MasukRumah Sakit Medika Mahatara.
Setelah menanyakan nomor bangsal, Arka Mahendra berjalan cepat menyusuri koridor. Begitu pintu terbuka, pandangannya langsung tertuju pada sosok di ranjang dekat jendela.
Mahendra Wiratma.
Tubuh lelaki tua itu tampak jauh lebih kurus dari yang ia ingat. Wajahnya pucat, napasnya dibantu selang oksigen, dan jarum infus menancap di tangan yang dulu begitu kuat. Hanya beberapa tahun berlalu, tetapi pria yang dulu mampu memanggul beban berat bermil-mil tanpa mengeluh kini tampak rapuh seperti lilin yang hampir padam.
“Kakek…” suara Arka Mahendra serak.
Kelopak mata Mahendra Wiratma perlahan terbuka. Keterkejutan melintas, lalu berubah menjadi kekhawatiran. “Arka? Kenapa kau kembali? Bagaimana dengan—”
“Aku sudah pensiun.” Arka Mahendra duduk di samping ranjang, menggenggam tangan keriput itu dengan hati-hati. “Kenapa tidak memberi tahuku kalau Kakek sakit?”
“Batuk biasa saja, Kakek akan sembuh kalau istirahat,” jawab Mahendra Wiratma keras kepala, “UHUK—” sebelum akhirnya batuk hebat mengguncang tubuhnya. Wajahnya memerah. “Kenapa kau pensiun mendadak? Kau membuat masalah di militer?”
Arka Mahendra menepuk punggungnya perlahan, ia menggeleng. “Aku hanya ingin pulang untuk menemanimu.”
Ia tidak mengatakan apa pun tentang luka, tentang misi terakhir, atau tentang kematian yang nyaris menjemputnya.
Mata Mahendra Wiratma memerah. “Orang tua sepertiku tidak punya banyak waktu lagi, kenapa kau menyia-nyiakan masa depanmu?”
Kata-kata itu membuat dada Arka Mahendra terasa sesak, ia tidak menjawab. Setelah memastikan kakeknya kembali tenang, ia keluar mencari dokter.
Hasil diagnosis jauh lebih berat dari yang ia harapkan. Infeksi paru-paru serius akibat kelelahan berkepanjangan dan pengobatan yang diabaikan, diperparah penyakit kronis usia lanjut. Operasi harus segera dilakukan, diikuti perawatan jangka panjang. Tanpa itu, kondisinya bisa mengancam nyawa.
“Berapa biayanya?” tanya Arka Mahendra pelan.
Dokter menyebut angka yang membuat ruangan terasa semakin sempit. “Perkiraan awal sekitar tujuh ratus juta. Itu belum termasuk rehabilitasi selanjutnya.”
Tujuh ratus juta.
Tabungan dan uang pesangonnya bahkan tidak mencapai jumlah itu. Semua uang yang ia kumpulkan dari bertahun-tahun mempertaruhkan nyawa hanya sekitar lima ratus juta. Ia tetap pergi ke loket pembayaran dan menyetorkan seluruh uang yang dimilikinya tanpa ragu. Namun kekurangan yang tersisa terasa seperti batu besar menekan dadanya.
Kembali di bangsal, ia berdiri di dekat jendela, memandang lalu lintas di bawah. Selama bertahun-tahun ini, baru sekarang ia merasakan ketidakberdayaan yang nyata. Peluru dan medan perang tidak pernah membuatnya gentar, tetapi kenyataan ini hampir membuatnya sulit bernapas.
Ia membutuhkan uang yang banyak dan secepat mungkin.
***
Pada saat yang sama, di pusat Kota Mahatara, lantai teratas gedung Grup Arta Vistara.
Keira Adhistya meletakkan surat anonim di atas meja. Wajahnya dingin, tetapi sorot matanya tajam. Isi surat itu penuh ancaman, menyinggung langsung proyek client besar yang sedang ia dorong. Pesannya jelas, jika ia tidak berhenti, keselamatannya tidak akan dijamin.
Ini bukan yang pertama. Sejak ia merombak perusahaan dengan cara keras dan menyentuh kepentingan banyak pihak, tekanan seperti ini terus berdatangan. Bahkan di dalam keluarga sendiri, sepupunya Ravian Adhistya menunggu kesempatan menjatuhkannya.
Ia menekan pelipisnya, lalu berkata kepada asistennya, “Lowongan pengawal sudah diumumkan?”
“Sudah, Direktur. Banyak pelamar dan proses seleksi dijadwalkan besok pagi.”
“Aku butuh orang yang benar-benar bisa bekerja,” katanya dingin. “Bukan hiasan.”
Keira Adhistya berdiri di depan jendela besar, menatap kota yang berkilau namun terasa jauh. Cahaya matahari jatuh di bahunya, tetapi tidak menghangatkan ekspresinya.
Di pantulan kaca, matanya perlahan memerah.
“Reza, apa kau benar-benar tidak akan kembali?” gumamnya lirih. “Aku hampir tidak bisa bertahan sendirian.”
Nama itu tertinggal di udara.
Reza Dirgantara—orang yang pergi tanpa pamit, meninggalkan perasaan yang tak pernah sempat diungkapkan.
***
Malam berlalu dengan cepat.
Arka Mahendra duduk di bangku koridor rumah sakit sepanjang malam. Lampu putih yang tak pernah padam membuat waktu terasa kabur. Penyakit kakeknya dan tagihan medis yang besar menekan pikirannya tanpa henti, seperti dua beban yang tak bisa ia lepaskan.
Saat fajar datang, ia membantu memandikan kakeknya, memperhatikan perawat mengganti perban, lalu memastikan kondisi lelaki tua itu untuk sementara stabil. Setelah semuanya selesai, ia meninggalkan bangsal tanpa suara.
Setiap menit sekarang sangat berarti, ia harus mendapatkan uang secepat mungkin.
Di luar rumah sakit, ia mencari informasi melalui ponselnya. Sebuah lowongan menarik perhatiannya, Pengawal Pribadi Presiden Grup Arta Vistara. Gaji bisa dinegosiasikan, tetapi tertulis jelas—sangat tinggi.
Ia tidak ragu, pengalaman militer dan kemampuan tempur adalah satu-satunya hal yang benar-benar ia miliki. Setelah panggilan singkat dan penjelasan sederhana tentang latar belakangnya, ia lolos seleksi awal dan dipanggil mengikuti tahap akhir.
Keesokan paginya, Arka Mahendra datang tanpa persiapan khusus. Ia masih mengenakan kaos dan celana sederhana. Gedung Grup Arta Vistara menjulang tinggi di hadapannya, dinding kaca memantulkan cahaya matahari pagi. Dunia ini terasa jauh dari gang tua tempat ia tumbuh.
Wawancara diadakan di aula pelatihan.
Sekitar dua puluh hingga tiga puluh pelamar sudah berkumpul. Tubuh-tubuh kekar, tatapan tajam, sebagian mengenakan perlengkapan tempur profesional. Beberapa bahkan memancarkan aura khas dunia jalanan, orang-orang yang jelas terbiasa dengan kekerasan.
Suasana dipenuhi ketegangan tak terlihat.
Di antara mereka, penampilan Arka Mahendra tampak terlalu biasa. Pakaiannya sederhana, tubuhnya tidak mencolok. Beberapa tatapan meremehkan langsung tertuju padanya.
“Mencari peruntungan, ya?”
“Orang seperti itu tidak akan bertahan satu ronde.”
Bisikan sinis terdengar, tetapi Arka Mahendra tidak menanggapi. Ia berdiri di sudut, mengamati ruangan dengan tenang.
Tak lama kemudian, suara langkah sepatu hak tinggi terdengar mendekat.
Pintu terbuka.
Suasana langsung berubah.
Keira Adhistya masuk bersama asistennya dan dua pengawal berpakaian hitam. Setelan bisnis biru tua membungkus sosoknya dengan rapi, wajahnya cantik namun dingin. Tatapannya menyapu ruangan tanpa emosi, membuat percakapan spontan berhenti.
Aura yang dibawanya membuat banyak orang tanpa sadar menegakkan punggung.
Sebagian pelamar memandangnya dengan ambisi yang terlalu jelas. Menjadi pengawal pribadi presiden Grup Arta Vistara bukan hanya soal pekerjaan, itu berarti mendekati pusat kekuasaan dan kekayaan. Namun Keira Adhistya tampak lelah menghadapi tatapan semacam itu. Pandangannya bergerak tanpa minat, hingga berhenti di satu titik.
Waktu seolah melambat.
Pemuda di sudut ruangan itu. Garis wajahnya, mata yang dalam, lengkungan alis yang familiar.
Jantung Keira Adhistya berdetak keras. Orang yang berdiri di sana jauh lebih dingin dan tertutup. Namun wajah itu, setidaknya enam atau tujuh bagian menyerupai seseorang yang telah lama menghilang dari hidupnya.
Kenangan yang selama ini ditekan tiba-tiba muncul kembali. Tanpa sadar, ia melangkah maju, melewati asistennya, berjalan langsung menuju pria itu.
Seluruh ruangan terdiam.
“Siapa namamu?” tanyanya pelan. Getaran kecil dalam suaranya hampir tak terdengar.
Beberapa waktu kemudian, Arka tiba di tempat Vanessa dirawat.Kondisinya masih belum membaik. Racun Hasrat telah membuat tubuh Vanessa semakin lemah, dan waktu yang tersisa tidak banyak.Ketika Arka masuk sambil membawa obat tersebut, semua orang langsung menatapnya.“Arka...?”Arka tidak menjawab panjang. Ia menyerahkan obat itu kepada orang yang bertanggung jawab merawat Vanessa.“Berikan ini kepadanya.”Waktu terasa berjalan sangat lambat.Vanessa sempat mengalami reaksi keras. Tubuhnya menggigil, wajahnya memucat, dan napasnya menjadi tidak teratur.Arka tetap berdiri di sampingnya.Beberapa menit kemudian, napas Vanessa perlahan kembali stabil. Warna wajahnya mulai kembali. Detak jantungnya juga semakin teratur.Racun Hasrat akhirnya berhasil disembuhkan.Dokter yang memeriksa kondisinya menarik napas lega. “Dia selamat.”Arka menutup mata sejenak. Beban yang selama ini menekan dadanya akhirnya terlepas.Vanessa perlahan membuka mata, pandangan mereka bertemu. “Kau... benar-benar
Pintu belakang baru saja tertutup ketika Arka muncul dari kegelapan.“Topeng Algojo!”Mobil itu berhenti mendadak.Pintu terbuka, dan beberapa penjaga langsung turun untuk menghadang. Arka tidak memberi mereka kesempatan. Dalam waktu singkat, semua penghalang yang mencoba menghentikannya telah tumbang.Kemudian sosok bertopeng itu keluar dari dalam kendaraan.Untuk pertama kalinya, mereka berdiri saling berhadapan tanpa pasukan yang memisahkan.Topeng Algojo menatap Arka cukup lama sebelum tertawa pelan. “Jadi kau benar-benar berhasil keluar.”Arka mengangkat senjatanya, tetapi kemudian menurunkannya perlahan. “Aku tidak datang untuk menembakmu dari jauh.” Tatapan keduanya bertemu. “Aku datang untuk menyelesaikan ini dengan tanganku sendiri.”Topeng Algojo melepaskan mantel luarnya. “Kalau begitu, mari kita lihat siapa yang pantas berdiri sampai akhir.”Pertarungan pun pecah. Kali ini tidak ada jebakan, penyergapan, ataupun anak buah yang bisa mengalihkan perhatian mereka. Di ruang se
BANG! BANG! BANG!Ledakan demi ledakan mengguncang seluruh kompleks. Jumlahnya semakin banyak dan jaraknya semakin rapat, seolah-olah deretan bahan peledak dinyalakan secara berantai dari berbagai arah. Bahkan tanah di bawah kaki mereka ikut bergetar hebat.Gelombang suara menerjang seperti tsunami. Dinding ruang penyimpanan berderit menahan tekanan, sementara debu dan serpihan terus berjatuhan dari langit-langit. Lantai berguncang dan bergelombang begitu keras hingga mustahil bagi siapa pun untuk berdiri tegak.“Merunduk! Jangan jauh dari lantai! Cari perlindungan yang paling kuat!” Arka berteriak sekuat tenaga.Ia langsung menjatuhkan tubuh dan menarik Niko yang terluka ke bawah bersamanya, kemudian menggunakan tubuhnya untuk melindungi kepala rekannya. Di sudut lain, Arga meringkuk serapat mungkin sambil menahan rasa sakit dari kaki dan lengannya.Namun, tempat berlindung mereka ternyata tidak cukup kuat untuk menghadapi kehancuran sebesar ini.DUAAAAR—!Dentuman berikutnya jauh le
Di sisi lain, Niko mengeluarkan geraman keras. Tubuhnya yang besar bergerak jauh lebih lincah daripada yang seharusnya, menerobos ke balik lemari arsip di dekatnya dan menjadikannya sebagai perlindungan. Dari sana, ia mengangkat senapan mesin ringan dan menghujani kelompok penyergap dengan rentetan peluru yang brutal.Arga tidak memiliki ruang untuk banyak bergerak karena cedera di kakinya. Ia tetap bertahan di posisi semula, menahan rasa sakit sambil mengangkat pistol dan melepaskan tembakan berulang kali ke arah bayangan musuh yang samar di balik asap dan debu.Baku tembak itu berlangsung liar.Tidak ada kesempatan untuk berpikir panjang. Setiap detik dipenuhi letusan senjata, desingan peluru, dan benturan benda yang hancur. Waktu seakan kehilangan bentuk karena adrenalin mengalir deras, membuat jantung berdegup begitu kencang hingga terasa hendak merobek tulang dada.Pandangan Arka terus berpindah mengikuti kilatan moncong senjata dan bayangan yang bergerak di balik asap. Telingany
Topeng Algojo sedikit memalingkan kepala. Perintah berikutnya ditujukan kepada bawahannya yang masih berlutut, pengemudi, serta para penjaga di barisan depan. “Aktifkan rencana B.”Suasana di dalam mobil seketika berubah.“Ledakkan seluruh bahan peledak yang sudah ditanam di kompleks Keluarga Wijaksana pada titik-titik peledakan yang telah ditentukan. Setelah itu, perintahkan unit artileri di luar untuk mengubah koordinat dan lakukan bombardir menyeluruh ke seluruh area inti kompleks.”Nada suaranya tetap tenang saat mengucapkan kalimat terakhir, seolah-olah keputusan yang hendak diambilnya sama sekali bukan sesuatu yang besar. “Aku ingin tempat ini lenyap dari peta.” Tatapannya menembus hujan yang turun deras. “Termasuk semua orang yang masih bernapas di dalamnya.”Perintah itu membuat seluruh isi mobil seakan membeku. Bawahan yang masih berlutut mendadak mengangkat kepala, kedua matanya membesar di balik topeng logam.“Tuan, tidak bisa! Masih ada banyak penjaga kita di dalam komplek
BRAK!Panel pintu melengkung ke dalam dan mekanisme penguncinya patah. Tanpa membuang waktu, Arka, Niko, dan Arga menerobos masuk ke koridor sempit di belakang aula.Suasana di dalam koridor jauh lebih gelap dan ruang geraknya terbatas. Rentetan tembakan masih terdengar dari aula utama, tetapi dinding tebal untuk sementara menahan sebagian besar suara dan memberi mereka kesempatan untuk menjauh dari kepungan.Sayangnya, mereka belum sempat memulihkan napas ketika suara langkah kaki terdengar dari balik tikungan.Para penjaga lain sedang menuju ke arah mereka.“Lewat sini!” Arka segera melihat sebuah pintu yang terbuka sedikit di sisi koridor. Dari celahnya, ia bisa melihat bagian dalam yang menyerupai ruang penyimpanan.Ketiganya langsung masuk. Arka menutup pintu perlahan, lalu mereka bertiga merapat ke dinding sambil mengatur napas yang memburu. Tidak ada seorang pun yang berbicara karena langkah para penjaga di luar terdengar semakin dekat.Arka sempat mengira mereka telah mendapat
Stasiun Kota Mahatara.Peluit panjang terdengar saat kereta perlahan memasuki peron. Suara roda besi bergesekan dengan rel menggema di seluruh stasiun, diikuti deru langkah kaki kerumunan yang mulai bergerak menuju pintu keluar.Pintu kereta terbuka.Penumpang berdesakan turun, membawa koper dan ta
Kaivan menggertakkan rahangnya begitu keras hingga urat di sepanjang lehernya menegang. Sebagai seorang kapten yang telah mendampingi Arka di belasan pertempuran maut, dia tahu persis bahwa berdebat di titik ini hanya akan membuang detik-detik berharga yang mereka miliki. Dengan satu anggukan berat
Rumah Sakit Medika Mahatara.Dua ratus juta segera masuk ke rekening rumah sakit, dan ruang operasi kembali dipenuhi cahaya yang tak pernah padam.Waktu berjalan lambat di luar pintu operasi. Arka Mahendra berdiri tanpa bergerak, menatap lampu merah yang terus menyala. Hingga akhirnya pintu terbuka
“Arka Mahendra.”Jawaban itu mematahkan harapan yang sempat muncul.‘Bukan dia…’Kekecewaan melintas di mata Keira Adhistya, tetapi pikiran lain segera muncul, pikiran yang bahkan terasa tidak masuk akal bagi dirinya sendiri. Wajah yang begitu mirip, dan tatapan yang sama teguhnya, mungkin keberadaa







