Share

Bab 8

Author: Skyy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-06 13:56:34

“Itu bukan urusanku.” Arka berbalik hendak pergi.

“Berhenti!”

Empat pria bertubuh besar segera menutup jalan keluar. Suasana langsung berubah tegang.

Tepat saat itu, suara perempuan lain terdengar dari pintu masuk bilik, santai dan penuh hiburan. “Keributan apa ini? Nona Darmawan, kau mencoba menculik orang?”

Mireya muncul dengan gaun hitam elegan, segelas anggur merah di tangannya. Senyumnya tipis saat pandangannya berpindah antara Arka dan Calista.

Alis Calista berkerut. “Ini bukan urusanmu.”
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Miduk Gultom
kurang tegas jadi diremehkan
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 345

    "Ini Zona Bayangan."Adhyaksa perlahan berdiri lalu menatap Arka, tidak ada air mata di wajahnya. Yang tersisa hanyalah ketenangan yang nyaris mati rasa, tetapi jauh di dalam matanya masih menyala bara yang membuat siapa pun enggan menatap terlalu lama."Di tempat seperti ini, orang mati setiap hari. Kemarin giliran orang lain, hari ini adikku, dan besok mungkin aku atau bahkan kamu."Pandangannya kemudian beralih ke para anggota Keluarga Mahesa yang masih tersisa di dalam aula utama. Jumlah mereka bahkan tidak mencapai lima belas orang. Sebagian besar dipenuhi luka, sementara sorot mata mereka memuat campuran kesedihan, ketakutan, kelelahan, dan kebingungan karena berhasil lolos dari bencana yang hampir memusnahkan mereka.Namun beberapa detik kemudian, suara Adhyaksa tiba-tiba mengeras. "Tapi kita masih hidup."Kalimat itu tidak diucapkan keras, tetapi seluruh aula seketika terdiam."Selama kita masih hidup, kita harus terus bergerak maju. Kita harus menyelesaikan apa yang belum sel

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 344

    Arka perlahan mengangkat tubuhnya dari atas Vanessa. Debu dan pecahan kecil yang menempel di punggungnya berjatuhan ketika ia bergerak. Ia segera menunduk memeriksa wanita dalam pelukannya.Mata Vanessa masih terpejam, tetapi napasnya tetap stabil. Selain tubuhnya yang sedikit gemetar akibat gelombang ledakan, tidak terlihat luka serius pada dirinya."Kamu tidak apa-apa?" tanya Arka dengan suara serak.Vanessa membuka mata perlahan. Sorot matanya yang masih basah oleh air mata tampak berkilau di tengah kabut asap. Ia hanya menggeleng tanpa berkata apa-apa, lalu memeluk pinggang Arka lebih erat hingga buku-buku jarinya memucat.Arka dapat merasakan tubuh wanita itu masih bergetar. Ia tahu itu bukan luka fisik, melainkan reaksi setelah berhasil lolos dari kematian yang nyaris terjadi di depan mata. Setelah terdiam sesaat, ia akhirnya mengangkat tangan dan menepuk punggung Vanessa dengan lembut."Semuanya sudah lewat," ucapnya pelan. "Setidaknya untuk saat ini, aku masih baik-baik saja."

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 343

    Vanessa menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan dengan nada yang bercampur antara kesal, lega, dan takut. "Kalau kali ini kamu berani mendorongku lagi..."Kalimatnya terhenti di tengah jalan.Meski matanya masih dipenuhi air mata, sorot ancaman yang khas darinya perlahan muncul kembali. "Aku akan menangis seharian di depanmu."Arka terdiam beberapa saat. Ia memandangi wajah Vanessa yang dipenuhi noda, air mata, dan kelelahan setelah melewati malam yang nyaris merenggut segalanya. Ketakutan yang selama ini disembunyikan gadis itu masih terlihat jelas di matanya, membuat Arka akhirnya hanya bisa menghembuskan napas pelan.Tangan kanannya yang tidak terluka perlahan terangkat. Dengan gerakan yang sedikit canggung namun sangat hati-hati, ia mengusap air mata yang mengalir di pipi Vanessa."Ini kotor." Arka melirik noda darah dan jelaga yang menempel di tangannya sebelum berbicara pelan."Kamu jauh lebih kotor." Vanessa langsung membalas tanpa ragu, lalu kembali menyandarkan wajahnya

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 342

    Refleks para penyerang langsung bekerja.Begitu mendengar peringatan itu, mereka serempak berpencar untuk menghindari ledakan. Namun justru itulah yang diinginkan Arka.BLAAR! BLAAAR!Kedua granat meledak saat masih berada di udara.Ledakan udara menghasilkan jangkauan serpihan yang jauh lebih mematikan dibanding ledakan di tanah. Pecahan logam menyapu area luas di depan aula utama hingga membuat tujuh atau delapan orang langsung tumbang, sementara sisanya mengalami luka dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda.Di dalam aula utama, Adhyaksa langsung mengenali suara tersebut. Mata yang sebelumnya dipenuhi keputusasaan kembali memancarkan harapan.Sementara itu, Arka sudah melesat keluar dari perlindungan bahkan sebelum ledakan benar-benar mereda. Taring Baja segera menyusul dari belakang.Dor-Dor-Dor!Senapan mesin yang kembali terisi penuh memuntahkan hujan peluru tanpa henti, menekan para musuh yang berhasil selamat dari ledakan agar tidak sempat mengangkat kepala. Keduanya berger

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 341

    Di posisi terdepan berdiri Arka dengan senjata Vektor-21 di tangannya yang masih mengeluarkan asap tipis dari laras. Jelas dialah yang melempar granat tadi setelah mengambilnya dari salah satu anggota Klan Bulan Hitam yang tewas. Wajahnya terlihat lelah akibat perjalanan panjang dan pertempuran tanpa henti, tetapi sorot matanya tetap setajam bilah pisau yang baru diasah.Di sebelah kiri Arka, Taring Baja sudah berlutut dengan senapan mesin ringan mengarah ke seluruh area halaman. Di sebelah kanan, Arga berdiri dalam posisi tembak sempurna sambil mengunci target satu demi satu.Sementara itu, Kaivan berada sedikit di belakang mereka. Tangannya bergerak cepat mengganti magazen hingga nyaris hanya menyisakan bayangan. Mereka akhirnya tiba, dan kedatangan mereka terasa seperti hukuman mati yang turun dari langit."Serangan musuh!"Bagas meraung sambil berguling mencari perlindungan.Sayangnya, sebagian besar pasukan gabungan sudah kehilangan kemampuan bertarung. Granat tadi telah menewask

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 340

    Beberapa saat kemudian, Bagas menarik napas panjang dan sengaja memecah suasana yang menekan itu. "Baiklah, sekarang bukan saatnya membahas masalah ini."Ia menoleh ke arah pria berjubah hitam dengan sikap yang tampak sopan, meski nada suaranya menyiratkan desakan yang tidak bisa diabaikan."Prioritas kita saat ini adalah memusnahkan Keluarga Mahesa sampai tuntas. Selama mereka masih ada, stabilitas wilayah di Zona Selatan tidak akan pernah benar-benar terwujud."Kata-kata terakhirnya diucapkan dengan penekanan khusus, seolah menyembunyikan maksud lain di balik istilah stabilitas tersebut.Pria berjubah hitam itu perlahan mengalihkan pandangan ke arah aula utama yang masih bertahan di tengah kepungan."Memang sudah waktunya menyelesaikan masalah itu." Ia mengangkat tangan dan membuat isyarat sederhana. "Selesaikan secepatnya!"Perintah itu singkat, tetapi efeknya langsung terasa.Mata Bagas langsung berbinar. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu berteriak kepada seluruh pasukan

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 30

    Menara Altura.Kesadaran Keira perlahan kembali. Rasa sakit menusuk di bagian belakang lehernya, ia mengerang pelan. Udara di sekitarnya lembap dan berbau debu semen. Bau karat dan kayu lapuk memenuhi hidungnya.Matanya terbuka perlahan. Pandangan pertama yang ia lihat adalah rangka jendela beton t

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 28

    “Sekarang…” Arka berdiri di depannya, tatapan matanya dingin. “Siapa yang tidak bisa keluar hidup-hidup?”Tubuh Bima gemetar, tidak ada lagi kesombongan yang tersisa di wajahnya.Tiba-tiba—KRING~Ponsel Arka berdering, ia melirik layar.Nomor terenkripsi.[Taring Bayangan.]Arka sedikit mengernyit

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 27

    Melihat itu, Bima meraung. “Habisi mereka!”Puluhan preman langsung menyerbu. Parang berkilat terjadi di bawah lampu arena. Tongkat besi terangkat tinggi.Namun detik berikutnya, Arka dan Garuda Hitam sudah bergerak.BUGH!Seorang preman yang paling depan bahkan belum sempat mengayunkan parang keti

  • Sang Pengawal : Dewa Perang Yang Kembali   Bab 25

    Sudut bibir Arka bergerak hampir tak terlihat.Namun sebelum ia menjawab, suara wanita terdengar dari samping. “Jelas salah.”Mireya muncul tanpa suara. Hari ini ia mengenakan pakaian kulit hitam ketat yang menonjolkan bentuk tubuhnya. Ia berdiri di sisi Arka dengan santai.Lalu tersenyum pada Garu

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status