LOGINArka tetap memeluk Serena yang perlahan mendingin tanpa bergerak sedikit pun. Hanya kedua tangannya yang terkepal begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih, menunjukkan betapa besar rasa sakit dan amarah yang sedang bergejolak di dalam dirinya.Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Setelah itu, Arka perlahan membaringkan tubuh Serena di tanah, melepas mantelnya, lalu menutupi tubuh wanita itu dengan hati-hati hingga wajah pucat dan luka berdarah di dadanya tak lagi terlihat.Kemudian Arka berdiri, gerakannya begitu tenang hingga justru terasa mengerikan. Tidak ada ledakan emosi di wajahnya, hanya ketenangan pekat yang menyimpan amarah seperti gunung berapi yang siap memuntahkan kehancuran.Ia berbalik dan mengarahkan pandangan kepada Uryu dan Nocthar yang tergeletak tak jauh darinya. Tatapan Arka kini terasa seperti dua bilah pedang yang baru ditempa, dingin, tajam, dan tanpa sedikit pun belas kasihan.Aura yang memancar dari tubuhnya telah berubah sepenuhnya. I
"Serena! Aku di sini…"Suara Arka terdengar serak. Tangannya terulur hendak menyentuh Serena, tetapi berhenti di udara karena takut sentuhan sekecil apa pun justru memperparah lukanya. Jari-jarinya gemetar saat ia menatap wanita itu yang semakin kehilangan warna di wajahnya.Serena berusaha tersenyum. Sudut bibirnya bergerak sedikit, tetapi yang keluar justru darah dan busa tipis. Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia bertanya, "Arka... aku terlihat jelek sekarang?"Arka langsung menggeleng, matanya memerah. "Jangan bicara begitu, kau tetap cantik. Kau pasti akan baik-baik saja, kau dengar? Dokter! Di mana dokternya?!"Ia menggenggam tangan Serena yang mulai terasa dingin, lalu menoleh panik ke sekeliling. Niko, Arga, dan Garda yang baru tiba segera ikut mendekat, tetapi dalam kekacauan itu Arka seolah kehilangan kemampuan untuk berpikir jernih. Ia tahu pertolongan pertama, tahu apa yang harus dilakukan, tetapi rasa takut kehilangan Serena membuat semua pengetahuan itu seakan men
DOR!Peluru melesat menembus udara dengan kecepatan mengerikan.KLANG!Pistol di tangan Uryu dihantam tepat di bagian tengah. Logamnya langsung remuk, pecahannya berhamburan, sementara hentakan peluru membuat tangan Uryu robek dan lengannya mati rasa. Sisa gagang pistol terlepas dari genggamannya.Tembakan itu berasal dari Garuda Hitam yang sedang mengambil posisi di kejauhan.Gerakan Uryu terlalu cepat, sementara keputusannya untuk menembak datang tanpa peringatan. Garuda Hitam hanya sempat mengoreksi arah bidikannya pada detik terakhir, tetapi sepersekian detik itu tetap tidak cukup untuk menghentikan peluru pertama yang sudah dilepaskan Uryu.Namun, ia tidak berhenti. Tangannya bergerak cepat menarik baut, mengeluarkan selongsong, memasukkan amunisi baru, mengangkat senjata, lalu kembali membidik. Seluruh rangkaian itu selesai dalam waktu kurang dari satu detik, begitu cepat dan lancar hingga nyaris seperti satu gerakan tanpa jeda.Tembakan kedua menyusul hampir tanpa jeda.DOR!Da
Uryu yang sejak tadi menunduk tiba-tiba mengangkat kepala. Tatapan yang sebelumnya tampak lemah dan lesu berubah tajam dalam sekejap, dingin seperti bilah pisau. Tidak ada sedikit pun sisa kelemahan di wajahnya.Tubuhnya melesat seperti pegas yang dilepaskan. Meski kedua tangannya masih terborgol di belakang punggung, Uryu tetap menjatuhkan tubuh ke depan, memutar kedua tangan melalui celah di bawah tubuh hingga berpindah ke depan, lalu meraih pistol yang tergeletak di tanah.Begitu senjata berada di tangannya, moncongnya langsung terangkat.DOR! DOR!Dua tembakan meledak hampir bersamaan. Peluru menembus punggung kedua penjaga Keluarga Mahesa yang masih sibuk melawan kawanan gagak. Keduanya terhenti di tempat, lalu terhuyung dan jatuh tanpa sempat bereaksi, sementara burung-burung yang tadi mengerubungi mereka segera beterbangan dan berputar di udara.Uryu memiringkan kepala, lalu melirik orang-orang yang berdiri terpaku di belakangnya. Mereka baru saja lolos dari ledakan dan kini me
Di atas gua, gumpalan besar yang menyerupai awan gelap telah berkumpul tanpa disadarinya. Namun, beberapa detik kemudian Arka menyadari bahwa itu sama sekali bukan awan.Ratusan gagak hitam berputar rendah di atas gua, bergerak seolah dikendalikan oleh kekuatan tak terlihat hingga membentuk pusaran hitam yang mengerikan. Kepakan sayap mereka menghasilkan dengungan berat yang menutupi cahaya dan melemparkan bayangan besar ke seluruh area.Namun, yang paling mengejutkan Arka adalah benda-benda kecil berbentuk silinder yang ternyata dicengkeram oleh masing-masing gagak dengan cakarnya.Begitu Arka dan Nocthar mendongak, sebagian kawanan gagak tiba-tiba mengubah arah. Mereka menukik menuju pintu masuk gua dan lereng di sekitarnya seperti pesawat pengebom mini, lalu melepaskan benda-benda silinder yang mereka cengkeram saat mencapai ketinggian tertentu.Satu, dua, sepuluh, lalu puluhan hingga ratusan benda jatuh beruntun seperti hujan hitam yang deras. Namun itu bukan hujan, melainkan gran
Arka yang masih mencengkram kerah Nocthar dan hendak menyeretnya pergi mendadak berhenti. Pertanyaan itu sebenarnya sudah berulang kali muncul di benaknya. Benteng gua ini tersembunyi dengan sangat baik.Jadi, bagaimana mungkin Sindikat Noctis bisa menemukan lokasinya dengan begitu akurat dalam waktu sesingkat itu?Lalu mengerahkan pasukan sebesar ini untuk melancarkan serangan mendadak?“Gah... gaak...!”Suara serak seekor gagak tiba-tiba memecah keheningan hutan. Begitu mendengarnya, senyum Nocthar melebar dengan cara yang membuat bulu kuduk meremang. Ia mengangkat kelopak matanya yang bengkak dan menatap Arka, seolah sedang menikmati detik-detik terakhir mangsanya sebelum jebakan benar-benar menutup.Detik berikutnya, ledakan dahsyat mengguncang hutan.DUAAAR!Dentumannya datang dari arah kamp utama dan begitu keras hingga getarannya terasa sampai ke tanah.Wajah Arka seketika berubah pucat karena ia langsung mengenali lokasi ledakan itu. Tempat tersebut adalah area gua tempat Vane
“Sekarang…” Arka berdiri di depannya, tatapan matanya dingin. “Siapa yang tidak bisa keluar hidup-hidup?”Tubuh Bima gemetar, tidak ada lagi kesombongan yang tersisa di wajahnya.Tiba-tiba—KRING~Ponsel Arka berdering, ia melirik layar.Nomor terenkripsi.[Taring Bayangan.]Arka sedikit mengernyit
Sudut bibir Arka bergerak hampir tak terlihat.Namun sebelum ia menjawab, suara wanita terdengar dari samping. “Jelas salah.”Mireya muncul tanpa suara. Hari ini ia mengenakan pakaian kulit hitam ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Ia berdiri di sisi Arka dengan santai.Lalu tersenyum pada Garu
“Nona Keira…” Arka berkata datar. “Jangan berlebihan. Percaya atau tidak, kalau kepalamu terbentur kaca mobil di sana, mungkin mobilnya yang akan pecah.”“Tidak! Tidak!” Keira langsung panik. “Turunkan aku! Aku tidak akan mencubitmu lagi.”Suara Keira tiba-tiba berubah sangat patuh.Mireya yang men
“Jika seseorang menyentuhmu, itu sama saja menyentuhku. Lagipula, aku yang membayarmu!”“Nasibmu bukan sesuatu yang bisa diputuskan orang lain. Hanya aku yang berhak menentukan.”Kalimat itu menggantung di udara.Nada posesif yang jelas membuat keduanya terdiam sejenak.Sekilas rasa tidak nyaman me







