INICIAR SESIÓNDi tengah laporan pertempuran itu, sosok Topeng Algojo terasa semakin sulit dipahami. Pria itu ternyata bukan hanya mampu mengendalikan pasukan bersenjata yang terlatih. Ia juga mampu memanfaatkan kelompok masyarakat yang paling rentan, dan mengubah mereka menjadi alat perang yang tidak takut mati.Dibandingkan para penguasa bersenjata yang pernah Arka hadapi, lawan kali ini bermain dengan aturan yang sama sekali berbeda.Ia tidak peduli dengan batas moral. Apa pun yang bisa digunakan akan dijadikan senjata, termasuk sisi paling gelap dari manusia.Arka menarik napas perlahan. Udara pengap di dalam terowongan membuat dadanya terasa berat, tetapi sorot matanya justru semakin dingin."Tuan Adhyaksa." Suaranya tenang, tidak lagi menyisakan keraguan. "Perintahkan tim bantuan untuk mundur secara teratur. Setelah itu, kirim beberapa orang yang menyamar sebagai warga setempat untuk menyelidiki keadaan di sana. Cari tahu dari mana kelompok-kelompok itu muncul dan siapa yang menggerakkan merek
"Ada! Ada satu!" Ia mengangguk cepat. "Sekitar satu mil dari sini ada percabangan yang menuju terowongan tambang tua. Jalurnya sudah lama ditinggalkan, tetapi ada satu jalan keluar yang sangat tersembunyi. Dulu tempat itu merupakan gubuk para penambang. Sekarang bangunannya sudah setengah runtuh dan tertutup tanaman rambat, jadi hampir tidak terlihat dari luar."Nocthar menarik napas sebelum melanjutkan. "Jarang ada yang tahu jalan itu karena sebagian terowongannya pernah runtuh. Udara di sana juga buruk, jadi hampir tidak pernah ada orang yang masuk.""Runtuh dan kualitas udara buruk?" Arga mengerutkan kening. "Seberapa parah?""Longsor terjadi beberapa tahun lalu dan menutup sebagian jalur," jawab Nocthar cepat. "Tapi masih ada celah di dinding batu sebelahnya yang bisa dilewati. Memang sempit, dan udaranya pengap, tetapi kalau hanya untuk sementara seharusnya masih aman."Ia buru-buru menambahkan, "Jalan keluar itu sangat tersembunyi. Dulu sengaja dibuat sebagai jalan pelarian tera
Jari-jari Arka mengencang di sekitar ponsel hingga buku-bukunya memutih. Tatapannya berubah sedingin es ketika menyadari bahwa situasi telah berkembang jauh di luar perhitungan mereka."Bos..."Niko dan Arga memandangnya dengan wajah tegang.Arka menarik napas panjang untuk menekan gejolak yang mulai muncul di dalam dirinya. Revan dan pasukannya sedang berada dalam bahaya. Jika posisi artileri jatuh, mereka bukan hanya kehilangan dukungan tembakan, tetapi pasukan yang dipimpin Damar juga berpotensi terjebak dalam serangan dari dua arah.Sementara itu, mereka sendiri terjebak jauh di bawah tanah.Pasukan yang seharusnya menjadi ujung tombak untuk menembus jantung pertahanan musuh kini tidak dapat maju tanpa risiko dan tidak bisa mundur tanpa meninggalkan rekan-rekan mereka di permukaan.Arka menatap lempengan batu yang menutup jalan keluar. Ada beberapa pilihan di hadapannya. Mereka bisa menerobos keluar sekarang dan mengambil risiko menghadapi jebakan yang mungkin sudah menunggu di si
Arka melanjutkan dengan suara rendah. "Sekarang kita menghadapi situasi yang bahkan lebih tidak jelas. Aku tidak tahu apakah sang Topeng Algojo sudah menyiapkan jebakan khusus di sekitar pintu keluar ini. Aku juga tidak tahu apakah keberadaan lorong rahasia ini sudah diketahui oleh pemimpin baru Keluarga Wijaksana."Tatapannya menjadi semakin serius. "Yang paling tidak kita ketahui adalah hubungan antara pasukan Topeng Algojo dan Sindikat Noctis. Bagaimana kalau jalur ini sengaja dibiarkan terbuka agar kita menemukannya? Bagaimana kalau semua yang kita lihat sejak tadi memang sudah diperhitungkan?"Arka menatap lempengan batu yang kini kembali tertutup. "Bagaimana kalau perjalanan kita sampai ke tempat ini bukan sebuah kebetulan, melainkan pertunjukan yang sengaja mereka siapkan untuk membawa kita masuk ke perangkap?"Tatapan Arka semakin tajam. "Kalau kita menerobos sekarang, pasukan kejutan kita bukan lagi pasukan yang menyerang dari balik bayangan. Kita justru akan menjadi sasaran
Lorong bawah tanah itu perlahan menanjak. Aliran udara mulai terasa lebih lancar, tetapi aroma lembap, karat, dan bau busuk yang memenuhi terowongan tidak juga menghilang. Dalam perjalanan, mereka kembali menemukan dua kelompok kecil anggota Sindikat Noctis yang masih bertahan di dalam jaringan tersebut. Keduanya mencoba memberikan perlawanan, tetapi tidak mampu bertahan lama di hadapan rombongan Arka.Arga juga menemukan beberapa jebakan yang jauh lebih rumit daripada sebelumnya. Beberapa mekanisme bahkan saling terhubung, termasuk sebuah perangkap yang memanfaatkan tempat kelelawar sebagai pemicu alarm. Berkat ketelitiannya, seluruh mekanisme itu berhasil dinonaktifkan tanpa menimbulkan suara yang dapat memperingatkan pihak di luar.Setelah melewati serangkaian lorong berliku, mereka akhirnya tiba di sebuah jalan buntu. Di hadapan mereka hanya terdapat dinding batu yang tampak sepenuhnya alami, seolah-olah tidak pernah ada jalan lain di tempat itu.Nocthar berdiri di depan dinding
Pintu masuk jaringan bawah tanah yang pernah digunakan Sindikat Noctis tersembunyi di tengah hutan, terlindung oleh celah sempit di antara bebatuan yang nyaris mustahil menarik perhatian.Tanpa bantuan Nocthar, mereka mungkin akan melewatinya begitu saja. Pria itu mengangkat tangan yang masih gemetar, lalu menekan beberapa tonjolan batu dalam urutan tertentu hingga terdengar bunyi gesekan berat dari dalam tanah. Sesaat kemudian, sebuah pintu batu bergeser perlahan, menghembuskan udara dingin yang membawa aroma lembap, debu, karat, serta samar bau bahan pengawet bercampur darah.Sorot lampu menerobos kegelapan dan memperlihatkan tangga batu curam yang hanya cukup untuk dilewati satu orang. Permukaannya licin akibat lumut dan rembesan air, sementara dinding di kedua sisi dipenuhi noda gelap yang membuat lorong itu terasa seperti tenggorokan makhluk raksasa yang telah lama terkubur."Jaga jarak tiga meter. Niko di depan, Arga perhatikan pijakan dan sisi kanan-kirimu. Garuda Hitam paling
“Baik, baik… cukup.”Rama perlahan mengangkat kedua tangan sambil mundur setengah langkah. Cahaya lampu darurat yang berkedip membuat wajahnya tampak semakin gelap, sementara bekas luka di bawah mata kirinya memberi kesan jauh lebih mengancam.Ia memberi isyarat agar anak buahnya menahan diri sebel
Nama itu langsung membuat mata Gavira sedikit berubah.“Di Zona Bayangan, Bayangan Rawa punya pengaruh besar,” lanjut Adhyaksa. “Terutama dalam bisnis intelijen dan perantara. Dia bisa berbicara dengan siapa saja. Sindikat, tentara bayaran, kartel, bahkan kelompok yang saling bermusuhan.”Nada suar
“Tuan Arka,” ucapnya pelan sambil sedikit membungkukkan badan, “Nama saya Serena. Kita pernah bertemu tujuh tahun lalu, meski waktu itu kondisi saya benar-benar berantakan.”Ia tersenyum kecil, berusaha meredakan rasa gugupnya sendiri. “Mungkin saat itu saya terlihat sangat memalukan.”Arka menatap
Di dalam ruang makan utama kediaman Keluarga Mahesa, cahaya lampu kristal memantul hangat di atas meja panjang yang dipenuhi hidangan.Beberapa putaran minuman membuat suasana terlihat cair dan akrab, tetapi semua orang di meja itu jelas menyimpan pikiran masing-masing. Setelah merasa waktunya cuku







