مشاركة

Bab 3

مؤلف: Skyy
last update تاريخ النشر: 2026-02-13 20:32:09

“Arka Mahendra.”

Jawaban itu mematahkan harapan yang sempat muncul.

‘Bukan dia…’

Kekecewaan melintas di mata Keira Adhistya, tetapi pikiran lain segera muncul, pikiran yang bahkan terasa tidak masuk akal bagi dirinya sendiri. Wajah yang begitu mirip, dan tatapan yang sama teguhnya, mungkin keberadaan orang ini bisa mengisi kekosongan yang tak pernah benar-benar hilang.

Ia menarik napas, menenangkan diri, lalu kembali menjadi presiden Grup Arta Vistara yang tegas. “Tidak perlu tes lebih lanjut,” katanya. “Kau diterima.”

Keributan langsung pecah.

Para pelamar yang siap bertarung saling berpandangan dengan tidak percaya. Asistennya pun terkejut.

“Direktur, ini melanggar prosedur. Kemampuan Tuan ini belum—”

“Aku sudah memutuskan.”

Namun orang yang dipilih justru tidak terlihat senang. Arka Mahendra mengerutkan kening sedikit.

“Terima kasih,” katanya tenang. “Tapi saya punya satu syarat sebelum menerima pekerjaan ini.”

Seluruh ruangan semakin gaduh. Kesempatan sebesar itu masih disertai syarat?

Alis Keira Adhistya terangkat. Sisa kelembutan di matanya menghilang. “Katakan.”

Arka Mahendra menatapnya lurus. “Saya menginginkan gaji seratus juta per tahun. Dan uang muka dua tahun sebesar dua ratus juta. Saya membutuhkannya sekarang, sebagai gantinya, saya akan memastikan keselamatan Anda.”

Keheningan menyelimuti aula.

Dua ratus juta di muka? Untuk seseorang yang bahkan belum membuktikan kemampuan?

Asisten Keira Adhistya hampir mengira pria ini datang untuk membuat keributan. Namun saat Keira Adhistya menatap mata Arka Mahendra, ia tidak melihat keserakahan. Yang ada hanyalah ketenangan dan kegelisahan yang ditekan dalam-dalam.

Jumlah itu tidak besar baginya, yang menjadi masalah adalah alasan di baliknya.

Ruangan menunggu keputusan.

Tiba-tiba, seseorang berteriak dari kerumunan. “Saya tidak terima! Kenapa dia? Orang seperti itu langsung dipilih? Apa ini seleksi atau sandiwara?”

Beberapa orang langsung ikut bersuara, suasana memanas.

Keira Adhistya mengalihkan pandangannya dari Arka Mahendra ke kerumunan, lalu berkata dingin, “Permintaanmu bisa dipertimbangkan. Tapi kau harus menunjukkan kemampuanmu.”

Arka Mahendra mengangguk pelan, ia berjalan menuju arena latihan.

Langkahnya tenang, tanpa tergesa. “Waktu saya terbatas,” katanya datar. “Kalian mau datang sekaligus, atau satu per satu?”

Ucapan Arka Mahendra seketika memecah suasana seperti percikan api jatuh ke tumpukan bensin.

“Arogan sekali!”

“Anak ini cari mati!”

“Melawan kita semua sekaligus?!”

Amarah dan kecemburuan yang sejak tadi tertahan langsung meledak. Para pelamar yang hadir bukan orang biasa, sebagian mantan tentara, sebagian petarung jalanan, semuanya terbiasa dihormati karena kekuatan mereka. Tantangan terang-terangan seperti itu terasa seperti penghinaan.

Keira Adhistya mengerutkan kening tipis. Ia mengakui Arka Mahendra memiliki ketenangan yang tidak biasa, tetapi menghadapi lebih dari dua puluh orang berpengalaman sekaligus tetap terdengar berlebihan. Ia ingin melihat apakah pria ini benar-benar mampu, atau hanya berbicara tanpa dasar.

Seorang pria bertubuh besar yang sebelumnya memprotes melompat ke arena lebih dulu. Tingginya hampir dua meter, ototnya padat, langkahnya berat dan mantap.

“Aku saja cukup,” katanya sambil menyeringai. “Biar aku ajari kau arti kesombongan.”

Tanpa menunggu jawaban, ia melayangkan pukulan lurus yang cepat dan berat, udara berdesis di sepanjang lintasannya.

Beberapa orang di bawah panggung sudah tersenyum, yakin pertarungan akan berakhir seketika.

Arka Mahendra tidak bergerak sampai saat terakhir. Ketika tinju itu hampir menyentuh wajahnya, tubuhnya bergeser, gerakannya bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang.

Sosoknya seperti menghilang dari jalur serangan. Ia melangkah masuk ke jarak dekat, tangan kirinya menangkap pergelangan lawan dan menekannya ke bawah, sementara sikunya menghantam tulang rusuk pria itu dengan tenaga terkendali namun menghancurkan.

“ARGG—”

Erangan tertahan keluar dari tenggorokan lawannya. Tubuh besar itu langsung kehilangan kekuatan dan jatuh berlutut, wajahnya berubah pucat.

Satu gerakan, dan semuanya selesai.

Ruang latihan mendadak sunyi.

Ejekan menghilang, digantikan keterkejutan. Bahkan mereka yang berpengalaman dapat melihat perbedaannya. Kecepatan, sudut serangan, dan efisiensi gerakan itu bukan hasil latihan biasa, itu adalah teknik yang ditempa dari situasi hidup dan mati.

Arka Mahendra memandang kerumunan dengan tenang. “Aku sudah bilang, datang saja sekaligus. Aku tidak punya banyak waktu.”

Kali ini, tak ada yang menganggapnya bercanda.

“Sialan! Serang bersama!” seseorang berteriak.

Tujuh atau delapan orang langsung meloncat ke arena dari berbagai arah. Pukulan dan tendangan datang hampir bersamaan, menutup ruang gerak.

Napas Keira Adhistya tanpa sadar tertahan. Sekuat apa pun seseorang, jumlah tetaplah jumlah. Namun yang terjadi berikutnya sepenuhnya melampaui dugaan.

Tubuh Arka Mahendra bergerak tanpa ragu, seperti mesin yang bekerja dengan presisi sempurna. Ia berputar di antara serangan, setiap langkah hanya sejauh yang diperlukan, tidak ada gerakan sia-sia. Semua tekniknya sederhana, langsung, dan brutal dalam efisiensi, cara bertarung yang lahir dari medan perang, bukan arena pertandingan.

Bugh!

Satu pukulan mengenai leher, seseorang langsung tumbang. Kuncian cepat memutar sendi, lawan lain kehilangan kemampuan bertarung.

Bagh!

Tendangan samping menghantam perut, tubuh seseorang terlempar keluar arena.

BRAKK!

“UGH!”

“ARGH!”

Suara benturan dan erangan memenuhi ruangan. Dalam hitungan menit, semua penyerang telah jatuh. Tidak ada yang mampu berdiri kembali.

Ketika semuanya berakhir, Arka Mahendra masih berdiri di tempat semula. Napasnya stabil, pakaiannya bahkan tidak kusut.

Keheningan menyelimuti aula.

Para pelamar yang tersisa menatapnya dengan wajah pucat. Apa yang berdiri di depan mereka bukan sekadar petarung kuat, melainkan seseorang yang terbiasa menang sebelum pertarungan benar-benar dimulai.

Keira Adhistya memandangnya tanpa berkedip. Jantungnya berdetak lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena sesuatu yang sulit dijelaskan. Wajah yang mengingatkannya pada masa lalu itu kini berdiri dengan kekuatan yang sepenuhnya berbeda, menciptakan kontras yang mengguncang pertahanannya sendiri.

Asistennya seakan lupa cara menutup mulut.

Arka Mahendra turun dari arena dan berhenti di depan Keira Adhistya. “Nona Adhistya,” katanya tenang, “Apakah sekarang cukup?”

Keira Adhistya menarik napas panjang, memulihkan ketenangannya. Ketika berbicara lagi, nada suaranya kembali tegas.

“Bagus, saya setuju dengan syarat Anda. Uang itu akan segera ditransfer.”

Beban yang menekan dada Arka Mahendra sejak semalam akhirnya sedikit terangkat. Setidaknya, operasi kakeknya bisa dilakukan.

Namun Keira Adhistya belum selesai. “Tapi saya juga punya syarat.”

Tatapannya tajam, penuh perhitungan. “Dua ratus juta itu bukan uang muka gaji,” katanya perlahan. “Itu biaya untuk membeli waktumu selama dua tahun.”

Ruangan kembali hening. “Selama dua tahun ke depan, waktu, kemampuan, dan kesetiaanmu hanya untukku. Kau melindungiku, menjalankan tugasku, dan tidak bekerja untuk siapa pun tanpa izinku. Aku tetap membayar gajimu seperti biasa.”

Ia berhenti sejenak, menatap langsung ke mata Arka Mahendra. “Aku membayar, kau menyerahkan dirimu. Itu kesepakatannya.”

Nada suaranya kembali dingin, hampir menantang. “Kau bisa menolak.”

Arka Mahendra terdiam, seorang prajurit yang pernah berdiri di garis depan kini diminta menjual kebebasannya?

Tangannya mengepal tanpa sadar. Ia sempat berpikir untuk mencari bantuan lama dari militer, tetapi suara kakeknya terngiang jelas di kepalanya. Jangan menjadi beban bagi negara, jangan menambah masalah bagi pasukan.

Pilihan yang tersisa tidak banyak. Ia menghembuskan napas panjang.

“Baik.”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 328

    Dari balik pintu, suara pesta terdengar begitu gaduh hingga menusuk telinga."Satu botol lagi! Hari ini aku sudah menghabiskan tiga botol! Hahaha!""Putar musiknya lebih keras! Ayo menari!""Untuk Patriark! Untuk Keluarga Montara!"Arka mendorong pintu perlahan.Kreeek—Gelombang suara langsung menghantam pendengarannya. Bau alkohol, keringat, asap rokok, dan daging panggang bercampur menjadi satu hingga membuat udara terasa sesak. Aula itu dipenuhi lebih dari lima puluh orang. Sebagian besar sudah mabuk berat. Ada yang tertawa terbahak-bahak, ada yang berjoget di atas meja, sementara yang lain bahkan nyaris tidak mampu berdiri tegak.Tidak seorang pun memperhatikan kehadirannya. Di mata mereka, ia hanyalah seorang penjaga biasa yang baru kembali bertugas.Arka berjalan menyusuri sisi ruangan tanpa menarik perhatian. Tatapannya menembus kerumunan yang bergoyang tak karuan hingga akhirnya berhenti pada satu sosok. Kepalanya sedikit menunduk, air masih menetes dari ujung seragamnya. Wa

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 327

    Ucapan Lorenzo beberapa saat lalu masih terngiang jelas di telinganya."Unit Alpha bukanlah pasukan yang istimewa."Kalimat itu terasa seperti besi panas yang dipaksa menancap ke dalam dadanya. Kini orang yang mengucapkannya sedang berpesta hanya beberapa puluh meter darinya.Arka mulai bergerak, tubuhnya meluncur di dalam air tanpa suara. Gerakannya begitu halus hingga permukaan danau hampir tidak menghasilkan riak. Bertahun-tahun menjalani pelatihan infiltrasi bawah air membuatnya bergerak senatural predator yang lahir dari kedalaman.Di tepi danau, dua penjaga sedang berjaga sambil merokok. Asap tipis mengepul dari bibir mereka. Tatapan keduanya terus mengarah ke aula yang terang benderang dengan rasa iri yang sulit disembunyikan."Sial," gerutu salah satu penjaga. "Mereka berpesta di dalam, sementara kita malah jadi santapan nyamuk.""Sudahlah," balas rekannya. "Kita masih hidup saja sudah beruntung. Nanti saat pergantian jaga, kita masuk diam-diam dan ambil sedikit—"Kalimatnya t

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 326

    Tawanya pecah keras. "Wiranata datang dengan pasukan elitnya, tapi pulang membawa kekalahan. Anak buah terbaiknya hancur bersama konvoi yang selama ini mereka banggakan."Ia berhenti sejenak, membiarkan semua orang memperhatikannya. "Dan pasukan yang selama ini dipuja-puja itu..."Reginald menyeringai lebar. "Ternyata tidak sehebat yang mereka katakan.""Hahaha!"Tawa dan sorakan kembali mengguncang ruangan.Lorenzo hanya meneguk wiski di tangannya perlahan.Cairan panas itu mengalir menuruni tenggorokannya, sementara matanya menatap ke luar jendela menuju reruntuhan bangunan utama yang kini hanya terlihat sebagai bayangan gelap di kejauhan. Senyum dingin perlahan terukir di bibirnya.Unit Alpha?Baginya, mereka tidak lebih dari sekumpulan prajurit yang kebetulan memiliki nama besar. Di Zona Bayangan, reputasi tidak pernah menjamin keselamatan. Di tempat seperti ini, ancaman paling mematikan sering kali datang dari arah yang tidak terlihat."Minum terus!" seru Reginald sambil mengangk

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 325

    "Pergi dulu dari sini," jawab Arga singkat. "Ini bukan tempat untuk bicara."Ketika rombongan itu menghilang ke dalam pegunungan, Kediaman Montara kembali tenggelam dalam kesibukan yang mencekam.Sepanjang hari, pasukan Keluarga Montara melakukan penyisiran tanpa henti.Reruntuhan bangunan utama dibongkar sedikit demi sedikit. Potongan beton, kayu hangus, serta sisa-sisa tubuh yang tidak lagi dapat dikenali disingkirkan dari lokasi ledakan.Menjelang pukul tiga sore, sebagian besar pekerjaan pembersihan hampir selesai.Darmajaya akhirnya tertangkap. Pria tua itu dibawa ke tengah halaman dalam keadaan mengenaskan. Kacamatanya telah pecah, wajahnya dipenuhi memar, sementara kedua tangannya terikat rapat di belakang punggung.Tak lama kemudian Lorenzo muncul. Ia mengenakan setelan putih bersih dan berjalan perlahan dengan tongkat di tangannya. Reginald mengikuti di belakang bersama beberapa anggota elit Satuan Black Fang.Darmajaya mengangkat kepala dan menatapnya. Ia ingin mengatakan se

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 324

    Kaivan menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. "Bos kita adalah sang Taring Alpha. Kalau dia bisa mati semudah itu, dia pasti sudah mati berkali-kali sejak dulu."Taring Baja menggertakkan giginya. "Tapi ledakan tadi—""Ledakan itu memang bagian dari jebakan." Kaivan langsung memotong ucapannya. "Masalahnya, bos juga tahu itu jebakan."Ia menatap reruntuhan yang masih terbakar di kejauhan. "Jadi aku tidak percaya dia masuk tanpa menyiapkan sesuatu."Arga menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya yang sejak tadi mencengkeram senapan perlahan mengendur.Taring Baja juga tidak lagi bergerak menuju pintu.Mereka semua mengenal Arka Mahendra lebih baik daripada siapa pun. Pria itu mungkin nekat, mungkin gila, tetapi tidak pernah bodoh. Dan untuk beberapa saat hanya suara api yang terbakar di kejauhan yang terdengar di dalam pos penjaga.Kemudian Kaivan berbicara lagi dengan nada yang jauh lebih tenang. "Kita tunggu. Kalau bos masih hidup, dia akan muncul.""Dan kalau ada orang yang cuk

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 323

    DUUAAAAARRR!Ledakan terakhir menghantam fondasi bangunan.Struktur tiga lantai itu runtuh dari dalam seperti kartu domino raksasa. Batu bata, beton, kaca, furnitur, dan balok kayu beterbangan ke udara sebelum berubah menjadi lautan puing yang dilalap api.Asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit fajar.Dari kejauhan, Kaivan, Taring Baja, dan Arga yang telah mundur ke area instalasi pengolahan limbah hanya bisa menyaksikan bangunan utama manor runtuh di depan mata mereka."Bos—!" raungan Taring Baja pecah, tetapi suaranya tenggelam di tengah gemuruh ledakan.Arga tidak berkata apa-apa. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mencengkeram senapan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Sinar matahari pertama akhirnya menembus cakrawala dan menerangi medan yang dipenuhi asap, darah, serta kematian.Di sisi lain, Lorenzo berdiri tenang sambil menyaksikan kehancuran yang baru saja terjadi. Senyum puas perlahan muncul di wajahnya sebelum ia menoleh kepada Reginald."Perintahkan s

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 39

    Kelvin mencengkeram pipa baja dengan kedua tangan, matanya merah. Tanpa ragu ia mengayunkannya.WHUSH~Pipa baja berdesing menembus udara.Leonard menunduk cepat, tubuhnya bergerak liar seperti hewan yang terpojok. Dengan tangan yang tersisa, ia menusuk ke depan.CRACK!Belati itu menyayat lengan K

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 38

    Di saat yang sama, Mireya menjawab panggilannya. “Mireya! Kau baik-baik saja?!” Suara pria tua terdengar marah. “Kelvin pantas mati!”Mireya tersenyum tipis. “Dia belum mati. Kalau Ayah datang sedikit lebih lambat, mungkin sekarang Ayah sudah punya cucu dari pria bajingan itu!”Di ujung sana terden

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 34

    Zona Industri Arganta.Beberapa menit kemudian.Gerbang besi pabrik tua berdiri berkarat. Bangunan beton gelap menjulang seperti kerangka raksasa. Di dalamnya, dengan situasi jauh lebih mengerikan.Mireya terikat pada kursi, tangan dan kakinya diikat tali kasar. Lakban akhirnya menutup mulutnya, ke

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 31

    Mireya merasakan hawa dingin menjalar di tulang belakangnya. Ia tahu Kelvin sudah gila, pria ini benar-benar bisa melakukan apa saja. Namun ia tetap menatap Kelvin dengan dingin.“Dia akan datang.”Kelvin menyeringai. “Oh ya?”Mireya tersenyum tipis. “Karena dia tahu, apa yang akan terjadi pada ora

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status