Se connecterPos komando langsung berubah kacau. Telepon berdering tanpa henti, para petugas komunikasi berteriak menerima laporan dari garis depan, para perwira staf berusaha memperbarui peta secepat mungkin. Namun, laju kekalahan Keluarga Wijaksana dan pengejaran Keluarga Mahardika membuat situasi berubah lebih cepat daripada yang mampu mereka petakan.Seorang perwira senior mendekat dengan wajah pucat. "Patriark, apa yang harus kita lakukan? Jumlah mereka terlalu besar dan serangannya terlalu cepat. Pasukan kita bahkan tidak sempat membentuk pertahanan sebelum mereka menerobos!"Ia menelan ludah. "Haruskah kita mundur, atau...""Mundur? Kita harus mundur ke mana?"Begitu garis depan dihantam gelombang pasukan Keluarga Wijaksana yang melarikan diri, garis pertahanan kedua dan ketiga juga akan ikut terseret. Seluruh posisi Keluarga Nirvana bisa runtuh, Keluarga Mahardika yang mengejar dari belakang pasti memanfaatkan kekacauan untuk menerobos masuk.Namun, bertahan juga bukan pilihan mudah. Berte
Wiranata menutup telepon dengan Bramantyo tanpa menunjukkan emosi. Tidak ada simpati terhadap keadaan Bramantyo, tetapi juga tidak ada kepuasan atas keberhasilan rencananya. Ia hanya berjalan tenang kembali ke meja dan mengamati posisi pasukan yang ditandai di atas peta.Keluarga Mahardika sedang melancarkan serangan balik, sementara Arka terus menghantam dari belakang. Bramantyo kini sudah berada dalam keadaan panik."Sampaikan perintah." Suaranya tidak keras, tetapi langsung membuat para perwira yang sejak tadi memperhatikan menjadi tegang. "Perintahkan pasukan di tebing untuk segera mundur."Jarinya berpindah ke wilayah pertahanan timur Keluarga Mahardika. "Setelah itu, tekan sayap timur mereka. Tidak perlu serangan penuh. Cukup buat mereka tidak berani menarik pasukan untuk membantu garis depan."Senyum tipis muncul di wajahnya. "Arka sudah menyerahkan tebing. Tidak ada alasan bagi kita terus berebut tempat itu."Tatapan Wiranata menyapu seluruh ruangan sebelum ia melanjutkan. "Ba
Pos Pengamatan Garis Depan Keluarga Wijaksana.Bramantyo telah memecahkan gelas air ketiganya. Matanya merah dan bengkak ketika melihat pasukan lapis baja yang menjadi kebanggaannya terjebak dalam kekacauan melalui teropong.Serangan mereka bukan hanya berhenti, tetapi di beberapa sektor bahkan mulai dipukul mundur oleh serangan balik Keluarga Mahardika. Dari belakang, laporan buruk terus berdatangan: pos komando jatuh, jalur suplai terputus, dan posisi artileri hancur."Tidak berguna! Kalian semua tidak berguna!"Ia berteriak melalui walkie-talkie, tetapi yang menjawab hanya suara statis bercampur dentuman ledakan dari kejauhan. Keunggulan yang selama ini menjadi sumber kepercayaan dirinya perlahan runtuh, begitu pula keyakinan pasukannya terhadap kemenangan.Kepanikan menyebar di antara pasukan Keluarga Wijaksana. Kali ini bukan sekadar ketidaksiapan menghadapi serangan balik, melainkan ketakutan karena mereka mulai merasa terisolasi dan tidak berdaya menghadapi musuh yang tidak ter
Saat fajar menyingsing di Zona Bayangan, suara tembakan bukannya mereda, tetapi justru meningkat menjadi lebih ganas.Garis pertahanan kedua Keluarga Mahardika telah porak-poranda setelah digempur sepanjang malam. Benteng beton hancur, kawah ledakan memenuhi perbukitan, dan hutan yang sebelumnya hijau berubah menjadi tanah hangus dengan tunggul pohon yang masih mengepulkan asap.Ketika serangan Keluarga Wijaksana mulai melambat akibat kekacauan di belakang mereka, perintah serangan balik dari Adelina segera menyebar ke seluruh garis depan."Patriark telah memerintahkan serangan balik! Usir Keluarga Wijaksana! Demi Keluarga Mahardika! Demi saudara-saudara kita yang gugur!”“Bunuh—!"Teriakan itu segera disambut raungan para prajurit. Begitu suara terompet menggema, pasukan Keluarga Mahardika yang sebelumnya bertahan di parit dan bunker langsung menerjang keluar, memanfaatkan momentum musuh yang mulai kehilangan arah."Bunuh mereka!""Hajar bajingan itu!"“SERAAANG—!”Sebagian besar bah
Tanpa membuang waktu, Arka langsung menghubungi nomor lain. Sambungan diangkat hampir seketika."Nona Adelina." Arka langsung berbicara tanpa basa-basi."Tuan Arka." Suara Adelina terdengar jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Kekhawatiran yang sempat muncul ketika situasi berada di titik genting kini telah menghilang, meski nada bicaranya masih menyimpan kehati-hatian."Dentuman artilerinya cukup menggugah."Pujian itu terdengar ringan, tetapi sebenarnya merupakan ujian sekaligus tanda niat baik."Bagus kalau kau mendengarnya." Arka tidak menanggapi basa-basi itu dan langsung masuk ke inti pembicaraan. Suaranya tetap tenang, tetapi setiap kata terdengar tegas."Kalau begitu, Nona Adelina, segera bergerak. Waktunya serangan balik terakhir. Bagian belakang Keluarga Wijaksana sedang kacau dan moral mereka goyah. Ini kesempatan terbaik untuk menyerang habis-habisan."Ia melanjutkan tanpa bertanya, seolah keputusan kerja sama mereka sudah ditetapkan. "Pasukan kami akan terus menekan d
"Bertahan! Jangan ada yang berbalik!"Bramantyo meraung melalui walkie-talkie dengan urat-urat di dahinya menegang."Musuh hanya mengganggu kita dari belakang dalam kelompok-kelompok kecil! Teruskan serangan di depan! Rebut posisi Keluarga Mahardika! Cepat!"Namun, perintah tersebut tidak mampu menghentikan kepanikan yang telah menyebar. Situasi semakin memburuk ketika laporan darurat terus masuk melalui jaringan komunikasi yang belum sepenuhnya terputus."Lapor! Titik suplai belakang hancur! Unit yang bertahan di sana kehilangan lebih dari setengah personelnya!""Lapor! Batalion Kendaraan Ketiga disergap! Komandan batalion gugur dan pasukannya tercerai-berai!""Lapor! Pasukan elit musuh terlihat menyusup ke sisi pertahanan kita dan bergerak menuju pos komando!"Bramantyo langsung meraih ponselnya dan menghubungi Wiranata. Begitu sambungan tersambung, ia hampir berteriak."Wiranata Nirvana! Aku tidak membutuhkan laporan apa pun! Aku membutuhkan bantuan! Kirim bantuan sekarang, mengert
“Benar.” Jawaban Arka pendek.Namun nada suaranya berubah begitu rendah hingga terasa seperti es yang menggores tulang.“Kelompok sampah yang membantai warga sipil di Pedesaan Kelam Ravora.” Rahangnya mengeras. “Wanita, anak-anak, tawanan… mereka membunuh semuanya.”Kilatan dingin melintas di matan
DOR! DOR! DOR!Suara tembakan dari bawah langsung membesar seperti badai.“Biarkan mereka saling membunuh dulu.”Begitu Peter berdiri penuh, seluruh ruangan langsung ikut bergerak. Orang-orang di sekitarnya refleks menegakkan badan, sorot mereka tertuju penuh ke arah pria itu.Peter memandangi kelo
Ruangan VIP itu langsung sunyi ketika Peter berdiri.Dentuman tembakan dari lantai bawah terus terdengar samar. Kadang diselingi suara kaca pecah dan jeritan panik yang samar tertahan oleh lapisan peredam suara tebal.Peter melangkah perlahan menuju meja minuman. Ia mengambil segelas whiskey yang s
“Baik, baik… cukup.”Rama perlahan mengangkat kedua tangan sambil mundur setengah langkah. Cahaya lampu darurat yang berkedip membuat wajahnya tampak semakin gelap, sementara bekas luka di bawah mata kirinya memberi kesan jauh lebih mengancam.Ia memberi isyarat agar anak buahnya menahan diri sebel







