LOGINNiko sama sekali tidak memberi kesempatan lawannya bereaksi. Jari telunjuknya langsung menarik pelatuk.Roket itu meluncur dari jarak nyaris nol sebelum meledak tepat di dalam lorong sempit Gua Kelam.BAAAANG!Ledakan dahsyat mengguncang seluruh lereng gunung. Kobaran api dan kepulan asap pekat menyembur keluar dari celah bebatuan, gelombang kejutnya menghantam area sekitar hingga tanah dan pecahan batu beterbangan beberapa meter ke udara. Bahkan dari jarak lebih dari sepuluh meter, Arka dan Uryu masih bisa merasakan semburan panas serta getaran hebat yang menerpa tubuh mereka.Niko sendiri sudah lebih dulu melepaskan tabung peluncur itu dan mundur sebelum ledakan terjadi. Peluncur roket tersebut terpental akibat tekanan balik, menghantam tanah beberapa meter jauhnya hingga tabungnya penyok dan melengkung.Ia hanya menepuk-nepuk debu di kedua telapak tangannya, lalu meludah santai ke samping.Uryu hanya mampu menatap kosong ke arah pintu masuk gua. Bahkan rasa nyeri luar biasa di perg
Arka sama sekali tidak memberi Uryu kesempatan memulihkan diri. Begitu tubuh lawannya membeku akibat teknik memutus nadi, ia langsung memutar posisi, menindih punggung Uryu, lalu menghimpit pinggangnya dengan lutut. Dalam waktu yang sama, tangannya sudah mencabut pengikat kabel dari pinggang dan mengunci kedua tangan Uryu di belakang punggung dengan gerakan cepat serta rapi.Seluruh rangkaian itu bahkan tidak memakan waktu lebih dari tiga detik.Saat efek teknik tersebut mulai memudar, Uryu baru menyadari dirinya telah benar-benar dilumpuhkan. Kedua tangannya terikat rapat di belakang punggung, sementara Arka terus menekan tubuhnya ke tanah hingga mustahil baginya untuk bergerak.Uryu hanya mampu terbaring sambil mengatur napas yang memburu. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, sedangkan rasa nyeri akibat pergelangan tangan yang terkilir dan mati rasa di dadanya perlahan menghilang. Namun, yang benar-benar membuat wajahnya menegang bukanlah rasa sakit itu, melainkan pukulan Arka b
Arka kembali menatap lurus ke arah Uryu. "Menyerahlah. Kau tidak akan bisa kabur.""Menyerah?" Uryu mencibir dingin. "Anggota Sindikat Noctis hanya mengenal kematian. Kami tidak pernah menyerah."Belum sempat kalimat itu selesai, tubuhnya kembali melesat ke depan. Kali ini ia tidak menggunakan kepalan tangan, melainkan tendangan menyapu yang meluncur secepat cambuk dan langsung mengincar pinggang serta tulang rusuk Arka dengan kekuatan yang jelas ditempa dari latihan bertahun-tahun.Arka tidak memilih menahan serangan itu secara langsung. Ia sedikit memiringkan tubuh ke belakang sambil mengulurkan tangan kiri untuk menangkap pergelangan kaki Uryu. Ia alu melangkah maju dengan kaki kanan dan memutar tubuhnya dalam satu gerakan mulus, berusaha melempar lawannya menggunakan teknik lempar bahu.Namun Uryu bukan lawan biasa. Begitu pergelangan kakinya terkunci, ia langsung meloncat menggunakan kaki satunya, memutar tubuh di udara hingga berhasil melepaskan diri, lalu mendarat tepat di sisi
Uryu lebih dulu menarik pelatuk. Pada jarak sedekat itu ia bahkan tidak perlu membidik, cukup mengarahkan moncong senjata ke tubuh Arka lalu menembak.Namun sepersekian detik sebelum peluru keluar, Arka sudah lebih dulu menjatuhkan tubuhnya ke samping.Dor!Peluru itu hanya menyerempet pakaian Arka sebelum menghantam dinding tanah parit dan menyemburkan lumpur ke udara.Bersamaan dengan tubuhnya yang berguling, Arka melepaskan belati di tangannya. Bilah itu melesat membelah udara sambil berputar cepat, lalu meluncur lurus mengincar tenggorokan Uryu.Reaksi Uryu sama cepatnya. Begitu sadar tembakannya meleset, ia langsung melenting ke belakang tanpa ragu.Sreet!Ujung belati hanya sempat menggores dagunya dan meninggalkan sayatan tipis sebelum menghujam batang pohon di belakangnya hingga lebih dari separuh bilahnya tertancap. Gagangnya masih bergetar pelan.Keduanya kembali menyentuh tanah hampir bersamaan. Mereka sama-sama berguling, lalu secara serempak meninggalkan senjata utama.Ur
Arka tidak gegabah mendekat. Tatapannya terus menyapu sekeliling, menghitung sebaran bebatuan, posisi pepohonan, hingga arah datangnya cahaya. Di dalam benaknya perlahan terbentuk peta tiga dimensi lengkap dengan setiap kemungkinan jalur pendekatan.Ada dua pilihan. Di sisi kiri terbentang semak belukar yang cukup rapat sebagai perlindungan, tetapi ia tetap harus melintasi area terbuka sepanjang sekitar dua puluh meter tanpa penutup apa pun. Sebaliknya, di sisi kanan terdapat parit kering yang cukup dalam untuk digunakan mendekat secara diam-diam, meski ujungnya masih menyisakan jarak sekitar sepuluh meter dari posisi sasaran.Tatapan Arka akhirnya berhenti di dasar parit. Di sana berserakan dedaunan kering, kerikil, dan sebuah ranting patah dengan bekas patahan yang masih baru. Seseorang baru saja melewatinya. Kemungkinan besar, Uryu keluar melalui jalur rahasia gua sebelum bergerak menyusuri parit itu menuju posisi menembaknya sekarang.Tanpa ragu lagi, Arka merayap masuk ke dalam p
Sementara itu, di arah jam sebelas, sebuah celah batu alami menjadi tempat persembunyian Uryu.Dengan tenang ia menarik baut senapannya hingga selongsong peluru yang masih panas terpental keluar. Selongsong itu membentur batu dengan bunyi yang khas, lalu menggelinding pelan ke tumpukan daun kering di sampingnya.Bekas luka yang membentang dari pelipis hingga sudut bibir membuat wajahnya tampak semakin garang di bawah bayang-bayang pepohonan. Melalui teropong bidik, matanya tetap dingin mengawasi area di sekitar Gua Kelam.Tembakan sebelumnya memang sengaja diarahkan kepada prajurit pembawa peluncur roket. Bagi Uryu, senjata berat seperti itu merupakan ancaman terbesar yang harus disingkirkan lebih dulu. Selain mengurangi daya gempur lawan, serangan tersebut juga cukup untuk mengguncang mental mereka.Dan hasilnya sesuai perkiraan. Seluruh pasukan musuh langsung berlindung, sementara laju serangan mereka seketika terhenti.Senyum tipis terukir di sudut bibir Uryu. Ia melepaskan mata da
Para penjaga keluarga yang biasa hanya menggertak preman jalanan tak sempat membaca situasi. Beberapa baru mengangkat senjata sudah jatuh lebih dulu. Yang mencoba berlindung di balik pot bunga dan kendaraan dipaksa menunduk oleh tembakan bertubi-tubi.Taring Baja maju sambil membawa senjata otomati
“Ugh!” Mireya menjatuhkan tubuhnya kembali ke ranjang, lalu memutar badan dengan kesal. “Sial! Seharusnya aku curang aja dari awal…”Namun pikirannya tidak berhenti di situ, justru semakin liar.Tanpa sadar, ia mulai membayangkan apa yang sedang terjadi di bawah. Bayangan-bayangan itu muncul sendir
Arka berdiri di koridor lantai satu dengan sebuah bantal di pelukannya, ekspresinya setengah pasrah, setengah geli. Seolah baru saja menerima keputusan sepihak yang tak bisa ia bantah tapi masih terasa absurd untuk dicerna.Cahaya lampu lorong yang redup memanjang di lantai, membentuk bayangan sama
“Ugh—!”Arka langsung meringis, napasnya tertahan sejenak sebelum keluar dalam helaan kasar. Ia menoleh, menatap Mireya dengan ekspresi campur aduk antara geli, kaget, dan sedikit jengkel yang tidak benar-benar serius.Mireya mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya menggoda, sudut bibirnya terang







