MasukSetelah para anggota Wolf Brigade pergi, Ashton mulai merenung.
Universitas Erworne hancur dan Profesor Nicolaus meninggal. Ashton sudah tidak punya kerabat dan kenalan lagi. Ke mana lagi dia bisa berlindung?
Pilihannya hanya ada pada Wolf Brigade. Selain karena “Ashton”, aku, adalah pengikut Dewi Kematian, mereka pada dasarnya adalah penolongku.
Ashton sudah memperhatikan bagaimana perilaku Wolf Brigade terhadapnya. Setidaknya dia diperlakukan seperti manusia.
“Mungkin mereka ingin menipuku. Mereka adalah serigala, licik dan cerdas.”
Ashton tiba-tiba seperti tersadar akan sesuatu dan menggelengkan kepalanya.
Aku terlalu paranoid. Bukankah Wolf Brigade sudah membantuku sejauh ini? Tanpa mereka aku bisa mati karena luka-lukaku.
Ashton memikirkan lagi apa saja yang sudah terjadi pada dirinya. Transmigrasi, pertemuan dengan monster dan manusia super bernama Vessel, lalu keajaiban hingga dirinya bisa sembuh dari luka yang sangat parah.
“Dunia ini benar-benar di luar nalar. Magis dan mistis. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kelak.”
Tenanglah, Ashton. Kamu adalah Tommy dan Ashton di saat bersamaan. Dengan dua pengalaman hidup, kamu pasti bisa bertahan di dunia ini. Semoga.
Setelah tenang, timbul pemikiran baru pada Ashton. Sebuah hasrat kecil, yang timbul karena melihat keajaiban dunia ini.
“Vessel. Kekuatan yang luar biasa. Siapa yang tidak tertarik?”
Dan Wolf Brigade, sebuah unit pasukan yang terdiri dari Vessel. Magis, misterius, berbahaya. Ashton merasa takut sekaligus kagum ketika mengingat Wolf Brigade.
“Oh, benar. Apa yang terjadi pada monster babi hutan itu? Apa Kapten Arthur membunuhnya?”
Ashton berdecak kagum. Monster sebesar itu pun bisa dibunuh oleh manusia, walaupun memang bukan manusia biasa. Rasa takut dan kagumnya semakin besar.
“Saat ini yang bisa melindungiku hanya Wolf Brigade. Semoga mereka tidak menganggapku sebagai alat.”
Ashton akhirnya menutup matanya untuk istirahat.
Ketika dia bangun lagi, Ashton merasakan tangan dan kakinya sudah bisa digerakkan.
Ashton juga menemukan ada makanan di atas meja. Roti, sup, dan segelas kopi, yang sepertinya sudah dari tadi karena tidak lagi berasap.
“Hehe, terimakasih.”
Perlahan, Ashton duduk di kasur dan mulai bergerak pelan menuju meja. Dia mengambil rotinya dan berpikir sejenak.
Haruskah aku berdoa?
Ashton menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Itu jelas pemikiran dari ‘Tommy’. Tapi Ashton tidak menggubrisnya dan mengingat-ingat bagaimana cara berdoa.
Ashton lalu duduk di kursi sambil menaruh kembali roti itu. Dia lalu menyatukan kedua tangan dan memejamkan matanya.
Hm, baguslah Ashton terdahulu adalah orang yang taat. Aku jadi tahu doa yang harus kuucapkan.
“Pujian untuk Dewi Kematian, penjaga kami dalam kegelapan, penggembala para jiwa yang telah pergi.”
Ashton mengingat kembali semua kejadian yang dialaminya. Transmigrasi, luka parah, serangan monster. Seandainya ada satu saja yang tidak beruntung, Ashton akan mati.
Mungkin karena itu, dia merasa benar-benar khidmat dalam berdoa. Ashton merasa berterimakasih, senang karena masih hidup.
Ashton mulai merasakan kehangatan yang aneh. Seperti ada yang menenangkan dirinya. Dia dikelilingi oleh kebisuan. Ashton seolah ingin tidur dan tidak bangun lagi.
“Dengarkan aku, wahai anak manusia.”
“!”
Ashton tercekat dan matanya terbelalak. Dia mendengar suara yang tidak jelas laki-laki atau perempuan di hatinya.
Apa itu barusan?
Ashton menahan napas dan menunggu apa yang akan terjadi. Hanya diam dan keheningan yang menyambutnya.
“…haruskah aku berdoa lagi?”
Ashton lalu memutuskan untuk mengulangi doanya. Dia tidak lagi mendengar bisikan itu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah kebetulan kalau bisikan itu terjadi ketika aku berdoa pada Dewi Kematian?
Ashton tidak menyerah. Dia memikirkan lagi bagaimana cara mengulang kondisi doanya tadi.
“Tadi sepertinya aku berdoa dengan sangat khidmat. Aku juga merasakan sensasi hangat yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.”
Apa saja yang kupikirkan tadi? Tentang transmigrasiku, luka pada tubuh Ashton, Profesor Nicolaus—
Ashton tersadar. Doanya tadi sepertinya mengandung rasa terimakasih yang sangat besar pada Dewi Kematian.
Setelah mengetahui hal itu, Ashton lalu mengulangi doanya. Dia ingin tahu, suara apa sebenarnya itu tadi.
Kali ini, dia merasakan kehangatan di seluruh tubuhnya, sama seperti sebelumnya.
“Berhasil! Jadi pikiranku harus fokus pada rasa syukur terhadap Dewi Kematian …”
Walaupun mengalami sensasi itu, tapi Ashton tidak lagi mendengar bisikan apa pun. Perlahan rasa hangat itu menghilang.
“Akh!”
Tiba-tiba saja Ashton merasakan sakit yang menghujam kepala dan jantungnya walau hanya sekejap. Sempat timbul rasa mual, tapi Ashton bisa menahannya.
“…ada apa…”
Ashton membuka matanya sambil menghela napas dan melihat ke sekelilingnya. Dia nyaris melompat ketika melihat ada sesuatu yang baru di atas meja, di samping makanannya.
“Apa-apaan ini?!”
Kopi yang dibawakan oleh Wolf Brigade sudah tumpah. Tumpahan itu membentuk sebuah tulisan yang terlihat kontras dengan warna meja.
Tulisan itu bukan dalam abjad bahasa Erdran. Kalau melihat lebih dekat, mereka seperti kumpulan simbol.
Ini, ini adalah bahasa Tharos! Aku ingat, ini adalah bahasa yang digunakan oleh Kekaisaran Doranheim!
Ashton mengingat-ingat kembali apa yang diajarkan Profesor Nicolaus tentang Doranheim dan bahasa yang mereka gunakan.
“Bahasa ini disebut punya kekuatan mistis… Apa ada hubungan dengan doaku?”
Ashton melihat tulisan itu dengan seksama. Ketika Ashton selesai membaca dan memahaminya, tiba-tiba saja tulisan itu hancur bentuknya, seolah huruf-huruf tadi menghilang.
Hanya tersisa tumpahan kopi.
Ashton menghela napas. Dia bersandar pada kursinya dan menatap langit-langit.
“Hahaha, apa maksudnya ini…”
Apakah ini pesan dari Dewi Kematian? Aku sudah tidak tahu lagi. Kepalaku terasa berat.
Karena pikirannya tiba-tiba terasa berat dan badannya terasa lelah lagi, Ashton tidak sadar kalau dia berjalan sendiri ke tempat tidur. Tanpa menunggu apa pun, Ashton seperti pingsan dan tidak sadarkan diri.
Besoknya, ketika Bastian dan Deckard membuka pintu tempat Ashton berada, mereka sedikit terkejut. Mata Ashton bengkak seperti kurang tidur, dan wajahnya terlihat lemas.
“Ada apa? Kenapa wajahmu seperti itu?”
Ashton hanya melihat lemah ke arah Bastian dan Deckard.
“…menurut kalian, berapa persen kesempatanku bisa bicara langsung dengan Dewi Kematian?”
Bastian dan Deckard hanya memasang wajah datar. Mereka berjalan ke samping Ashton dan menepuk-nepuk pundaknya.
“Ashton,” sahut Deckard. “Jangan berpikir macam-macam. Kami tahu kamu mungkin depresi karena kematian kolega dan profesormu, tapi kematianmu bukan jalan pintas.”
“Hah? Apa?”
Ashton celingukan mendengar kata-kata pria tinggi besar itu. Kali ini, Bastian yang berbicara.
“Tenang saja. Kami tidak akan membuangmu meskipun informasimu tidak berguna.”
Ashton hanya diam menatapnya dengan matanya yang masih bengkak.
“Kalau kalian bisa menguping, apakah ada hantu atau sejenisnya yang bisa menembus ruangan ini?”
Deckard mengayunkan tangan di depannya, membuat gestur “tidak”.
“Aku sudah memberikan ritual dan perlindungan dari Dewi Kematian. Tidak ada hantu atau sejenisnya yang bisa menembus ruangan ini.”
“Hm, baiklah.”
Ashton berpikir sejenak. Aku yakin Deckard berkata jujur. Berarti pesan itu benar-benar berasal dari sesuatu yang bisa menembus perlindungan di ruangan ini.
Ashton menatap meja di hadapannya dengan sayu. Makanan yang diberikan untuknya tidak dia habiskan karena semalam Ashton keburu tidak sadarkan diri.
Dewi Kematian, apa yang Kau maksud dengan pesan itu?
Tulisan yang Ashton baca berbunyi, “Mereka yang menginginkan singgasana-Ku sudah mengawasimu. Tetaplah bersama serigala. Belum waktunya kamu pergi.”
Ashton berjalan tertatih-tatih keluar dari lorong rahasia milik grup Dane. Di tangan kanannya, ada kantong kulit berisi Relic yang diberikan Dane.Di tangan kirinya, topeng besi yang dia pakai sebelumnya.Ashton seperti memancarkan aura yang berbahaya, yang membuat orang-orang yang dia lewati tidak berani mendekatinya. Dia terus berjalan hingga sampai di gang tempat Tobias dan Florence berada.“…Ashton!”Tobias dan Florence bergegas menghampiri Ashton yang berjalan terhuyung mendekati mereka.Melihat kedua rekannya, Ashton menghembuskan napas lega dan duduk bersandar di dinding terdekat.“…yo,” ujar Ashton lemah sambil melambaikan tangannya.Florence segera menempatkan dirinya di samping Ashton dan menempelkan tangannya pada dada Ashton.Setelah mengalirkan aether ke tangannya, Florence mengernyitkan dahinya dan menatap Tobias.“Kondisinya tidak parah, tapi tubuhnya mengalami luka dalam. Kekuatan mentalnya terkuras habis. Bagian sekitar mata juga mengalami pendarahan hebat.”Tobias me
Dane mengisyaratkan Ashton untuk mengikutinya. Jack sempat ragu-ragu, tapi dia akhirnya juga mengikuti mereka.Di ruangan yang lebih dalam, terdapat kotak-kotak dan kantong kulit yang bertuliskan simbol bahasa Tharos, serta dua pintu dengan desain yang berbeda.Ashton menghitung ada sekitar tujuh barang berupa kotak dan lima yang berupa kantong kulit.“Kita coba Relic Rank 1 dulu?”Dane menengok dan melirik ke arah barang-barang itu sebelum mengambil salah satu kantong kulit yang dekat dengan pintu berwarna merah.Ashton bisa merasakan aura yang opresif dari pintu itu, menunjukkan adanya Relic dengan Rank yang lebih tinggi dari Ashton pada ruangan di balik pintu itu.Masuk akal. Mereka tentu punya juga Relic di atas Rank 1.Ashton melihat ke arah Dane yang sepertinya sedang berusaha membuka kantong kulit itu. Dane beberapa kali mengeluarkan suara seperti “aduh”, “ow”, “akh” dan sejenisnya.Bibir Ashton berkedut melihat tingkah Dane.…apa dia tidak bisa membuka segel kantong itu? Kenapa
Ashton menata pikirannya dan mengingat-ingat fakta serta informasi yang sudah dia dapatkan.Pertama, Jack menyebut Dane Coot adalah bagian dari kelompok mereka. Kalau Dane adalah teroris atau bawahan Jack, dia akan menyebut Dane sebagai anak buah atau rekan.Ini berarti kelompok Jack dan Dane Coot berbeda. Yang satu memang teroris, dan yang satu hanya penyelundup Relic serta Artifact. Kemungkinan besar mereka bergabung karena kepentingannya ada titik temu.Ashton berjalan lebih pelan dari sebelumnya sambil mengamati Jack, yang berdoa dengan khidmat sambil berjalan.“Oh Dewi, Sang Penggembala Jiwa yang Pergi…”Ashton menyipitkan matanya ketika mendengar doa dari Jack.Kedua, ada yang aneh di sini. Dia tidak terlihat seperti berpura-pura ketika berdoa pada Dewi Kematian. Jack adalah penyembah Dewi Kematian? Lalu kenapa dia memanggil orang yang ditolong Wolf Brigade—aku, sebagai penghujat?Kenapa kelompok teroris ini menganggap aku sebagai musuh Dewi Kematian?Karena Ashton tidak punya pe
Pria berambut pirang itu mengamati Ashton dengan seksama dari atas ke bawah.“Aneh,” gumam si pria berambut pirang itu. Ashton sendiri hanya diam, dia bahkan belum berani mengambil napas.“Aku merasa seperti pernah melihatmu. Tapi—hm, penampilan dan auramu sangat berbeda.”Si pria berambut pirang itu, yang Ashton kenali sebagai pemimpin teroris yang menyerangnya sebelumnya, memiringkan kepalanya.Dia mengamati Ashton lagi. Wajahnya sedikit mengerut. Setelah cukup lama, mata pria itu terbelalak.“Ah! Kau…!”…sial!Keringat dingin semakin deras mengalir di pipi Ashton. Ashton seperti tidak bergerak, tapi dia sudah mengarahkan telapak tangannya ke arah saku dalam mantelnya.Dengan Pull, Ashton bisa serta merta menarik revolver di sakunya.Dengan pandangan tajam yang tertutupi oleh topeng besi yang dia pakai, Ashton bersiap untuk bertarung.“…apa kau adalah Goggins dari luar kota?”Mendengar kata-kata absurd dari pria berambut pirang itu, Ashton kembali rileks. Dia mengambil napas panjang
Di ruangan milik Kapten Arthur, Ashton sedang duduk santai sambil memeriksa perlengkapannya.Sementara itu Kapten Arthur masih melihat koran kemarin dengan seksama.“Luar biasa. Jadi ini cara para penyelundup menyembunyikan kode pertemuan mereka.”Kapten Arthur mengangguk-angguk puas. Dia kembali melihat Ashton yang masih sibuk melakukan inspeksi pada perlengkapannya sendiri.“Tidak kusangka kalau toko bahan baku Cutler adalah milik penyelundup.”“Sebenarnya,” sahut Ashton sambil membersihkan kacamatanya, Blur Glasses, “mereka memiliki beberapa toko yang digunakan untuk membuat kode di koran.”Ashton melihat kacamata yang sudah dilap berulang kali. Merasa kurang bersih, dia melanjutkan untuk mengelapnya lagi.“Kali ini adalah Cutler. Masih banyak nama toko lain milik kelompok Dane Coot.”Kapten Arthur melihat kembali koran kemarin di depannya itu.“…menggunakan deret bilangan prima sebagai penanda koordinat? Setidaknya para penyelundup ini pernah bersekolah, atau bahkan kuliah.”Ashton
Ketika Ashton membuka matanya, hanya tampak langit-langit kelabu yang tidak asing baginya.Sambil menyipitkan matanya dan mengingat-ngingat, akhirnya dia menyadari kalau sedang berada di bangsal perawatan rahasia milik Gereja Dewi Kematian.“…ruang bawah tanah ini kelam dan suram sekali.”“Kau benar. Seharusnya, prajurit garis depan seperti kita dirawat di tempat yang hangat dan dikelilingi perawat yang cantik dan elegan.”Bibir Ashton berkedut. Dia menengok ke samping kanan dan melihat ada seseorang yang berambut hitam kebiruan dengan panjang sebahu sedang asyik membaca sebuah buku.“Diam kau, pesolek. Jangan bawa-bawa hobimu.”Bastian balas menengok ke arah Ashton sambil tersenyum lebar. Giginya yang rata dan terlihat putih menambah pesonanya sebagai ‘pria paling tampan di Erworne’.Sayangnya, itu hanya menambah rasa sebal Ashton pada Bastian.“Haha, hobiku jauh lebih baik dari hobimu. Mana ada orang waras yang belum sepenuhnya pulih dan langsung memaksa dirinya untuk berlatih?”“…”







