Share

Bab 191

Penulis: Skyy
last update Tanggal publikasi: 2026-05-06 23:31:10

Tanpa menunggu jawaban, Arka langsung membungkuk dan menurunkan ponsel ke dekat wajah operatif Astera itu. Nafas kasar dan suara erangan yang tertahan terdengar jelas melalui speaker, serak, lemah, tetapi cukup untuk memberi gambaran kondisi di ujung sana.

Ia kemudian berdiri kembali, wajahnya tetap tenang, dan dengan gerakan yang nyaris tak terlihat ia menyentuh layar ponsel.

Nada sambung tiba-tiba terdengar di ruangan yang sunyi.

Arka mengangkat ponsel itu, melirik layar, lalu mengangkat alis
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 518

    "Begitu." Jawaban Arka terdengar datar, bahkan nyaris tanpa emosi. "Tahan posisi kalian, Nona Adelina. Stabilkan wilayah inti semampumu dan jangan menghabiskan kekuatan yang tersisa."Arka berhenti sejenak sebelum melanjutkan dengan nada tegas. "Tujuan Topeng Algojo adalah membuat kekacauan meluas, memaksamu terus bertahan sampai kekuatanmu terkikis, lalu menghancurkanmu ketika kau sudah tidak mampu melawan. Jangan ikuti permainan itu."Ia mengatur napas. "Jangan buru-buru menyerang. Lindungi titik vital dan simpan kekuatanmu selama masih memungkinkan.""Untuk sisanya, biarkan aku yang mencari jalan keluarnya." Arka memberikan jeda singkat. "Tapi aku membutuhkan waktu. Tetap berhubungan denganku. Kalau muncul keadaan darurat, segera hubungi aku."Tanpa menunggu jawaban panjang, Arka mengakhiri panggilan.Lorong kembali sunyi.Keempat orang itu hanya berdiri dalam cahaya senter yang redup, suara napas mereka terdengar samar di antara dinding batu.Arga, Niko, dan Garuda Hitam saling be

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 517

    Setelah mempertimbangkannya sesaat, Arka menerima panggilan dan menempelkan ponsel ke telinga."Tuan Arka! Semuanya sudah kacau! Hancur! Benar-benar kacau!"Suara Adelina terdengar begitu panik hingga hampir tidak bisa dikenali. Tidak ada lagi ketenangan yang biasanya ia tunjukkan. Yang tersisa hanya kepanikan, ketakutan, dan napas tersengal yang sesekali diselingi suara seperti hendak menangis.Jantung Arka langsung menegang, tetapi suaranya tetap terkendali. "Nona Adelina, tenangkan diri. Jangan bicara terburu-buru. Katakan apa yang terjadi."Dari seberang terdengar napas Adelina yang berat. Di belakangnya terdengar suara tembakan, ledakan, dan teriakan yang bercampur menjadi satu. Kekacauan itu jelas bukan berasal dari pertempuran kecil."Perang! Semua tempat sedang berperang!" Suara Adelina nyaris pecah. "Ini bukan cuma di garis depan! Mereka menyerang wilayah inti Keluarga Mahardika, bahkan tanah milik kita sendiri! Penduduk desa, warga kota yang biasanya tidak pernah ikut campur

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 516

    Pasukan Revan dan Tim Penyerang Pedang Tajam hampir seluruhnya musnah. Lebih dari dua pertiga anggota mereka telah tewas dalam bombardir tersebut.Di bawah cahaya senter yang redup, Arka memandang orang-orang di sekelilingnya. Wajah mereka dipenuhi darah dan debu, tubuh mereka kelelahan, tetapi sorot mata mereka masih menyimpan keteguhan. Revan terbaring tak sadarkan diri dengan napas lemah, sementara Damar dan Niko diam-diam membalut luka masing-masing.Arka memandangi mereka cukup lama. Kemudian sudut bibirnya terangkat. Ia tersenyum sambil memperlihatkan giginya, membuat semua orang spontan mengalihkan perhatian kepadanya."Syukurlah kalian masih di sini."Hanya kalimat sederhana itu yang keluar dari mulutnya. Namun seketika, mata beberapa orang di dalam terowongan memerah.Arka segera mengangkat tangan. "Jangan dulu terbawa suasana. Kita belum selesai."Ia menahan emosinya sendiri sebelum memanggil pemimpin regu yang sebelumnya membawa sepuluh orang pasukan bersama mereka. "Bawa N

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 515

    Di tengah tanah yang berubah menjadi medan kematian itu, tidak ada waktu untuk sumpah setia atau kata-kata besar. Makna hidup dan mati bersama justru terlihat dari tindakan mereka.Yang terluka ditopang, dan yang masih kuat menggendong rekannya. Mereka saling menarik, saling menjaga, dan terus bergerak meskipun artileri bisa kembali menghantam kapan saja. Tujuan mereka hanya untuk membawa semua saudara mereka pulang.Kelompok itu akhirnya berkumpul kembali. Kondisi mereka mengenaskan dan jumlahnya kini bahkan tidak mencapai selusin orang, selain Arka dan beberapa anggota timnya, hampir semuanya mengalami luka.Arka, Garuda Hitam, Niko, dan Arga masing-masing menopang atau menggendong dua orang yang sudah tidak mampu berjalan sendiri. Mereka bergerak secepat mungkin menuju satu-satunya celah sempit yang bisa digunakan sebagai tempat berlindung."Lebih cepat! Masuk!" Arka membantu mendorong Revan turun lebih dulu ke lubang ventilasi.Arga sudah menunggu di bawah untuk menerimanya.Damar

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 514

    Arka melihat Damar menopang tubuh Revan bersama seorang anggota lainnya ketika mereka berusaha keluar dari lumpur.Lengan kiri Revan tertekuk dengan sudut yang jelas tidak normal. Darah mengalir dari wajahnya dan bercampur dengan abu yang menempel di kulit. Namun ketika pandangan mereka bertemu, mata Revan tiba-tiba membesar.Ada banyak hal yang muncul dalam tatapannya sekaligus. Lega karena masih hidup setelah melewati bombardir, rasa bersalah karena gagal menyelesaikan tugas, dan yang paling kuat, keterkejutan sekaligus kekhawatiran melihat Arka muncul sendirian di tengah medan kehancuran itu."Bos...?"Suara Revan keluar dengan serak dan berat, seperti tenggorokan yang dipenuhi asap. Tatapannya masih menyimpan ketidakpercayaan ketika melihat Arka berdiri di hadapannya.Arka tidak menjawab. Ia langsung turun ke dasar kawah, membuat lumpur panas segera mencapai lututnya, lalu meraih lengan Revan yang masih bisa digerakkan. Bersama Damar, ia menarik tubuh Revan keluar dari lumpur sedi

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 513

    Kali ini, ledakannya jatuh jauh lebih rapat. Titik-titik hantaman langsung menyapu kawasan tempat Revan dan para rekannya berlindung, seolah penembaknya telah menemukan posisi mereka dan berniat menghabisi seluruh kelompok itu sekaligus."Revan! Damar! Berlindung!" Arka berteriak sekuat tenaga."BERLINDUNG SEKARANG!"Raungannya menembus kepulan asap dan sela-sela pepohonan, tetapi segera ditelan oleh suara dentuman artileri yang mengguncang hutan. Matanya memerah.Dari lubang sempit itu, ia menyaksikan sendiri akibat serangan yang dilakukan Topeng Algojo. Saudara-saudaranya dibantai tanpa ampun, dan musuh terus menghujani kawasan tersebut dengan tembakan yang tidak memberi sedikit pun kesempatan untuk melarikan diri.Jarak mereka sebenarnya tidak sampai dua ratus meter. Namun bagi Arka, hamparan tanah di antara mereka terasa seperti jurang yang mustahil diseberangi.Tangannya mencengkeram tepian lubang ventilasi dengan kuat. Ia hanya bisa menyaksikan ketika ledakan kembali menghantam

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 203

    Nama itu langsung membuat mata Gavira sedikit berubah.“Di Zona Bayangan, Bayangan Rawa punya pengaruh besar,” lanjut Adhyaksa. “Terutama dalam bisnis intelijen dan perantara. Dia bisa berbicara dengan siapa saja. Sindikat, tentara bayaran, kartel, bahkan kelompok yang saling bermusuhan.”Nada suar

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 201

    “Tuan Arka,” ucapnya pelan sambil sedikit membungkukkan badan, “Nama saya Serena. Kita pernah bertemu tujuh tahun lalu, meski waktu itu kondisi saya benar-benar berantakan.”Ia tersenyum kecil, berusaha meredakan rasa gugupnya sendiri. “Mungkin saat itu saya terlihat sangat memalukan.”Arka menatap

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 194

    Melihat itu, Arka mundur setengah langkah dan memberi ruang di tengah pintu agar para penembak keluarga Mahesa bisa mengambil posisi terbaik.Brama segera mendekat ke sampingnya, suaranya lebih rendah kali ini. “Tuan Arka… sebenarnya apa yang terjadi?”Tatapannya tidak lagi hanya berisi kewaspadaan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 186

    “Kalau aku tidak salah…” gumamnya santai, “Orang-orang keluarga Mahesa seharusnya sudah—.”Belum selesai kalimat itu—BRAKK!Pintu kayu berat itu dihantam dari luar dan terbuka paksa, engselnya berderit keras hingga sebagian panel terlepas dan jatuh miring ke samping.“Jangan bergerak!”“Tangan ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status