MasukKaivan menarik napas perlahan sebelum melanjutkan. "Bos kita adalah sang Taring Alpha. Kalau dia bisa mati semudah itu, dia pasti sudah mati berkali-kali sejak dulu."Taring Baja menggertakkan giginya. "Tapi ledakan tadi—""Ledakan itu memang bagian dari jebakan." Kaivan langsung memotong ucapannya. "Masalahnya, bos juga tahu itu jebakan."Ia menatap reruntuhan yang masih terbakar di kejauhan. "Jadi aku tidak percaya dia masuk tanpa menyiapkan sesuatu."Arga menurunkan pandangannya sesaat. Jemarinya yang sejak tadi mencengkeram senapan perlahan mengendur.Taring Baja juga tidak lagi bergerak menuju pintu.Mereka semua mengenal Arka Mahendra lebih baik daripada siapa pun. Pria itu mungkin nekat, mungkin gila, tetapi tidak pernah bodoh. Dan untuk beberapa saat hanya suara api yang terbakar di kejauhan yang terdengar di dalam pos penjaga.Kemudian Kaivan berbicara lagi dengan nada yang jauh lebih tenang. "Kita tunggu. Kalau bos masih hidup, dia akan muncul.""Dan kalau ada orang yang cuk
DUUAAAAARRR!Ledakan terakhir menghantam fondasi bangunan.Struktur tiga lantai itu runtuh dari dalam seperti kartu domino raksasa. Batu bata, beton, kaca, furnitur, dan balok kayu beterbangan ke udara sebelum berubah menjadi lautan puing yang dilalap api.Asap hitam pekat membumbung tinggi ke langit fajar.Dari kejauhan, Kaivan, Taring Baja, dan Arga yang telah mundur ke area instalasi pengolahan limbah hanya bisa menyaksikan bangunan utama manor runtuh di depan mata mereka."Bos—!" raungan Taring Baja pecah, tetapi suaranya tenggelam di tengah gemuruh ledakan.Arga tidak berkata apa-apa. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mencengkeram senapan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.Sinar matahari pertama akhirnya menembus cakrawala dan menerangi medan yang dipenuhi asap, darah, serta kematian.Di sisi lain, Lorenzo berdiri tenang sambil menyaksikan kehancuran yang baru saja terjadi. Senyum puas perlahan muncul di wajahnya sebelum ia menoleh kepada Reginald."Perintahkan s
Begitu melihat sosok itu, amarah yang selama ini ditekan kembali membuncah dalam dada Arka. Bayangan Siluman Hutan yang gugur, darah Taring Serigala yang membasahi tanah, serta tubuh Musang yang nyaris hancur akibat ledakan seakan muncul bersamaan di depan matanya.Ia tidak memberi peringatan, atau membutuhkan konfirmasi.Saat tubuhnya berhenti berguling dan posisi tembaknya stabil, jari Arka langsung menekan pelatuk.DORR!Suara tembakan mengguncang ruang kerja.Peluru menembus bagian belakang kepala sosok di kursi itu dengan presisi mematikan. Kursi kulit tersebut terhentak keras ke depan sebelum terbalik bersama tubuh yang duduk di atasnya. Darah, serpihan kayu, dan pecahan kulit berhamburan ke segala arah ketika mayat itu menghantam meja lalu jatuh ke lantai.Arka tidak langsung mendekat. Ia tetap mempertahankan posisi tembak sambil mengamati seluruh ruangan dengan tajam. Tatapannya bergerak cepat dari rak buku ke tirai jendela, lalu ke bawah meja dan setiap sudut yang mungkin dig
Arka langsung berlari menuju tangga. Tujuannya hanya satu, yaitu ruang kerja pribadi Lorenzo di sisi timur lantai tiga. Terlepas dari apakah itu jebakan atau bukan, ia harus memastikan semuanya sendiri."Dia di tangga!""Target naik ke atas!"Dor! Dor! Dor!Rentetan peluru menghantam pegangan tangga dan dinding di dekatnya hingga serpihan kayu berhamburan.Arka sama sekali tidak membalas tembakan. Sambil terus bergerak naik, ia justru menempelkan potongan terakhir bahan peledak plastik di sudut antara lantai dua dan lantai tiga, lalu mengatur penundaan selama tiga detik.Setelah itu ia langsung melesat ke atas.Begitu mencapai beberapa anak tangga terakhir, Arka menerjang pintu darurat lantai tiga dan berguling masuk tepat saat hitungan waktu berakhir.BLAAARR!Ledakan keras mengguncang area tangga di belakangnya. Jeritan bercampur suara reruntuhan langsung memenuhi lorong dan memutus pengejaran untuk sementara.Arka bangkit sambil mengamati sekeliling. Karpet merah tua membentang di
Dengan satu hentakan tangan kiri yang kuat, Arka mencengkram laras senjata musuh, membelokkannya ke arah tanah. Sementara belati di tangan kanannya melesat maju, menembus ke balik tulang rusuk bagian bawah dan mengunci jalur jantung.Pria itu tersentak, sepasang matanya melebar menatap wajah Arka yang sedingin monster, sebelum akhirnya lunglai tak bertenaga dalam dekapan senyap sang komandan.Empat orang tumbang dalam waktu kurang dari satu menit.Arka membuang peluru yang mulai menipis dari senapannya, menggantinya dengan peluru baru dari saku dengan satu hentakan yang bersih. Tatapannya kini beralih menembus sisa-sisa kepulan asap mesiu, mengarah langsung pada jendela besar ruang kerja lantai dua bangunan utama yang tampak sunyi.Ia kemudian pergi ke balik bukit buatan dan bukannya menjauh, ia justru bergerak menyerong menuju sisi timur bangunan utama. Dalam operasi seperti ini, tempat paling berbahaya sering kali menjadi lokasi yang paling tidak diduga lawan.Dua belas personel ber
Tanpa berniat menjinakkan jebakan tersebut, Arka justru menempelkan peledak kedua miliknya langsung pada pilar penyangga utama yang berada tepat di samping rangkaian bom musuh. Dia merekayasa sebuah ledakan terkontrol yang sengaja dirancang untuk memicu seluruh jebakan milik Montara secara berantai.Setelah memastikan seluruh pemasangan selesai dan berada dalam radius aman, Arka perlahan melangkah mundur, kembali menuju pintu dapur tempat dia masuk. Dia mengeluarkan detonator dari saku celananya.Ibu jarinya menempel ketat pada tombol penekan berwarna hitam. Tatapannya menembus kegelapan, mengunci ke arah koridor dalam."Mari kita lihat wajah siapa yang akan muncul setelah ini," bisik Arka pada kesunyian, sebelum akhirnya menekan tombol picu tersebut tanpa ragu.Arka tidak membuang waktu. Langkah kakinya yang seringan bayangan langsung membawanya melesat, membelah semat yang rimbun di area taman belakang.Cahaya fajar yang kian menyengat mulai mengikis sisa-sisa kabut pagi, memperpend
“Jika seseorang menyentuhmu, itu sama saja menyentuhku. Lagipula, aku yang membayarmu!”“Nasibmu bukan sesuatu yang bisa diputuskan orang lain. Hanya aku yang berhak menentukan.”Kalimat itu menggantung di udara.Nada posesif yang jelas membuat keduanya terdiam sejenak.Sekilas rasa tidak nyaman me
Arka mengangguk, ia bahkan tidak lagi menoleh ke arah Mireya. Langkahnya langsung menuju ruang perawatan.Mireya memperhatikan punggung pria itu, ia menggigit bibirnya kesal. Separuh tujuannya tercapai, namun anehnya ia tidak merasakan kepuasan sedikit pun. Akhirnya ia berbalik dan pergi.***Di da
Bibir merahnya hampir menyentuh bibir Arka.Namun detik berikutnya, Arka sudah melepaskan tangannya.Ia mundur satu langkah. “Jangan bermain api.”Mireya tertawa pelan. “Aku memang suka bermain api.”Tatapannya kemudian berubah lebih tajam. “Yang membuatku penasaran,” katanya sambil menatap Arka lu
Pegangan Arka pada kemudi langsung mengencang, bahkan buku-buku jarinya memutih.Reza Dirgantara lagi.Bahkan dalam kondisi seperti ini, orang pertama yang ia panggil tetap pria itu. Rasa jengkel yang sulit dijelaskan muncul di dalam dirinya. Tatapannya semakin dingin. Ia adalah Arka Mahendra, buka







