Masuk
Stasiun Kota Mahatara.
Peluit panjang terdengar saat kereta perlahan memasuki peron. Suara roda besi bergesekan dengan rel menggema di seluruh stasiun, diikuti deru langkah kaki kerumunan yang mulai bergerak menuju pintu keluar.
Pintu kereta terbuka.
Penumpang berdesakan turun, membawa koper dan tas besar. Udara dipenuhi bau keringat yang samar. Di tengah keramaian itu, seorang pria muda berjalan turun dengan tenang sambil menyeret tas yang sudah tampak usang.
Ia mengenakan kaus putih sederhana, celana hijau bermotif tentara pudar, dan sepatu bot militer. Penampilannya biasa saja, namun tubuhnya yang tegap membuatnya tampak berbeda di antara orang-orang yang berlalu-lalang.
Arka Mahendra berhenti sejenak di peron, matanya menyapu sekeliling.
“Mahatara….”
Sudah lama sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di kota ini.
Tujuh tahun lalu, ia pergi dalam kegelapan malam menuju medan perang yang tak pernah tercatat. Kini ia kembali sendirian, membawa luka yang tidak terlihat oleh mata.
Arka Mahendra, mantan anggota Pasukan Khusus Satuan Taring Garuda, pernah menjadi prajurit paling menonjol dalam unitnya. Dalam misi terakhir di Zona Bayangan, ia memimpin dari garis depan demi memberi waktu rekan-rekannya mundur. Misi itu berhasil, tetapi tubuhnya tidak lagi mampu menahan intensitas operasi khusus.
Akhirnya, ia dipaksa pensiun. Ganti rugi yang ia terima tidak sedikit, namun perasaan bersalah tetap tertinggal. Terutama kepada satu-satunya keluarga yang menunggunya pulang.
Arka Mahendra berjalan mengikuti arus manusia menuju pintu keluar. Ingatannya kembali pada percakapan terakhir mereka. Suara lelaki tua itu terdengar lemah, tetapi tetap bersikeras agar ia tidak mengkhawatirkan rumah.
Bentakan kasar tiba-tiba terdengar di dekat pintu keluar.
“Sial! Apa kau buta?!”
Arka Mahendra menoleh.
Beberapa pria berpenampilan mencolok sedang mengerubungi seorang pria kurus yang membawa banyak barang bawaan. Dari penampilannya, ia tampak seperti pekerja migran yang baru tiba di kota.
“M-maaf… disini terlalu berdesakan,” pria itu berkata gugup.
“Maaf, katamu?!” bentak seorang pria dengan tubuh kekar sambil mencengkeram kerah bajunya. “Aku baru saja membeli sepatu mahal Kau tahu berapa harga sepatuku ini? Nyawamu saja tidak akan cukup!”
Orang-orang di sekitar segera menjauh, tidak ada yang ingin ikut campur.
Arka Mahendra mengerutkan kening tipis. Ia sebenarnya tidak ingin mencari masalah. Ia baru saja kembali dan hanya ingin pulang dengan tenang. Namun melihat tatapan ketakutan pria itu, langkahnya tanpa sadar berhenti.
“Lepaskan dia.”
Suaranya tidak keras, tetapi jelas terdengar.
Pria kekar itu menoleh dan menatap Arka Mahendra dari atas ke bawah, lalu mencibir. “Dari mana datangnya pahlawan kesiangan ini? Urus saja urusanmu sendiri.”
Arka Mahendra tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekat dengan tenang.
Melihat sikapnya, salah satu preman langsung melayangkan pukulan ke arah wajahnya. Namun sebelum tinju itu mengenai sasaran, tangan Arka Mahendra sudah bergerak lebih dulu. Ia menangkap pergelangan tangan lawan dan memelintirnya dengan ringan.
“ARGHH—!”
Pria itu langsung berteriak kesakitan dan membungkuk.
“Cari mati!” teriak yang lain sambil menyerbu.
Tatapan Arka Mahendra berubah dingin. Ia bahkan tidak meletakkan tas di tangannya, gerakannya cepat dan bersih.
Bugh!
Sebuah tendangan samping menghantam perut pria berambut pirang, membuatnya terlempar ke belakang dan menabrak pilar. Pukulan berikutnya mengenai leher orang lain yang mencoba menyerang dari samping.
Dalam beberapa detik, semuanya berakhir. Para preman yang tadi berisik kini tergeletak di lantai sambil mengerang.
“BAJINGAN!” Teriak pria kekar itu. “Akan kubunuh kau!”
Pria kekar itu mengangkat sebuah pistol dari saku celananya, dan menjulurkan pistol itu ke arah Arka Mahendra.
Namun, belum sempat pria kekar itu menarik pelatuknya, Arka Mahendra sudah berada di hadapannya. “Pergi, atau mati.”
Suaranya tenang, namun cukup untuk membuat pria kekar itu berdiri terpaku. Dengan tubuh gemetar, ia menjatuhkan pistol ditangannya dan berbalik kabur dengan cepat.
Kerumunan di sekitar terdiam.
Arka Mahendra berjalan mendekati pekerja migran itu dan berkata singkat, “Sudah aman, kau bisa pergi.”
“T-Terima kasih, Tuan!” pria itu membungkuk berulang kali sebelum buru-buru pergi.
Tanpa memperhatikan tatapan orang-orang di sekitarnya, Arka Mahendra mengambil kembali tasnya dan berjalan keluar dari stasiun.
Matahari musim panas Mahatara menyengat wajahnya. Gedung-gedung tinggi berdiri rapat, kendaraan memenuhi jalan, dan suara kota terdengar bising di telinganya. Semua terasa berbeda dari hutan, rawa, dan suara tembakan yang pernah menjadi kesehariannya.
Ia menarik napas panjang.
Arka Mahendra memanggil taksi dan menyebut alamat di kota tua. Mobil itu perlahan menyatu dengan lalu lintas. Ia bersandar di kursi, menutup mata sejenak.
Wajah kakeknya muncul di benaknya. Sekarang, ia hanya ingin pulang.
***
Taksi berhenti di sebuah gang tua.
Arka Mahendra turun sambil membawa tasnya, menatap deretan bangunan lama yang sudah akrab di ingatannya. Dinding yang mengelupas, jeruji besi berkarat, dan udara lembap khas lingkungan lama menyambutnya. Semakin dekat ke rumah, langkahnya justru semakin berat. Perasaan tak nyaman perlahan merayap di dadanya.
Pintu rumah tertutup rapat.
Ia mengeluarkan kunci, membuka pintu, dan aroma lembap bercampur bau obat segera menyergapnya.
“Kakek, aku pulang.”
Suara itu menggema di ruang tamu yang sunyi, namun tidak ada jawaban.
Ruangan tampak bersih, tetapi beberapa gelas air tertinggal di meja. Di sampingnya, sebungkus kecil obat pereda nyeri murah terbuka begitu saja. Jantung Arka Mahendra menegang. Ia berjalan cepat menuju kamar kakeknya.
Pintu terbuka.
Tempat tidur kosong, selimut dilipat rapi dalam bentuk persegi kaku, gaya khas militer yang tak pernah berubah selama puluhan tahun. Ia segera menghubungi nomor ponsel kakeknya. Nada sambung tak pernah terdengar, jelas ponselnya mati.
Kali ini, rasa panik benar-benar muncul. Ia meletakkan tasnya begitu saja dan bergegas keluar, lalu mengetuk pintu tetangga sebelah.
Pintu terbuka, menampakkan Bu Ratih, tetangga lama yang menyaksikannya tumbuh sejak kecil. Wajah wanita itu sempat berseri saat melihatnya, tetapi ekspresinya segera berubah rumit.
“Arka… kau sudah kembali…” katanya pelan, lalu menghela napas panjang.
“Apa yang terjadi dengan kakekku?” suara Arka Mahendra tetap tenang, tetapi nadanya menegang.
“Kakekmu sudah lama sakit. Batuknya makin parah, kadang sampai sulit bernapas,” ujar Bu Ratih. “Kami semua menyuruhnya ke rumah sakit, tapi dia menolak. Katanya hanya penyakit lama. Dia juga bilang tentara seperti dirinya tidak pantas membebani negara, dan tidak ingin menghabiskan uang yang kau dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa.”
Kata-kata itu menghantam Arka Mahendra tanpa suara. Ia langsung mengerti, Kakeknya tahu betapa berbahayanya pekerjaannya. Lelaki tua itu takut cucunya terganggu, dan lebih takut lagi uang hasil perjuangan Arka Mahendra habis untuk dirinya.
Keteguhan seorang veteran berubah menjadi keras kepala yang menyakitkan.
Hidung Arka Mahendra terasa perih. Ia mengepalkan tangan hingga kukunya menekan telapak. “Sekarang beliau di mana?”
“Tadi malam batuknya parah sekali sampai hampir pingsan. Kami akhirnya memanggil ambulans. Dia sekarang di Rumah Sakit Medika Mahatara—”
Kalimat itu belum selesai ketika Arka Mahendra sudah berlari menuruni tangga.
"Bos, apa yang akan kita lakukan?" Arga tak mampu menahan rasa penasarannya. Jemarinya tanpa sadar saling bergesekan, seolah-olah sudah tidak sabar menyalakan sumbu sebuah peledak."Sindikat Noctis sudah bercokol di Zona Bayangan selama bertahun-tahun. Mereka pasti telah membangun jaringan persembunyian bawah tanah yang luas. Kali ini, kita manfaatkan jaringan mereka."Arka menyapu pandangan kepada Musang dan Arga sebelum melanjutkan dengan penuh keyakinan. "Aku tidak percaya jaringan bawah tanah Sindikat Noctis tidak menjangkau area inti Keluarga Wijaksana.""Bawa Nocthar." Arka mengucapkan keputusan penting itu tanpa sedikit pun keraguan."Dia anggota inti Sindikat Noctis dan mengetahui struktur internal serta berbagai rahasia organisasi. Khusus untuk jaringan bawah tanah, meskipun dia mungkin tidak mengetahui seluruh bagiannya, dia pasti tahu pintu masuk utama, jalur penting, dan cara mengenali akses mereka. Dia adalah peta sekaligus kunci hidup kita."Musang langsung menggosok ked
Arka tidak menjawab. Pandangannya beralih kepada para anggota inti yang telah menunggu perintah."Tuan Damar." Ia memanggil lebih dulu."Bos!" Damar, pria bertubuh tinggi dengan bekas luka mengerikan di wajahnya, segera melangkah maju. Suaranya menggema berat di ruang komando."Kau akan memimpin Tim Talon. Bawa perlengkapan seringan mungkin dan bergerak sebagai gelombang pertama menuju wilayah yang dikuasai Keluarga Wijaksana."Jari Arka menyusuri area Keluarga Wijaksana di atas meja pasir. "Tugas kalian melakukan pengintaian, mengacaukan pergerakan musuh, dan melumpuhkan pos-pos terdepan untuk membuka jalan bagi pasukan berikutnya. Bergeraklah dengan cepat dan senyap.”“Jangan biarkan keberadaan kalian terdeteksi. Kalau hanya menghadapi kelompok kecil yang melakukan perlawanan atau menemukan target mencurigakan, gunakan penilaian kalian sendiri dan habisi jika memang diperlukan. Namun, kalau berhadapan dengan musuh kuat atau pasukan bersenjata yang tidak dikenal, utamakan keselamatan
Keberadaan Siluman Garuda akhirnya mulai terungkap. Meski masih diselimuti banyak misteri, setidaknya kini ada kepastian bahwa wanita itu pernah muncul dan sempat jatuh ke tangan sebuah kekuatan gelap yang sangat kuat. Dan pemimpin Sindikat Noctis, sosok yang dikenal sebagai pemimpin Sindikat Noctis, jelas merupakan salah satu tokoh kunci dalam kejadian tersebut.Lalu, di mana pemimpin Sindikat Noctis itu sekarang?Terlebih lagi, melihat kemampuan Siluman Garuda, sulit dipercaya wanita itu bisa ditangkap tanpa perlawanan berarti.Seberapa kuat lawan yang mampu mengalahkannya dalam satu gerakan?Semua pertanyaan itu terus berputar di benak Arka. Tekanan yang tiba-tiba membesar membuatnya menghembuskan napas perlahan."Musang, panggil Arga dan Garuda Hitam. Setelah itu, kita bertemu di ruang konferensi." Arka Mahendra mempercepat langkahnya. "Kita akan menemui penguasa baru Keluarga Wijaksana."Udara di Zona Bayangan masih sarat bau mesiu dan ketegangan, tetapi jauh di dalam benteng Kel
Nocthar tampak kebingungan. Justru kondisi wanita itulah yang menurutnya paling aneh dari seluruh kejadian tersebut. "Dia... terlihat baik-baik saja. Setidaknya selama aku melihatnya sampai membawanya ke markas dan menahannya di sana, tidak ada luka yang terlihat jelas di tubuhnya. Tidak ada bekas pemukulan atau penyiksaan. Pakaiannya memang kotor dan sedikit berantakan, tetapi masih utuh."Nocthar berhenti sebentar untuk memperhatikan wajah Arka sebelum kembali melanjutkan. "Selain itu, Bos... Sindikat Noctis memberikan perintah yang sangat tegas. Tak seorang pun dari kami boleh menyentuh wanita itu, bahkan sehelai rambutnya sekalipun. Kami juga dilarang menghinanya dengan ucapan apa pun. Katanya... siapa pun yang berani menyentuhnya dan melanggar aturan itu akan mati. Waktu itu kami semua merasa aneh. Sindikat Noctis sudah lama merajalela di Zona Selatan, kapan kami pernah takut kepada siapa pun? Tapi tak ada seorang pun yang berani menentang perintah Bos."Tak boleh menyentuhnya? B
Udara di dalam sel yang remang-remang terasa dingin dan lembap. Bau darah yang samar bercampur dengan aroma disinfektan memenuhi ruangan, sebuah lampu tunggal yang menggantung dari langit-langit menerangi kursi besi yang tertanam kuat di lantai.Di sanalah Nocthar duduk terikat, tubuhnya dibalut perban, wajahnya pucat, dan sorot matanya kosong. Sosok itu sudah jauh berbeda dari keganasan dan kesombongan yang dulu melekat pada seorang anggota Sindikat Noctis.Berhari-hari menderita karena luka dan siksaan telah menghancurkan pertahanan mental Nocthar. Terlebih lagi, ia masih dihantui adegan ketika Arka mengeksekusi Uryu dengan kejam hingga kepalanya hancur berkeping-keping.Begitu Arka memasuki ruangan, tubuh Nocthar langsung gemetar hebat seperti daun yang diterpa angin dingin. Tatapannya dipenuhi ketakutan, pikirannya kembali pada tanah berlumuran darah di luar gua, seolah-olah ia masih bisa melihat genangan merah dan putih yang mengerikan di hadapannya.Itulah otak dan serpihan teng
Gerakannya begitu cepat hingga nyaris tak terlihat. Belati pendek berwarna hitam tiba-tiba muncul di tangannya dan langsung melesat menuju tenggorokan Bramantyo."Kau—!"Bramantyo hanya sempat mengeluarkan suara pendek sebelum bilah itu menembus lehernya. Rasa sakit dan sesak langsung menyergap, tetapi tangan Dipta yang lain telah mencengkram bahunya dan menahannya kuat di kursi. Darah mengalir deras membasahi meja, lantai, dan pakaian Dipta.Mata Bramantyo membelalak. Ia tidak pernah membayangkan kematiannya akan datang dari orang yang selama puluhan tahun dianggapnya sebagai saudara sendiri.Dipta tetap tenang, ia hanya memperhatikan tatapan Bramantyo yang perlahan kehilangan cahaya hingga tubuhnya benar-benar lemas.Setelah memastikan targetnya tewas, Dipta melepaskan cengkramannya. Ia menyeka darah dari belati dan wajahnya menggunakan kain putih, lalu menyentuh alat komunikasi kecil yang tersembunyi di balik kerah."Target pertama telah dieliminasi."Kalimat itu menjadi tanda dimu
KRAK!Suara retakan tajam memecah udara.Tangan kanan Arka bergerak belakangan, namun tiba lebih dulu. Dalam satu gerakan singkat yang nyaris tak tertangkap mata, telapak tangannya sudah mencengkeram pergelangan tangan Kalajengking Besi yang memegang pisau.Lima jarinya menutup rapat dengan sekali
Sementara itu, Nihil sudah lenyap dari pandangan. Beberapa detik kemudian, sosoknya muncul lagi di dekat pintu samping. Seorang loyalis keluarga yang hendak kabur perlahan ambruk di belakangnya, tenggorokan teriris bersih.Seluruh proses itu tidak sampai dua puluh detik.Ketika Arka akhirnya melang
Para penjaga keluarga yang biasa hanya menggertak preman jalanan tak sempat membaca situasi. Beberapa baru mengangkat senjata sudah jatuh lebih dulu. Yang mencoba berlindung di balik pot bunga dan kendaraan dipaksa menunduk oleh tembakan bertubi-tubi.Taring Baja maju sambil membawa senjata otomati
“Ugh!” Mireya menjatuhkan tubuhnya kembali ke ranjang, lalu memutar badan dengan kesal. “Sial! Seharusnya aku curang aja dari awal…”Namun pikirannya tidak berhenti di situ, justru semakin liar.Tanpa sadar, ia mulai membayangkan apa yang sedang terjadi di bawah. Bayangan-bayangan itu muncul sendir







