LOGINBastian membuat gestur menggenggam dengan tangan kanannya, lalu menyentuh kening dan dadanya.
“Profesor sudah seperti ayahku sendiri. Selain pekerjaan, Profesor ingin membahas tentang, ugh…”
Ashton merasakan pipinya basah.
Ashton sejujurnya belum memikirkan tentang pernikahan. Dia tahu, sebagai yatim piatu yang biaya kuliahnya ditanggung beasiswa, dia sulit bersaing dengan orang-orang yang mempunya hak istimewa.
Tapi Profesor Nicolaus bersikeras ingin membawanya ke dalam keluarganya. Profesor yang bahkan tidak pernah tersenyum ketika memberi pujian di kelas, selalu bersikap hangat ketika mereka berbicara secara pribadi.
“Siapa saja yang ikut jamuan pada malam tadi?” Arthur tetap bertanya, seolah nasib Ashton tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
“Profesor, aku, istri profesor — Nyonya Harriet, dan putrinya, Nona Anna. Ada beberapa pelayan tapi aku tidak tahu berapa jumlah mereka.”
Ashton berusaha menenangkan diri. Dia menangis dan protes pun, mereka tidak akan hidup kembali.
“Tolong jelaskan ketika serangan terjadi.”
Ashton mengangguk pelan.
“Tiba-tiba saja ada suara keras, dan di hadapanku banyak batu dan puing berterbangan. Babi hutan itu menerjang ke arahku dengan sangat cepat. Aku sempat mendengar Profesor memanggil namaku, tapi setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.”
Arthur mengangguk.
“Apa kamu ingat pekerjaan yang ditawarkan Profesor?”
“Aku tidak terlalu mengerti, tapi akan aku sampaikan seingatku. Profesor meneliti benda yang disebut Relic. Aku tidak tahu apa itu Relic yang sama dengan yang kalian pakai, tapi dia bilang penemuan Relic ini akan mengguncangkan dunia.”
“Apa Profesor ada kemungkinan berbohong atau melebih-lebihkan soal itu?”
Ashton menggeleng pelan.
Arthur mengangguk. Dia lalu menoleh pada Rafaela dengan wajah berkerut. “Yang Mulia, ternyata memang ada kaitannya dengan Museum Erworne.”
Wajah Rafaela menjadi gelap.
“Aku akan segera menyampaikan ini pada uskup terkait. Sampai bertemu lagi. Semoga kita diberi ketenangan dalam kematian.”
Rafaela membuat kepalan dengan tangan kanannya dan menempelkannya ke pening dan dada. Arthur, Bastian, dan Florence membuat gestur yang sama. Kemudian, Rafaela bergegas pergi dari ruangan itu.
Ashton kebingungan melihatnya. Apa yang terjadi? Kenapa mereka semua tiba-tiba serius seperti ini?
Arthur melihat ke arah Ashton beberapa saat, lalu menghela napas.
“Maaf, Ashton. Kondisi darurat. Tidak usah dipikirkan. Ada masalah yang lebih penting.”
“Masalah?” Ashton berharap tidak ada yang terjadi pada dirinya.
“Hanya kamu satu-satunya saksi dari kejadian ini. Kamu adalah pengikut dari Dewi Kematian. Karena itu Wolf Brigade memiliki yurisdiksi primer terhadapmu.”
Ashton mulai mengerti.
Kalau aku menjadi pengikut Dewa yang lain, apakah akan ada pasukan khusus lain yang menginterogasiku?
“Sebagai saksi kunci, kami akan memberikan hak istimewa padamu. Kalau keluarga lain dari Profesor Nicolaus Farway tidak ditemukan, kami ingin agar kamu secara personal mengirim mereka menghadap Dewi Kematian.”
Ashton nyaris tersedak. Ketika meninggal, keluarga terdekat pengikut Dewi Kematian akan melaksanakan ritual pemberangkatan padanya. Isi ritual biasanya hanya membacakan doa, tapi momen ini sangat sakral karena menyangkut domain dari Dewi Kematian.
Karena itu, tugas ini selalu jatuh pada keluarga terdekat dari orang yang meninggal. Ashton ditunjuk oleh Wolf Brigade sebagai pelaksana ritual, sama saja dengan mengakui secara resmi bahwa dia adalah keluarga dari Profesor Nicolaus.
Sambil menahan tangis, Ashton mengangguk.
Aku belum sempat membalas budi pada keluarga Profesor. Setidaknya, aku akan mengantar mereka ke pelukan Dewi Kematian.
“Oh, ya. Kita masih punya satu urusan lagi.”
“Uh, apa itu?”
Arthur menoleh ke arah belakang dan memanggil seseorang. “Deckard, masuklah.”
Ashton melihat seorang pria dengan kulit gelap dan rambut ikal yang dikuncir. Badannya tinggi besar dan dia memakai mantel yang sama dengan Arthur malam itu.
Pria itu lalu berjalan ke arah Ashton.
“Halo, Ashton. Namaku Deckard Ohili. Salam kenal.”
Ashton mengangguk. Pria berkulit gelap ini, Deckard, kelihatannya menyeramkan dan suaranya terdengar sangat dalam. Tapi dia tersenyum ketika melihat Ashton. Dan senyumnya terlihat mengerikan.
“Uh, Deckard, kau menakuti tahanan kita,” ujar Arthur dengan wajah gelap. Deckard tercengang ketika mendengarnya.
“Apa? Tidak, tidak. Tidak ada yang menyeramkan dariku, Kapten!”
Suara itu, penampilan itu, sosok tinggi besar itu, senyum yang seperti seringai, yep. Sama sekali tidak menyeramkan.
“Tenang, Deckard. Apa itu sudah siap?” Arthur akhirnya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“…baiklah. Biarkan aku mulai.”
Deckard lalu mengeluarkan kain dari saku mantelnya. Ashton melihatnya sambil menganga, karena saku itu tidak mungkin memuat kain sebesar itu.
Pada kain ungu dan besar itu, sekilas dia melihat tulisan dengan huruf yang tidak pernah dia lihat di dunia sebelumya.
Ashton mengenali itu sebagai tulisan bahasa Edran, bahasa yang dipakai secara nasional pada Kerajaan Riomes dan benua Veldenmoor.
“Berlari dalam kegelapan, bersama dalam kematian …”
Jadi aku secara otomatis bisa membaca tulisan Erdran dan tidak hanya mengerti bahasa secara verbal? Apakah ini karena ingatan Ashton?
Deckard lalu melempar kain itu ke atas ruangan. Seperti sihir, kain itu menempel pada langit-langit ruang tahanan Ashton.
“Apa yang—”
Belum selesai Ashton tercengang, Deckard lalu menempelkan kedua tangannya membentuk gestur berdoa. Dia memejamkan mata dan merapal sesuatu yang hanya terdengar seperti gumaman bagi Ashton.
Kain berwarna ungu itu perlahan berubah menjadi transparan, seolah menyatu dengan langit-langit ruang tahanan. Kain itu bahkan tidak menutupi pencahayaan dari lampu gas.
Setelah beberapa saat, Deckard membuka matanya lagi dan mengangguk pada Arthur.
“Kerja bagus. Nah, Ashton, tahu kenapa kami melakukan ini?”
Ashton hanya menggelengkan kepalanya. Arthur menepuk bahu Ashton.
“Kamu adalah satu-satunya saksi. Setiap faksi menginginkanmu untuk mengungkap kasus ini. Selain itu, ada kemungkinan kamu akan diincar teroris lagi. Karena itu …”
Mata Ashton berkedut. Firasatnya buruk. Kata-kata seperti itu selalu dipakai kalau ada berita yang tidak mengenakkan.
“Sementara ini, kamu tetap jadi tahanan di Wolf Brigade.”
Ashton hanya bisa menghela napas, menerima nasibnya. Dia mengalihkan pikirannya dengan menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.
“Kapten,” ujar Ashton dengan heran. “Apa gunanya kain ungu itu tadi?”
“Deckard melakukan ritual untuk memasang tabir di sini. Gerak-gerikmu akan diawasi. Kami langsung tahu kalau kau bergerak keluar ruangan.”
Ashton kembali melihat pintu ruang tahanan yang kokoh dan tebal. Bibirnya berkedut.
Bagaimana caranya aku kabur dengan pintu itu di sini?!
“Mungkin semuanya sudah jelas? Kami akan meninggalkanmu untuk istirahat.”
Kapten Arthur tersenyum, lalu menolehkan wajahnya pada Bastian. Bastian berjalan ke arah kasur dan melemparkan baju ganti pada Ashton. Ashton menangkapnya dengan wajahnya karena badannya masih sulit bergerak.
“Ups. Maafkan aku.”
“Ouf! Terimakasih, bajingan.”
“Hehe. Selamat istirahat, Tuan Gray,” ujar Bastian dengan sedikit senyum mengejek.
Deckard menundukkan kepala pada Ashton, lalu keluar dari ruangan itu. Arthur, Florence, dan Bastian satu persatu meninggalkan ruangan.
Ashton hanya tersenyum kecut ketika pintu ditutup dan dikunci dari luar.
“… hah, pikiranku tidak bisa mengikuti semua ini.”
Ashton berjalan tertatih-tatih keluar dari lorong rahasia milik grup Dane. Di tangan kanannya, ada kantong kulit berisi Relic yang diberikan Dane.Di tangan kirinya, topeng besi yang dia pakai sebelumnya.Ashton seperti memancarkan aura yang berbahaya, yang membuat orang-orang yang dia lewati tidak berani mendekatinya. Dia terus berjalan hingga sampai di gang tempat Tobias dan Florence berada.“…Ashton!”Tobias dan Florence bergegas menghampiri Ashton yang berjalan terhuyung mendekati mereka.Melihat kedua rekannya, Ashton menghembuskan napas lega dan duduk bersandar di dinding terdekat.“…yo,” ujar Ashton lemah sambil melambaikan tangannya.Florence segera menempatkan dirinya di samping Ashton dan menempelkan tangannya pada dada Ashton.Setelah mengalirkan aether ke tangannya, Florence mengernyitkan dahinya dan menatap Tobias.“Kondisinya tidak parah, tapi tubuhnya mengalami luka dalam. Kekuatan mentalnya terkuras habis. Bagian sekitar mata juga mengalami pendarahan hebat.”Tobias me
Dane mengisyaratkan Ashton untuk mengikutinya. Jack sempat ragu-ragu, tapi dia akhirnya juga mengikuti mereka.Di ruangan yang lebih dalam, terdapat kotak-kotak dan kantong kulit yang bertuliskan simbol bahasa Tharos, serta dua pintu dengan desain yang berbeda.Ashton menghitung ada sekitar tujuh barang berupa kotak dan lima yang berupa kantong kulit.“Kita coba Relic Rank 1 dulu?”Dane menengok dan melirik ke arah barang-barang itu sebelum mengambil salah satu kantong kulit yang dekat dengan pintu berwarna merah.Ashton bisa merasakan aura yang opresif dari pintu itu, menunjukkan adanya Relic dengan Rank yang lebih tinggi dari Ashton pada ruangan di balik pintu itu.Masuk akal. Mereka tentu punya juga Relic di atas Rank 1.Ashton melihat ke arah Dane yang sepertinya sedang berusaha membuka kantong kulit itu. Dane beberapa kali mengeluarkan suara seperti “aduh”, “ow”, “akh” dan sejenisnya.Bibir Ashton berkedut melihat tingkah Dane.…apa dia tidak bisa membuka segel kantong itu? Kenapa
Ashton menata pikirannya dan mengingat-ingat fakta serta informasi yang sudah dia dapatkan.Pertama, Jack menyebut Dane Coot adalah bagian dari kelompok mereka. Kalau Dane adalah teroris atau bawahan Jack, dia akan menyebut Dane sebagai anak buah atau rekan.Ini berarti kelompok Jack dan Dane Coot berbeda. Yang satu memang teroris, dan yang satu hanya penyelundup Relic serta Artifact. Kemungkinan besar mereka bergabung karena kepentingannya ada titik temu.Ashton berjalan lebih pelan dari sebelumnya sambil mengamati Jack, yang berdoa dengan khidmat sambil berjalan.“Oh Dewi, Sang Penggembala Jiwa yang Pergi…”Ashton menyipitkan matanya ketika mendengar doa dari Jack.Kedua, ada yang aneh di sini. Dia tidak terlihat seperti berpura-pura ketika berdoa pada Dewi Kematian. Jack adalah penyembah Dewi Kematian? Lalu kenapa dia memanggil orang yang ditolong Wolf Brigade—aku, sebagai penghujat?Kenapa kelompok teroris ini menganggap aku sebagai musuh Dewi Kematian?Karena Ashton tidak punya pe
Pria berambut pirang itu mengamati Ashton dengan seksama dari atas ke bawah.“Aneh,” gumam si pria berambut pirang itu. Ashton sendiri hanya diam, dia bahkan belum berani mengambil napas.“Aku merasa seperti pernah melihatmu. Tapi—hm, penampilan dan auramu sangat berbeda.”Si pria berambut pirang itu, yang Ashton kenali sebagai pemimpin teroris yang menyerangnya sebelumnya, memiringkan kepalanya.Dia mengamati Ashton lagi. Wajahnya sedikit mengerut. Setelah cukup lama, mata pria itu terbelalak.“Ah! Kau…!”…sial!Keringat dingin semakin deras mengalir di pipi Ashton. Ashton seperti tidak bergerak, tapi dia sudah mengarahkan telapak tangannya ke arah saku dalam mantelnya.Dengan Pull, Ashton bisa serta merta menarik revolver di sakunya.Dengan pandangan tajam yang tertutupi oleh topeng besi yang dia pakai, Ashton bersiap untuk bertarung.“…apa kau adalah Goggins dari luar kota?”Mendengar kata-kata absurd dari pria berambut pirang itu, Ashton kembali rileks. Dia mengambil napas panjang
Di ruangan milik Kapten Arthur, Ashton sedang duduk santai sambil memeriksa perlengkapannya.Sementara itu Kapten Arthur masih melihat koran kemarin dengan seksama.“Luar biasa. Jadi ini cara para penyelundup menyembunyikan kode pertemuan mereka.”Kapten Arthur mengangguk-angguk puas. Dia kembali melihat Ashton yang masih sibuk melakukan inspeksi pada perlengkapannya sendiri.“Tidak kusangka kalau toko bahan baku Cutler adalah milik penyelundup.”“Sebenarnya,” sahut Ashton sambil membersihkan kacamatanya, Blur Glasses, “mereka memiliki beberapa toko yang digunakan untuk membuat kode di koran.”Ashton melihat kacamata yang sudah dilap berulang kali. Merasa kurang bersih, dia melanjutkan untuk mengelapnya lagi.“Kali ini adalah Cutler. Masih banyak nama toko lain milik kelompok Dane Coot.”Kapten Arthur melihat kembali koran kemarin di depannya itu.“…menggunakan deret bilangan prima sebagai penanda koordinat? Setidaknya para penyelundup ini pernah bersekolah, atau bahkan kuliah.”Ashton
Ketika Ashton membuka matanya, hanya tampak langit-langit kelabu yang tidak asing baginya.Sambil menyipitkan matanya dan mengingat-ngingat, akhirnya dia menyadari kalau sedang berada di bangsal perawatan rahasia milik Gereja Dewi Kematian.“…ruang bawah tanah ini kelam dan suram sekali.”“Kau benar. Seharusnya, prajurit garis depan seperti kita dirawat di tempat yang hangat dan dikelilingi perawat yang cantik dan elegan.”Bibir Ashton berkedut. Dia menengok ke samping kanan dan melihat ada seseorang yang berambut hitam kebiruan dengan panjang sebahu sedang asyik membaca sebuah buku.“Diam kau, pesolek. Jangan bawa-bawa hobimu.”Bastian balas menengok ke arah Ashton sambil tersenyum lebar. Giginya yang rata dan terlihat putih menambah pesonanya sebagai ‘pria paling tampan di Erworne’.Sayangnya, itu hanya menambah rasa sebal Ashton pada Bastian.“Haha, hobiku jauh lebih baik dari hobimu. Mana ada orang waras yang belum sepenuhnya pulih dan langsung memaksa dirinya untuk berlatih?”“…”







