分享

Bab 157

作者: Skyy
last update publish date: 2026-04-24 21:13:33

Memanfaatkan sepersekian detik ketika perhatian penculiknya terfokus pada Arka, ia mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya dan menjatuhkan tubuh ke samping.

Pfft!

Ujung kunai menyayat lehernya lebih dalam saat tubuhnya terlepas dari cengkeraman. Darah segar memancar tipis ke udara, membasahi kerah bajunya.

Namun gerakan itu berhasil.

Ia keluar dari posisi maut.

“Bajingan!”

Pria itu meraung terkejut sekaligus murka. Dengan refleks ia menerjang kembali, berusaha merebut sandera yang lolos dari tan
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 440

    Lorong itu hanya cukup dilewati satu orang. Arka memimpin di depan dengan kacamata penglihatan malam yang mengubah seluruh lorong menjadi hijau redup. Dinding batunya dipenuhi bekas pahatan, menandakan gua alami itu pernah diperlebar secara manual, lalu beberapa jejak sepatu bot militer yang masih baru terlihat jelas di tanah. Dari ukuran dan polanya, sedikitnya tiga hingga empat orang baru saja melewati jalur tersebut.Sekitar dua puluh meter kemudian, lorong mulai melebar hingga bercabang menjadi tiga jalur. Lorong di sebelah kiri menanjak, jalur tengah membentang lurus, sedangkan lorong di sebelah kanan terus menurun menuju bagian gua yang lebih dalam.Arka menghentikan langkah dan memasang telinga. Dari lorong kiri terdengar hembusan angin tipis yang kemungkinan menuju pintu keluar lain. Lorong tengah membawa gema aliran air, kemungkinan tersambung ke sungai bawah tanah. Sementara dari lorong kanan terdengar percakapan manusia yang sangat pelan.Tanpa berkata apa-apa, Arka mengang

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 439

    Jarak terus terpangkas, dari tujuh puluh meter menjadi lima puluh, lalu tinggal tiga puluh meter. Kini Arka bahkan dapat melihat sulur-sulur tanaman yang menjuntai di mulut Gua Kelam beserta lumut yang menutupi bebatuannya. Pintu masuk gua itu sempit, lebarnya sekitar satu meter dengan tinggi dua meter, sementara bagian dalamnya gelap pekat bagaikan mulut monster yang siap menelan siapa pun.Saat jarak mereka tinggal sekitar dua puluh meter, Arka tiba-tiba berhenti dan berjongkok di balik sebongkah batu. Tangannya langsung mengepal memberi isyarat berhenti, membuat Arga dan Niko segera mengambil posisi berlindung di kedua sisinya."Ada yang janggal," bisik Arka. "Terlalu sunyi."Di sekitar mulut gua hanya terdengar gemuruh aliran air. Tak ada kicau burung, dengung serangga, bahkan embusan angin yang melewati mulut gua pun nyaris tak menghasilkan suara. Keheningan seperti itu terasa tidak wajar.Arka memungut sebutir kerikil, lalu mengayunkan pergelangan tangannya hingga batu kecil itu

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 438

    "Apa senapan mesin ringan dan peluncur roket sudah dibawa?"Suara Arka terdengar sangat pelan, nyaris hanya bisa didengar oleh Garda.Keduanya berjongkok di balik rumpun pakis lebat sekitar seratus lima puluh meter dari pintu masuk Gua Kelam. Dari celah dedaunan, samar-samar terlihat mulut gua yang tertutup tanaman rambat dengan aliran air hitam mengalir deras tepat di depannya.Garda mengangguk pelan. "Sudah. Dua senapan mesin ringan, tiga peluncur roket, dan amunisi dalam jumlah cukup. Sesuai permintaanmu, yang kubawa semuanya penembak pilihan dengan disiplin tinggi."Tatapan Arka menyapu sepuluh orang di belakang Garda. Mereka berpencar di antara pepohonan dengan kamuflase sempurna hingga nyaris menyatu dengan hutan. Sorot mata mereka tajam, gerakannya sigap, dan semuanya merupakan prajurit terbaik di bawah komando Adhyaksa Mahesa."Kelihatan pintu masuk guanya?"Garda menyipitkan mata, mengamati beberapa saat sebelum mengangguk pelan. "Kelihatan. Tapi... kau yakin ini tempatnya? D

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 437

    "Jelaskan." Uryu bahkan tidak mengangkat kepala."Kami kehilangan kontak dengan Sindikat Taring Ular." Pemuda itu segera melapor. "Sesuai rencana, Vexar seharusnya mengirim sinyal konfirmasi dua jam yang lalu, tetapi sampai sekarang kami belum menerima apa pun."Gerakan tangan Uryu akhirnya berhenti sejenak. "Lanjut.""Aku juga sudah mencoba menghubungi dua anggota kita yang ditempatkan di Sindikat Taring Ular, tetapi keduanya tidak memberikan respons."Kali ini Uryu meletakkan kain pembersih senjatanya. Ia perlahan mengangkat kepala, memperlihatkan sepasang mata yang sedalam sumur tanpa dasar di bawah cahaya redup gua. "Kapan terakhir kali kalian berhubungan dengan mereka?""Pukul 04.17 pagi."Jawaban itu keluar tanpa ragu.Uryu kembali terdiam beberapa saat. "Pagi ini terdengar ledakan dan baku tembak dari arah lembah selama kurang lebih empat puluh menit. Setelah itu semuanya kembali sunyi."Nada bicaranya tetap datar. Ia sedang menyampaikan sebuah kesimpulan, bukan mengajukan pert

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 436

    Pada saat yang sama, sekitar dua puluh kilometer di timur laut, Gua Kelam.Meski menyandang nama gua, bentang alam di tempat itu sama sekali tidak terlihat seperti sebuah gua biasa.Kawasan tersebut merupakan jaringan gua alami yang terbentuk dari pegunungan batu kapur dan tersembunyi di antara tebing-tebing yang menjulang tinggi. Mulut guanya tertutup rapat oleh sulur tanaman dan semak belukar yang lebat hingga nyaris mustahil ditemukan tanpa mengetahui lokasi pastinya. Di depannya mengalir sungai berarus deras dengan air yang tampak hitam pekat, bukan karena tercemar, melainkan akibat warna batuan di dasar sungai.Menurut legenda setempat, aliran itu terhubung dengan dunia bawah sehingga dikenal sebagai Air Kelam. Dari sanalah nama Gua Kelam berasal.Namun kenyataannya, air tersebut berasal dari sungai bawah tanah yang jernih dan layak diminum. Warna hitam yang terlihat dari permukaan hanyalah efek pembiasan cahaya pada batuan di dasar sungai.Bagian dalam gua jauh lebih rumit darip

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 435

    Ia berjalan tertatih menuju batu besar di tepi sungai. Setelah sekali lagi memastikan tak ada siapa pun di sekitar, Vexar langsung berjongkok dan mulai menggali tempat persembunyian barang-barangnya.Jemarinya menembus lapisan pasir, tetapi sentuhannya terasa terlalu lembut. Seketika tubuh Vexar membeku.Ia masih ingat betul bagaimana sebelumnya menimbun barang-barang itu. Setelah menguburnya, ia sengaja mengambil pasir kering dari sisi lain untuk menutupi bekas galian, lalu meletakkan beberapa kerikil di atasnya agar terlihat alami.Namun sekarang, pasir di depannya jelas pernah dibongkar, bahkan posisi kerikil yang digunakan sebagai penyamaran pun telah berubah. Wajah Vexar seketika berubah pucat. Ia langsung mengeruk pasir dengan kedua tangan secepat mungkin hingga butiran pasir beterbangan ke segala arah. Galian itu semakin dalam, dari sepuluh sentimeter menjadi dua puluh, lalu tiga puluh sentimeter, tetapi yang ditemukannya hanyalah kekosongan. Tas kain hitam itu telah lenyap, b

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 281

    Lima sosok di belakangnya mengangguk tanpa suara.SWOSHH!Seketika, tubuh mereka melesat masuk ke dalam kegelapan seperti bayangan hantu. Namun, mereka tidak menyadari di balik setiap titik buta yang terlihat kosong, mata-mata dingin sebenarnya sedang mengawasi mereka. Di dalam rumah besar itu send

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 280

    Sorot mata Yudhist dipenuhi cahaya menyeramkan. Ambisi, ketakutan, sekaligus kegilaan bercampur menjadi satu. Dia tahu, jika berhasil malam ini, posisinya di Keluarga Nirvana akan melonjak drastis. Namun jika gagal, tubuhnya mungkin bahkan tidak akan ditemukan utuh.Wiranata terdiam beberapa detik.

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 259

    Di garis paling depan, Adhyaksa melangkah keluar sambil mengangkat senjata di tangannya. Sorot matanya dipenuhi amarah dingin. Rumah keluarganya baru saja dihancurkan. Dan sekarang, orang-orang Mahardika mencoba memburu sisa keluarganya sampai habis.Di sampingnya, Bramanta membawa senapan mesin ri

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 247

    Sorot mata Lorenzo berubah lebih tajam. “Oh? Aku akan mendengarkan.”“Sejauh yang kutahu,” lanjut Wiranata tenang, “Rama dan anak buahnya memang bentrok dengan pasukan Levino di dekat Bar Mahkota. Namun konflik itu muncul karena kedua pihak sama-sama mencoba mengendalikan situasi.”“Dengan kata lain

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status