MasukDari balik pintu, suara pesta terdengar begitu gaduh hingga menusuk telinga."Satu botol lagi! Hari ini aku sudah menghabiskan tiga botol! Hahaha!""Putar musiknya lebih keras! Ayo menari!""Untuk Patriark! Untuk Keluarga Montara!"Arka mendorong pintu perlahan.Kreeek—Gelombang suara langsung menghantam pendengarannya. Bau alkohol, keringat, asap rokok, dan daging panggang bercampur menjadi satu hingga membuat udara terasa sesak. Aula itu dipenuhi lebih dari lima puluh orang. Sebagian besar sudah mabuk berat. Ada yang tertawa terbahak-bahak, ada yang berjoget di atas meja, sementara yang lain bahkan nyaris tidak mampu berdiri tegak.Tidak seorang pun memperhatikan kehadirannya. Di mata mereka, ia hanyalah seorang penjaga biasa yang baru kembali bertugas.Arka berjalan menyusuri sisi ruangan tanpa menarik perhatian. Tatapannya menembus kerumunan yang bergoyang tak karuan hingga akhirnya berhenti pada satu sosok. Kepalanya sedikit menunduk, air masih menetes dari ujung seragamnya. Wa
Ucapan Lorenzo beberapa saat lalu masih terngiang jelas di telinganya."Unit Alpha bukanlah pasukan yang istimewa."Kalimat itu terasa seperti besi panas yang dipaksa menancap ke dalam dadanya. Kini orang yang mengucapkannya sedang berpesta hanya beberapa puluh meter darinya.Arka mulai bergerak, tubuhnya meluncur di dalam air tanpa suara. Gerakannya begitu halus hingga permukaan danau hampir tidak menghasilkan riak. Bertahun-tahun menjalani pelatihan infiltrasi bawah air membuatnya bergerak senatural predator yang lahir dari kedalaman.Di tepi danau, dua penjaga sedang berjaga sambil merokok. Asap tipis mengepul dari bibir mereka. Tatapan keduanya terus mengarah ke aula yang terang benderang dengan rasa iri yang sulit disembunyikan."Sial," gerutu salah satu penjaga. "Mereka berpesta di dalam, sementara kita malah jadi santapan nyamuk.""Sudahlah," balas rekannya. "Kita masih hidup saja sudah beruntung. Nanti saat pergantian jaga, kita masuk diam-diam dan ambil sedikit—"Kalimatnya t
Tawanya pecah keras. "Wiranata datang dengan pasukan elitnya, tapi pulang membawa kekalahan. Anak buah terbaiknya hancur bersama konvoi yang selama ini mereka banggakan."Ia berhenti sejenak, membiarkan semua orang memperhatikannya. "Dan pasukan yang selama ini dipuja-puja itu..."Reginald menyeringai lebar. "Ternyata tidak sehebat yang mereka katakan.""Hahaha!"Tawa dan sorakan kembali mengguncang ruangan.Lorenzo hanya meneguk wiski di tangannya perlahan.Cairan panas itu mengalir menuruni tenggorokannya, sementara matanya menatap ke luar jendela menuju reruntuhan bangunan utama yang kini hanya terlihat sebagai bayangan gelap di kejauhan. Senyum dingin perlahan terukir di bibirnya.Unit Alpha?Baginya, mereka tidak lebih dari sekumpulan prajurit yang kebetulan memiliki nama besar. Di Zona Bayangan, reputasi tidak pernah menjamin keselamatan. Di tempat seperti ini, ancaman paling mematikan sering kali datang dari arah yang tidak terlihat."Minum terus!" seru Reginald sambil mengangk
"Pergi dulu dari sini," jawab Arga singkat. "Ini bukan tempat untuk bicara."Ketika rombongan itu menghilang ke dalam pegunungan, Kediaman Montara kembali tenggelam dalam kesibukan yang mencekam.Sepanjang hari, pasukan Keluarga Montara melakukan penyisiran tanpa henti.Reruntuhan bangunan utama dibongkar sedikit demi sedikit. Potongan beton, kayu hangus, serta sisa-sisa tubuh yang tidak lagi dapat dikenali disingkirkan dari lokasi ledakan.Menjelang pukul tiga sore, sebagian besar pekerjaan pembersihan hampir selesai.Darmajaya akhirnya tertangkap. Pria tua itu dibawa ke tengah halaman dalam keadaan mengenaskan. Kacamatanya telah pecah, wajahnya dipenuhi memar, sementara kedua tangannya terikat rapat di belakang punggung.Tak lama kemudian Lorenzo muncul. Ia mengenakan setelan putih bersih dan berjalan perlahan dengan tongkat di tangannya. Reginald mengikuti di belakang bersama beberapa anggota elit Satuan Black Fang.Darmajaya mengangkat kepala dan menatapnya. Ia ingin mengatakan se
Kaivan menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. "Bos kita adalah sang Taring Alpha. Kalau dia bisa mati semudah itu, dia pasti sudah mati berkali-kali sejak dulu."Taring Baja menggertakkan giginya. "Tapi ledakan tadi—""Ledakan itu memang bagian dari jebakan." Kaivan langsung memotong ucapannya. "Masalahnya, bos juga tahu itu jebakan."Ia menatap reruntuhan yang masih terbakar di kejauhan. "Jadi aku tidak percaya dia masuk tanpa menyiapkan sesuatu."Arga menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya yang sejak tadi mencengkeram senapan perlahan mengendur.Taring Baja juga tidak lagi bergerak menuju pintu.Mereka semua mengenal Arka Mahendra lebih baik daripada siapa pun. Pria itu mungkin nekat, mungkin gila, tetapi tidak pernah bodoh. Dan untuk beberapa saat hanya suara api yang terbakar di kejauhan yang terdengar di dalam pos penjaga.Kemudian Kaivan berbicara lagi dengan nada yang jauh lebih tenang. "Kita tunggu. Kalau bos masih hidup, dia akan muncul.""Dan kalau ada orang yang cuk
DUUAAAAARRR!Ledakan terakhir menghantam fondasi bangunan.Struktur tiga lantai itu runtuh dari dalam seperti kartu domino raksasa. Batu bata, beton, kaca, furnitur, dan balok kayu beterbangan ke udara sebelum berubah menjadi lautan puing yang dilalap api.Asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit fajar.Dari kejauhan, Kaivan, Taring Baja, dan Arga yang telah mundur ke area instalasi pengolahan limbah hanya bisa menyaksikan bangunan utama manor runtuh di depan mata mereka."Bos—!" raungan Taring Baja pecah, tetapi suaranya tenggelam di tengah gemuruh ledakan.Arga tidak berkata apa-apa. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mencengkeram senapan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Sinar matahari pertama akhirnya menembus cakrawala dan menerangi medan yang dipenuhi asap, darah, serta kematian.Di sisi lain, Lorenzo berdiri tenang sambil menyaksikan kehancuran yang baru saja terjadi. Senyum puas perlahan muncul di wajahnya sebelum ia menoleh kepada Reginald."Perintahkan s
Menara Altura.Kesadaran Keira perlahan kembali. Rasa sakit menusuk di bagian belakang lehernya, ia mengerang pelan. Udara di sekitarnya lembap dan berbau debu semen. Bau karat dan kayu lapuk memenuhi hidungnya.Matanya terbuka perlahan. Pandangan pertama yang ia lihat adalah rangka jendela beton t
“Sekarang…” Arka berdiri di depannya, tatapan matanya dingin. “Siapa yang tidak bisa keluar hidup-hidup?”Tubuh Bima gemetar, tidak ada lagi kesombongan yang tersisa di wajahnya.Tiba-tiba—KRING~Ponsel Arka berdering, ia melirik layar.Nomor terenkripsi.[Taring Bayangan.]Arka sedikit mengernyit
Melihat itu, Bima meraung. “Habisi mereka!”Puluhan preman langsung menyerbu. Parang berkilat terjadi di bawah lampu arena. Tongkat besi terangkat tinggi.Namun detik berikutnya, Arka dan Garuda Hitam sudah bergerak.BUGH!Seorang preman yang paling depan bahkan belum sempat mengayunkan parang keti
Sudut bibir Arka bergerak hampir tak terlihat.Namun sebelum ia menjawab, suara wanita terdengar dari samping. “Jelas salah.”Mireya muncul tanpa suara. Hari ini ia mengenakan pakaian kulit hitam ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Ia berdiri di sisi Arka dengan santai.Lalu tersenyum pada Garu







