ログイン“Arka Mahendra.”
Jawaban itu mematahkan harapan yang sempat muncul.
‘Bukan dia…’
Kekecewaan melintas di mata Keira Adhistya, tetapi pikiran lain segera muncul, pikiran yang bahkan terasa tidak masuk akal bagi dirinya sendiri. Wajah yang begitu mirip, dan tatapan yang sama teguhnya, mungkin keberadaan orang ini bisa mengisi kekosongan yang tak pernah benar-benar hilang.
Ia menarik napas, menenangkan diri, lalu kembali menjadi presiden Grup Arta Vistara yang tegas. “Tidak perlu tes lebih lanjut,” katanya. “Kau diterima.”
Keributan langsung pecah.
Para pelamar yang siap bertarung saling berpandangan dengan tidak percaya. Asistennya pun terkejut.
“Direktur, ini melanggar prosedur. Kemampuan Tuan ini belum—”
“Aku sudah memutuskan.”
Namun orang yang dipilih justru tidak terlihat senang. Arka Mahendra mengerutkan kening sedikit.
“Terima kasih,” katanya tenang. “Tapi saya punya satu syarat sebelum menerima pekerjaan ini.”
Seluruh ruangan semakin gaduh. Kesempatan sebesar itu masih disertai syarat?
Alis Keira Adhistya terangkat. Sisa kelembutan di matanya menghilang. “Katakan.”
Arka Mahendra menatapnya lurus. “Saya menginginkan gaji seratus juta per tahun. Dan uang muka dua tahun sebesar dua ratus juta. Saya membutuhkannya sekarang, sebagai gantinya, saya akan memastikan keselamatan Anda.”
Keheningan menyelimuti aula.
Dua ratus juta di muka? Untuk seseorang yang bahkan belum membuktikan kemampuan?
Asisten Keira Adhistya hampir mengira pria ini datang untuk membuat keributan. Namun saat Keira Adhistya menatap mata Arka Mahendra, ia tidak melihat keserakahan. Yang ada hanyalah ketenangan dan kegelisahan yang ditekan dalam-dalam.
Jumlah itu tidak besar baginya, yang menjadi masalah adalah alasan di baliknya.
Ruangan menunggu keputusan.
Tiba-tiba, seseorang berteriak dari kerumunan. “Saya tidak terima! Kenapa dia? Orang seperti itu langsung dipilih? Apa ini seleksi atau sandiwara?”
Beberapa orang langsung ikut bersuara, suasana memanas.
Keira Adhistya mengalihkan pandangannya dari Arka Mahendra ke kerumunan, lalu berkata dingin, “Permintaanmu bisa dipertimbangkan. Tapi kau harus menunjukkan kemampuanmu.”
Arka Mahendra mengangguk pelan, ia berjalan menuju arena latihan.
Langkahnya tenang, tanpa tergesa. “Waktu saya terbatas,” katanya datar. “Kalian mau datang sekaligus, atau satu per satu?”
Ucapan Arka Mahendra seketika memecah suasana seperti percikan api jatuh ke tumpukan bensin.
“Arogan sekali!”
“Anak ini cari mati!”
“Melawan kita semua sekaligus?!”
Amarah dan kecemburuan yang sejak tadi tertahan langsung meledak. Para pelamar yang hadir bukan orang biasa, sebagian mantan tentara, sebagian petarung jalanan, semuanya terbiasa dihormati karena kekuatan mereka. Tantangan terang-terangan seperti itu terasa seperti penghinaan.
Keira Adhistya mengerutkan kening tipis. Ia mengakui Arka Mahendra memiliki ketenangan yang tidak biasa, tetapi menghadapi lebih dari dua puluh orang berpengalaman sekaligus tetap terdengar berlebihan. Ia ingin melihat apakah pria ini benar-benar mampu, atau hanya berbicara tanpa dasar.
Seorang pria bertubuh besar yang sebelumnya memprotes melompat ke arena lebih dulu. Tingginya hampir dua meter, ototnya padat, langkahnya berat dan mantap.
“Aku saja cukup,” katanya sambil menyeringai. “Biar aku ajari kau arti kesombongan.”
Tanpa menunggu jawaban, ia melayangkan pukulan lurus yang cepat dan berat, udara berdesis di sepanjang lintasannya.
Beberapa orang di bawah panggung sudah tersenyum, yakin pertarungan akan berakhir seketika.
Arka Mahendra tidak bergerak sampai saat terakhir. Ketika tinju itu hampir menyentuh wajahnya, tubuhnya bergeser, gerakannya bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang.
Sosoknya seperti menghilang dari jalur serangan. Ia melangkah masuk ke jarak dekat, tangan kirinya menangkap pergelangan lawan dan menekannya ke bawah, sementara sikunya menghantam tulang rusuk pria itu dengan tenaga terkendali namun menghancurkan.
“ARGG—”
Erangan tertahan keluar dari tenggorokan lawannya. Tubuh besar itu langsung kehilangan kekuatan dan jatuh berlutut, wajahnya berubah pucat.
Satu gerakan, dan semuanya selesai.
Ruang latihan mendadak sunyi.
Ejekan menghilang, digantikan keterkejutan. Bahkan mereka yang berpengalaman dapat melihat perbedaannya. Kecepatan, sudut serangan, dan efisiensi gerakan itu bukan hasil latihan biasa, itu adalah teknik yang ditempa dari situasi hidup dan mati.
Arka Mahendra memandang kerumunan dengan tenang. “Aku sudah bilang, datang saja sekaligus. Aku tidak punya banyak waktu.”
Kali ini, tak ada yang menganggapnya bercanda.
“Sialan! Serang bersama!” seseorang berteriak.
Tujuh atau delapan orang langsung meloncat ke arena dari berbagai arah. Pukulan dan tendangan datang hampir bersamaan, menutup ruang gerak.
Napas Keira Adhistya tanpa sadar tertahan. Sekuat apa pun seseorang, jumlah tetaplah jumlah. Namun yang terjadi berikutnya sepenuhnya melampaui dugaan.
Tubuh Arka Mahendra bergerak tanpa ragu, seperti mesin yang bekerja dengan presisi sempurna. Ia berputar di antara serangan, setiap langkah hanya sejauh yang diperlukan, tidak ada gerakan sia-sia. Semua tekniknya sederhana, langsung, dan brutal dalam efisiensi, cara bertarung yang lahir dari medan perang, bukan arena pertandingan.
Bugh!
Satu pukulan mengenai leher, seseorang langsung tumbang. Kuncian cepat memutar sendi, lawan lain kehilangan kemampuan bertarung.
Bagh!
Tendangan samping menghantam perut, tubuh seseorang terlempar keluar arena.
BRAKK!
“UGH!”
“ARGH!”
Suara benturan dan erangan memenuhi ruangan. Dalam hitungan menit, semua penyerang telah jatuh. Tidak ada yang mampu berdiri kembali.
Ketika semuanya berakhir, Arka Mahendra masih berdiri di tempat semula. Napasnya stabil, pakaiannya bahkan tidak kusut.
Keheningan menyelimuti aula.
Para pelamar yang tersisa menatapnya dengan wajah pucat. Apa yang berdiri di depan mereka bukan sekadar petarung kuat, melainkan seseorang yang terbiasa menang sebelum pertarungan benar-benar dimulai.
Keira Adhistya memandangnya tanpa berkedip. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang sulit dijelaskan. Wajah yang mengingatkannya pada masa lalu itu kini berdiri dengan kekuatan yang sepenuhnya berbeda, menciptakan kontras yang mengguncang pertahanannya sendiri.
Asistennya seakan lupa cara menutup mulut.
Arka Mahendra turun dari arena dan berhenti di depan Keira Adhistya. “Nona Adhistya,” katanya tenang, “Apakah sekarang cukup?”
Keira Adhistya menarik napas panjang, memulihkan ketenangannya. Ketika berbicara lagi, nada suaranya kembali tegas.
“Bagus, saya setuju dengan syarat Anda. Uang itu akan segera ditransfer.”
Beban yang menekan dada Arka Mahendra sejak semalam akhirnya sedikit terangkat. Setidaknya, operasi kakeknya bisa dilakukan.
Namun Keira Adhistya belum selesai. “Tapi saya juga punya syarat.”
Tatapannya tajam, penuh perhitungan. “Dua ratus juta itu bukan uang muka gaji,” katanya perlahan. “Itu biaya untuk membeli waktumu selama dua tahun.”
Ruangan kembali hening. “Selama dua tahun ke depan, waktu, kemampuan, dan kesetiaanmu hanya untukku. Kau melindungiku, menjalankan tugasku, dan tidak bekerja untuk siapa pun tanpa izinku. Aku tetap membayar gajimu seperti biasa.”
Ia berhenti sejenak, menatap langsung ke mata Arka Mahendra. “Aku membayar, kau menyerahkan dirimu. Itu kesepakatannya.”
Nada suaranya kembali dingin, hampir menantang. “Kau bisa menolak.”
Arka Mahendra terdiam, seorang prajurit yang pernah berdiri di garis depan kini diminta menjual kebebasannya?
Tangannya mengepal tanpa sadar. Ia sempat berpikir untuk mencari bantuan lama dari militer, tetapi suara kakeknya terngiang jelas di kepalanya. Jangan menjadi beban bagi negara, jangan menambah masalah bagi pasukan.
Pilihan yang tersisa tidak banyak. Ia menghembuskan napas panjang.
“Baik.”
Sorot mata Yudhist dipenuhi cahaya menyeramkan. Ambisi, ketakutan, sekaligus kegilaan bercampur menjadi satu. Dia tahu, jika berhasil malam ini, posisinya di Keluarga Nirvana akan melonjak drastis. Namun jika gagal, tubuhnya mungkin bahkan tidak akan ditemukan utuh.Wiranata terdiam beberapa detik. Amarah yang sebelumnya membara di wajahnya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, tenang, dan berbahaya. Dia memang membutuhkan kemenangan.Bukan sekadar balas dendam atas penghinaan semalam, tetapi juga untuk mengembalikan nama Keluarga Nirvana di mata dunia bawah. Kalau tidak, semua orang akan mulai menganggap mereka melemah. Dan itu tidak boleh terjadi.“Apa yang kau butuhkan?” tanyanya akhirnya, nada suaranya terdengar rendah dan berat.Yudhist langsung menjawab tanpa ragu. “Lima pembunuh terbaik keluarga.”Ia melangkah maju satu langkah. “Aku tidak butuh banyak orang. Terlalu banyak pergerakan justru akan menarik perhatian. Yang kubutuhkan adalah orang-orang yang benar-bena
“Longgarkan pengamanan luar mulai malam ini. Buat semuanya terlihat alami.” Lorenzo menyandarkan tubuhnya santai. “Terutama area laut Zona Frontier. Dekat lokasi tempat Yudhist dan anak buahnya bersembunyi.”Reginald langsung memahami maksud itu. “Kakak… kau ingin memancing mereka masuk?”“Wiranata sudah melempar umpannya.” Lorenzo mengangkat cangkir teh yang mulai dingin. “Sekarang, tinggal kita lihat… apakah umpannya cukup bagus untuk menangkap ikan.”Srrt.Ia menyesap teh itu perlahan sebelum kembali berkata dengan nada acuh tak acuh. “Biarkan tali pancingnya menjulur panjang. Jangan buru-buru menariknya.”“Dimengerti.” Reginald segera berbalik meninggalkan ruangan.Pintu tertutup kembali.***Di saat yang hampir bersamaan, suasana di kediaman Keluarga Nirvana juga dipenuhi tekanan mencekam.Yudhist yang baru dipanggil masuk tidak lagi terlihat setenang biasanya. Wajahnya pucat kelelahan, sementara luka baru di pipi kirinya masih belum sepenuhnya mengering. Bekas pelarian semalam m
Setelah mendengar laporan bawahannya yang lagi-lagi hanya mengatakan mereka masih menyelidiki, garis di antara alis Lorenzo perlahan mengeras. Sorot matanya tetap tenang, tetapi dingin yang tersembunyi di sana cukup untuk membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama.Tanpa intelijen yang jelas, semua langkah terasa seperti berjalan di ladang ranjau dalam gelap. Sedikit saja salah membaca situasi, nyawa bisa lenyap tanpa jejak. Terlebih lagi, informasi yang baru diterimanya mengarah pada satu fakta yang membuat situasi semakin rumit, target kali ini berasal dari Zona Arkturus.Tok tok tok.Ketukan pelan terdengar dari pintu kayu ukir di sisi ruangan. Ritmenya stabil, tidak tergesa, tetapi cukup tegas untuk menunjukkan siapa pun di luar sana datang membawa urusan penting.“Masuk.”Suara Lorenzo rendah dan datar.Pintu terbuka perlahan. Seorang pria bertubuh tinggi melangkah masuk dengan wajah yang memiliki kemiripan kuat dengannya. Rahang tajam, sorot mata dingin, dan aura menekan yang
“Kau—!”“Dan soal tuduhanmu…” Lorenzo memotong tanpa memberi kesempatan bicara. “Apa kau punya bukti?”Hening sesaat.Lalu suara Lorenzo kembali terdengar pelan, namun jauh lebih menusuk. “Daripada meraung seperti binatang terluka, lebih baik kau memikirkan apakah ada kebocoran di dalam keluargamu sendiri,” Ia mendengus tipis. “Atau mungkin sejak awal rencanamu memang penuh celah.”Urat di pelipis Wiranata berdenyut hebat.“Lagi pula,” lanjut Lorenzo santai, “Yang meminta kerja sama sejak awal adalah kau. Bukan aku.”Kalimat itu terasa seperti tamparan keras.Wajah Wiranata berubah merah keunguan. Dadanya naik turun hebat menahan amarah yang hampir meledak dari tenggorokan.Namun Lorenzo belum selesai. “Kalau tidak ada hal penting lagi, aku tutup teleponnya,” suaranya kembali malas. “Pagi-pagi sudah mendengar orang mengamuk benar-benar merusak suasana.”“Lorenzo!” bentak Wiranata sekuat tenaga. “Ini belum selesai! Keluarga Nirvana tidak akan melupakan penghinaan ini!”“Cih.” Lorenzo t
Pikirannya berputar cepat, orang yang mengetahui keseluruhan operasi itu tidak banyak. Darmajaya jelas tidak mungkin berkhianat. Orang itu sudah mengikuti dirinya selama bertahun-tahun. Selain itu, Sindikat Taring Ular bahkan menderita kerugian paling besar malam tadi.Kalau begitu, tatapan Wiranata perlahan berubah dingin. “Lorenzo…” Suaranya keluar lirih seperti desisan ular berbisa. “Rubah tua sialan itu!”Semakin dipikirkan, semakin semuanya terasa janggal.Keluarga Montara seharusnya melancarkan serangan bersamaan untuk menekan Keluarga Mahesa dari sisi lain. Namun sepanjang malam, tidak ada satu pun bayangan pasukan mereka muncul di medan perang.Mereka benar-benar menghilang. Dan sekarang, setelah Keluarga Nirvana dan Sindikat Taring Ular babak belur, pihak yang justru paling sedikit kehilangan adalah Keluarga Montara.Wiranata langsung meraih telepon kuningan di atas meja, jarinya menekan nomor Lorenzo dengan kasar.Nada sambung terdengar cukup lama sebelum akhirnya diangkat.
Napas berat terdengar dari sambungan.“Omong kosong!” Wiradarma langsung mengumpat pelan, tetapi suaranya sedikit bergetar. “Jangan bicara seolah kau sendirian.”Kehangatan samar muncul di mata Arka.“Kalau butuh sesuatu, katakan langsung. Selama aku masih hidup, tak ada yang akan membiarkanmu berjalan sendirian!” lanjut Wiradarma.“Baik.”Beberapa detik berikutnya, suasana perlahan melunak.“Kapan kau datang ke Zona Frontier?” tanya Wiradarma tiba-tiba. “Aku masih menyimpan minuman lama di gudang bawah tanah. Orang-orang tua itu sudah lama mencari-cari kabarmu.”“Setelah semua urusan di sini selesai.” Arka terkekeh kecil. “Dan jangan bocorkan keberadaanku dulu.”“Cih, seolah aku sebodoh itu.” Wiradarma mendengus. “Cepat datang sebelum aku keburu mati tua.”Tut.Sambungan telepon terputus.Namun ruang batu itu masih dipenuhi keheningan berat.Adhyaksa belum sepenuhnya pulih dari keterkejutan, sementara Garda tiba-tiba melangkah maju dan mencengkeram lengan Arka erat-erat. “Taring Alph
Taring Baja menyisir ruang bawah tanah itu tanpa jeda. Telapak tangannya mengetuk setiap bidang dinding, berpindah dari satu sudut ke sudut lain, memastikan tak ada celah yang terlewat.Tok… tok…Yang terdengar hanya gema padat yang dingin, mati, tanpa rongga. Tak ada pintu tersembunyi. Tak ada lor
Mereka seperti masuk ke dunia lain. Di atas, suara ledakan masih menggila. Tanah bergetar, dinding lorong berderak. Debu dan pecahan batu terus berjatuhan.Seolah seluruh dunia akan runtuh menimpa mereka.“Cepat! Turun lagi!” suara Garuda Hitam menggema di lorong sempit, dengan tegang ia menopang A
Di luar pabrik.Bram menyeringai lebar saat melihat sinyal “siap” dari anak buahnya. Preman-preman biasa sudah ditarik mundur.Matanya menatap ke dalam pabrik, tempat bayangan Arka bergerak samar di antara reruntuhan.Permainan kucing dan tikus… akhirnya mencapai puncaknya.“Ravian…” gumamnya lirih
Pabrik Tekstil Arganta berdiri sunyi di utara kota. Bangunannya tua dan lapuk, seperti kerangka raksasa yang membusuk dalam gelap. Udara dipenuhi bau karat dan lembap.Tempat sempurna untuk menyembunyikan sesuatu atau seseorang.Di dalam area pabrik, penjagaan tampak longgar. Dua penjaga bersandar







