MasukKetika Ashton membuka matanya, dia hanya melihat langit-langit yang gelap dan lembab. Tampilan itu membuatnya merasa seperti ada di ruang bawah tanah.
Ashton mulai bisa merasakan udara yang pengap. Badannya masih sulit digerakkan, tetapi Ashton merasa jauh lebih baik.
“Hei, kau akhirnya bangun.”
Hmm, di mana aku pernah mendengar kata-kata itu?
Ashton menengok ke arah suara itu berasal, di dekat nyala lampu gas.
Pria berambut hitam kebiruan dan berhidung mancung sedang bersandar di tembok sambil menyilangkan tangan. Dia memakai kemeja dan celana panjang hitam.
“…”
Bibir Ashton berkedut. Tingkah orang ini seperti tokoh utama pada novel percintaan. Aku tidak bertransmigrasi ke novel romansa atau BL atau sejenisnya kan…
Bastian mengerutkan dahinya.
“Aneh. Aku merasa kalau kau memikirkan hal yang tidak sopan.”
“Kenapa tidak? Semua orang tahu kau itu bajingan.”
Bastian merengut mendengarnya. Ashton menoleh ke arah suara itu.
Ada seorang wanita dengan rambut pirang kehitaman yang dikuncir, kontras dengan gelapnya ruang bawah tanah. Wajahnya oval dan bermata coklat. Suaranya merdu, tapi terdengar tidak harmonis.
“Nona Florence, bisa tidak berhenti menghinaku di depan tamu kita?”
Wanita itu, Florence, tidak menggubris Bastian. Dia langsung menuju ke arah Ashton, lalu menempelkan telapak tangan kanannya ke dada Ashton.
Florence memejamkan mata beberapa saat, lalu mengerutkan dahinya. “Belum sembuh sepenuhnya. Padahal sudah lewat beberapa hari.”
Apa maksud—hmmm? Beberapa hari?
“Uh, Nona Dokter…? Aku pingsan berapa lama?”
“Dokter?” Florence hanya menggelengkan kepala.
“Aku adalah Healer—Penyembuh. Oh, sekarang tanggal 6 Septen.”
Ashton mencari-cari pikirannya. Di dunia ini, setahun terdiri dari 365 hari dan 12 bulan. Sekarang adalah tahun 1832 Tahun Agung dan bulan Septen.
Perbedaan dengan dunia sebelumnya adalah nama bulan dan tahunnya.
6 Septen… Aku dan profesor makan malam pada tanggal 2, berarti sudah empat hari berlalu.
Ashton lalu melihat sekelilingnya. Dia sudah menduga kalau berada di ruang bawah tanah. Ashton melihat pintu yang terbuat dari kayu tebal dan sepertinya sulit untuk ditembus.
Pikiran Ashton kembali bekerja. Dia sudah paham ada di situasi apa sekarang.
“Apa salahku? Kenapa menahanku?”
Ashton tidak bertanya spesifik pada siapa, tapi Bastian mengangkat bahunya dan menjawab dengan santai.
“Tentu saja untuk diinterogasi.”
Bibir Ashton berkedut. Jelas-jelas dia adalah korban, kenapa dia harus diinterogasi? Tidak lama, ada sesuatu yang terlintas pada pikirannya.
“…oh.”
Ashton sadar dengan sendirinya. Dia adalah satu-satunya saksi mata yang hidup dari serangan ke Distrik Orchid.
“Kau cukup cerdas. Dengar, Kapten Arthur sudah datang bersama seorang uskup—hm, sekarang dia masih pendeta.”
Bastian bergumam sambil memegang dagunya. Florence melihatnya dengan sinis. Ashton mulai bisa mendengar langkah kaki yang semakin jelas mendekat. Berpikir sejenak, dia menanyakan sesuatu.
“Kenapa menginterogasi bersama pendeta?” tanya Ashton dengan bingung.
Mendoakan aku agar masuk surga? Apa mereka akan menghabisiku setelah selesai?
“Apa pun pikiranmu,” Bastian seperti menahan tawa, “bukan seperti itu. Tenang saja.”
“Tugas pendeta adalah membuatmu tidak bisa berbohong.”
Florence menjawab dengan santai. Suaranya dingin, tapi tidak kaku seperti awal Ashton mendengarnya.
Ashton tidak mengerti maksudnya, tapi dia pura-pura mengangguk.
Tidak lama, pintu terbuka. Pria dengan kumis dan rambut coklat yang rapi masuk ke ruangan. Dagunya kotak, dan dia tidak memakai topi tingginya. Dia memakai rompi dan celana berwarna gelap.
Di belakangnya, ada seorang perempuan, mungkin delapan belas tahun, yang ikut masuk ke ruangan.
Jadi yang semalam bertarung dengan babi hutan itu adalah Kapten Arthur. Mereka menahanku, tapi setidaknya aku tidak mati karena ditolong mereka. Aku harus berterimakasih.
Bastian dan Florence lalu membantu memegangi Ashton untuk duduk di kasurnya yang keras dan lembab.
“Selamat datang, Nona—ahem, Yang Mulia Rafaela.”
Bastian membungkuk hormat dengan gembira. Matanya tidak bisa lepas dari pendeta perempuan di belakang Kapten Arthur.
Dengan jubah putih dan bordir emas dan ungu, Rafaela terlihat anggun meski rambutnya yang berwarna hitam kelam dibiarkan menjuntai ke bawah.
Rafaela hanya mengangguk sebentar pada Bastian. Wajahnya jauh lebih cerah ketika melihat Florence, yang membalasnya dengan senyuman.
“Ahem-ahem,” Bastian sepertinya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ashton nyaris tidak bisa menahan tawa melihatnya. Kapten Arthur mendekati Ashton dan mulai bicara dengannya.
“Perkenalkan, namaku Arthur Blackwood. Kapten dari Wolf Brigade unit kota Erworne.”
Ashton melihat sesaat tangan dari Arthur yang terjulur ke depan. Dia lalu memegang tangan tersebut dan menyalaminya.
“…Ashton Gray. Mahasiswa teologi Universitas Erworne.”
Ashton merasa aneh mengatakannya. Kampusnya sudah hancur lebur. Tidak ada lagi status mahasiswa bagi Ashton.
“Pesolek itu adalah Bastian. Dia adalah Florence, dan ini adalah Yang Mulia Rafaela.”
Bastian merengut. Ashton sendiri tersenyum tipis.
“Kita mulai saja. Tidak ada waktu.”
Arthur menoleh ke arah Rafaela dan menganggukkan kepalanya. “Yang Mulia, kami mohon bantuanmu.”
Rafaela mengambil napas panjang, dan maju mendekati Ashton. “Kamu pengikut Dewi Kematian?”
Suara Rafaela terdengar sangat lembut, tetapi penuh wibawa dan kekuatan. Ashton mengangguk.
Sebagai Tommy, dia bahkan tidak tahu siapa itu Dewi Kematian. Tapi, sebagai Ashton, dia sudah menjadi pengikut Dewi Kematian sejak lahir.
“Ulangi sumpah yang kuucapkan. Gunakan namamu sendiri.” Rafaela lalu mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Matanya terpejam.
Ashton merasakan seperti ada angin lembut yang keluar dari tubuh Rafaela.
Ashton lalu mengulangi sumpah yang diucapkan Rafaela. “Saya, Ashton Gray, pengikut setia Dewi Kematian, bersumpah atas nama Sang Penggembala Dari Jiwa Yang Pergi, untuk mengatakan dan memberikan kebenaran.”
Setelah itu, Ashton merasakan detak jantungnya terdengar sangat jelas. Aliran darahnya terasa seperti es yang mencair, dan napasnya mengeluarkan hawa dingin.
“Bagus. Ayo kita mulai.” Kapten memberi isyarat pada Florence. Florence langsung mengeluarkan buku catatan dan pensil.
“Ashton, katakan semuanya dengan jujur. Kamu akan mati kalau berbohong.”
Ashton menelan ludah untuk kesekian kalinya hari ini.
Bahkan berbicara pun aku bisa mati. Baik, aku memang mengikuti ajaran Dewi Kematian, tapi bukan berarti aku harus selalu berurusan dengan kematian, bukan?!
“Sebutkan identitas dan statusmu secara lengkap.”
Ashton menyebutkan identitasnya dengan lancar. Lagi-lagi dia merasa aneh ketika menyebut dirinya sebagai mahasiswa.
Florence mencatat dengan sangat cepat. Arthur melanjutkan pertanyaan tanpa jeda.
“Apa yang kamu lakukan malam kejadian, tanggal 2 Septen sekitar pukul 07.00 sampai 09.00 malam?”
Ashton diam sebentar untuk mengartikulasi perkataannya.
“Aku diundang oleh Profesor Nicolaus Farway. Kami makan malam bersama, membicarakan pekerjaan.”
“Katakan apa saja yang kalian bicarakan.”
Ashton menghela napas.
“Kami bicara tentang sejarah sebelum ditemukannya Tahun Agung, lebih tepat pada zaman Kekaisaran Doranheim. Kami sempat berdebat karena informasi yang ada hanya spekulasi belaka. Lalu—”
“Tunggu,” Arthur tiba-tiba menyela Ashton. “Kamu warga sipil bukan? Kamu tahu tentang Doranheim?”
Ashton mengangguk sambil kebingungan. “Profesor yang mengajariku. Awalnya aku tidak mengetahui tentang Doranheim karena tidak ada pada buku teks.”
Ada cahaya di mata Kapten Arthur. Bastian menjadi serius, dan Florence sempat berhenti mencatat.
Bahkan Nona Rafaela matanya berkedut. Apakah informasi ini sesuatu yang tabu?
“…warga sipil tidak seharusnya tahu soal ini?”
Arthur dengan tenang menjelaskan, “tidak, itu tidak penting sekarang. Apa lagi yang kalian bahas?”
Jadi pengetahuan itu memang terlarang. Profesor, apa yang terjadi sebenarnya?
“Kami membahas tentang pekerjaan, dan, uh,” Ashton tidak tahu kenapa, tapi dia agak kesulitan bicara.
“Kau tidak apa-apa?”
Kali ini, Bastian yang bertanya. Dia melihat Ashton kesulitan merangkai kata-kata.
“…aku tidak apa-apa.” Ashton menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bicara.
“Kami bicara tentang prospek masa depanku. Dia mau mengenalkanku dengan putrinya.”
Ashton berjalan tertatih-tatih keluar dari lorong rahasia milik grup Dane. Di tangan kanannya, ada kantong kulit berisi Relic yang diberikan Dane.Di tangan kirinya, topeng besi yang dia pakai sebelumnya.Ashton seperti memancarkan aura yang berbahaya, yang membuat orang-orang yang dia lewati tidak berani mendekatinya. Dia terus berjalan hingga sampai di gang tempat Tobias dan Florence berada.“…Ashton!”Tobias dan Florence bergegas menghampiri Ashton yang berjalan terhuyung mendekati mereka.Melihat kedua rekannya, Ashton menghembuskan napas lega dan duduk bersandar di dinding terdekat.“…yo,” ujar Ashton lemah sambil melambaikan tangannya.Florence segera menempatkan dirinya di samping Ashton dan menempelkan tangannya pada dada Ashton.Setelah mengalirkan aether ke tangannya, Florence mengernyitkan dahinya dan menatap Tobias.“Kondisinya tidak parah, tapi tubuhnya mengalami luka dalam. Kekuatan mentalnya terkuras habis. Bagian sekitar mata juga mengalami pendarahan hebat.”Tobias me
Dane mengisyaratkan Ashton untuk mengikutinya. Jack sempat ragu-ragu, tapi dia akhirnya juga mengikuti mereka.Di ruangan yang lebih dalam, terdapat kotak-kotak dan kantong kulit yang bertuliskan simbol bahasa Tharos, serta dua pintu dengan desain yang berbeda.Ashton menghitung ada sekitar tujuh barang berupa kotak dan lima yang berupa kantong kulit.“Kita coba Relic Rank 1 dulu?”Dane menengok dan melirik ke arah barang-barang itu sebelum mengambil salah satu kantong kulit yang dekat dengan pintu berwarna merah.Ashton bisa merasakan aura yang opresif dari pintu itu, menunjukkan adanya Relic dengan Rank yang lebih tinggi dari Ashton pada ruangan di balik pintu itu.Masuk akal. Mereka tentu punya juga Relic di atas Rank 1.Ashton melihat ke arah Dane yang sepertinya sedang berusaha membuka kantong kulit itu. Dane beberapa kali mengeluarkan suara seperti “aduh”, “ow”, “akh” dan sejenisnya.Bibir Ashton berkedut melihat tingkah Dane.…apa dia tidak bisa membuka segel kantong itu? Kenapa
Ashton menata pikirannya dan mengingat-ingat fakta serta informasi yang sudah dia dapatkan.Pertama, Jack menyebut Dane Coot adalah bagian dari kelompok mereka. Kalau Dane adalah teroris atau bawahan Jack, dia akan menyebut Dane sebagai anak buah atau rekan.Ini berarti kelompok Jack dan Dane Coot berbeda. Yang satu memang teroris, dan yang satu hanya penyelundup Relic serta Artifact. Kemungkinan besar mereka bergabung karena kepentingannya ada titik temu.Ashton berjalan lebih pelan dari sebelumnya sambil mengamati Jack, yang berdoa dengan khidmat sambil berjalan.“Oh Dewi, Sang Penggembala Jiwa yang Pergi…”Ashton menyipitkan matanya ketika mendengar doa dari Jack.Kedua, ada yang aneh di sini. Dia tidak terlihat seperti berpura-pura ketika berdoa pada Dewi Kematian. Jack adalah penyembah Dewi Kematian? Lalu kenapa dia memanggil orang yang ditolong Wolf Brigade—aku, sebagai penghujat?Kenapa kelompok teroris ini menganggap aku sebagai musuh Dewi Kematian?Karena Ashton tidak punya pe
Pria berambut pirang itu mengamati Ashton dengan seksama dari atas ke bawah.“Aneh,” gumam si pria berambut pirang itu. Ashton sendiri hanya diam, dia bahkan belum berani mengambil napas.“Aku merasa seperti pernah melihatmu. Tapi—hm, penampilan dan auramu sangat berbeda.”Si pria berambut pirang itu, yang Ashton kenali sebagai pemimpin teroris yang menyerangnya sebelumnya, memiringkan kepalanya.Dia mengamati Ashton lagi. Wajahnya sedikit mengerut. Setelah cukup lama, mata pria itu terbelalak.“Ah! Kau…!”…sial!Keringat dingin semakin deras mengalir di pipi Ashton. Ashton seperti tidak bergerak, tapi dia sudah mengarahkan telapak tangannya ke arah saku dalam mantelnya.Dengan Pull, Ashton bisa serta merta menarik revolver di sakunya.Dengan pandangan tajam yang tertutupi oleh topeng besi yang dia pakai, Ashton bersiap untuk bertarung.“…apa kau adalah Goggins dari luar kota?”Mendengar kata-kata absurd dari pria berambut pirang itu, Ashton kembali rileks. Dia mengambil napas panjang
Di ruangan milik Kapten Arthur, Ashton sedang duduk santai sambil memeriksa perlengkapannya.Sementara itu Kapten Arthur masih melihat koran kemarin dengan seksama.“Luar biasa. Jadi ini cara para penyelundup menyembunyikan kode pertemuan mereka.”Kapten Arthur mengangguk-angguk puas. Dia kembali melihat Ashton yang masih sibuk melakukan inspeksi pada perlengkapannya sendiri.“Tidak kusangka kalau toko bahan baku Cutler adalah milik penyelundup.”“Sebenarnya,” sahut Ashton sambil membersihkan kacamatanya, Blur Glasses, “mereka memiliki beberapa toko yang digunakan untuk membuat kode di koran.”Ashton melihat kacamata yang sudah dilap berulang kali. Merasa kurang bersih, dia melanjutkan untuk mengelapnya lagi.“Kali ini adalah Cutler. Masih banyak nama toko lain milik kelompok Dane Coot.”Kapten Arthur melihat kembali koran kemarin di depannya itu.“…menggunakan deret bilangan prima sebagai penanda koordinat? Setidaknya para penyelundup ini pernah bersekolah, atau bahkan kuliah.”Ashton
Ketika Ashton membuka matanya, hanya tampak langit-langit kelabu yang tidak asing baginya.Sambil menyipitkan matanya dan mengingat-ngingat, akhirnya dia menyadari kalau sedang berada di bangsal perawatan rahasia milik Gereja Dewi Kematian.“…ruang bawah tanah ini kelam dan suram sekali.”“Kau benar. Seharusnya, prajurit garis depan seperti kita dirawat di tempat yang hangat dan dikelilingi perawat yang cantik dan elegan.”Bibir Ashton berkedut. Dia menengok ke samping kanan dan melihat ada seseorang yang berambut hitam kebiruan dengan panjang sebahu sedang asyik membaca sebuah buku.“Diam kau, pesolek. Jangan bawa-bawa hobimu.”Bastian balas menengok ke arah Ashton sambil tersenyum lebar. Giginya yang rata dan terlihat putih menambah pesonanya sebagai ‘pria paling tampan di Erworne’.Sayangnya, itu hanya menambah rasa sebal Ashton pada Bastian.“Haha, hobiku jauh lebih baik dari hobimu. Mana ada orang waras yang belum sepenuhnya pulih dan langsung memaksa dirinya untuk berlatih?”“…”







