Share

Bab 342

Author: Skyy
last update publish date: 2026-06-19 21:41:56

Refleks para penyerang langsung bekerja.

Begitu mendengar peringatan itu, mereka serempak berpencar untuk menghindari ledakan. Namun justru itulah yang diinginkan Arka.

BLAAR! BLAAAR!

Kedua granat meledak saat masih berada di udara.

Ledakan udara menghasilkan jangkauan serpihan yang jauh lebih mematikan dibanding ledakan di tanah. Pecahan logam menyapu area luas di depan aula utama hingga membuat tujuh atau delapan orang langsung tumbang, sementara sisanya mengalami luka dengan tingkat keparaha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 345

    "Ini Zona Bayangan."Adhyaksa perlahan berdiri lalu menatap Arka, tidak ada air mata di wajahnya. Yang tersisa hanyalah ketenangan yang nyaris mati rasa, tetapi jauh di dalam matanya masih menyala bara yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama."Di tempat seperti ini, orang mati setiap hari. Kemarin giliran orang lain, hari ini adikku, dan besok mungkin aku atau bahkan kamu."Pandangannya kemudian beralih ke para anggota Keluarga Mahesa yang masih tersisa di dalam aula utama. Jumlah mereka bahkan tidak mencapai lima belas orang. Sebagian besar dipenuhi luka, sementara sorot mata mereka memuat campuran kesedihan, ketakutan, kelelahan, dan kebingungan karena berhasil lolos dari bencana yang hampir memusnahkan mereka.Namun beberapa detik kemudian, suara Adhyaksa tiba-tiba mengeras. "Tapi kita masih hidup."Kalimat itu tidak diucapkan keras, tetapi seluruh aula seketika terdiam."Selama kita masih hidup, kita harus terus bergerak maju. Kita harus menyelesaikan apa yang belum sel

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 344

    Arka perlahan mengangkat tubuhnya dari atas Vanessa. Debu dan pecahan kecil yang menempel di punggungnya berjatuhan ketika ia bergerak. Ia segera menunduk memeriksa wanita dalam pelukannya.Mata Vanessa masih terpejam, tetapi napasnya tetap stabil. Selain tubuhnya yang sedikit gemetar akibat gelombang ledakan, tidak terlihat luka serius pada dirinya."Kamu tidak apa-apa?" tanya Arka dengan suara serak.Vanessa membuka mata perlahan. Sorot matanya yang masih basah oleh air mata tampak berkilau di tengah kabut asap. Ia hanya menggeleng tanpa berkata apa-apa, lalu memeluk pinggang Arka lebih erat hingga buku-buku jarinya memucat.Arka dapat merasakan tubuh wanita itu masih bergetar. Ia tahu itu bukan luka fisik, melainkan reaksi setelah berhasil lolos dari kematian yang nyaris terjadi di depan mata. Setelah terdiam sesaat, ia akhirnya mengangkat tangan dan menepuk punggung Vanessa dengan lembut."Semuanya sudah lewat," ucapnya pelan. "Setidaknya untuk saat ini, aku masih baik-baik saja."

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 343

    Vanessa menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan nada yang bercampur antara kesal, lega, dan takut. "Kalau kali ini kamu berani mendorongku lagi..."Kalimatnya terhenti di tengah jalan.Meski matanya masih dipenuhi air mata, sorot ancaman yang khas darinya perlahan muncul kembali. "Aku akan menangis seharian di depanmu."Arka terdiam beberapa saat. Ia memandangi wajah Vanessa yang dipenuhi noda, air mata, dan kelelahan setelah melewati malam yang nyaris merenggut segalanya. Ketakutan yang selama ini disembunyikan gadis itu masih terlihat jelas di matanya, membuat Arka akhirnya hanya bisa menghembuskan napas pelan.Tangan kanannya yang tidak terluka perlahan terangkat. Dengan gerakan yang sedikit canggung namun sangat hati-hati, ia mengusap air mata yang mengalir di pipi Vanessa."Ini kotor." Arka melirik noda darah dan jelaga yang menempel di tangannya sebelum berbicara pelan."Kamu jauh lebih kotor." Vanessa langsung membalas tanpa ragu, lalu kembali menyandarkan wajahnya

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 342

    Refleks para penyerang langsung bekerja.Begitu mendengar peringatan itu, mereka serempak berpencar untuk menghindari ledakan. Namun justru itulah yang diinginkan Arka.BLAAR! BLAAAR!Kedua granat meledak saat masih berada di udara.Ledakan udara menghasilkan jangkauan serpihan yang jauh lebih mematikan dibanding ledakan di tanah. Pecahan logam menyapu area luas di depan aula utama hingga membuat tujuh atau delapan orang langsung tumbang, sementara sisanya mengalami luka dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.Di dalam aula utama, Adhyaksa langsung mengenali suara tersebut. Mata yang sebelumnya dipenuhi keputusasaan kembali memancarkan harapan.Sementara itu, Arka sudah melesat keluar dari perlindungan bahkan sebelum ledakan benar-benar mereda. Taring Baja segera menyusul dari belakang.Dor-Dor-Dor!Senapan mesin yang kembali terisi penuh memuntahkan hujan peluru tanpa henti, menekan para musuh yang berhasil selamat dari ledakan agar tidak sempat mengangkat kepala. Keduanya berger

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 341

    Di posisi terdepan berdiri Arka dengan senjata Vektor-21 di tangannya yang masih mengeluarkan asap tipis dari laras. Jelas dialah yang melempar granat tadi setelah mengambilnya dari salah satu anggota Klan Bulan Hitam yang tewas. Wajahnya terlihat lelah akibat perjalanan panjang dan pertempuran tanpa henti, tetapi sorot matanya tetap setajam bilah pisau yang baru diasah.Di sebelah kiri Arka, Taring Baja sudah berlutut dengan senapan mesin ringan mengarah ke seluruh area halaman. Di sebelah kanan, Arga berdiri dalam posisi tembak sempurna sambil mengunci target satu demi satu.Sementara itu, Kaivan berada sedikit di belakang mereka. Tangannya bergerak cepat mengganti magazen hingga nyaris hanya menyisakan bayangan. Mereka akhirnya tiba, dan kedatangan mereka terasa seperti hukuman mati yang turun dari langit."Serangan musuh!"Bagas meraung sambil berguling mencari perlindungan.Sayangnya, sebagian besar pasukan gabungan sudah kehilangan kemampuan bertarung. Granat tadi telah menewask

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 340

    Beberapa saat kemudian, Bagas menarik napas panjang dan sengaja memecah suasana yang menekan itu. "Baiklah, sekarang bukan saatnya membahas masalah ini."Ia menoleh ke arah pria berjubah hitam dengan sikap yang tampak sopan, meski nada suaranya menyiratkan desakan yang tidak bisa diabaikan."Prioritas kita saat ini adalah memusnahkan Keluarga Mahesa sampai tuntas. Selama mereka masih ada, stabilitas wilayah di Zona Selatan tidak akan pernah benar-benar terwujud."Kata-kata terakhirnya diucapkan dengan penekanan khusus, seolah menyembunyikan maksud lain di balik istilah stabilitas tersebut.Pria berjubah hitam itu perlahan mengalihkan pandangan ke arah aula utama yang masih bertahan di tengah kepungan."Memang sudah waktunya menyelesaikan masalah itu." Ia mengangkat tangan dan membuat isyarat sederhana. "Selesaikan secepatnya!"Perintah itu singkat, tetapi efeknya langsung terasa.Mata Bagas langsung berbinar. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu berteriak kepada seluruh pasukan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 76

    Video itu menampilkan adegan brutal—Arka memukul seorang bocah. Sudut pengambilan yang sengaja dipotong membuat semuanya tampak kejam.Keira berdiri kaku, dunia di sekelilingnya kabur.Pria yang ia kenal—yang melindungi, yang tenang—bertolak belakang dengan sosok dalam video. Ia membungkuk, mengamb

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 74

    Arka tak memperhatikan itu. Ia sudah berada di sisi Taring Baja, yang tubuh besarnya hampir roboh. Dengan sigap, ia menopang pria itu.“Bos…” suara Taring Baja melemah. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari luka di perut. “Aku… mempermalukan kita…”“Diam!” Arka memotong keras. Tak ada amarah di

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 72

    Setelah gelombang gairah yang panjang akhirnya mereda, kamar tidur kembali diselimuti keheningan hangat yang samar. Mireya bersandar nyaman di pelukan Arka, ujung jarinya bergerak malas, menggambar lingkaran kecil di bekas luka di dada pria itu. Napasnya masih sedikit berat, namun ekspresinya penuh

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 67

    Keira menggeleng. Ia meletakkan kue, mengambil tasnya. “Terima kasih. Aku pergi.”Ia membuka pintu dan keluar tanpa menoleh.Senyum Reza langsung lenyap. Ia mengenakan mante

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status