Share

Bab 2

Author: Skyy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-12 02:08:05

Rumah Sakit Medika Mahatara.

Setelah menanyakan nomor bangsal, Arka Mahendra berjalan cepat menyusuri koridor. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok di ranjang dekat jendela.

Mahendra Wiratma.

Tubuh lelaki tua itu tampak jauh lebih kurus dari yang ia ingat. Wajahnya pucat, napasnya dibantu selang oksigen, dan jarum infus menancap di tangan yang dulu begitu kuat. Hanya beberapa tahun berlalu, tetapi pria yang dulu mampu memanggul beban berat bermil-mil tanpa mengeluh kini tampak rapuh seperti lilin yang hampir padam.

“Kakek…” suara Arka Mahendra serak.

Kelopak mata Mahendra Wiratma perlahan terbuka. Keterkejutan melintas, lalu berubah menjadi kekhawatiran. “Arka? Kenapa kau kembali? Bagaimana dengan—”

“Aku sudah pensiun.” Arka Mahendra duduk di samping ranjang, menggenggam tangan keriput itu dengan hati-hati. “Kenapa tidak memberi tahuku kalau Kakek sakit?”

“Batuk biasa saja, Kakek akan sembuh kalau istirahat,” jawab Mahendra Wiratma keras kepala, “UHUK—” sebelum akhirnya batuk hebat mengguncang tubuhnya. Wajahnya memerah. “Kenapa kau pensiun mendadak? Kau membuat masalah di militer?”

Arka Mahendra menepuk punggungnya perlahan, ia menggeleng. “Aku hanya ingin pulang untuk menemanimu.”

Ia tidak mengatakan apa pun tentang luka, tentang misi terakhir, atau tentang kematian yang nyaris menjemputnya.

Mata Mahendra Wiratma memerah. “Orang tua sepertiku tidak punya banyak waktu lagi, kenapa kau menyia-nyiakan masa depanmu?”

Kata-kata itu membuat dada Arka Mahendra terasa sesak, ia tidak menjawab. Setelah memastikan kakeknya kembali tenang, ia keluar mencari dokter.

Hasil diagnosis jauh lebih berat dari yang ia harapkan. Infeksi paru-paru serius akibat kelelahan berkepanjangan dan pengobatan yang diabaikan, diperparah penyakit kronis usia lanjut. Operasi harus segera dilakukan, diikuti perawatan jangka panjang. Tanpa itu, kondisinya bisa mengancam nyawa.

“Berapa biayanya?” tanya Arka Mahendra pelan.

Dokter menyebut angka yang membuat ruangan terasa semakin sempit. “Perkiraan awal sekitar tujuh ratus juta. Itu belum termasuk rehabilitasi selanjutnya.”

Tujuh ratus juta.

Tabungan dan uang pesangonnya bahkan tidak mencapai jumlah itu. Semua uang yang ia kumpulkan dari bertahun-tahun mempertaruhkan nyawa hanya sekitar lima ratus juta. Ia tetap pergi ke loket pembayaran dan menyetorkan seluruh uang yang dimilikinya tanpa ragu. Namun kekurangan yang tersisa terasa seperti batu besar menekan dadanya.

Kembali di bangsal, ia berdiri di dekat jendela, memandang lalu lintas di bawah. Selama bertahun-tahun ini, baru sekarang ia merasakan ketidakberdayaan yang nyata. Peluru dan medan perang tidak pernah membuatnya gentar, tetapi kenyataan ini hampir membuatnya sulit bernapas.

Ia membutuhkan uang yang banyak dan secepat mungkin.

***

Pada saat yang sama, di pusat Kota Mahatara, lantai teratas gedung Grup Arta Vistara.

Keira Adhistya meletakkan surat anonim di atas meja. Wajahnya dingin, tetapi sorot matanya tajam. Isi surat itu penuh ancaman, menyinggung langsung proyek client besar yang sedang ia dorong. Pesannya jelas, jika ia tidak berhenti, keselamatannya tidak akan dijamin.

Ini bukan yang pertama. Sejak ia merombak perusahaan dengan cara keras dan menyentuh kepentingan banyak pihak, tekanan seperti ini terus berdatangan. Bahkan di dalam keluarga sendiri, sepupunya Ravian Adhistya menunggu kesempatan menjatuhkannya.

Ia menekan pelipisnya, lalu berkata kepada asistennya, “Lowongan pengawal sudah diumumkan?”

“Sudah, Direktur. Banyak pelamar dan proses seleksi dijadwalkan besok pagi.”

“Aku butuh orang yang benar-benar bisa bekerja,” katanya dingin. “Bukan hiasan.”

Keira Adhistya berdiri di depan jendela besar, menatap kota yang berkilau namun terasa jauh. Cahaya matahari jatuh di bahunya, tetapi tidak menghangatkan ekspresinya.

Di pantulan kaca, matanya perlahan memerah.

“Reza, apa kau benar-benar tidak akan kembali?” gumamnya lirih. “Aku hampir tidak bisa bertahan sendirian.”

Nama itu tertinggal di udara.

Reza Dirgantara—orang yang pergi tanpa pamit, meninggalkan perasaan yang tak pernah sempat diungkapkan.

***

Malam berlalu dengan cepat.

Arka Mahendra duduk di bangku koridor rumah sakit sepanjang malam. Lampu putih yang tak pernah padam membuat waktu terasa kabur. Penyakit kakeknya dan tagihan medis yang besar menekan pikirannya tanpa henti, seperti dua beban yang tak bisa ia lepaskan.

Saat fajar datang, ia membantu memandikan kakeknya, memperhatikan perawat mengganti perban, lalu memastikan kondisi lelaki tua itu untuk sementara stabil. Setelah semuanya selesai, ia meninggalkan bangsal tanpa suara.

Setiap menit sekarang sangat berarti, ia harus mendapatkan uang secepat mungkin.

Di luar rumah sakit, ia mencari informasi melalui ponselnya. Sebuah lowongan menarik perhatiannya, Pengawal Pribadi Presiden Grup Arta Vistara. Gaji bisa dinegosiasikan, tetapi tertulis jelas—sangat tinggi.

Ia tidak ragu, pengalaman militer dan kemampuan tempur adalah satu-satunya hal yang benar-benar ia miliki. Setelah panggilan singkat dan penjelasan sederhana tentang latar belakangnya, ia lolos seleksi awal dan dipanggil mengikuti tahap akhir.

Keesokan paginya, Arka Mahendra datang tanpa persiapan khusus. Ia masih mengenakan kaos dan celana sederhana. Gedung Grup Arta Vistara menjulang tinggi di hadapannya, dinding kaca memantulkan cahaya matahari pagi. Dunia ini terasa jauh dari gang tua tempat ia tumbuh.

Wawancara diadakan di aula pelatihan.

Sekitar dua puluh hingga tiga puluh pelamar sudah berkumpul. Tubuh-tubuh kekar, tatapan tajam, sebagian mengenakan perlengkapan tempur profesional. Beberapa bahkan memancarkan aura khas dunia jalanan, orang-orang yang jelas terbiasa dengan kekerasan.

Suasana dipenuhi ketegangan tak terlihat.

Di antara mereka, penampilan Arka Mahendra tampak terlalu biasa. Pakaiannya sederhana, tubuhnya tidak mencolok. Beberapa tatapan meremehkan langsung tertuju padanya.

“Mencari peruntungan, ya?”

“Orang seperti itu tidak akan bertahan satu ronde.”

Bisikan sinis terdengar, tetapi Arka Mahendra tidak menanggapi. Ia berdiri di sudut, mengamati ruangan dengan tenang.

Tak lama kemudian, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat.

Pintu terbuka.

Suasana langsung berubah.

Keira Adhistya masuk bersama asistennya dan dua pengawal berpakaian hitam. Setelan bisnis biru tua membungkus sosoknya dengan rapi, wajahnya cantik namun dingin. Tatapannya menyapu ruangan tanpa emosi, membuat percakapan spontan berhenti.

Aura yang dibawanya membuat banyak orang tanpa sadar menegakkan punggung.

Sebagian pelamar memandangnya dengan ambisi yang terlalu jelas. Menjadi pengawal pribadi presiden Grup Arta Vistara bukan hanya soal pekerjaan, itu berarti mendekati pusat kekuasaan dan kekayaan. Namun Keira Adhistya tampak lelah menghadapi tatapan semacam itu. Pandangannya bergerak tanpa minat, hingga berhenti di satu titik.

Waktu seolah melambat.

Pemuda di sudut ruangan itu. Garis wajahnya, mata yang dalam, lengkungan alis yang familiar.

Jantung Keira Adhistya berdetak keras. Orang yang berdiri di sana jauh lebih dingin dan tertutup. Namun wajah itu, setidaknya enam atau tujuh bagian menyerupai seseorang yang telah lama menghilang dari hidupnya.

Kenangan yang selama ini ditekan tiba-tiba muncul kembali. Tanpa sadar, ia melangkah maju, melewati asistennya, berjalan langsung menuju pria itu.

Seluruh ruangan terdiam.

“Siapa namamu?” tanyanya pelan. Getaran kecil dalam suaranya hampir tak terdengar.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 451

    Vanessa perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan merahnya langsung bertemu dengan mata Arka, dan di dalam pupil yang mulai kehilangan kendali itu hanya ada satu bayangan yang terpantul. Kerinduan, cinta, ketergantungan, dan rasa sakit bercampur menjadi satu, membentuk gejolak yang nyaris meluap.Tanpa sepatah kata lagi, Vanessa kembali meraih wajah Arka dan menciumnya. Ciuman itu sama sekali tidak ragu ataupun malu. Ia menciumnya dengan seluruh kerinduan yang selama ini dipendam, seolah ingin memastikan pria di hadapannya benar-benar telah kembali."Arka... Arka..."Di sela napas yang tidak teratur, nama itu terus terucap lirih.Arka sempat kehilangan ritme. Ia bisa merasakan tubuh Vanessa terus bergetar, napasnya memburu, dan detak jantungnya berpacu begitu cepat hingga seakan hendak meledak."Vanessa... jangan..." Ia baru hendak berbicara ketika Vanessa kembali membungkamnya.Begitu gejolak yang selama ini ditekan menemukan tempat untuk diluapkan, semuanya berubah menjadi arus yang sul

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 450

    Sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka tiba di markas gua yang berada tak jauh dari Celah Mahesa.Di ruang pribadi yang dipisahkan lembaran kanvas tebal, Vanessa meringkuk di atas ranjang batu beralas kulit binatang. Tubuhnya bergetar pelan, sementara kemeja tipis yang dikenakannya telah basah oleh keringat hingga melekat erat di kulit.Wajahnya memerah tidak wajar. Kelopak matanya setengah terpejam dengan tatapan yang mulai kehilangan fokus, sedangkan bibir yang terus digigitnya hingga berdarah menjadi satu-satunya cara untuk menahan gejolak yang terus menguasai tubuhnya.Erangan lirih beberapa kali lolos dari tenggorokannya, terdengar seperti menahan rasa sakit sekaligus pergulatan batin yang semakin sulit dikendalikan.Serena dan Gavira berdiri di sisi ranjang dengan wajah penuh kecemasan."Nona Vanessa... kalau memang sudah tidak sanggup, jangan dipaksakan." Serena mengusap pelan keringat di dahi Vanessa menggunakan handuk basah."Jangan terus menahannya, tubuhmu bisa semakin l

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 449

    Ucapan Adhyaksa membuat hati Arka langsung tenggelam."Sudah berapa lama kondisinya seperti itu?""Kurang lebih sepuluh menit. Awalnya Nona Vanessa masih sadar dan memaksa kami semua keluar, tapi barusan Gavira bilang keadaannya semakin buruk. Dia hampir kehilangan kesadaran."Kepanikan dalam suara Adhyaksa terdengar begitu jelas, sesuatu yang sangat jarang terjadi pada pria itu."Kalian sekarang di mana? Apa masih sempat kalau kau kembali?"Arka mengangkat pandangan. Di hadapannya, Uryu masih diborgol dan duduk di tanah, sementara di kejauhan asap tipis terus mengepul dari pintu keluar Gua Kelam. Pertempuran memang sudah dimenangkan, tetapi proses pembersihan medan dan interogasi baru saja akan dimulai.Namun saat ini, Vanessa jauh lebih membutuhkan dirinya.Tanpa berpikir lebih lama, Arka segera mengambil keputusan."Aku berangkat sekarang juga. Tuan Adhyaksa, suruh Gavira dan Serena tetap mendampinginya sebisa mungkin. Tahan sampai aku tiba, paling lambat setengah jam lagi aku suda

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 448

    Niko sama sekali tidak memberi kesempatan lawannya bereaksi. Jari telunjuknya langsung menarik pelatuk.Roket itu meluncur dari jarak nyaris nol sebelum meledak tepat di dalam lorong sempit Gua Kelam.BAAAANG!Ledakan dahsyat mengguncang seluruh lereng gunung. Kobaran api dan kepulan asap pekat menyembur keluar dari celah bebatuan, gelombang kejutnya menghantam area sekitar hingga tanah dan pecahan batu beterbangan beberapa meter ke udara. Bahkan dari jarak lebih dari sepuluh meter, Arka dan Uryu masih bisa merasakan semburan panas serta getaran hebat yang menerpa tubuh mereka.Niko sendiri sudah lebih dulu melepaskan tabung peluncur itu dan mundur sebelum ledakan terjadi. Peluncur roket tersebut terpental akibat tekanan balik, menghantam tanah beberapa meter jauhnya hingga tabungnya penyok dan melengkung.Ia hanya menepuk-nepuk debu di kedua telapak tangannya, lalu meludah santai ke samping.Uryu hanya mampu menatap kosong ke arah pintu masuk gua. Bahkan rasa nyeri luar biasa di perg

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 447

    Arka sama sekali tidak memberi Uryu kesempatan memulihkan diri. Begitu tubuh lawannya membeku akibat teknik memutus nadi, ia langsung memutar posisi, menindih punggung Uryu, lalu menghimpit pinggangnya dengan lutut. Dalam waktu yang sama, tangannya sudah mencabut pengikat kabel dari pinggang dan mengunci kedua tangan Uryu di belakang punggung dengan gerakan cepat serta rapi.Seluruh rangkaian itu bahkan tidak memakan waktu lebih dari tiga detik.Saat efek teknik tersebut mulai memudar, Uryu baru menyadari dirinya telah benar-benar dilumpuhkan. Kedua tangannya terikat rapat di belakang punggung, sementara Arka terus menekan tubuhnya ke tanah hingga mustahil baginya untuk bergerak.Uryu hanya mampu terbaring sambil mengatur napas yang memburu. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, sedangkan rasa nyeri akibat pergelangan tangan yang terkilir dan mati rasa di dadanya perlahan menghilang. Namun, yang benar-benar membuat wajahnya menegang bukanlah rasa sakit itu, melainkan pukulan Arka b

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 446

    Arka kembali menatap lurus ke arah Uryu. "Menyerahlah. Kau tidak akan bisa kabur.""Menyerah?" Uryu mencibir dingin. "Anggota Sindikat Noctis hanya mengenal kematian. Kami tidak pernah menyerah."Belum sempat kalimat itu selesai, tubuhnya kembali melesat ke depan. Kali ini ia tidak menggunakan kepalan tangan, melainkan tendangan menyapu yang meluncur secepat cambuk dan langsung mengincar pinggang serta tulang rusuk Arka dengan kekuatan yang jelas ditempa dari latihan bertahun-tahun.Arka tidak memilih menahan serangan itu secara langsung. Ia sedikit memiringkan tubuh ke belakang sambil mengulurkan tangan kiri untuk menangkap pergelangan kaki Uryu. Ia alu melangkah maju dengan kaki kanan dan memutar tubuhnya dalam satu gerakan mulus, berusaha melempar lawannya menggunakan teknik lempar bahu.Namun Uryu bukan lawan biasa. Begitu pergelangan kakinya terkunci, ia langsung meloncat menggunakan kaki satunya, memutar tubuh di udara hingga berhasil melepaskan diri, lalu mendarat tepat di sisi

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 124

    “Apa… yang Ayah inginkan?”Suaranya rendah, serak, dan penuh tekanan. Seolah jika jawaban yang diterima tak sesuai harapan, sesuatu akan meledak di tempat itu.Di sampingnya, Reno langsung merasakan atmosfer berubah. “Kak, tenang,” bisiknya cepat, mencoba meredakan ketegangan.Namun Surya justru te

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 122

    Ia membuka pintu mobil. Delapan orang elit segera membentuk formasi, menutupinya dengan dinding manusia. Senjata diarahkan ke arah Arka. Tidak satu pun berani ceroboh.“Melihat langsung memang berbeda,” ujar Julian akhirnya. “Dalam kondisi seperti itu, kau masih punya niat membunuh, aku kagum.”Ark

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 74

    Arka tak memperhatikan itu. Ia sudah berada di sisi Taring Baja, yang tubuh besarnya hampir roboh. Dengan sigap, ia menopang pria itu.“Bos…” suara Taring Baja melemah. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari luka di perut. “Aku… mempermalukan kita…”“Diam!” Arka memotong keras. Tak ada amarah di

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 72

    Setelah gelombang gairah yang panjang akhirnya mereda, kamar tidur kembali diselimuti keheningan hangat yang samar. Mireya bersandar nyaman di pelukan Arka, ujung jarinya bergerak malas, menggambar lingkaran kecil di bekas luka di dada pria itu. Napasnya masih sedikit berat, namun ekspresinya penuh

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status