Share

4. Interogasi

Author: guis_dad
last update publish date: 2026-08-10 11:51:47

Ketika Ashton membuka matanya, dia hanya melihat langit-langit yang gelap dan lembab. Tampilan itu membuatnya merasa seperti ada di ruang bawah tanah.

Ashton mulai bisa merasakan udara yang pengap. Badannya masih sulit digerakkan, tetapi Ashton merasa jauh lebih baik.

“Hei, kau akhirnya bangun.”

Hmm, di mana aku pernah mendengar kata-kata itu?

Ashton menengok ke arah suara itu berasal, di dekat nyala lampu gas.

Pria berambut hitam kebiruan dan berhidung mancung sedang bersandar di tembok sambil menyilangkan tangan. Dia memakai kemeja dan celana panjang hitam.

“…”

Bibir Ashton berkedut. Tingkah orang ini seperti tokoh utama pada novel percintaan. Aku tidak bertransmigrasi ke novel romansa atau BL atau sejenisnya kan…

Bastian mengerutkan dahinya.

“Aneh. Aku merasa kalau kau memikirkan hal yang tidak sopan.”

“Kenapa tidak? Semua orang tahu kau itu bajingan.”

Bastian merengut mendengarnya. Ashton menoleh ke arah suara itu.

Ada seorang wanita dengan rambut pirang kehitaman yang dikuncir, kontras dengan gelapnya ruang bawah tanah. Wajahnya oval dan bermata coklat. Suaranya merdu, tapi terdengar tidak harmonis.

“Nona Florence, bisa tidak berhenti menghinaku di depan tamu kita?”

Wanita itu, Florence, tidak menggubris Bastian. Dia langsung menuju ke arah Ashton, lalu menempelkan telapak tangan kanannya ke dada Ashton.

Florence memejamkan mata beberapa saat, lalu mengerutkan dahinya. “Belum sembuh sepenuhnya. Padahal sudah lewat beberapa hari.”

Apa maksud—hmmm? Beberapa hari?

“Uh, Nona Dokter…? Aku pingsan berapa lama?”

“Dokter?” Florence hanya menggelengkan kepala.

“Aku adalah Healer—Penyembuh. Oh, sekarang tanggal 6 Septen.”

Ashton mencari-cari pikirannya. Di dunia ini, setahun terdiri dari 365 hari dan 12 bulan. Sekarang adalah tahun 1832 Tahun Agung dan bulan Septen.

Perbedaan dengan dunia sebelumnya adalah nama bulan dan tahunnya.

6 Septen… Aku dan profesor makan malam pada tanggal 2, berarti sudah empat hari berlalu.

Ashton lalu melihat sekelilingnya. Dia sudah menduga kalau berada di ruang bawah tanah. Ashton melihat pintu yang terbuat dari kayu tebal dan sepertinya sulit untuk ditembus.

Pikiran Ashton kembali bekerja. Dia sudah paham ada di situasi apa sekarang.

“Apa salahku? Kenapa menahanku?”

Ashton tidak bertanya spesifik pada siapa, tapi Bastian mengangkat bahunya dan menjawab dengan santai.

“Tentu saja untuk diinterogasi.”

Bibir Ashton berkedut. Jelas-jelas dia adalah korban, kenapa dia harus diinterogasi? Tidak lama, ada sesuatu yang terlintas pada pikirannya.

“…oh.”

Ashton sadar dengan sendirinya. Dia adalah satu-satunya saksi mata yang hidup dari serangan ke Distrik Orchid.

“Kau cukup cerdas. Dengar, Kapten Arthur sudah datang bersama seorang uskup—hm, sekarang dia masih pendeta.”

Bastian bergumam sambil memegang dagunya. Florence melihatnya dengan sinis. Ashton mulai bisa mendengar langkah kaki yang semakin jelas mendekat. Berpikir sejenak, dia menanyakan sesuatu.

“Kenapa menginterogasi bersama pendeta?” tanya Ashton dengan bingung.

Mendoakan aku agar masuk surga? Apa mereka akan menghabisiku setelah selesai?

“Apa pun pikiranmu,” Bastian seperti menahan tawa, “bukan seperti itu. Tenang saja.”

“Tugas pendeta adalah membuatmu tidak bisa berbohong.”

Florence menjawab dengan santai. Suaranya dingin, tapi tidak kaku seperti awal Ashton mendengarnya.

Ashton tidak mengerti maksudnya, tapi dia pura-pura mengangguk.

Tidak lama, pintu terbuka. Pria dengan kumis dan rambut coklat yang rapi masuk ke ruangan. Dagunya kotak, dan dia tidak memakai topi tingginya. Dia memakai rompi dan celana berwarna gelap.

Di belakangnya, ada seorang perempuan, mungkin delapan belas tahun, yang ikut masuk ke ruangan.

Jadi yang semalam bertarung dengan babi hutan itu adalah Kapten Arthur. Mereka menahanku, tapi setidaknya aku tidak mati karena ditolong mereka. Aku harus berterimakasih.

Bastian dan Florence lalu membantu memegangi Ashton untuk duduk di kasurnya yang keras dan lembab.

“Selamat datang, Nona—ahem, Yang Mulia Rafaela.”

Bastian membungkuk hormat dengan gembira. Matanya tidak bisa lepas dari pendeta perempuan di belakang Kapten Arthur.

Dengan jubah putih dan bordir emas dan ungu, Rafaela terlihat anggun meski rambutnya yang berwarna hitam kelam dibiarkan menjuntai ke bawah.

Rafaela hanya mengangguk sebentar pada Bastian. Wajahnya jauh lebih cerah ketika melihat Florence, yang membalasnya dengan senyuman.

“Ahem-ahem,” Bastian sepertinya berusaha mengalihkan pembicaraan.

Ashton nyaris tidak bisa menahan tawa melihatnya. Kapten Arthur mendekati Ashton dan mulai bicara dengannya.

“Perkenalkan, namaku Arthur Blackwood. Kapten dari Wolf Brigade unit kota Erworne.”

Ashton melihat sesaat tangan dari Arthur yang terjulur ke depan. Dia lalu memegang tangan tersebut dan menyalaminya.

“…Ashton Gray. Mahasiswa teologi Universitas Erworne.”

Ashton merasa aneh mengatakannya. Kampusnya sudah hancur lebur. Tidak ada lagi status mahasiswa bagi Ashton.

“Pesolek itu adalah Bastian. Dia adalah Florence, dan ini adalah Yang Mulia Rafaela.”

Bastian merengut. Ashton sendiri tersenyum tipis.

“Kita mulai saja. Tidak ada waktu.”

Arthur menoleh ke arah Rafaela dan menganggukkan kepalanya. “Yang Mulia, kami mohon bantuanmu.”

Rafaela mengambil napas panjang, dan maju mendekati Ashton. “Kamu pengikut Dewi Kematian?”

Suara Rafaela terdengar sangat lembut, tetapi penuh wibawa dan kekuatan. Ashton mengangguk.

Sebagai Tommy, dia bahkan tidak tahu siapa itu Dewi Kematian. Tapi, sebagai Ashton, dia sudah menjadi pengikut Dewi Kematian sejak lahir.

“Ulangi sumpah yang kuucapkan. Gunakan namamu sendiri.” Rafaela lalu mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Matanya terpejam.

Ashton merasakan seperti ada angin lembut yang keluar dari tubuh Rafaela.

Ashton lalu mengulangi sumpah yang diucapkan Rafaela. “Saya, Ashton Gray, pengikut setia Dewi Kematian, bersumpah atas nama Sang Penggembala Dari Jiwa Yang Pergi, untuk mengatakan dan memberikan kebenaran.”

Setelah itu, Ashton merasakan detak jantungnya terdengar sangat jelas. Aliran darahnya terasa seperti es yang mencair, dan napasnya mengeluarkan hawa dingin.

“Bagus. Ayo kita mulai.” Kapten memberi isyarat pada Florence. Florence langsung mengeluarkan buku catatan dan pensil.

“Ashton, katakan semuanya dengan jujur. Kamu akan mati kalau berbohong.”

Ashton menelan ludah untuk kesekian kalinya hari ini.

Bahkan berbicara pun aku bisa mati. Baik, aku memang mengikuti ajaran Dewi Kematian, tapi bukan berarti aku harus selalu berurusan dengan kematian, bukan?!

“Sebutkan identitas dan statusmu secara lengkap.”

Ashton menyebutkan identitasnya dengan lancar. Lagi-lagi dia merasa aneh ketika menyebut dirinya sebagai mahasiswa.

Florence mencatat dengan sangat cepat. Arthur melanjutkan pertanyaan tanpa jeda.

“Apa yang kamu lakukan malam kejadian, tanggal 2 Septen sekitar pukul 07.00 sampai 09.00 malam?”

Ashton diam sebentar untuk mengartikulasi perkataannya. 

“Aku diundang oleh Profesor Nicolaus Farway. Kami makan malam bersama, membicarakan pekerjaan.”

“Katakan apa saja yang kalian bicarakan.”

Ashton menghela napas.

“Kami bicara tentang sejarah sebelum ditemukannya Tahun Agung, lebih tepat pada zaman Kekaisaran Doranheim. Kami sempat berdebat karena informasi yang ada hanya spekulasi belaka. Lalu—”

“Tunggu,” Arthur tiba-tiba menyela Ashton. “Kamu warga sipil bukan? Kamu tahu tentang Doranheim?”

Ashton mengangguk sambil kebingungan. “Profesor yang mengajariku. Awalnya aku tidak mengetahui tentang Doranheim karena tidak ada pada buku teks.”

Ada cahaya di mata Kapten Arthur. Bastian menjadi serius, dan Florence sempat berhenti mencatat.

Bahkan Nona Rafaela matanya berkedut. Apakah informasi ini sesuatu yang tabu?

“…warga sipil tidak seharusnya tahu soal ini?”

Arthur dengan tenang menjelaskan, “tidak, itu tidak penting sekarang. Apa lagi yang kalian bahas?”

Jadi pengetahuan itu memang terlarang. Profesor, apa yang terjadi sebenarnya?

“Kami membahas tentang pekerjaan, dan, uh,” Ashton tidak tahu kenapa, tapi dia agak kesulitan bicara.

“Kau tidak apa-apa?”

Kali ini, Bastian yang bertanya. Dia melihat Ashton kesulitan merangkai kata-kata.

“…aku tidak apa-apa.” Ashton menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bicara.

“Kami bicara tentang prospek masa depanku. Dia mau mengenalkanku dengan putrinya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Penguasa Relic   9. Konfrontasi

    Tidak terpengaruh oleh teriakan teroris itu, Kapten dan Bastian melompat dengan cepat ke depan. Mereka mengarahkan tangan mereka ke target masing-masing.“Akh!”Suara teriakan memenuhi koridor. Tiga orang teroris terluka terkena cakaran Kapten Arthur dan Bastian.Kapten dan Bastian tidak menunggu lama dan kembali menyerang. Deckard melompat ke belakang, menjaga jarak aman dari musuh.“Tenang, Ashton. Aku akan melindungimu.”“Uh, oke.”Sejujurnya, Ashton merasa takut dan gugup ketika diserang tadi. Tapi melihat gerakan anggota Wolf Brigade, dia merasakan sedikit ketenangan di hatinya.Ashton melihat ke depan, ke arah Kapten dan Bastian. Mereka menyerang para teroris satu persatu. Kapten sudah berubah ke bentuk manusia serigalanya, dengan bulu putih abu-abu.Darah di moncong Kapten terlihat jelas oleh Ashton. Sementara Bastian memiliki kaki yang lebih panjang, dan lebih banyak menggunakan tendangan sebagai serangan.“…hanya dua orang, tapi Kapten dan Bastian sangat kuat—”“Jangan senang

  • Sang Penguasa Relic   8. Serangan Kejutan

    Malam ini, Ashton sudah kembali ke ruang tahanannya. Badannya sudah jauh lebih baik, tapi Kapten Arthur menyarankan untuk tetap beristirahat.Ashton hanya menyerap setengah dari obrolan mereka. Sekarang dia sedang duduk di kasur sambil membaca kitab Dewi Kematian.“Aku nyaris hafal setengah isi kitab ini. Tidak sia-sia Ashton, hehehe.”Ashton beberapa kali mencoba membuka kitab secara acak, dan dia dengan mudah menyambung isi dari awal kata atau kalimat yang dia pertama kali lihat di halaman itu.Sejak merasakan resonansi spiritual, Ashton mulai terobsesi dengan para Dewa di dunia ini.“Di dunia ini, berdoa atau melakukan ritual dengan sungguh-sungguh memungkinkan untuk merasakan kehadiran Dewa itu.”Sambil melihat pecahan ingatannya, Ashton tenggelam dalam risetnya.Dalam ingatannya nyaris tidak ada eksistensi orang yang tidak menyembah sesuatu. Di dunia tempat Relic dan para Dewa berada, penduduk sudah biasa melihat keajaiban sehari-hari.Dan dengan koneksi spiritual, orang-orang di

  • Sang Penguasa Relic   7. Ritual

    Ashton hanya bisa menghela napas panjang. Bastian yang melihat tingkah Ashton, bicara pelan kepadanya.“Ashton, kami ingin mengatakan sesuatu.”Ashton kembali mendongak, melihat ke arah Bastian. “Kami sudah menemukan dan mengidentifikasi jenazah Profesor Nicolaus beserta keluarganya. Setelah mengecek data dan registrasi, kami tidak menemukan anggota keluarga lain.”“Begitukah? Berarti kalian akan membawaku keluar untuk melakukan ritual?”Pikirannya masih getir. Selain karena masalah ritual, Ashton yang meliihat Bastian dan Deckard teringat kembali tulisan semalam.Ruangan itu hening beberapa saat. Kesunyian itu akhirnya dipecahkan oleh salah satu anggota Wolf Brigade.“Seperti yang Kapten katakan, ini adalah kompensasi yang bisa kami berikan. Apa kamu sudah siap?”Ashton terdiam sejenak.Aku merasa sedih mendengarnya. Jadi memang benar, dengan memiliki ingatan dan perasaan Ashton, aku juga mewarisi hubungan dan relasi dengan kolega Ashton. Aku baru sampai di dunia ini dan sudah kehila

  • Sang Penguasa Relic   6. Tahanan

    Setelah para anggota Wolf Brigade pergi, Ashton mulai merenung.Universitas Erworne hancur dan Profesor Nicolaus meninggal. Ashton sudah tidak punya kerabat dan kenalan lagi. Ke mana lagi dia bisa berlindung?Pilihannya hanya ada pada Wolf Brigade. Selain karena “Ashton”, aku, adalah pengikut Dewi Kematian, mereka pada dasarnya adalah penolongku.Ashton sudah memperhatikan bagaimana perilaku Wolf Brigade terhadapnya. Setidaknya dia diperlakukan seperti manusia.“Mungkin mereka ingin menipuku. Mereka adalah serigala, licik dan cerdas.”Ashton tiba-tiba seperti tersadar akan sesuatu dan menggelengkan kepalanya.Aku terlalu paranoid. Bukankah Wolf Brigade sudah membantuku sejauh ini? Tanpa mereka aku bisa mati karena luka-lukaku.Ashton memikirkan lagi apa saja yang sudah terjadi pada dirinya. Transmigrasi, pertemuan dengan monster dan manusia super bernama Vessel, lalu keajaiban hingga dirinya bisa sembuh dari luka yang sangat parah.“Dunia ini benar-benar di luar nalar. Magis dan misti

  • Sang Penguasa Relic   5. Awal

    Bastian membuat gestur menggenggam dengan tangan kanannya, lalu menyentuh kening dan dadanya.“Profesor sudah seperti ayahku sendiri. Selain pekerjaan, Profesor ingin membahas tentang, ugh…”Ashton merasakan pipinya basah.Ashton sejujurnya belum memikirkan tentang pernikahan. Dia tahu, sebagai yatim piatu yang biaya kuliahnya ditanggung beasiswa, dia sulit bersaing dengan orang-orang yang mempunya hak istimewa.Tapi Profesor Nicolaus bersikeras ingin membawanya ke dalam keluarganya. Profesor yang bahkan tidak pernah tersenyum ketika memberi pujian di kelas, selalu bersikap hangat ketika mereka berbicara secara pribadi.“Siapa saja yang ikut jamuan pada malam tadi?” Arthur tetap bertanya, seolah nasib Ashton tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.“Profesor, aku, istri profesor — Nyonya Harriet, dan putrinya, Nona Anna. Ada beberapa pelayan tapi aku tidak tahu berapa jumlah mereka.”Ashton berusaha menenangkan diri. Dia menangis dan protes pun, mereka tidak akan hidup kembali.“Tolo

  • Sang Penguasa Relic   4. Interogasi

    Ketika Ashton membuka matanya, dia hanya melihat langit-langit yang gelap dan lembab. Tampilan itu membuatnya merasa seperti ada di ruang bawah tanah.Ashton mulai bisa merasakan udara yang pengap. Badannya masih sulit digerakkan, tetapi Ashton merasa jauh lebih baik.“Hei, kau akhirnya bangun.”Hmm, di mana aku pernah mendengar kata-kata itu?Ashton menengok ke arah suara itu berasal, di dekat nyala lampu gas.Pria berambut hitam kebiruan dan berhidung mancung sedang bersandar di tembok sambil menyilangkan tangan. Dia memakai kemeja dan celana panjang hitam.“…”Bibir Ashton berkedut. Tingkah orang ini seperti tokoh utama pada novel percintaan. Aku tidak bertransmigrasi ke novel romansa atau BL atau sejenisnya kan…Bastian mengerutkan dahinya.“Aneh. Aku merasa kalau kau memikirkan hal yang tidak sopan.”“Kenapa tidak? Semua orang tahu kau itu bajingan.”Bastian merengut mendengarnya. Ashton menoleh ke arah suara itu.Ada seorang wanita dengan rambut pirang kehitaman yang dikuncir, k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status