Share

6. Tahanan

Author: guis_dad
last update publish date: 2026-08-10 11:53:38

Setelah para anggota Wolf Brigade pergi, Ashton mulai merenung.

Universitas Erworne hancur dan Profesor Nicolaus meninggal. Ashton sudah tidak punya kerabat dan kenalan lagi. Ke mana lagi dia bisa berlindung?

Pilihannya hanya ada pada Wolf Brigade. Selain karena “Ashton”, aku, adalah pengikut Dewi Kematian, mereka pada dasarnya adalah penolongku.

Ashton sudah memperhatikan bagaimana perilaku Wolf Brigade terhadapnya. Setidaknya dia diperlakukan seperti manusia.

“Mungkin mereka ingin menipuku. Mereka adalah serigala, licik dan cerdas.”

Ashton tiba-tiba seperti tersadar akan sesuatu dan menggelengkan kepalanya.

Aku terlalu paranoid. Bukankah Wolf Brigade sudah membantuku sejauh ini? Tanpa mereka aku bisa mati karena luka-lukaku.

Ashton memikirkan lagi apa saja yang sudah terjadi pada dirinya. Transmigrasi, pertemuan dengan monster dan manusia super bernama Vessel, lalu keajaiban hingga dirinya bisa sembuh dari luka yang sangat parah.

“Dunia ini benar-benar di luar nalar. Magis dan mistis. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kelak.”

Tenanglah, Ashton. Kamu adalah Tommy dan Ashton di saat bersamaan. Dengan dua pengalaman hidup, kamu pasti bisa bertahan di dunia ini. Semoga.

Setelah tenang, timbul pemikiran baru pada Ashton. Sebuah hasrat kecil, yang timbul karena melihat keajaiban dunia ini.

“Vessel. Kekuatan yang luar biasa. Siapa yang tidak tertarik?”

Dan Wolf Brigade, sebuah unit pasukan yang terdiri dari Vessel. Magis, misterius, berbahaya. Ashton merasa takut sekaligus kagum ketika mengingat Wolf Brigade.

“Oh, benar. Apa yang terjadi pada monster babi hutan itu? Apa Kapten Arthur membunuhnya?”

Ashton berdecak kagum. Monster sebesar itu pun bisa dibunuh oleh manusia, walaupun memang bukan manusia biasa. Rasa takut dan kagumnya semakin besar.

“Saat ini yang bisa melindungiku hanya Wolf Brigade. Semoga mereka tidak menganggapku sebagai alat.”

Ashton akhirnya menutup matanya untuk istirahat.

Ketika dia bangun lagi, Ashton merasakan tangan dan kakinya sudah bisa digerakkan.

Ashton juga menemukan ada makanan di atas meja. Roti, sup, dan segelas kopi, yang sepertinya sudah dari tadi karena tidak lagi berasap.

“Hehe, terimakasih.”

Perlahan, Ashton duduk di kasur dan mulai bergerak pelan menuju meja. Dia mengambil rotinya dan berpikir sejenak.

Haruskah aku berdoa?

Ashton menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Itu jelas pemikiran dari ‘Tommy’. Tapi Ashton tidak menggubrisnya dan mengingat-ingat bagaimana cara berdoa.

Ashton lalu duduk di kursi sambil menaruh kembali roti itu. Dia lalu menyatukan kedua tangan dan memejamkan matanya.

Hm, baguslah Ashton terdahulu adalah orang yang taat. Aku jadi tahu doa yang harus kuucapkan.

“Pujian untuk Dewi Kematian, penjaga kami dalam kegelapan, penggembala para jiwa yang telah pergi.”

Ashton mengingat kembali semua kejadian yang dialaminya. Transmigrasi, luka parah, serangan monster. Seandainya ada satu saja yang tidak beruntung, Ashton akan mati.

Mungkin karena itu, dia merasa benar-benar khidmat dalam berdoa. Ashton merasa berterimakasih, senang karena masih hidup.

Ashton mulai merasakan kehangatan yang aneh. Seperti ada yang menenangkan dirinya. Dia dikelilingi oleh kebisuan. Ashton seolah ingin tidur dan tidak bangun lagi.

“Dengarkan aku, wahai anak manusia.”

“!”

Ashton tercekat dan matanya terbelalak. Dia mendengar suara yang tidak jelas laki-laki atau perempuan di hatinya.

Apa itu barusan?

Ashton menahan napas dan menunggu apa yang akan terjadi. Hanya diam dan keheningan yang menyambutnya.

“…haruskah aku berdoa lagi?”

Ashton lalu memutuskan untuk mengulangi doanya. Dia tidak lagi mendengar bisikan itu.

Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kebetulan kalau bisikan itu terjadi ketika aku berdoa pada Dewi Kematian?

Ashton tidak menyerah. Dia memikirkan lagi bagaimana cara mengulang kondisi doanya tadi.

“Tadi sepertinya aku berdoa dengan sangat khidmat. Aku juga merasakan sensasi hangat yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.”

Apa saja yang kupikirkan tadi? Tentang transmigrasiku, luka pada tubuh Ashton, Profesor Nicolaus—

Ashton tersadar. Doanya tadi sepertinya mengandung rasa terimakasih yang sangat besar pada Dewi Kematian.

Setelah mengetahui hal itu, Ashton lalu mengulangi doanya. Dia ingin tahu, suara apa sebenarnya itu tadi.

Kali ini, dia merasakan kehangatan di seluruh tubuhnya, sama seperti sebelumnya.

“Berhasil! Jadi pikiranku harus fokus pada rasa syukur terhadap Dewi Kematian …”

Walaupun mengalami sensasi itu, tapi Ashton tidak lagi mendengar bisikan apa pun. Perlahan rasa hangat itu menghilang.

“Akh!”

Tiba-tiba saja Ashton merasakan sakit yang menghujam kepala dan jantungnya walau hanya sekejap. Sempat timbul rasa mual, tapi Ashton bisa menahannya.

“…ada apa…”

Ashton membuka matanya sambil menghela napas dan melihat ke sekelilingnya. Dia nyaris melompat ketika melihat ada sesuatu yang baru di atas meja, di samping makanannya.

“Apa-apaan ini?!”

Kopi yang dibawakan oleh Wolf Brigade sudah tumpah. Tumpahan itu membentuk sebuah tulisan yang terlihat kontras dengan warna meja.

Tulisan itu bukan dalam abjad bahasa Erdran. Kalau melihat lebih dekat, mereka seperti kumpulan simbol.

Ini, ini adalah bahasa Tharos! Aku ingat, ini adalah bahasa yang digunakan oleh Kekaisaran Doranheim!

Ashton mengingat-ingat kembali apa yang diajarkan Profesor Nicolaus tentang Doranheim dan bahasa yang mereka gunakan.

“Bahasa ini disebut punya kekuatan mistis… Apa ada hubungan dengan doaku?”

Ashton melihat tulisan itu dengan seksama. Ketika Ashton selesai membaca dan memahaminya, tiba-tiba saja tulisan itu hancur bentuknya, seolah huruf-huruf tadi menghilang.

Hanya tersisa tumpahan kopi.

Ashton menghela napas. Dia bersandar pada kursinya dan menatap langit-langit.

“Hahaha, apa maksudnya ini…”

Apakah ini pesan dari Dewi Kematian? Aku sudah tidak tahu lagi. Kepalaku terasa berat.

Karena pikirannya tiba-tiba terasa berat dan badannya terasa lelah lagi, Ashton tidak sadar kalau dia berjalan sendiri ke tempat tidur. Tanpa menunggu apa pun, Ashton seperti pingsan dan tidak sadarkan diri.

Besoknya, ketika Bastian dan Deckard membuka pintu tempat Ashton berada, mereka sedikit terkejut. Mata Ashton bengkak seperti kurang tidur, dan wajahnya terlihat lemas.

“Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?”

Ashton hanya melihat lemah ke arah Bastian dan Deckard.

“…menurut kalian, berapa persen kesempatanku bisa bicara langsung dengan Dewi Kematian?”

Bastian dan Deckard hanya memasang wajah datar. Mereka berjalan ke samping Ashton dan menepuk-nepuk pundaknya.

“Ashton,” sahut Deckard. “Jangan berpikir macam-macam. Kami tahu kamu mungkin depresi karena kematian kolega dan profesormu, tapi kematianmu bukan jalan pintas.”

“Hah? Apa?”

Ashton celingukan mendengar kata-kata pria tinggi besar itu. Kali ini, Bastian yang berbicara.

“Tenang saja. Kami tidak akan membuangmu meskipun informasimu tidak berguna.”

Ashton hanya diam menatapnya dengan matanya yang masih bengkak.

“Kalau kalian bisa menguping, apakah ada hantu atau sejenisnya yang bisa menembus ruangan ini?”

Deckard mengayunkan tangan di depannya, membuat gestur “tidak”.

“Aku sudah memberikan ritual dan perlindungan dari Dewi Kematian. Tidak ada hantu atau sejenisnya yang bisa menembus ruangan ini.”

“Hm, baiklah.”

Ashton berpikir sejenak. Aku yakin Deckard berkata jujur. Berarti pesan itu benar-benar berasal dari sesuatu yang bisa menembus perlindungan di ruangan ini.

Ashton menatap meja di hadapannya dengan sayu. Makanan yang diberikan untuknya tidak dia habiskan karena semalam Ashton keburu tidak sadarkan diri.

Dewi Kematian, apa yang Kau maksud dengan pesan itu?

Tulisan yang Ashton baca berbunyi, “Mereka yang menginginkan singgasana-Ku sudah mengawasimu. Tetaplah bersama serigala. Belum waktunya kamu pergi.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sang Penguasa Relic   9. Konfrontasi

    Tidak terpengaruh oleh teriakan teroris itu, Kapten dan Bastian melompat dengan cepat ke depan. Mereka mengarahkan tangan mereka ke target masing-masing.“Akh!”Suara teriakan memenuhi koridor. Tiga orang teroris terluka terkena cakaran Kapten Arthur dan Bastian.Kapten dan Bastian tidak menunggu lama dan kembali menyerang. Deckard melompat ke belakang, menjaga jarak aman dari musuh.“Tenang, Ashton. Aku akan melindungimu.”“Uh, oke.”Sejujurnya, Ashton merasa takut dan gugup ketika diserang tadi. Tapi melihat gerakan anggota Wolf Brigade, dia merasakan sedikit ketenangan di hatinya.Ashton melihat ke depan, ke arah Kapten dan Bastian. Mereka menyerang para teroris satu persatu. Kapten sudah berubah ke bentuk manusia serigalanya, dengan bulu putih abu-abu.Darah di moncong Kapten terlihat jelas oleh Ashton. Sementara Bastian memiliki kaki yang lebih panjang, dan lebih banyak menggunakan tendangan sebagai serangan.“…hanya dua orang, tapi Kapten dan Bastian sangat kuat—”“Jangan senang

  • Sang Penguasa Relic   8. Serangan Kejutan

    Malam ini, Ashton sudah kembali ke ruang tahanannya. Badannya sudah jauh lebih baik, tapi Kapten Arthur menyarankan untuk tetap beristirahat.Ashton hanya menyerap setengah dari obrolan mereka. Sekarang dia sedang duduk di kasur sambil membaca kitab Dewi Kematian.“Aku nyaris hafal setengah isi kitab ini. Tidak sia-sia Ashton, hehehe.”Ashton beberapa kali mencoba membuka kitab secara acak, dan dia dengan mudah menyambung isi dari awal kata atau kalimat yang dia pertama kali lihat di halaman itu.Sejak merasakan resonansi spiritual, Ashton mulai terobsesi dengan para Dewa di dunia ini.“Di dunia ini, berdoa atau melakukan ritual dengan sungguh-sungguh memungkinkan untuk merasakan kehadiran Dewa itu.”Sambil melihat pecahan ingatannya, Ashton tenggelam dalam risetnya.Dalam ingatannya nyaris tidak ada eksistensi orang yang tidak menyembah sesuatu. Di dunia tempat Relic dan para Dewa berada, penduduk sudah biasa melihat keajaiban sehari-hari.Dan dengan koneksi spiritual, orang-orang di

  • Sang Penguasa Relic   7. Ritual

    Ashton hanya bisa menghela napas panjang. Bastian yang melihat tingkah Ashton, bicara pelan kepadanya.“Ashton, kami ingin mengatakan sesuatu.”Ashton kembali mendongak, melihat ke arah Bastian. “Kami sudah menemukan dan mengidentifikasi jenazah Profesor Nicolaus beserta keluarganya. Setelah mengecek data dan registrasi, kami tidak menemukan anggota keluarga lain.”“Begitukah? Berarti kalian akan membawaku keluar untuk melakukan ritual?”Pikirannya masih getir. Selain karena masalah ritual, Ashton yang meliihat Bastian dan Deckard teringat kembali tulisan semalam.Ruangan itu hening beberapa saat. Kesunyian itu akhirnya dipecahkan oleh salah satu anggota Wolf Brigade.“Seperti yang Kapten katakan, ini adalah kompensasi yang bisa kami berikan. Apa kamu sudah siap?”Ashton terdiam sejenak.Aku merasa sedih mendengarnya. Jadi memang benar, dengan memiliki ingatan dan perasaan Ashton, aku juga mewarisi hubungan dan relasi dengan kolega Ashton. Aku baru sampai di dunia ini dan sudah kehila

  • Sang Penguasa Relic   6. Tahanan

    Setelah para anggota Wolf Brigade pergi, Ashton mulai merenung.Universitas Erworne hancur dan Profesor Nicolaus meninggal. Ashton sudah tidak punya kerabat dan kenalan lagi. Ke mana lagi dia bisa berlindung?Pilihannya hanya ada pada Wolf Brigade. Selain karena “Ashton”, aku, adalah pengikut Dewi Kematian, mereka pada dasarnya adalah penolongku.Ashton sudah memperhatikan bagaimana perilaku Wolf Brigade terhadapnya. Setidaknya dia diperlakukan seperti manusia.“Mungkin mereka ingin menipuku. Mereka adalah serigala, licik dan cerdas.”Ashton tiba-tiba seperti tersadar akan sesuatu dan menggelengkan kepalanya.Aku terlalu paranoid. Bukankah Wolf Brigade sudah membantuku sejauh ini? Tanpa mereka aku bisa mati karena luka-lukaku.Ashton memikirkan lagi apa saja yang sudah terjadi pada dirinya. Transmigrasi, pertemuan dengan monster dan manusia super bernama Vessel, lalu keajaiban hingga dirinya bisa sembuh dari luka yang sangat parah.“Dunia ini benar-benar di luar nalar. Magis dan misti

  • Sang Penguasa Relic   5. Awal

    Bastian membuat gestur menggenggam dengan tangan kanannya, lalu menyentuh kening dan dadanya.“Profesor sudah seperti ayahku sendiri. Selain pekerjaan, Profesor ingin membahas tentang, ugh…”Ashton merasakan pipinya basah.Ashton sejujurnya belum memikirkan tentang pernikahan. Dia tahu, sebagai yatim piatu yang biaya kuliahnya ditanggung beasiswa, dia sulit bersaing dengan orang-orang yang mempunya hak istimewa.Tapi Profesor Nicolaus bersikeras ingin membawanya ke dalam keluarganya. Profesor yang bahkan tidak pernah tersenyum ketika memberi pujian di kelas, selalu bersikap hangat ketika mereka berbicara secara pribadi.“Siapa saja yang ikut jamuan pada malam tadi?” Arthur tetap bertanya, seolah nasib Ashton tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.“Profesor, aku, istri profesor — Nyonya Harriet, dan putrinya, Nona Anna. Ada beberapa pelayan tapi aku tidak tahu berapa jumlah mereka.”Ashton berusaha menenangkan diri. Dia menangis dan protes pun, mereka tidak akan hidup kembali.“Tolo

  • Sang Penguasa Relic   4. Interogasi

    Ketika Ashton membuka matanya, dia hanya melihat langit-langit yang gelap dan lembab. Tampilan itu membuatnya merasa seperti ada di ruang bawah tanah.Ashton mulai bisa merasakan udara yang pengap. Badannya masih sulit digerakkan, tetapi Ashton merasa jauh lebih baik.“Hei, kau akhirnya bangun.”Hmm, di mana aku pernah mendengar kata-kata itu?Ashton menengok ke arah suara itu berasal, di dekat nyala lampu gas.Pria berambut hitam kebiruan dan berhidung mancung sedang bersandar di tembok sambil menyilangkan tangan. Dia memakai kemeja dan celana panjang hitam.“…”Bibir Ashton berkedut. Tingkah orang ini seperti tokoh utama pada novel percintaan. Aku tidak bertransmigrasi ke novel romansa atau BL atau sejenisnya kan…Bastian mengerutkan dahinya.“Aneh. Aku merasa kalau kau memikirkan hal yang tidak sopan.”“Kenapa tidak? Semua orang tahu kau itu bajingan.”Bastian merengut mendengarnya. Ashton menoleh ke arah suara itu.Ada seorang wanita dengan rambut pirang kehitaman yang dikuncir, k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status