Share

Bab 9

Penulis: Skyy
last update Tanggal publikasi: 2026-03-06 19:06:04

Mireya menarik napas perlahan, menenangkan dirinya. Senyumnya kembali, lebih lembut namun jauh lebih berbahaya. “Hotelku sangat nyaman,” katanya pelan. “Kalau mau, kita bisa bicara di tempat yang lebih tenang.”

Maknanya jelas.

Arka hendak menjawab ketika ponselnya bergetar.

Nama di layar membuat ekspresinya berubah.

Keira Adhistya.

Ia mengangkat panggilan.

“Datang ke rumahku.”

Suara di ujung sana serak, berat, jelas dipengaruhi alkohol.

Wajah Arka mengeras, ia tahu apa artinya ini. Kejadian sem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 510

    "Dimengerti! Unit Talon, belok kiri!" Damar langsung mengubah arah sesuai instruksi.Pasukan itu kembali menerobos maju, meninggalkan jejak darah di sepanjang perjalanan. Mereka bergerak seperti ujung pisau yang dipaksa menembus kepungan dari segala sisi, tetapi jumlah mereka terus berkurang.Seorang prajurit elit menjatuhkan tubuhnya di atas granat yang dilemparkan musuh untuk melindungi rekan-rekannya. Tidak jauh dari sana, seorang prajurit artileri yang sedang menggendong rekannya yang terluka terkena peluru penembak runduk dari samping. Keduanya kehilangan keseimbangan dan terguling bersama menuruni lereng.Darah terus menodai rerumputan dan bebatuan yang mereka lewati.Para pengejar tidak memberi mereka kesempatan untuk bernapas. Mereka terus mengikuti dari belakang seperti lintah yang menempel dan tidak mau melepaskan mangsanya. Semakin dekat mereka dengan kompleks Keluarga Wijaksana, semakin sering mereka menemukan kelompok penjaga dan titik pertahanan yang muncul secara sporad

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 509

    "Tembakan terakhir!" Begitu peluru terakhir meluncur, Revan langsung memberikan perintah berikutnya. "Ledakkan semua meriam!"Para penembak yang masih hidup segera menjalankan instruksi. Mata beberapa di antara mereka berkaca-kaca ketika bahan peledak yang telah disiapkan sebelumnya dipasang pada laras dan bagian penting meriam, lalu sumbunya dinyalakan.Tidak ada waktu untuk berduka."Mundur!" Revan berteriak. "Gabung dengan Pasukan Tuan Damar! Kita bergerak menuju hutan di sekitar kompleks Keluarga Wijaksana!"Ia sendiri menjadi orang pertama yang keluar dari perlindungan. Senapan serbunya menggelegar dalam rentetan pendek dan terukur, setiap tembakan membuka celah di antara kepungan musuh. Pasukan yang tersisa segera mengikuti jalurnya."Pasukan Tuan Damar, bergerak ke posisiku! Saling lindungi dan mundur!"Dari sisi lain lembah, Damar akhirnya muncul di antara pepohonan. Tubuhnya dipenuhi darah yang tidak jelas berasal dari dirinya atau lawan. Senapan mesin ringan di tangannya ter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 508

    "Musuh datang dari arah jam tiga! Senapan mesin, lumpuhkan senapan mesin mereka!""Lindungi meriam! Tim kedua, tahan sisi kiri!""Titik pengamatan ditekan! Kita tidak bisa melakukan kalibrasi!"Perintah dan teriakan bercampur dengan suara tembakan serta ledakan yang mengguncang lembah.Revan menembakkan beberapa peluru pendek dari pistolnya ke arah kelompok musuh yang terus mendekat sambil memberikan instruksi melalui headset. Matanya sudah memerah, tetapi pikirannya tetap bekerja cepat.Posisi ini tidak mungkin dipertahankan.Musuh telah menguasai inisiatif, jumlah mereka lebih besar, dan mereka sudah mengetahui lokasi artileri. Pasukan Revan sendiri dirancang untuk memberikan dukungan tembakan jarak jauh, bukan menghadapi pengepungan dalam jarak dekat.Namun ada satu perintah yang tidak boleh gagal, mereka harus menembak.Perintah Arka harus dilaksanakan."Semua kru meriam, dengarkan!" Suara Revan menggema melalui mikrofon tenggorokan dan terdengar di headset setiap penembak. "Targe

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 507

    Di tengah laporan pertempuran itu, sosok Topeng Algojo terasa semakin sulit dipahami. Pria itu ternyata bukan hanya mampu mengendalikan pasukan bersenjata yang terlatih. Ia juga mampu memanfaatkan kelompok masyarakat yang paling rentan, dan mengubah mereka menjadi alat perang yang tidak takut mati.Dibandingkan para penguasa bersenjata yang pernah Arka hadapi, lawan kali ini bermain dengan aturan yang sama sekali berbeda.Ia tidak peduli dengan batas moral. Apa pun yang bisa digunakan akan dijadikan senjata, termasuk sisi paling gelap dari manusia.Arka menarik napas perlahan. Udara pengap di dalam terowongan membuat dadanya terasa berat, tetapi sorot matanya justru semakin dingin."Tuan Adhyaksa." Suaranya tenang, tidak lagi menyisakan keraguan. "Perintahkan tim bantuan untuk mundur secara teratur. Setelah itu, kirim beberapa orang yang menyamar sebagai warga setempat untuk menyelidiki keadaan di sana. Cari tahu dari mana kelompok-kelompok itu muncul dan siapa yang menggerakkan merek

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 506

    "Ada! Ada satu!" Ia mengangguk cepat. "Sekitar satu mil dari sini ada percabangan yang menuju terowongan tambang tua. Jalurnya sudah lama ditinggalkan, tetapi ada satu jalan keluar yang sangat tersembunyi. Dulu tempat itu merupakan gubuk para penambang. Sekarang bangunannya sudah setengah runtuh dan tertutup tanaman rambat, jadi hampir tidak terlihat dari luar."Nocthar menarik napas sebelum melanjutkan. "Jarang ada yang tahu jalan itu karena sebagian terowongannya pernah runtuh. Udara di sana juga buruk, jadi hampir tidak pernah ada orang yang masuk.""Runtuh dan kualitas udara buruk?" Arga mengerutkan kening. "Seberapa parah?""Longsor terjadi beberapa tahun lalu dan menutup sebagian jalur," jawab Nocthar cepat. "Tapi masih ada celah di dinding batu sebelahnya yang bisa dilewati. Memang sempit, dan udaranya pengap, tetapi kalau hanya untuk sementara seharusnya masih aman."Ia buru-buru menambahkan, "Jalan keluar itu sangat tersembunyi. Dulu sengaja dibuat sebagai jalan pelarian tera

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 505

    Jari-jari Arka mengencang di sekitar ponsel hingga buku-bukunya memutih. Tatapannya berubah sedingin es ketika menyadari bahwa situasi telah berkembang jauh di luar perhitungan mereka."Bos..."Niko dan Arga memandangnya dengan wajah tegang.Arka menarik napas panjang untuk menekan gejolak yang mulai muncul di dalam dirinya. Revan dan pasukannya sedang berada dalam bahaya. Jika posisi artileri jatuh, mereka bukan hanya kehilangan dukungan tembakan, tetapi pasukan yang dipimpin Damar juga berpotensi terjebak dalam serangan dari dua arah.Sementara itu, mereka sendiri terjebak jauh di bawah tanah.Pasukan yang seharusnya menjadi ujung tombak untuk menembus jantung pertahanan musuh kini tidak dapat maju tanpa risiko dan tidak bisa mundur tanpa meninggalkan rekan-rekan mereka di permukaan.Arka menatap lempengan batu yang menutup jalan keluar. Ada beberapa pilihan di hadapannya. Mereka bisa menerobos keluar sekarang dan mengambil risiko menghadapi jebakan yang mungkin sudah menunggu di si

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 141

    “Ugh!” Mireya menjatuhkan tubuhnya kembali ke ranjang, lalu memutar badan dengan kesal. “Sial! Seharusnya aku curang aja dari awal…”Namun pikirannya tidak berhenti di situ, justru semakin liar.Tanpa sadar, ia mulai membayangkan apa yang sedang terjadi di bawah. Bayangan-bayangan itu muncul sendir

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 127

    Di lantai bawah.Taman rumah sakit diterangi lampu taman kekuningan. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma daging panggang.Garuda Hitam, Taring Baja, dan Arga duduk mengelilingi meja kecil. Di atasnya persis, tusuk sate, bir dingin, dan asap tipis yang mengepul.Suasananya berat, tidak ada yang

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 149

    Sementara itu, Nihil sudah lenyap dari pandangan. Beberapa detik kemudian, sosoknya muncul lagi di dekat pintu samping. Seorang loyalis keluarga yang hendak kabur perlahan ambruk di belakangnya, tenggorokan teriris bersih.Seluruh proses itu tidak sampai dua puluh detik.Ketika Arka akhirnya melang

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 126

    Mireya menatapnya dengan mata berkilat, senyum misterius tersungging. Wanita itu jelas tidak datang sekadar menjenguk.Bangsal yang sebelumnya sunyi kini berubah hangat sekaligus tegang dengan kehadiran tiga wanita yang memancarkan pesona berbeda.Aroma disinfektan yang biasanya dominan perlahan te

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status