Share

Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali
Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali
Author: Skyy

Bab 1

Author: Skyy
last update publish date: 2026-02-12 01:41:18

Stasiun Kota Mahatara.

Peluit panjang terdengar saat kereta perlahan memasuki peron. Suara roda besi bergesekan dengan rel menggema di seluruh stasiun, diikuti deru langkah kaki kerumunan yang mulai bergerak menuju pintu keluar.

Pintu kereta terbuka.

Penumpang berdesakan turun, membawa koper dan tas besar. Udara dipenuhi bau keringat yang samar. Di tengah keramaian itu, seorang pria muda berjalan turun dengan tenang sambil menyeret tas yang sudah tampak usang.

Ia mengenakan kaus putih sederhana, celana hijau bermotif tentara pudar, dan sepatu bot militer. Penampilannya biasa saja, namun tubuhnya yang tegap membuatnya tampak berbeda di antara orang-orang yang berlalu-lalang.

Arka Mahendra berhenti sejenak di peron, matanya menyapu sekeliling.

“Mahatara….”

Sudah lama sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di kota ini.

Tujuh tahun lalu, ia pergi dalam kegelapan malam menuju medan perang yang tak pernah tercatat. Kini ia kembali sendirian, membawa luka yang tidak terlihat oleh mata.

Arka Mahendra, mantan anggota Pasukan Khusus Satuan Taring Garuda, pernah menjadi prajurit paling menonjol dalam unitnya. Dalam misi terakhir di Zona Bayangan, ia memimpin dari garis depan demi memberi waktu rekan-rekannya mundur. Misi itu berhasil, tetapi tubuhnya tidak lagi mampu menahan intensitas operasi khusus.

Akhirnya, ia dipaksa pensiun. Ganti rugi yang ia terima tidak sedikit, namun perasaan bersalah tetap tertinggal. Terutama kepada satu-satunya keluarga yang menunggunya pulang.

Arka Mahendra berjalan mengikuti arus manusia menuju pintu keluar. Ingatannya kembali pada percakapan terakhir mereka. Suara lelaki tua itu terdengar lemah, tetapi tetap bersikeras agar ia tidak mengkhawatirkan rumah.

Bentakan kasar tiba-tiba terdengar di dekat pintu keluar.

“Sial! Apa kau buta?!”

Arka Mahendra menoleh.

Beberapa pria berpenampilan mencolok sedang mengerubungi seorang pria kurus yang membawa banyak barang bawaan. Dari penampilannya, ia tampak seperti pekerja migran yang baru tiba di kota.

“M-maaf… disini terlalu berdesakan,” pria itu berkata gugup.

“Maaf, katamu?!” bentak seorang pria dengan tubuh kekar sambil mencengkeram kerah bajunya. “Aku baru saja membeli sepatu mahal Kau tahu berapa harga sepatuku ini? Nyawamu saja tidak akan cukup!”

Orang-orang di sekitar segera menjauh, tidak ada yang ingin ikut campur.

Arka Mahendra mengerutkan kening tipis. Ia sebenarnya tidak ingin mencari masalah. Ia baru saja kembali dan hanya ingin pulang dengan tenang. Namun melihat tatapan ketakutan pria itu, langkahnya tanpa sadar berhenti.

“Lepaskan dia.”

Suaranya tidak keras, tetapi jelas terdengar.

Pria kekar itu menoleh dan menatap Arka Mahendra dari atas ke bawah, lalu mencibir. “Dari mana datangnya pahlawan kesiangan ini? Urus saja urusanmu sendiri.”

Arka Mahendra tidak menjawab, ia hanya berjalan mendekat dengan tenang.

Melihat sikapnya, salah satu preman langsung melayangkan pukulan ke arah wajahnya. Namun sebelum tinju itu mengenai sasaran, tangan Arka Mahendra sudah bergerak lebih dulu. Ia menangkap pergelangan tangan lawan dan memelintirnya dengan ringan.

“ARGHH—!”

Pria itu langsung berteriak kesakitan dan membungkuk.

“Cari mati!” teriak yang lain sambil menyerbu.

Tatapan Arka Mahendra berubah dingin. Ia bahkan tidak meletakkan tas di tangannya, gerakannya cepat dan bersih.

Bugh!

Sebuah tendangan samping menghantam perut pria berambut pirang, membuatnya terlempar ke belakang dan menabrak pilar. Pukulan berikutnya mengenai leher orang lain yang mencoba menyerang dari samping.

Dalam beberapa detik, semuanya berakhir. Para preman yang tadi berisik kini tergeletak di lantai sambil mengerang.

“BAJINGAN!” Teriak pria kekar itu. “Akan kubunuh kau!” 

Pria kekar itu mengangkat sebuah pistol dari saku celananya, dan menjulurkan pistol itu ke arah Arka Mahendra.

Namun, belum sempat pria kekar itu menarik pelatuknya, Arka Mahendra sudah berada di hadapannya. “Pergi, atau mati.”

Suaranya tenang, namun cukup untuk membuat pria kekar itu berdiri terpaku. Dengan tubuh gemetar, ia menjatuhkan pistol ditangannya dan berbalik kabur dengan cepat.

Kerumunan di sekitar terdiam.

Arka Mahendra berjalan mendekati pekerja migran itu dan berkata singkat, “Sudah aman, kau bisa pergi.”

“T-Terima kasih, Tuan!” pria itu membungkuk berulang kali sebelum buru-buru pergi.

Tanpa memperhatikan tatapan orang-orang di sekitarnya, Arka Mahendra mengambil kembali tasnya dan berjalan keluar dari stasiun.

Matahari musim panas Mahatara menyengat wajahnya. Gedung-gedung tinggi berdiri rapat, kendaraan memenuhi jalan, dan suara kota terdengar bising di telinganya. Semua terasa berbeda dari hutan, rawa, dan suara tembakan yang pernah menjadi kesehariannya.

Ia menarik napas panjang.

Arka Mahendra memanggil taksi dan menyebut alamat di kota tua. Mobil itu perlahan menyatu dengan lalu lintas. Ia bersandar di kursi, menutup mata sejenak.

Wajah kakeknya muncul di benaknya. Sekarang, ia hanya ingin pulang.

***

Taksi berhenti di sebuah gang tua.

Arka Mahendra turun sambil membawa tasnya, menatap deretan bangunan lama yang sudah akrab di ingatannya. Dinding yang mengelupas, jeruji besi berkarat, dan udara lembap khas lingkungan lama menyambutnya. Semakin dekat ke rumah, langkahnya justru semakin berat. Perasaan tak nyaman perlahan merayap di dadanya.

Pintu rumah tertutup rapat.

Ia mengeluarkan kunci, membuka pintu, dan aroma lembap bercampur bau obat segera menyergapnya.

“Kakek, aku pulang.”

Suara itu menggema di ruang tamu yang sunyi, namun tidak ada jawaban.

Ruangan tampak bersih, tetapi beberapa gelas air tertinggal di meja. Di sampingnya, sebungkus kecil obat pereda nyeri murah terbuka begitu saja. Jantung Arka Mahendra menegang. Ia berjalan cepat menuju kamar kakeknya.

Pintu terbuka.

Tempat tidur kosong, selimut dilipat rapi dalam bentuk persegi kaku, gaya khas militer yang tak pernah berubah selama puluhan tahun. Ia segera menghubungi nomor ponsel kakeknya. Nada sambung tak pernah terdengar, jelas ponselnya mati.

Kali ini, rasa panik benar-benar muncul. Ia meletakkan tasnya begitu saja dan bergegas keluar, lalu mengetuk pintu tetangga sebelah.

Pintu terbuka, menampakkan Bu Ratih, tetangga lama yang menyaksikannya tumbuh sejak kecil. Wajah wanita itu sempat berseri saat melihatnya, tetapi ekspresinya segera berubah rumit.

“Arka… kau sudah kembali…” katanya pelan, lalu menghela napas panjang.

“Apa yang terjadi dengan kakekku?” suara Arka Mahendra tetap tenang, tetapi nadanya menegang.

“Kakekmu sudah lama sakit. Batuknya makin parah, kadang sampai sulit bernapas,” ujar Bu Ratih. “Kami semua menyuruhnya ke rumah sakit, tapi dia menolak. Katanya hanya penyakit lama. Dia juga bilang tentara seperti dirinya tidak pantas membebani negara, dan tidak ingin menghabiskan uang yang kau dapatkan dengan mempertaruhkan nyawa.”

Kata-kata itu menghantam Arka Mahendra tanpa suara. Ia langsung mengerti, Kakeknya tahu betapa berbahayanya pekerjaannya. Lelaki tua itu takut cucunya terganggu, dan lebih takut lagi uang hasil perjuangan Arka Mahendra habis untuk dirinya.

Keteguhan seorang veteran berubah menjadi keras kepala yang menyakitkan.

Hidung Arka Mahendra terasa perih. Ia mengepalkan tangan hingga kukunya menekan telapak. “Sekarang beliau di mana?”

“Tadi malam batuknya parah sekali sampai hampir pingsan. Kami akhirnya memanggil ambulans. Dia sekarang di Rumah Sakit Medika Mahatara—”

Kalimat itu belum selesai ketika Arka Mahendra sudah berlari menuruni tangga.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Front liner
Seru tiap baris ceritanya yang dari alur pokok utama judul, menarik untuk dilanjuti dipahamm, bahasa indonesiapun jelas dimengerti seperti komunikasi yang bagus dan baik
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 480

    Wiranata berjalan menuju meja pasir dan berhenti tepat di depannya. Tatapannya langsung tertuju pada posisi tebing, seolah-olah ingin membedah seluruh rencana yang tersembunyi di balik lokasi tersebut.Dalam perhitungannya, ada satu persoalan yang bahkan belum benar-benar ia pikirkan, atau lebih tepatnya, belum ingin ia pikirkan sekarang.Setelah Keluarga Mahardika dihancurkan, apakah ia benar-benar akan menyerahkan wilayah Keluarga Montara kepada Arka begitu saja?Dan yang lebih penting, apakah Bramantyo akan bersedia membagi sebagian keuntungan dengan Arka setelah semua ini berakhir?Kadang-kadang, manusia memang bisa bertindak begitu bodoh.Bagaimanapun, inilah Zona Bayangan. Kebaikan, moralitas, dan kesetiaan hanyalah topeng yang dipasang di atas meja judi. Siapa pun yang benar-benar mempercayainya akan menjadi korban pertama.Arka memahami aturan itu lebih baik daripada kebanyakan orang. Ia selalu bergerak lebih cepat dan tidak pernah ragu untuk bertindak lebih kejam ketika diper

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 479

    Setelah Garuda Hitam menyampaikan laporan lengkap mengenai hasil pertempuran, Arka hanya memberikan satu perintah melalui radio."Perkuat pertahanan. Aku akan mengirim Revan bersama pasukannya untuk memberikan dukungan."Suaranya tetap tenang, tetapi perintah berikutnya membuat suasana di sekeliling Garuda Hitam terasa lebih berat."Ingat. Kalau Keluarga Mahardika mencoba membantu kita, abaikan mereka. Namun, jika mereka berusaha menerobos masuk, singkirkan mereka sampai tuntas.""Jelas."Hening sesaat sebelum suara Arka kembali terdengar melalui radio."Kalau Keluarga Mahardika masih tidak tahu diri sampai sekarang, aku tidak keberatan memenggal kepala mereka demi Keluarga Nirvana."Nada suaranya rendah dan dingin, tanpa sedikit pun keraguan.Mulai saat itu, Arka tidak menginginkan wilayah ini memiliki dua suara yang saling bertentangan. Hanya satu suara yang boleh menentukan arah semuanya, dan suara itu adalah miliknya.***Ketika kabar itu tiba di pos komando garis depan Keluarga N

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 478

    Sebuah tim beranggotakan tiga orang mendekati sebuah bunker batu, lalu melemparkan granat kejut ke dalam sebelum menerobos masuk, membuat para prajurit Nirvana kehilangan orientasi akibat ledakan. Rentetan tembakan pendek terdengar dari dalam bunker, kemudian semuanya kembali sunyi.Pertempuran berubah menjadi pembantaian sepihak.Batalyon Independen dan Pasukan milik Keluarga Nirvana memang merupakan pasukan elit, tetapi ketika mereka dihantam serangan mendadak, kehilangan komando, dan berhadapan dengan lawan yang unggul dalam intelijen, daya tembak, serta kemampuan individu, garis pertahanan mereka runtuh dalam waktu singkat.Bau darah memenuhi lereng gunung dan bercampur dengan aroma mesiu yang pekat. Mayat-mayat berserakan di sepanjang jalur bebatuan dan reruntuhan benteng, suara rintihan para korban yang terluka perlahan menghilang ditelan suara pertempuran yang semakin mereda.Garuda Hitam kembali menarik pelatuk ketika melihat seorang prajurit Keluarga Nirvana mencoba menyelina

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 477

    Peluru menghujani para prajurit yang baru saja menduduki posisi dan belum sempat membangun pertahanan.Beberapa prajurit yang tengah mengangkut peti amunisi langsung tersungkur ketika peluru menghantam tubuh mereka, membuat peti-peti kayu terlepas dan berguling di atas tanah.Di sisi lain, sebuah tim baru saja selesai memasang senapan mesin ketika sebuah granat meledak di dekat mereka, rentetan peluru menyapu tim teknisi yang masih mengoperasikan peralatan hingga percikan api beterbangan dan beberapa orang jatuh sambil menjerit.Serangan tersebut berlangsung terlalu cepat, terlalu ganas, dan datang dari posisi yang terlalu sulit ditebak sehingga pasukan Keluarga Nirvana nyaris tidak sempat bereaksi."Serangan musuh! Cari perlindungan!""Penembak jitu di arah jam tiga!""Belakang! Ada beberapa orang di belakang!"Kekacauan seketika menyelimuti tebing. Meski mereka merupakan pasukan elit Keluarga Nirvana, para prajurit itu hanya membutuhkan beberapa detik untuk menekan kepanikan awal da

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 476

    Ia menggenggam gagang telepon erat-erat hingga kukunya hampir menekan plastik. Tatapannya kembali tertuju pada meja pasir yang menggambarkan pertahanan mereka yang semakin runtuh, sementara gemuruh artileri terus terdengar dari kejauhan. Dalam benaknya terlintas pengkhianatan Clarissa, tawa liar Bastian Wijaksana, serta tatapan penuh perhitungan Wiranata Nirvana.Daripada membiarkan Keluarga Mahardika dihancurkan dan dibagi-bagi oleh mereka, lebih baik mengambil risiko.Setidaknya untuk saat ini, Arka membutuhkan mereka sebagai sekutu yang mampu menahan salah satu sisi medan perang. Selama Keluarga Wijaksana dan Keluarga Nirvana belum disingkirkan, kesepakatan itu masih memiliki nilai bagi kedua pihak.Adelina akhirnya mengambil keputusan. Risikonya besar, tetapi mungkin inilah satu-satunya jalan yang tersisa bagi Keluarga Mahardika untuk bertahan hidup."Baik!"Kata itu keluar dengan tegas, seolah seluruh keraguannya telah ia buang."Kita sepakat. Tuan Arka, segera hentikan pasukan K

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 475

    Zona Bayangan, pos komando Keluarga Mahardika.Waktu terasa berjalan semakin cepat. Setiap beberapa menit, laporan baru datang melalui radio atau para pembawa pesan yang berlumuran darah, dan hampir semuanya membawa kabar buruk.Di atas meja pasir, panah merah yang menandai serangan Keluarga Wijaksana telah menembus jauh ke wilayah inti Keluarga Mahardika. Di sisi barat, tanda silang hitam kini menggantikan penanda tebing itu, pertanda bahwa posisi tersebut telah jatuh. Dari sana, sebuah panah biru mengarah langsung ke jantung wilayah Mahardika, menunjukkan gerak maju Keluarga Nirvana.Adelina nyaris kehabisan tenaga. Bibirnya pecah-pecah, matanya memerah, dan wajah yang biasanya anggun kini pucat karena kelelahan. Udara di dalam pos komando dipenuhi bau keringat, darah, dan keputusasaan, para staf terus berdebat mencari jalan keluar yang terasa semakin mustahil.Tanpa sadar, Adelina kembali melirik nomor yang selama ini ia gunakan untuk menghubungi Clarissa. Namun tetap tidak ada jaw

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 174

    Ia berhenti sejenak, sengaja memberi ruang bagi rasa penasaran. “Mungkin di sana kita bisa membicarakan alasan kalian datang ke Kota Vantara...”Sudut bibirnya terangkat samar. “Kota yang terkenal suka menelan orang hidup-hidup.”Matanya kembali pada Arka, kali ini lebih tajam. “Terakhir kali aku m

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 172

    Di sana duduk seorang wanita yang jelas berbeda dari atmosfer liar tempat itu.Ia mengenakan jaket berburu gelap yang pas di tubuh, berbahan mahal dan terawat. Rambut panjang bergelombang jatuh di bahunya, memantulkan warna cokelat gelap saat tersapu lampu redup. Wajahnya cantik dengan struktur teg

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 164

    Air mata jatuh membasahi kemeja Arka. “Mungkin saat racun itu kambuh lagi... yang dia harapkan bukan transfusi darah yang dingin.”Ia menarik napas gemetar. “Mungkin yang dia inginkan hanyalah... kau berada di sisinya.”Kalimat itu menembus pertahanan terakhir Arka, pria yang barusan memutuskan eks

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 157

    Memanfaatkan sepersekian detik ketika perhatian penculiknya terfokus pada Arka, ia mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya dan menjatuhkan tubuh ke samping.Pfft!Ujung kunai menyayat lehernya lebih dalam saat tubuhnya terlepas dari cengkeraman. Darah segar memancar tipis ke udara, membasahi kerah b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status