共有

Bab 9

作者: Skyy
last update 公開日: 2026-03-06 19:06:04

Mireya menarik napas perlahan, menenangkan dirinya. Senyumnya kembali, lebih lembut namun jauh lebih berbahaya. “Hotelku sangat nyaman,” katanya pelan. “Kalau mau, kita bisa bicara di tempat yang lebih tenang.”

Maknanya jelas.

Arka hendak menjawab ketika ponselnya bergetar.

Nama di layar membuat ekspresinya berubah.

Keira Adhistya.

Ia mengangkat panggilan.

“Datang ke rumahku.”

Suara di ujung sana serak, berat, jelas dipengaruhi alkohol.

Wajah Arka mengeras, ia tahu apa artinya ini. Kejadian sem
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 335

    Mata Adhyaksa memerah hingga urat-urat di bagian putih matanya tampak jelas. Ia terus menarik pelatuk pistol di tangannya tanpa henti, dan hampir setiap tembakan berhasil merobohkan musuh yang berada di barisan terdepan.Namun jumlah lawan terlalu banyak. Setiap satu orang yang tumbang segera digantikan oleh dua orang lainnya. Sementara gelombang berikutnya terus berdatangan tanpa memberi kesempatan bagi pertahanan Celah Mahesa untuk bernapas."Kakak! Kita sudah tidak bisa bertahan lagi!"Bramanta mundur dari arah pertahanan timur sambil menyeret seorang penjaga muda yang tertembak di bagian perut. Luka di bahu kanannya kembali terbuka akibat pertempuran sengit, membuat darah membasahi hampir separuh tubuhnya, tetapi ia tetap memaksa diri untuk bergerak."Masuk ke aula utama! Kita harus menggunakan lorong rahasia sekarang!"Adhyaksa menyapu medan perang dengan tatapan berat.Kurang dari dua puluh penjaga yang masih mampu berdiri, dan semuanya berada dalam kondisi terluka dengan amunis

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 334

    Adhyaksa mengalihkan pandangan ke area desa di belakang benteng. Pos medis darurat yang didirikan di sana telah dipenuhi korban luka. Sementara suara rintihan dan tangisan bercampur dengan dentuman pertempuran yang terus bergema dari segala arah.Dari seluruh pasukan yang tersisa, jumlah petarung yang masih mampu mengangkat senjata bahkan tidak mencapai empat puluh orang, dan hampir semuanya berada dalam kondisi terluka dengan persediaan amunisi yang semakin menipis."Berapa lama lagi kita bisa bertahan?" tanya Adhyaksa dengan nada tenang yang justru terasa semakin menekan.Bramanta melirik arloji di pergelangan tangannya. Kacanya telah pecah akibat pertempuran, tetapi jarumnya masih bergerak. "Paling lama satu jam. Kalau mereka melancarkan serangan penuh sekali lagi, kita..." ucapnya sebelum terdiam karena tidak sanggup menyelesaikan kalimat tersebut.Adhyaksa tidak meminta penjelasan lebih lanjut karena ia sudah memahami maksudnya. Ia menarik napas panjang yang dipenuhi aroma mesiu,

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 333

    Pada saat yang sama, di Celah Mahesa, benteng yang berdiri di lereng pegunungan itu sedang menghadapi serangan paling dahsyat sejak pertama kali dibangun. Rentetan tembakan menggema tanpa henti seperti hujan badai yang menyapu seluruh area, sementara ledakan demi ledakan terus memercikkan cahaya di tengah kegelapan menjelang fajar hingga tebing yang semula gelap tampak seterang siang hari.Adhyaksa berdiri di atas tembok pertahanan sambil menopang tubuhnya pada senapan yang larasnya telah memanas akibat tembakan beruntun. Wajah pria itu dipenuhi debu mesiu dan bercak darah, tetapi sorot matanya masih tajam dan waspada. Pakaian panjang yang dikenakannya telah robek di beberapa bagian, sedangkan luka di lengan kirinya hanya dibalut perban darurat yang kini hampir sepenuhnya berubah merah karena darah yang terus merembes keluar."Pertahanan sisi timur ditembus! Tutup celahnya dengan karung pasir sekarang juga!" teriak Adhyaksa melalui radio dengan suara serak yang hampir pecah akibat ter

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 332

    Garda menarik napas panjang dan berusaha mengendalikan dirinya. Sayangnya, getaran dalam suaranya tetap tidak bisa disembunyikan."Keluarga Mahardika, Sindikat Taring Ular, dan pasukan Prajurit Kage bergerak bersama. Mereka baru saja melancarkan serangan mendadak ke Celah Mahesa. Mereka berhasil menerobos tiga lapis pos penjagaan dan langsung menghantam gerbang utama."Taring Baja yang berada di samping segera mengangkat kepala."Celah Mahesa punya posisi geografis yang sangat menguntungkan. Tempat itu mudah dipertahankan dan sulit ditembus. Kalau kita bergerak sekarang dan kembali secepat mungkin, seharusnya masih ada waktu untuk memperkuat pertahanan."Krrt—Garda menggertakkan rahangnya keras-keras. Matanya memerah, dipenuhi amarah sekaligus kecemasan."Ayah memimpin pasukan yang tersisa untuk bertahan. Untuk sementara mereka masih mampu menahan serangan, tapi persediaan amunisi terkuras terlalu cepat. Korban luka juga terus bertambah."Ia berhenti sejenak, seolah kalimat berikutny

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 331

    Arka memimpin pencarian itu secara langsung. Setelah luka di bahunya dibalut secara sederhana, ia kembali bergerak menyusuri medan hutan dengan kecepatan yang mengingatkan orang pada predator pemburu. Hanya Arga yang berjalan paling dekat dengannya yang menyadari bahwa otot bahu kirinya sesekali berkedut akibat luka yang masih belum stabil.Penyisiran berlangsung hampir empat puluh menit."Tuan Arka!"Sebuah panggilan pelan tiba-tiba terdengar dari arah tenggara.Arka segera bergerak menuju sumber suara bersama yang lain. Lokasi yang ditemukan berada di sisi teduh sebuah bukit kecil yang tertutup semak dan tanaman rambat lebat. Sekilas tempat itu tampak biasa saja, tetapi anggota Keluarga Mahesa yang menemukan lokasi tersebut langsung menunjuk ke arah tanah.Di bawah tumpukan dedaunan kering terlihat cekungan samar berbentuk posisi berlutut yang digunakan dalam waktu lama. Beberapa cabang semak di depannya juga sengaja dibengkokkan sehingga membentuk celah pengamatan alami.Arka berjo

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 330

    Arka kemudian mengalihkan pandangan kepadanya. Tekanan dingin yang terpancar dari sorot matanya membuat suasana di sekitar mereka terasa semakin berat. "Kaivan, setelah kembali nanti, laporkan kepada atasanmu bahwa ada mata-mata di pihak kita. Masalah ini harus diselidiki sampai ke akar-akarnya."Arga yang sedang menjahit luka itu langsung menghentikan gerakannya sesaat sebelum mengangkat kepala. "Mata-mata?" tanyanya dengan nada terkejut. "Apa Bos yakin?""Aku yakin." Jawaban Arka keluar tanpa keraguan sedikit pun. "Levino tahu identitas Kaivan dan timnya."Semua orang langsung menegang.Arka melanjutkan dengan suara rendah yang dipenuhi tekanan. "Bukan sekadar tahu. Dia memahami identitas mereka dengan sangat jelas."Ekspresi seluruh anggota tim langsung berubah suram.Kaivan menarik napas panjang sebelum mengangguk pelan. "Sebenarnya aku juga sudah mencurigai hal yang sama." Ia mengepalkan tangan ketika mengingat kejadian itu. "Kurang dari dua jam setelah tim kami masuk ke hutan da

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 53

    Di luar pabrik.Bram menyeringai lebar saat melihat sinyal “siap” dari anak buahnya. Preman-preman biasa sudah ditarik mundur.Matanya menatap ke dalam pabrik, tempat bayangan Arka bergerak samar di antara reruntuhan.Permainan kucing dan tikus… akhirnya mencapai puncaknya.“Ravian…” gumamnya lirih

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 49

    Di dalam ruangan itu, kontras yang menjijikkan terjadi.Riko, sosok pria bertubuh besar dengan wajah merah karena alkohol, terbaring di ranjang besar. Dua wanita muda melingkar di sekitarnya dengan tawa rendah. Ditambah aroma alkohol dan napas yang berat.Kasur berderit pelan.Ia tenggelam dalam ke

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 48

    Keesokan malam.Di sebuah rumah aman yang disiapkan Garuda Hitam di pinggiran Kota Mahatara.Arka dan Garuda Hitam menunggu dengan tenang.Beberapa saat kemudian—Duk! Duk! Duk!Langkah kaki berat terdengar dari luar.Pintu terbuka.Sesosok tubuh besar berdiri di ambang pintu. Pria itu hampir menut

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 44

    Arka menstabilkan mobilnya kembali, suaranya tetap tenang saat berkata. “Sepertinya sayembara itu sudah membuat banyak orang gelisah.”Mireya menepuk dadanya perlahan, rasa takut sempat muncul di matanya. Namun segera digantikan kilatan dingin. “Pengaruh Keluarga Wijaya benar-benar besar.”Ia mende

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status