Share

5. Awal

Author: guis_dad
last update publish date: 2026-08-10 11:52:56

Bastian membuat gestur menggenggam dengan tangan kanannya, lalu menyentuh kening dan dadanya.

“Profesor sudah seperti ayahku sendiri. Selain pekerjaan, Profesor ingin membahas tentang, ugh…”

Ashton merasakan pipinya basah.

Ashton sejujurnya belum memikirkan tentang pernikahan. Dia tahu, sebagai yatim piatu yang biaya kuliahnya ditanggung beasiswa, dia sulit bersaing dengan orang-orang yang mempunya hak istimewa.

Tapi Profesor Nicolaus bersikeras ingin membawanya ke dalam keluarganya. Profesor yang bahkan tidak pernah tersenyum ketika memberi pujian di kelas, selalu bersikap hangat ketika mereka berbicara secara pribadi.

“Siapa saja yang ikut jamuan pada malam tadi?” Arthur tetap bertanya, seolah nasib Ashton tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.

“Profesor, aku, istri profesor — Nyonya Harriet, dan putrinya, Nona Anna. Ada beberapa pelayan tapi aku tidak tahu berapa jumlah mereka.”

Ashton berusaha menenangkan diri. Dia menangis dan protes pun, mereka tidak akan hidup kembali.

“Tolong jelaskan ketika serangan terjadi.”

Ashton mengangguk pelan.

“Tiba-tiba saja ada suara keras, dan di hadapanku banyak batu dan puing berterbangan. Babi hutan itu menerjang ke arahku dengan sangat cepat. Aku sempat mendengar Profesor memanggil namaku, tapi setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi.”

Arthur mengangguk.

“Apa kamu ingat pekerjaan yang ditawarkan Profesor?”

“Aku tidak terlalu mengerti, tapi akan aku sampaikan seingatku. Profesor meneliti benda yang disebut Relic. Aku tidak tahu apa itu Relic yang sama dengan yang kalian pakai, tapi dia bilang penemuan Relic ini akan mengguncangkan dunia.”

“Apa Profesor ada kemungkinan berbohong atau melebih-lebihkan soal itu?”

Ashton menggeleng pelan.

Arthur mengangguk. Dia lalu menoleh pada Rafaela dengan wajah berkerut. “Yang Mulia, ternyata memang ada kaitannya dengan Museum Erworne.”

Wajah Rafaela menjadi gelap.

“Aku akan segera menyampaikan ini pada uskup terkait. Sampai bertemu lagi. Semoga kita diberi ketenangan dalam kematian.”

Rafaela membuat kepalan dengan tangan kanannya dan menempelkannya ke pening dan dada. Arthur, Bastian, dan Florence membuat gestur yang sama. Kemudian, Rafaela bergegas pergi dari ruangan itu.

Ashton kebingungan melihatnya. Apa yang terjadi? Kenapa mereka semua tiba-tiba serius seperti ini?

Arthur melihat ke arah Ashton beberapa saat, lalu menghela napas.

“Maaf, Ashton. Kondisi darurat. Tidak usah dipikirkan. Ada masalah yang lebih penting.”

“Masalah?” Ashton berharap tidak ada yang terjadi pada dirinya.

“Hanya kamu satu-satunya saksi dari kejadian ini. Kamu adalah pengikut dari Dewi Kematian. Karena itu Wolf Brigade memiliki yurisdiksi primer terhadapmu.”

Ashton mulai mengerti.

Kalau aku menjadi pengikut Dewa yang lain, apakah akan ada pasukan khusus lain yang menginterogasiku?

“Sebagai saksi kunci, kami akan memberikan hak istimewa padamu. Kalau keluarga lain dari Profesor Nicolaus Farway tidak ditemukan, kami ingin agar kamu secara personal mengirim mereka menghadap Dewi Kematian.”

Ashton nyaris tersedak. Ketika meninggal, keluarga terdekat pengikut Dewi Kematian akan melaksanakan ritual pemberangkatan padanya. Isi ritual biasanya hanya membacakan doa, tapi momen ini sangat sakral karena menyangkut domain dari Dewi Kematian.

Karena itu, tugas ini selalu jatuh pada keluarga terdekat dari orang yang meninggal. Ashton ditunjuk oleh Wolf Brigade sebagai pelaksana ritual, sama saja dengan mengakui secara resmi bahwa dia adalah keluarga dari Profesor Nicolaus.

Sambil menahan tangis, Ashton mengangguk.

Aku belum sempat membalas budi pada keluarga Profesor. Setidaknya, aku akan mengantar mereka ke pelukan Dewi Kematian.

“Oh, ya. Kita masih punya satu urusan lagi.”

“Uh, apa itu?”

Arthur menoleh ke arah belakang dan memanggil seseorang. “Deckard, masuklah.”

Ashton melihat seorang pria dengan kulit gelap dan rambut ikal yang dikuncir. Badannya tinggi besar dan dia memakai mantel yang sama dengan Arthur malam itu.

Pria itu lalu berjalan ke arah Ashton.

“Halo, Ashton. Namaku Deckard Ohili. Salam kenal.”

Ashton mengangguk. Pria berkulit gelap ini, Deckard, kelihatannya menyeramkan dan suaranya terdengar sangat dalam. Tapi dia tersenyum ketika melihat Ashton. Dan senyumnya terlihat mengerikan.

“Uh, Deckard, kau menakuti tahanan kita,” ujar Arthur dengan wajah gelap. Deckard tercengang ketika mendengarnya.

“Apa? Tidak, tidak. Tidak ada yang menyeramkan dariku, Kapten!”

Suara itu, penampilan itu, sosok tinggi besar itu, senyum yang seperti seringai, yep. Sama sekali tidak menyeramkan.

“Tenang, Deckard. Apa itu sudah siap?” Arthur akhirnya mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“…baiklah. Biarkan aku mulai.”

Deckard lalu mengeluarkan kain dari saku mantelnya. Ashton melihatnya sambil menganga, karena saku itu tidak mungkin memuat kain sebesar itu.

Pada kain ungu dan besar itu, sekilas dia melihat tulisan dengan huruf yang tidak pernah dia lihat di dunia sebelumya.

Ashton mengenali itu sebagai tulisan bahasa Edran, bahasa yang dipakai secara nasional pada Kerajaan Riomes dan benua Veldenmoor.

“Berlari dalam kegelapan, bersama dalam kematian …”

Jadi aku secara otomatis bisa membaca tulisan Erdran dan tidak hanya mengerti bahasa secara verbal? Apakah ini karena ingatan Ashton?

Deckard lalu melempar kain itu ke atas ruangan. Seperti sihir, kain itu menempel pada langit-langit ruang tahanan Ashton.

“Apa yang—”

Belum selesai Ashton tercengang, Deckard lalu menempelkan kedua tangannya membentuk gestur berdoa. Dia memejamkan mata dan merapal sesuatu yang hanya terdengar seperti gumaman bagi Ashton.

Kain berwarna ungu itu perlahan berubah menjadi transparan, seolah menyatu dengan langit-langit ruang tahanan. Kain itu bahkan tidak menutupi pencahayaan dari lampu gas.

Setelah beberapa saat, Deckard membuka matanya lagi dan mengangguk pada Arthur.

“Kerja bagus. Nah, Ashton, tahu kenapa kami melakukan ini?”

Ashton hanya menggelengkan kepalanya. Arthur menepuk bahu Ashton.

“Kamu adalah satu-satunya saksi. Setiap faksi menginginkanmu untuk mengungkap kasus ini. Selain itu, ada kemungkinan kamu akan diincar teroris lagi. Karena itu …”

Mata Ashton berkedut. Firasatnya buruk. Kata-kata seperti itu selalu dipakai kalau ada berita yang tidak mengenakkan.

“Sementara ini, kamu tetap jadi tahanan di Wolf Brigade.”

Ashton hanya bisa menghela napas, menerima nasibnya. Dia mengalihkan pikirannya dengan menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.

“Kapten,” ujar Ashton dengan heran. “Apa gunanya kain ungu itu tadi?”

“Deckard melakukan ritual untuk memasang tabir di sini. Gerak-gerikmu akan diawasi. Kami langsung tahu kalau kau bergerak keluar ruangan.”

Ashton kembali melihat pintu ruang tahanan yang kokoh dan tebal. Bibirnya berkedut.

Bagaimana caranya aku kabur dengan pintu itu di sini?!

“Mungkin semuanya sudah jelas? Kami akan meninggalkanmu untuk istirahat.”

Kapten Arthur tersenyum, lalu menolehkan wajahnya pada Bastian. Bastian berjalan ke arah kasur dan melemparkan baju ganti pada Ashton. Ashton menangkapnya dengan wajahnya karena badannya masih sulit bergerak.

“Ups. Maafkan aku.”

“Ouf! Terimakasih, bajingan.”

“Hehe. Selamat istirahat, Tuan Gray,” ujar Bastian dengan sedikit senyum mengejek.

Deckard menundukkan kepala pada Ashton, lalu keluar dari ruangan itu. Arthur, Florence, dan Bastian satu persatu meninggalkan ruangan.

Ashton hanya tersenyum kecut ketika pintu ditutup dan dikunci dari luar.

“… hah, pikiranku tidak bisa mengikuti semua ini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Penguasa Relic   9. Konfrontasi

    Tidak terpengaruh oleh teriakan teroris itu, Kapten dan Bastian melompat dengan cepat ke depan. Mereka mengarahkan tangan mereka ke target masing-masing.“Akh!”Suara teriakan memenuhi koridor. Tiga orang teroris terluka terkena cakaran Kapten Arthur dan Bastian.Kapten dan Bastian tidak menunggu lama dan kembali menyerang. Deckard melompat ke belakang, menjaga jarak aman dari musuh.“Tenang, Ashton. Aku akan melindungimu.”“Uh, oke.”Sejujurnya, Ashton merasa takut dan gugup ketika diserang tadi. Tapi melihat gerakan anggota Wolf Brigade, dia merasakan sedikit ketenangan di hatinya.Ashton melihat ke depan, ke arah Kapten dan Bastian. Mereka menyerang para teroris satu persatu. Kapten sudah berubah ke bentuk manusia serigalanya, dengan bulu putih abu-abu.Darah di moncong Kapten terlihat jelas oleh Ashton. Sementara Bastian memiliki kaki yang lebih panjang, dan lebih banyak menggunakan tendangan sebagai serangan.“…hanya dua orang, tapi Kapten dan Bastian sangat kuat—”“Jangan senang

  • Sang Penguasa Relic   8. Serangan Kejutan

    Malam ini, Ashton sudah kembali ke ruang tahanannya. Badannya sudah jauh lebih baik, tapi Kapten Arthur menyarankan untuk tetap beristirahat.Ashton hanya menyerap setengah dari obrolan mereka. Sekarang dia sedang duduk di kasur sambil membaca kitab Dewi Kematian.“Aku nyaris hafal setengah isi kitab ini. Tidak sia-sia Ashton, hehehe.”Ashton beberapa kali mencoba membuka kitab secara acak, dan dia dengan mudah menyambung isi dari awal kata atau kalimat yang dia pertama kali lihat di halaman itu.Sejak merasakan resonansi spiritual, Ashton mulai terobsesi dengan para Dewa di dunia ini.“Di dunia ini, berdoa atau melakukan ritual dengan sungguh-sungguh memungkinkan untuk merasakan kehadiran Dewa itu.”Sambil melihat pecahan ingatannya, Ashton tenggelam dalam risetnya.Dalam ingatannya nyaris tidak ada eksistensi orang yang tidak menyembah sesuatu. Di dunia tempat Relic dan para Dewa berada, penduduk sudah biasa melihat keajaiban sehari-hari.Dan dengan koneksi spiritual, orang-orang di

  • Sang Penguasa Relic   7. Ritual

    Ashton hanya bisa menghela napas panjang. Bastian yang melihat tingkah Ashton, bicara pelan kepadanya.“Ashton, kami ingin mengatakan sesuatu.”Ashton kembali mendongak, melihat ke arah Bastian. “Kami sudah menemukan dan mengidentifikasi jenazah Profesor Nicolaus beserta keluarganya. Setelah mengecek data dan registrasi, kami tidak menemukan anggota keluarga lain.”“Begitukah? Berarti kalian akan membawaku keluar untuk melakukan ritual?”Pikirannya masih getir. Selain karena masalah ritual, Ashton yang meliihat Bastian dan Deckard teringat kembali tulisan semalam.Ruangan itu hening beberapa saat. Kesunyian itu akhirnya dipecahkan oleh salah satu anggota Wolf Brigade.“Seperti yang Kapten katakan, ini adalah kompensasi yang bisa kami berikan. Apa kamu sudah siap?”Ashton terdiam sejenak.Aku merasa sedih mendengarnya. Jadi memang benar, dengan memiliki ingatan dan perasaan Ashton, aku juga mewarisi hubungan dan relasi dengan kolega Ashton. Aku baru sampai di dunia ini dan sudah kehila

  • Sang Penguasa Relic   6. Tahanan

    Setelah para anggota Wolf Brigade pergi, Ashton mulai merenung.Universitas Erworne hancur dan Profesor Nicolaus meninggal. Ashton sudah tidak punya kerabat dan kenalan lagi. Ke mana lagi dia bisa berlindung?Pilihannya hanya ada pada Wolf Brigade. Selain karena “Ashton”, aku, adalah pengikut Dewi Kematian, mereka pada dasarnya adalah penolongku.Ashton sudah memperhatikan bagaimana perilaku Wolf Brigade terhadapnya. Setidaknya dia diperlakukan seperti manusia.“Mungkin mereka ingin menipuku. Mereka adalah serigala, licik dan cerdas.”Ashton tiba-tiba seperti tersadar akan sesuatu dan menggelengkan kepalanya.Aku terlalu paranoid. Bukankah Wolf Brigade sudah membantuku sejauh ini? Tanpa mereka aku bisa mati karena luka-lukaku.Ashton memikirkan lagi apa saja yang sudah terjadi pada dirinya. Transmigrasi, pertemuan dengan monster dan manusia super bernama Vessel, lalu keajaiban hingga dirinya bisa sembuh dari luka yang sangat parah.“Dunia ini benar-benar di luar nalar. Magis dan misti

  • Sang Penguasa Relic   5. Awal

    Bastian membuat gestur menggenggam dengan tangan kanannya, lalu menyentuh kening dan dadanya.“Profesor sudah seperti ayahku sendiri. Selain pekerjaan, Profesor ingin membahas tentang, ugh…”Ashton merasakan pipinya basah.Ashton sejujurnya belum memikirkan tentang pernikahan. Dia tahu, sebagai yatim piatu yang biaya kuliahnya ditanggung beasiswa, dia sulit bersaing dengan orang-orang yang mempunya hak istimewa.Tapi Profesor Nicolaus bersikeras ingin membawanya ke dalam keluarganya. Profesor yang bahkan tidak pernah tersenyum ketika memberi pujian di kelas, selalu bersikap hangat ketika mereka berbicara secara pribadi.“Siapa saja yang ikut jamuan pada malam tadi?” Arthur tetap bertanya, seolah nasib Ashton tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.“Profesor, aku, istri profesor — Nyonya Harriet, dan putrinya, Nona Anna. Ada beberapa pelayan tapi aku tidak tahu berapa jumlah mereka.”Ashton berusaha menenangkan diri. Dia menangis dan protes pun, mereka tidak akan hidup kembali.“Tolo

  • Sang Penguasa Relic   4. Interogasi

    Ketika Ashton membuka matanya, dia hanya melihat langit-langit yang gelap dan lembab. Tampilan itu membuatnya merasa seperti ada di ruang bawah tanah.Ashton mulai bisa merasakan udara yang pengap. Badannya masih sulit digerakkan, tetapi Ashton merasa jauh lebih baik.“Hei, kau akhirnya bangun.”Hmm, di mana aku pernah mendengar kata-kata itu?Ashton menengok ke arah suara itu berasal, di dekat nyala lampu gas.Pria berambut hitam kebiruan dan berhidung mancung sedang bersandar di tembok sambil menyilangkan tangan. Dia memakai kemeja dan celana panjang hitam.“…”Bibir Ashton berkedut. Tingkah orang ini seperti tokoh utama pada novel percintaan. Aku tidak bertransmigrasi ke novel romansa atau BL atau sejenisnya kan…Bastian mengerutkan dahinya.“Aneh. Aku merasa kalau kau memikirkan hal yang tidak sopan.”“Kenapa tidak? Semua orang tahu kau itu bajingan.”Bastian merengut mendengarnya. Ashton menoleh ke arah suara itu.Ada seorang wanita dengan rambut pirang kehitaman yang dikuncir, k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status