공유

Bab 482

작가: Skyy
last update 게시일: 2026-08-24 21:17:49

"Bertahan! Jangan ada yang berbalik!"

Bramantyo meraung melalui walkie-talkie dengan urat-urat di dahinya menegang.

"Musuh hanya mengganggu kita dari belakang dalam kelompok-kelompok kecil! Teruskan serangan di depan! Rebut posisi Keluarga Mahardika! Cepat!"

Namun, perintah tersebut tidak mampu menghentikan kepanikan yang telah menyebar. Situasi semakin memburuk ketika laporan darurat terus masuk melalui jaringan komunikasi yang belum sepenuhnya terputus.

"Lapor! Titik suplai belakang hancur! U
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 485

    Pos Pengamatan Garis Depan Keluarga Wijaksana.Bramantyo telah memecahkan gelas air ketiganya. Matanya merah dan bengkak ketika melihat pasukan lapis baja yang menjadi kebanggaannya terjebak dalam kekacauan melalui teropong.Serangan mereka bukan hanya berhenti, tetapi di beberapa sektor bahkan mulai dipukul mundur oleh serangan balik Keluarga Mahardika. Dari belakang, laporan buruk terus berdatangan: pos komando jatuh, jalur suplai terputus, dan posisi artileri hancur."Tidak berguna! Kalian semua tidak berguna!"Ia berteriak melalui walkie-talkie, tetapi yang menjawab hanya suara statis bercampur dentuman ledakan dari kejauhan. Keunggulan yang selama ini menjadi sumber kepercayaan dirinya perlahan runtuh, begitu pula keyakinan pasukannya terhadap kemenangan.Kepanikan menyebar di antara pasukan Keluarga Wijaksana. Kali ini bukan sekadar ketidaksiapan menghadapi serangan balik, melainkan ketakutan karena mereka mulai merasa terisolasi dan tidak berdaya menghadapi musuh yang tidak ter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 484

    Saat fajar menyingsing di Zona Bayangan, suara tembakan bukannya mereda, tetapi justru meningkat menjadi lebih ganas.Garis pertahanan kedua Keluarga Mahardika telah porak-poranda setelah digempur sepanjang malam. Benteng beton hancur, kawah ledakan memenuhi perbukitan, dan hutan yang sebelumnya hijau berubah menjadi tanah hangus dengan tunggul pohon yang masih mengepulkan asap.Ketika serangan Keluarga Wijaksana mulai melambat akibat kekacauan di belakang mereka, perintah serangan balik dari Adelina segera menyebar ke seluruh garis depan."Patriark telah memerintahkan serangan balik! Usir Keluarga Wijaksana! Demi Keluarga Mahardika! Demi saudara-saudara kita yang gugur!”“Bunuh—!"Teriakan itu segera disambut raungan para prajurit. Begitu suara terompet menggema, pasukan Keluarga Mahardika yang sebelumnya bertahan di parit dan bunker langsung menerjang keluar, memanfaatkan momentum musuh yang mulai kehilangan arah."Bunuh mereka!""Hajar bajingan itu!"“SERAAANG—!”Sebagian besar bah

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 483

    Tanpa membuang waktu, Arka langsung menghubungi nomor lain. Sambungan diangkat hampir seketika."Nona Adelina." Arka langsung berbicara tanpa basa-basi."Tuan Arka." Suara Adelina terdengar jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Kekhawatiran yang sempat muncul ketika situasi berada di titik genting kini telah menghilang, meski nada bicaranya masih menyimpan kehati-hatian."Dentuman artilerinya cukup menggugah."Pujian itu terdengar ringan, tetapi sebenarnya merupakan ujian sekaligus tanda niat baik."Bagus kalau kau mendengarnya." Arka tidak menanggapi basa-basi itu dan langsung masuk ke inti pembicaraan. Suaranya tetap tenang, tetapi setiap kata terdengar tegas."Kalau begitu, Nona Adelina, segera bergerak. Waktunya serangan balik terakhir. Bagian belakang Keluarga Wijaksana sedang kacau dan moral mereka goyah. Ini kesempatan terbaik untuk menyerang habis-habisan."Ia melanjutkan tanpa bertanya, seolah keputusan kerja sama mereka sudah ditetapkan. "Pasukan kami akan terus menekan d

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 482

    "Bertahan! Jangan ada yang berbalik!"Bramantyo meraung melalui walkie-talkie dengan urat-urat di dahinya menegang."Musuh hanya mengganggu kita dari belakang dalam kelompok-kelompok kecil! Teruskan serangan di depan! Rebut posisi Keluarga Mahardika! Cepat!"Namun, perintah tersebut tidak mampu menghentikan kepanikan yang telah menyebar. Situasi semakin memburuk ketika laporan darurat terus masuk melalui jaringan komunikasi yang belum sepenuhnya terputus."Lapor! Titik suplai belakang hancur! Unit yang bertahan di sana kehilangan lebih dari setengah personelnya!""Lapor! Batalion Kendaraan Ketiga disergap! Komandan batalion gugur dan pasukannya tercerai-berai!""Lapor! Pasukan elit musuh terlihat menyusup ke sisi pertahanan kita dan bergerak menuju pos komando!"Bramantyo langsung meraih ponselnya dan menghubungi Wiranata. Begitu sambungan tersambung, ia hampir berteriak."Wiranata Nirvana! Aku tidak membutuhkan laporan apa pun! Aku membutuhkan bantuan! Kirim bantuan sekarang, mengert

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 481

    Asap dari pertempuran di tebing bahkan belum sepenuhnya menghilang ketika medan perang lain di Zona Bayangan kembali bergemuruh. Ledakan dan rentetan tembakan yang jauh lebih dahsyat mulai mengguncang kawasan tersebut.Saat menerima pesan dari Wiranata, Bramantyo sedang berdiri di sebuah pos pengamatan garis depan sambil memegang teropong. Matanya memerah ketika menyaksikan pasukannya menerjang seperti gelombang pasang, menembus garis pertahanan kedua Keluarga Mahardika yang telah runtuh.Kemenangan seolah sudah berada dalam genggaman, bahkan ia telah membayangkan kepala Adelina menjadi trofi paling membanggakan yang akan menghiasi dinding kejayaannya.Karena itu, ketika mendengar kabar bahwa Arka telah bersekutu dengan Adelina dan mungkin akan menyerangnya dari belakang, reaksi pertama Bramantyo adalah tidak percaya. Ia bahkan menduga informasi tersebut hanyalah kebohongan yang sengaja dilemparkan rubah tua seperti Wiranata untuk mengacaukan pikirannya, tepat ketika Keluarga Wijaksan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 480

    Wiranata berjalan menuju meja pasir dan berhenti tepat di depannya. Tatapannya langsung tertuju pada posisi tebing, seolah-olah ingin membedah seluruh rencana yang tersembunyi di balik lokasi tersebut.Dalam perhitungannya, ada satu persoalan yang bahkan belum benar-benar ia pikirkan, atau lebih tepatnya, belum ingin ia pikirkan sekarang.Setelah Keluarga Mahardika dihancurkan, apakah ia benar-benar akan menyerahkan wilayah Keluarga Montara kepada Arka begitu saja?Dan yang lebih penting, apakah Bramantyo akan bersedia membagi sebagian keuntungan dengan Arka setelah semua ini berakhir?Kadang-kadang, manusia memang bisa bertindak begitu bodoh.Bagaimanapun, inilah Zona Bayangan. Kebaikan, moralitas, dan kesetiaan hanyalah topeng yang dipasang di atas meja judi. Siapa pun yang benar-benar mempercayainya akan menjadi korban pertama.Arka memahami aturan itu lebih baik daripada kebanyakan orang. Ia selalu bergerak lebih cepat dan tidak pernah ragu untuk bertindak lebih kejam ketika diper

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 125

    “Taring Badai?” tanya Arga.Garuda Hitam menggeleng. “Dia menghilang saat misi luar negeri, katanya tertelan ledakan?”Arga tersenyum tipis. “Dengan kemampuan dia? Aku tak percaya dia mati.”Mereka saling menatap, kenangan pahit berkelebat.Tiba-tiba Taring Baja berdiri. “Aku tak tahan! Aku bunuh d

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 124

    “Apa… yang Ayah inginkan?”Suaranya rendah, serak, dan penuh tekanan. Seolah jika jawaban yang diterima tak sesuai harapan, sesuatu akan meledak di tempat itu.Di sampingnya, Reno langsung merasakan atmosfer berubah. “Kak, tenang,” bisiknya cepat, mencoba meredakan ketegangan.Namun Surya justru te

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 122

    Ia membuka pintu mobil. Delapan orang elit segera membentuk formasi, menutupinya dengan dinding manusia. Senjata diarahkan ke arah Arka. Tidak satu pun berani ceroboh.“Melihat langsung memang berbeda,” ujar Julian akhirnya. “Dalam kondisi seperti itu, kau masih punya niat membunuh, aku kagum.”Ark

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 74

    Arka tak memperhatikan itu. Ia sudah berada di sisi Taring Baja, yang tubuh besarnya hampir roboh. Dengan sigap, ia menopang pria itu.“Bos…” suara Taring Baja melemah. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari luka di perut. “Aku… mempermalukan kita…”“Diam!” Arka memotong keras. Tak ada amarah di

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status