kuda Gila

Author: Pujangga
last update publish date: 2026-08-02 19:28:34

Siang yang awalnya meriah seketika berubah mencekam dalam sekejap.

Aura siluman tiba-tiba muncul entah dari mana membawa kengerian yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Tidak hanya di dalam lapang pacuan, tetapi semua penduduk yang menonton pun turut ikut merasakannya.

“Kalian, bantu patih Taruma hentikan kuda itu!” seru raja Balwa panik.

Tidak hanya memberi perintah, dia juga ikut turun ke lapangan pacuan untuk menyelamatkan putrinya.

Sementara permaisuri Sri Nanda sudah sedari tadi menangis tidak ingin putrinya terjadi sesuatu yang buruk.

“Hahaha, kali ini kau akan benar-benar mati putri kecil,” putri Ardani tertawa bahagia jauh di dalam hati.

Kereta yang ditumpangi oleh Jantaka dan putri Anandya terus melaju bahkan bertambah cepat.

Kali ini kecepatannya telah setara dengan ilmu meringankan tubuh pendekar awal tanding.

Debu tanah seketika tercipta dari hempasan roda kereta, membumbung menghalangi pandangan.

Sementara patih Taruma Jati dan 100 orang Punggawa masih berdiri di depan pacuan dengan tubuh bergetar berusaha bertarung melawan tekanan energi yang menimpanya.

Melihat kereta kuda tengah semakin mendekat, patih Taruma Jati segera berseru berusaha melakukan yang terbaik.

“Celaka, kalian menghindar!” seru patih Taruma Jati kepada semua punggawa.

Di mana jika para punggawa masih tetap berada di tengah pacuan, maka mereka akan tertabrak kereta.

Sehingga bukan hanya pasukan saja yang akan menjadi korban, tetapi kereta kuda akan terbalik dan malah membunuh putri Anandya.

Patih Taruma Jati berseru menggunakan tenaga dalam agar didengar oleh semua orang.

Namun apalah daya, para punggawa bukan tidak mau menghindar, mereka juga sangat ketakutan dan tidak ingin kehilangan nyawa, tetapi tekanan dari energi siluman tidak membiarkan mereka bergerak.

“Sial, aku terlambat,” umpat patih Taruma Jati yang tidak bisa mengendalikan situasi.

Sehingga tabrakan kereta perang bersama 100 punggawa kerajaan tidak dapat terelakkan.

Melihat itu, semua penonton sontak memejamkan mata tidak tega melihat putri tercantik di kerajaan Bunisora tewas secara mengenaskan.

Termasuk permaisuri Sri Nanda, dia menjerit sejadi-jadinya memanggil nama putri Anandya.

“Ayu …! Tidak ….!” Permaisuri sembari menutup matanya.

Brak! BUMM!

Terjadi ledakan besar disertai debu tanah yang mengepul tinggi ke atas langit. Membuat patih Taruma Jati tidak bisa melihat entah apa yang terjadi di dalam sana.

Raja Balwa yang sedang berlari seketika menghentikan laju kakinya tidak mampu menerima kenyataan.

“Jantaka!” teriak Ariani menitikkan air mata.

Di mana dalam benturan keras seperti itu, jangankan orang biasa, pendekar setingkat Jantaka sekalipun pasti akan tewas karena-nya.

“Putriku!” raja Balwa berlutut menundukkan wajah, setetes air mata-nya jatuh membasahi tanah.

Semua orang sangat yakin bahwa kereta kuda pasti terbalik, sehingga semua penduduk pun ikut menundukkan wajah.

Tetapi dua tarikan nafas berikutnya, dari dalam asap debu berhamburan tubuh para punggawa jauh ke sembarang tempat.

Kondisinya begitu sangat mengenaskan di mana beberapa dari mereka ada yang telah tercabik oleh pisau kereta perang.

Tangan, kaki, punggung, serta kepala sebagian punggawa terpisah terlempar ke arah yang berbeda.

Serpihan tubuh itu berjatuhan dari udara terhampar di lapangan pacuan, beberapa bagian bahkan ada yang sampai ke tempat para penonton.

Darah merah tercecer ke mana-mana, membuat lokasi sayembara dipenuhi bau amis yang menyengat.

Sementara kereta perang yang ditumpangi Jantaka dan putri Anandya masih tetap melaju menembus kepulan debu menyusuri jalur pacuan.

“Putriku masih selamat?” gumam raja Balwa senang, dia segera kembali bangkit mengejar kereta kuda menggunakan ilmu meringankan tubuh.

Ternyata saat ledakan terjadi, Jantaka berjuang keras mengendalikan kereta agar tidak terguling.

Dia menggunakan seluruh energinya melapisi badan kereta agar tahan terhadap benturan.

Setelah itu satu tangannya menggenggam erat pergelangan tangan putri Anandya supaya tidak terjatuh, sementara tangan yang lain sekuat tenaga mengendalikan tali kekang.

Sebuah keberuntungan putri Anandya dibawa oleh Jantaka di mana dia merupakan pendekar muda yang telah mencapai tingkat kependekaran bergelar tahap 7, sedikit mendekati awal tanding.

Sehingga dalam situasi seperti ini, Jantaka masih dapat berpikir tenang dan memiliki energi yang cukup untuk mengendalikan kereta.

Andai Ariani atau Waruna yang membawa kereta tersebut, kemungkinan mereka sudah tewas dalam benturan.

Menyaksikan putri Anandya selamat, patih Taruma Jati akhirnya dapat bernafas lega, tetapi tidak berlangsung lama karena setelah punggawa, kini giliran dirinyalah yang akan tertabrak kereta.

“Sial, terpaksa aku harus menggunakan itu,” umpat patih Taruma.

“Bayangan malam, teknik memisahkan tubuh!” seru patih Taruma Jati kemudian.

Brak! Kress!

Tubuh patih Taruma Jati hancur terlindas kereta, membuat Jantaka merasa bersalah karena tidak bisa membelokkan jalu kuda.

Tetapi setelah beberapa meter melewati tubuhnya, Jantaka kembali melihat patih Taruma Jadi sedang berdiri di pinggir jalur pacuan.

“Tidak mungkin! Bagaimana bisa?” gumam Jantaka terkejut.

Kemudian dia menoleh cepat ke belakang, membuat matanya terbelalak lebar karena yang baru saja dilindasnya ternyata hanya sebatas kayu saja.

“Tuan pendekar!” seru Anandya memperingati, di mana di depan terdapat belokan pacuan.

“Sial! Aku lengah,” umpat Jantaka di dalam hati.

Dengan sekuat tenaga dia menarik tali kekang agar kuda berbelok mengikuti jalur.

Hampir saja mereka menghantam pagar pembatas alun-alun kerajaan, beruntung Jantaka masih memiliki sedikit energi sehingga kecelakaan dapat terhindari.

Kereta kuda kembali melesat pada jalurnya, tetapi setiap waktu, kecepatannya semakin bertambah bahkan sudah tidak lagi masuk akal.

Jantaka sangat yakin, satu putaran lagi dirinya dan putri Anandya pasti akan tewas karena pemuda itu sudah tidak memiliki energi untuk mengendalikan tali kekang.

“Maaf tuan putri, sepertinya kita tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi,” ungkap Jantaka lirih.

“Tidak apa tuan pendekar, terima kasih sudah berusaha menyelamatkan diriku,” ujar putri Anandya.

Air matanya mulai berjatuhan menanti maut yang tidak mungkin terelakkan.

Andai ada pendekar tanpa tanding di kerajaan Bunisora, kemungkinan Jantaka dan putri Anandya akan dapat terselamatkan, tetapi siapa? Pendekar seperti itu sangat langka sekali di dunia persilatan.

Jantaka hanya dapat pasrah menerima takdir harus tewas di lapangan sayembara.

Raja Balwa dan patih Taruma Jati kini sedang berlari mengejar kereta berniat menggapai tangan putri Anandya agar dia bisa melompat.

Tetapi sekuat apa pun mereka mengejar, kecepatan kuda yang telah di rasuki banyak roh siluman kuat, bukanlah tandingan mereka.

Ariani dan Waruna telah lebih dulu membawa kedua putri keluar dari lapangan alun-alun karena sangat berbahaya.

Keduanya tidak bisa berbuat apa-apa karena kecepatan kuda gila sudah jauh di luar batas kemampuannya.

Patih Taruma Jati bersama raja Balwa berlari berdampingan di mana tingkat kanuragan mereka sama.

Para penduduk sudah tidak lagi bisa melihat laju kereta karena kuda gila berlari bagai bayangan, begitu juga dengan patih Taruma dan raja Balwa, kecepatan lari mereka juga tidak terlihat mata.

Saat keduanya putus asa karena laju kereta bertambah semakin cepat, dari arah belakang datang suara seseorang yang menunggangi kuda entah siapa.

“Khiyaa! Khiyaa! Khiyaa! Cepat Liwa, apa hanya sampai di sini kemampuanmu?”

“Oak!” Liwa mengeraskan rahangnya, kemudian melesat melebihi kecepatan bayangan.

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Kusir   Bab 33 Goa Rahasia Hutan Bugang

    Arga dan Liwa masih tetap berada di hutan Bugang, dia memutuskan menginap di sana karena Liwa menemukan sebuah Goa di dasar lembah tanaman langka.Yang membuat Arga terkejut adalah, di dalam goa tersebut terdapat banyak tumpukan koin emas dan kitab ilmu kanuragan.Entah siapa yang menyimpannya di tempat itu, tetapi dari bentuk kitab dan warna kertasnya, Arga menyimpulkan bahwa barang-barang itu kemungkinan sudah berusia ribuan tahun.“Kitab segel pengekang?” Arga mengerutkan kening membaca salah satu sampul kitab.Karena penasaran, dia lantas membuka lembaran pertama di kitab itu.“Angin sejatinya tidak pernah berhenti bergerak, tetapi dengan kehendak, dia bisa menempati ruang karena pada dasarnya angin juga merupakan makhluk.”Arga menarik nafas panjang memikirkan makna dari kalimat di lembar pertama kitab yang dipegangnya.“Angin adalah makhluk?” gumam Arga.“Apa benar ini kitab ilmu kanuragan? Tapi mengapa sulit sekali dipahami,” tanya Arga kemudian pada dirinya sendiri.Karena tid

  • Sang Kusir   Bab 32 Kematian Senopati Kalhi

    Kerajaan Bunisora kini tengah mengadakan pesta keberangkatan ke tiga putri raja di mana esok mereka akan menempuh perjalanan panjang melakukan upacara kedewasaan.Meski gagal melaksanakan ujian ketiga karena terjadi kecelakaan, Jantaka masih terpilih sebagai kusir dari putri Anandya.Berbagai pertunjukan tarian dan jamuan makan digelar di dalam istana.Pesta itu juga dihadiri oleh semua pembesar kerajaan, para kerabat serta semua pimpinan pasukan termasuk panglima dan Senopati.Ariani, Waruna, dan Jantaka duduk dalam satu meja, meski keduanya tidak akur dengan Waruna, tetapi mereka tetap berada di sana karena titah dari raja.“Silakan nikmati pestanya, semoga ke 3 putriku berhasil dalam upacara, terlebih mereka bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan satu apa pun,” seru raja Balwa.“Keselamatan bagi semua putri, paduka,” teriak Senopati Rajo.“Keselamatan bagi semua putri paduka,” seru semua orang mengikuti.Raja Balwa tersenyum senang mendengar itu, termasuk permaisuri Sri Nanda

  • Sang Kusir   Bab 31 Wujud Baru Liwa

    Pagi hari mentari dilangit bertambah kelam, butiran es putih mulai turun menghujani daratan.“Ini …?” gumam Arga masih di dalam hutan Bugang.“Liwa! Ke mana dia?” Arga segera bangkit dari atas permukaan rumput mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.“Liwa!” teriak Arga memanggil si kuda dekil.“Celaka! Ini sudah masuk musim salju, berapa hari aku tidak sadarkan diri di hutan ini?” gumam Arga.Krrruuuk! Kruukuku! Krruukuk! Tiba-tiba terdengar bunyi suara perut.“Aduh, aduh, adu-duduh!” Arga mengerang memegangi perutnya yang lapar, “Sepertinya memang sudah lebih dari dua hari aku terbaring, aw! Sakit sekali,” keluh pemuda itu.Mendapati rasa lapar yang tidak tertahankan, Arga segera berlari menuju sungai berniat menangkap ikan untuk mengganjal rasa laparnya.Tetapi saat tiba di sana, dia melebarkan mata seraya mengumpat panjang pendek menyaksikan di atas sungai terdapat asap tipis menandakan suhu sungai tempat biasa pemuda itu mencari ikan kini telah berubah menjadi dingin,

  • Sang Kusir   Bab 30 Tabib Sinto

    Akibat kecelakaan yang menimpa putri Anandya diacara sayembara, membuat kemampuan raja Balwa yang selama ini dia sembunyikan terungkap diketahui banyak orang.Sebelumnya tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa raja Balwa memiliki kanuragan.Di mana sepanjang hidup, raja Balwa hanya terkenal sebagai pria yang senang menghabiskan waktunya membaca di perpustakaan.Termasuk permaisuri dan semua putrinya, mereka terkejut dengan kesaktian sang raja yang bisa melesat menggunakan ilmu meringankan tubuh.Tetapi keterkejutan tersebut tertutupi oleh ketegangan yang menimpa putri Anandya.Sehingga semua orang tidak terlalu memperhatikan raja Balwa.Namun tetap saja, setelah ketegangan kecelakaan berakhir, sekarang giliran raja Balwa yang diperbincangkan oleh semua orang.Terdapat 3 kelompok penonton yang menanggapi rahasia sang raja, pertama adalah mereka yang mengagumi kekuatannya, ke-dua adalah kelompok yang benci terhadap raja, terlebih ketika mengetahui sang raja adalah seorang pendekar h

  • Sang Kusir   Bab 29 Liwa Sang Kuda Tangguh

    Liwa adalah satu-satunya makhluk yang selalu menemani Arga selama ini, dia merupakan kuda cacat yang tidak bisa membesar sehingga kerajaan tidak mengakui kuda tersebut sebagai kuda istana.Dahulu dia sempat akan disembelih karena tidak bisa dipekerjakan, beruntung Arga menolongnya dengan meminta Liwa secara baik-baik kepada prabu Begawan.Dari sanalah awal persahabatan mereka, sehingga tidak satu hari pun terlewati tanpa kebersamaan.Liwa terus melaju dengan kecepatan maksimalnya, sementara Arga berusaha memanggil Jantaka agar dia menarik tali kekang kuda supaya melambat.“Aku tidak bisa lagi,” teriak Jantaka membalas.“Celaka!” umpat Arga yang melihat kereta perang Jantaka melesat semakin cepat.“Liwa!” teriak Arga.“Oak, Oak,” ungkap Liwa yang sudah tidak kuat mengejar.Situasi setiap saat bertambah semakin genting, sementara tenaga Liwa maupun Jantaka semakin lama malah semakin berkurang.Dalam kondisi seperti ini Arga dituntut harus berpikir cerdas karena jika tidak, nyawa teman b

  • Sang Kusir   Bab 28 Penyelamat Tak Terguga

    Saat terjadi sesuatu yang aneh pada kuda yang membawa kereta Jantaka dan putri Anandya, Arga sedang tidak berada di lokasi sayembara.Di mana saat bertemu dengan sang putri di tugu alun-alun, Arga mendapat informasi bahwa sedang ada yang mengincar nyawanya.Ternyata putri Anandya menemui Arga bukan hanya untuk berterima kasih, tetapi juga memberitahu pemuda itu bahwa kejadian tempo hari karena menyelamatkannya Arga menjadi target pembunuhan.Sehingga di sana putri Anandya meminta Arga supaya bersembunyi karena dirinya merasakan firasat buruk.Sebetulnya bukan hanya putri Anandya yang merasakan firasat buruk, tapi Arga juga demikian, namun dia tidak mengungkapkannya karena khawatir akan menjadi beban pikiran bagi sang putri.Tidak ingin membuat putri Anandya khawatir, Arga memutuskan untuk Kembali ke gubuknya.Tetapi karena firasat di hatinya bertambah buruk, Arga dan Liwa akhirnya kembali.Dan benar saja, ketika Arga tiba di alun-alun kerajaan, putri Anandya dan Jantaka tengah dalam b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status