หน้าหลัก / Fantasi / Sang Kusir / Bab 45 Serangan tak terduga

แชร์

Bab 45 Serangan tak terduga

ผู้เขียน: Pujangga
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-16 19:41:02

“Dia tewas terkena anak panah beracun,” gumam Arga lirih di dalam hati.

Setelah memastikan kondisi perempuan tersebut, Arga kemudian kembali menghampiri Julman dan Sulastri.

“Ibu kalian benar-benar sedang sakit, sebaiknya ayo kita keluar, biarkan dia beristirahat dengan tenang,” ungkap Arga.

Arga tidak bisa mengatakan yang sebenarnya karena tidak tega melihat kondisi Julman dan Sulastri masih sangat kecil.

“Apakah ibu akan sembuh kak? Benarkan, kak?” Sulastri bertanya dengan semangat.

Mendapati
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Sang Kusir   Bab 55 Kesepakatan Rahasia

    Ternyata sebelum berangkat menuju gunung Lawu, Arga sudah merencanakan semua ini.Tanpa sepengetahuan raja Balwa dan patih Taruma Jati, dia segera membelokkan kuda ke arah kota raja.Arga sangat yakin bahwa semua peserta Sayembara belum meninggalkan kerajaan.Terlebih teman mereka ada yang masih dirawat di gedung perawatan.Dan benar saja, ketika Arga masuk ke dalam kota, dia menemukan Mahendra dan Naralayan sedang duduk di salah satu rumah makan.“Maaf aku mengganggu kalian, tetapi aku ingin menawarkan kerja sama yang menguntungkan,” sapa Arga di dalam rumah makan.“Kau …? Aku belum pernah bertemu denganmu, apa dirimu mencari mati dengan berani mengusik kegiatan makanku?” Mahendra melebarkan mata kepada Arga.“Tunggu Mahendra! Bukankah tadi dia ingin menawarkan kerja sama,” sergah Naralayan menenangkan.“Hahaha, kerja sama macam apa yang dia inginkan! Lihatlah, penampilannya saja sangat dekil seperti itu,” hardik Mahendra kepada Arga.“Tidak ada salahnya kita mendengarkannya dahulu,”

  • Sang Kusir   Bab 54 Bantuan tak tertuga

    “Putri!!!”Jantaka langsung melesat masuk ke dalam kuil, di-ikuti oleh Ariani, Waruna, Arakenda, dan Barong.Mendengar jeritan dari putri Anandya, mereka tidak lagi memikirkan aturan kuil, yang ada dalam pikiran semua orang saat ini adalah menyelamatkan putri Anandya.“Bedebah! Siapa kalian? Cepat lepaskan mereka sebelum terlambat!” teriak Jantaka kepada 20 pendekar yang sedang menyekap ke-tiga putri raja.Ternyata saat putri Anandya masuk ke dalam kuil, putri Damayanti dan Kanaya telah dalam keadaan terikat di tiang batu.Gadis itu segera berlari berniat melepaskan ikatan ke-dua kakaknya, tetapi baru saja hampir menggapai tali, sekelompok pendekar berbaju merah datang menangkap putri Anandya dan langsung mengikatnya juga pada tiang batu kuil.“Hahaha, ke-tiga gadis ini harus mati di tangan kami, jika kalian tidak ingin ikut mati! Maka segera tinggalkan tempat ini,” teriak salah satu pendekar berbaju merah.Semua pendekar itu membawa senjata berupa golok panjang yang diselipkan di pin

  • Sang Kusir   Bab 53 Kuil AGung Gunung Lawu

    Dua malam telah terlewati, rombongan Arga kini hanya berjarak setengah hari lagi mencapai kuil Agung di puncak gunung Lawu.“Jadi apa yang akan kita lakukan di sana tuan putri?” tanya Arga.“Aku harus menanam biji bunga teratai di danau kuil Agung, jika biji itu berhasil tumbuh dengan baik, maka upacara kedewasaan ini telah selesai,” jawab putri Anandya menjelaskan.“Baiklah jika begitu, ayo Jantaka, percepat perjalanan! Kita akan menanam bunga,” teriak Arga senang.“Haisss! Aku tidak mengerti mengapa dia menjadi ceria seperti itu,” gumam Jantaka.Khyaah! Khyaaah!Jantaka dua kali menghentakan tali kekang membuat dua kuda perang melesat melewati Liwa.“Oak?” tanya Liwa.“Hahaha, tidak perlu Liwa, tugas kita adalah menjaga rombongan, jadi tetap ikuti mereka,” jawab Arga.Di kuil Agung saat ini sudah terdapat putri Damayanti dan putri Kanaya.Mereka tiba lebih dulu karena tidak mendapat hambatan di perjalanan.Alih-alih mendapatkan hambatan, kedua putri raja itu malah dengan sengaja ber

  • Sang Kusir   Bab 52 Longsoran Salju

    Arga terus berlari meninggalkan Senopati Suta dan panglima Kunta dengan hati gelisah.Beberapa pohon pinus tumbang tertubruk tubuh pemuda itu yang melesat ke sembarang arah.Kedua tangan memegang kuat kepalanya yang terasa amat sakit, sementara pedang kebalikan tersilang di belakang punggung.Aaaaaaaa! BUMM! BUMM! BUMMM!Arga berteriak keras meluapkan segala emosinya, membuat sebagian wilayah hutan pinus sirna terkena ledakan.Asap hitam membumbung tinggi ke langit menarik perhatian pasukan pendekar berbaju hitam untuk datang ke sana.Tidak hanya kelompok itu saja, tetapi beberapa makhluk lelembut dan hewan siluman juga turut berdatangan.“Cepat periksa, aku yakin suara ledakan itu berasal dari rombongan putri raja, bunuh kelompok mereka,” seru Genta memberi perintah.“Baik, tuan,” seru 200 pendekar golongan hitam serentak.Ternyata benar, selama ini yang memberi perintah kepada kelompok tersebut untuk memburu putri Anandya itu adalah Genta.Pendekar sakti yang tempo hari memberikan r

  • Sang Kusir   Bab 51 Putra Mahkota

    “Aku titipkan Liwa bersama kalian!” seru Arga.“Dasar pemuda gemblung, mengapa dia suka sekali mengurusi urusan orang lain,” umpat Jantaka.“Apa ini tidak apa-apa tuan pendekar? Bagaimana dengan Arga?” tanya putri Anandya khawatir.“Tenang saja putri, aku percaya Arga akan baik-baik saja,” jawab Jantaka.“Heyy Liwa, ayo kita pergi, tuanmu nanti akan menyusul,” teriak Jantaka kepada Liwa.Selanjutnya mereka pun mulai melesat meninggalkan pinggiran sungai, sementara bangkai rusa Arga taruh di depan gerobak kereta di samping kursi kusir.Liwa tidak banyak bersuara, dia hanya mengikuti kereta dari belakang sembari mengawasi keadaan.Khyaahh! Khyaah!Jantaka dua kali menghentakan tali kekang agar kuda perang melaju lebih cepat.Kebetulan jalan yang mereka lalui sekarang sedikit menanjak membuat kereta kuda berjalan lambat.Setelah tali kekang dihentakan, kereta mulai kembali melaju dengan kecepatan tinggi.“Tuan pendekar, sepertinya kita sudah cukup jauh dari tempat semula, apa tidak sebai

  • Sang Kusir   Bab 50 Perterungan tak berimbang

    “Hahaha, aku selalu yakin dengan putra mahkota, waktu itu dia hanya belum dewasa saja,” panglima Kunta tertawa.“Bukankah ini adalah kaki gunung Lawu yang masuk pada wilayah kerajaan kecil Bunisora?” tanya Senopati Suta memastikan.“Benar, mengapa anda baru bertanya sekarang?” jawab panglima Kunta.“Hahaha, aku hanya heran saja mengapa dirimu memilih ke arah sini,” sembari Suta tertawa.“Hahaha, entahlah, aku hanya mengikuti kata hati saja,” panglima Kunta ikut tertawa.“Meski kukira pikiranmu bodoh, tapi tidak apalah, kita nikmati saja pengembaraan ini,” Senopati Suta menggeleng.“Hahaha, bukankah sudah kubilang dari dulu, nikmati saja,” panglima Kunta kembali tertawa.“Benar, hahaha. Tapi apakah mungkin putra mahkota ada di tempat seperti ini? Bukankah dia pemuda yang manja?” tanya Senopati Suta.“Hahaha, aku tidak tahu, tapi jika anda yang lari dari rumah, ke mana kira-kira tempat yang akan dituju? Tanpa uang? Tanpa simbol identitas? Bahkan tanpa ada orang yang menemani?” tutur pan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status